AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Kebersamaan dengan Ziva


__ADS_3

"Kenapa mama ngga bisa ikut?" Tanya Ziva, yang berhasil membuatku kehabisan kata-kata.


"Hhmmm..."


"Kalau mama sama Ziva ngga bobo disini, nanti tante Gina, tante Reva, oma dan opa sedih. Jadi Ziva aja yah yang disana bobo sama papa, mama disini. Kemarin katanya Ziva kangen sama papa." Gina menjawab sambil memgusap kepala Veren. Ck, alasan macam apa itu.


"Cuma satu malam kan kak?" Gina berkata sambil menatapku.


"Mas Angga bilang sih hanya dua hari, mudah-mudahan hanya satu malam. Aku akan menjemput Ziva di malam ke dua."


"Kenapa mama, tante Gina, tante Leva, oma dan opa ngga ikut aja sama Ziva bobo di lumahnya papa?"


Nah loh bingung kan, mau jawab apa... Ziva begitu polosnya bertanya, aku semakin pusing tidak tahu harus menjawab apa.


"Kalau semuanya ikut, nanti siapa yang jaga warung?" Gina masih belum habis kata-kata meladeni Ziva.


"Kan walungnya tutup kalau mau bobo tante..."


Aku sampai tertegun mendengar ucapan Ziva yang selalu ada-ada saja jawabannya. Aku menutup mulutku menahan tawa. Sepertinya Gina mulai kewalahan menghadapi Ziva.


Aku akhirnya terkekeh menanggapi jawaban Ziva yang lucu, tapi ucapan Ziva ada benar nya juga. Ah, Anakku yang pintar dan lucu, bulan depan Ziva genap tiga tahun, tapi dia sudah lancar berbicara dan sangat pintar. Hanya saja Ziva belum bisa mengucapkan huruf R. Wajarlah anak seusia Ziva belum bisa mengucapkan huruf R. Pertumbuhan dan perkembangannya termasuk baik dari anak seusianya.


"Kalau semuanya ikut, nanti rumah ini kosong dong sayang. Bagaimana kalau pencuri datang mengambil barang-barang kita? ngga ada orang yang jagain rumah ini. Nanti besok pagi Papa jemput Ziva disini. Ziva senang?"


Aku mencoba menengahi pembicaraan antara Gina dan Ziva, dengan berbicara sepelan mungkin agar Ziva bisa mengerti.


"Tapi ma...."Baru saja Ziva hendak menjawab ucapanku, tapi Gina langsung memotong ucapannya.


"Wah, Ziva coba tunjukkan video ini sama mama!" Ucap Gina mengalihkan pembicaraan. Pintar sekali Gina mengalihkan pembicaraan dengan Ziva yang tak tahu kapan berakhir ini.

__ADS_1


"Video apa Gin?" Tanyaku pada Gina.


"Ayo tunjukkan sama mama video tik t*k Ziva tadi." Ucap Gina pada Ziva.


Ziva langsung berdiri dan mengambil ponsel di genggaman Gina dan menyerahkannya padaku.


"Mama, lihat ini."


Kulihat anakku menekan tombol play di ponsel Gina. Batita-batita jaman now memang hebat-hebat ya. Umurnya belum genap tiga tahun tapi gayanya memegang ponsel seperti orang dewasa saja.


Ziva memperlihatkan video yang.... Sangat lucu... Aku tak menyangka anakku bisa leluasa menari mengikuti lagu yang ada di tik t*k. Bukan hanya satu gerakan, tapi ada beberapa gerakan dalam beberapa video. Aku sampai terkagum-kagum melihat videonya. Ah, anakku lucu sekali. Aku memeluk Ziva, menciumi seluruh wajahnya. Ziva sampai kegelian karena ulahku.


"Udah mama. Ziva geli."sungut Ziva sambil mendorong pelan wajahku.


Entah kenapa malam ini aku tidak lapar, padahal tadi otak dan pikiranku bekerja sangat keras, mungkin kejadian tadi bisa membuat perut kenyang. Aku hanya meminum air hangat dan kembali bersama Ziva dan Gina. Malam ini kami habiskan dengan bermain tik t*k bersama, mengambil foto dan video lalu menguploadnya ke akun instagram dan facebookku yang jarang sekali aku gunakan. Biasanya aku hanya membuka akun sosial mediaku untuk melihat lihat postingan orang lain atau berita terkini tanpa mengupload foto atau status apapun.


Aku tidak mengerti mengapa saat ini perasaanku tidak enak, ada perasaan tidak tenang yang sulit kuungkapkan dengan kata-kata. Mungkin karena ini pertama kalinya aku akan berpisah dengan Ziva lebih dari dua puluh empat jam.


Saat Ziva tidurpun tak henti-hentinya aku membelai wajahnya menciumi tangan dan kepalanya. Ah, anakku sayang sudah mulai besar dan pintar makin hari juga makin cantik. Aku benar-benar menikmati kebersamaan kami malam ini.


"Besok Mama tidak tidak akan tidur dengan Ziva. Rasanya mama sudah sangat merindukan Ziva, walaupun Ziva belum pergi." Ucapku sambil terus menciumi punggung tangan anakku.


Ah, kenapa aku terlalu baperan seperti ini sih. Toh hanya dua hari Ziva bersama denga mas Angga. Aku tidak perlu khawatir, lagipula Mas Angga ayah kandung Ziva dan juga sangat menyayangi Ziva. Aku tidak boleh egois! Kata-kata itu yang selalu kuulang-ulang di kepalaku, agar aku tenang.


Setelah puas menciumi anakku, aku mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang akan Ziva gunakan di rumah Mas Angga. Aku memasukkan pakaian, susu, dan satu boneka kecil Ziva ke dalam tas. Setelah itu aku berbaring lagi disamping Ziva, memeluknya sampai aku tertidur.


*****


Aku bangun jam 5 pagi untuk membuat sarapan, khususnya sarapan untuk Ziva. Karena pagi ini sekitar jam tujuh, katanya mas Angga akan menjemput Ziva. Aku menyiapkan nasi goreng, ikan goreng, telur goreng dan sambal terasi sebagai menu sarapan pagi ini. Setelah memasak aku mandi, karena selesai mengantarkan Ziva aku juga harus kerja.

__ADS_1


Selesai mandi aku membangunkan Ziva. Kuciumi seluruh wajahnya, agar dia terganggu dari bobo cantiknya. Ziva lalu memutar badannya kearah samping, menjauhi wajahku.


"Ziva, bangun nak. Sebentar lagi papa mau jemput Ziva. Katanya Ziva mau ketemu papa."


Ziva mulai menggosok dan membuka matanya. Dia lalu bangun dan duduk diatas tempat tidur. Aku lalu memeluk dan mengantarnya ke kamar mandi di belakang.


Selesai mandi anakku sudah wangi dan cantik. Aku memakaikan dress pink di bawah lutut dengan sepatu dan kaos kaki senada yang cantik, rambutnya ku kepang mengitari kepalanya dan kupakaikan pita kuda poni kecil, terlihat lucu sekali. Untunglah rambut Ziva sangat lebat, memudahkanku untuk mengikatnya dengan berbagai model setiap hari. Kami lalu duduk di meja makan, aku menaruh nasi goreng dan telur ke piring Ziva.


"Ziva mau makan sendiri atau mama suapi?"


"Ziva makan sendili aja, ma!"


"Ah pinternya anak mama sudah besar. Tapi makannya hati-hati ya jangan sampai tumpah di baju. Nanti bajunya kotor, kan Ziva mau ketemu papa."


"Iya mama." Aku mengusap lembut kepala anakku.


Ziva pun makan, aku tersenyum melihat dia sudah pintar menggunakan sendok. Ziva menyendokkan makanannya dengan baik tanpa belepotan dan menumpahkan makanannya ke lantai. Hanya beberapa butir makanan yang jatuh di lantai.


Aku memanggil Gina dan Ibu untuk sarapan bersama. Ayah sedang ke pasar, sedangkan Reva sudah dari jam enam keluar rumah. Jadi hanya kami berempat di meja makan.


Jam tujuh lewat lima belas kudengar suara mobil masuk ke halaman.


"Assalamu'alaikum wr wb."


"Wa'alaikumusalam wr wb. Masuk mas."


Kulihat Raya kemudian keluar dari dalam mobil. Kenapa juga mas Angga membawa wanita itu kemari, membuatku kesal saja. Masih teringat kejadian di pompa bensin beberapa hari yang lalu. Wajah Raya pun terlihat tak kalah masamnya mengikuti mas Angga dari belakang. Aku semakin berat melepaskan Ziva bersama Mas Angga dan Raya.


Mas Angga masuk ke dalam rumah, tapi Raya hanya berdiri di luar. Dia seperti enggan untuk masuk. Matanya mengitari rumah ini dengan tatapan tidak suka dan merendahkan. Mungkin dia orang kaya, tidak biasa masuk rumah orang miskin seperti kami. 'Siapa juga yang suka dia datang ke rumahku, tidak ada juga yang mengundangnya. Kasihan ya masih muda dan orang kaya tapi dapatnya suami orang.' Ucapku dalam hati. Astagfirullahaladzim! Nyebut Reyna. Kenapa aku seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2