AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Video yang tersebar


__ADS_3

Mas Angga melewatiku dan Reva, tanpa melihat atau bahkan hanya menegur saja. Aku seperti manusia transparan yang tak terlihat bagi mas Angga. Mas Angga pergi sambil merangkul pundak Raya dengan mesra. Aku bisa melihat senyum kemenangan dari wajah Raya saat mereka melewatiku.


Aku bahkan tidak lebih berharga dari sekedar seorang kenalan bagi suamiku... Sakit? Jangan ditanya lagi. Hatiku masih sangat-sangat sakit melihatnya.


Ku kuat-kuatkan hatiku agar tidak menangis lagi. Demi Tuhan, aku tidak ingin menangis lagi karena laki laki brengsek seperti dia. Cukup!


"Kak Reyna ngga apa apa?" Tanya Reva khawatir.


"Hhmm." Aku mengangguk sambil mencoba untuk berusaha tersenyum dihadapan adikku.


Ku hela nafas dalam-dalam, dan kuhempaskan kasar. Ku genggam tangan anakku di sisi kiriku dan ku rangkul Reva di sisi kananku. Kami berjalan menyusuri mall ini. Aku tidak ingin berlarut dalam perasaan sedihku.


Aku melangkah berjalan, melewati beberapa toko di mall ini, kami berhenti di toko mainan dan aksesoris anak perempuan. Aku membelikan mainan dan aksesoris yang lucu-lucu untuk Ziva, tentu saja dengan harga yang murah meriah.


Ditoko ini juga ada boneka kuda poni yang ukurannya besar, lebih tinggi dari Ziva. Ziva sangat senang bisa membeli mainan yang banyak. Khususnya bisa membeli boneka kuda poni yang sangat Ziva inginkan. Aku membelinya dari uang satu juta yang diberikan mas Angga pada Ziva. Tapi untuk boneka kuda poni, Reva bersikeras yang membayarnya karena dia sudah berjanji pada Ziva.


Aku mengalihkan perasaan sedihku dengan bermain dan bercanda dengan Ziva dan Reva. Kami lalu masuk lagi di arena bermain anak anak yang memakai kartu. Ziva menaiki banyak wahana bermain. Ada wahana bermain yang harus didampingi orang dewasa, jadi aku dan Reva bergantian menemani Ziva. Kami berusaha menikmati kegiatan ini dengan canda tawa, tak lupa aku mengambil gambar untuk mengabadikan momen keseruan kami.


Setelah itu kami makan di KF*, sudah lama Ziva ingin makan makanan ini. Sekali-kali tidak apa apa makan makanan junk food, asalkan tidak selalu. Kupesankan makanan yang mendapat hadiah mainan anak-anak, tidak lupa juga memesan es krim. Ziva sangat senang.


"Ziva senang kan, jalan- jalan sama mama dan tante Reva?" Tanyaku bahagia melihat senyum di wajah anakku.


"Iya senang mama, Ziva senaaang banget! Makasi mama, Makasi tante Reva. Tadi Ziva naik keleta, mobil mobilan, naik kuda kudaan, sama main lempal lempal bola. Ziva juga sekalang punya banyak mainan, ada boneka kuda poni besal. Wah banyak sekali mainan Ziva." Ziva menjelaskan dengan begitu bersemangat dan dengan tingkahnya yang lucu.

__ADS_1


Ziva bahkan tidak membahas kejadian tadi bersama papanya saking senangnya. Untunglah anakku tidak menyimpan kejadian itu dalam hatinya. Dia juga pasti belum mengerti persoalan antara mama dan papanya. Aku turut bahagia jika anakku bahagia.


Sementara itu, tanpa disangka kejadian di maall tadi bersama mas Angga dan Raya direkam oleh seseorang, dan kebetulan orang tersebut teman sekolah Raya. Memang Raya termasuk cewek populer di sekolahnya, jadi saat berita itu tersebar, semua orang langsung membicarakan tentang Raya sebagai pelakor yang berpacaran dengan seorang pria beristri.


*****


"Mas... Aku tak mau sekolah lagi! Aku malu!"


Raya menelepon Angga sambil menangis tersedu sedu.


"Hah?? Malu, malu kenapa sayang?" Angga bingung karena Raya tiba-tiba mengadu sambil menangis tanpa membicarakan duduk permasalahan.


"Aku malu mas. Semua orang membicarakan aku disekolah! Bahkan adik adik kelas pun tanpa takut menyindirku di depan mataku!" Raya menjawab masih sambil menangis.


"Gini mas... kemarin waktu kejadian di mall saat kita ketemu sama isteri dan anak kamu, sepertinya ada teman sekolahku yang melihat dan dia merekam kejadian itu. Lalu disebarin deh video itu di sekolah. Semua temen temen aku sekarang sudah tahu kalau aku pacaran sama pria beristri dan mereka membuly aku dan bilang aku pelakor." Raya menjelaskan sambil sesekali terisak.


"Aku malu mas, aku malu! Hiks hiks."


"Oke sayang, tenang dulu ya. Sekarang mas jemput kamu, nanti kita bicarakan semuanya di mobil. oke?!"


"Cepetan ya mas. Aku malu!"


"Iya,iya sayang." Untunglah sekarang jam istirahat makan siang, jadi Angga tidak perlu minta izin untuk keluar kantor.

__ADS_1


Angga bergegas pergi menjemput Raya disekolahnya. Sesampainya di depan sekolah, ternyata Raya sudah menunggu di depan gerbang sekolahnya sambil berdiri dengan tas di punggungnya, padahal ini belum jam pulang sekolah. Angga langsung menepikan mobilnya di hadapan Raya.


"Astaga sayang, kenapa wajah kamu seperti itu?" Angga terkejut melihat Raya yang kacau karena habis menangis dengan mata bengkak dan rambut panjangnya yang sedikit terbongkar. Hilang sudah kecantikan gadis belia ini.


"Mas, kapan nikahin aku? Aku malu mas, aku ngga mau sekolah lagi! Aku akan mengambil persamaan saja untuk mengambil ijazah SMA. Lagian sebentar lagi perutku membesar. Aku tidak mau kembali ke sekolah!" Raya langsung menumpahkan isi hatinya saat masuk ke dalam mobil. Sepertinya Raya memikirkan banyak hal saat menunggu Angga tadi.


"Iya, iya sayang. Kita akan nikah kok secepatnya. Tapi kamu harus sekolah, kan kamu bisa pindah sekolah kalau kamu malu di sekolah ini. Lagian sayang sekali kan sebentar lagi kamu ujian akhir. Mumpung perut kamu belum membesar sayang." Angga berusaha menenangkan dan membujuk Raya. Sebenarnya Angga juga malu jika nanti punya isteri yang tidak tamat SMA.


"Ngga mas,aku ngga mau! Aku trauma kalau masuk sekolah lagi!"


"Lagian yang aku baca dari artikel di google, wanita hamil itu ngga boleh stress. Itu ngga baik buat kesehatan bayi dalam kandungan. Mas ngga mau kan punya anak cacat?!"


"Yah, sudah terserah, senyamannya kamu saja. Mas ikut apa mau kamu." Ucap Angga menyerah pada Raya.


"Iya mas. Lagian ya, ini juga karena isteri kamu tuh. Pasti dia sengaja ngikutin kamu! Terus disaat kita lagi sama sama, dia sengaja nyuruh anak kamu buat deketin kita. Aku ngga nyangka loh isteri kamu tega berbuat seperti itu. Jangan-jangan dia sengaja bayar orang lagi buat merekam terus disebarin di sekolah aku!" Raya mengadu, memprovokasi Angga.


"Reyna bukan orang seperti itu sayang, dia ngga mungkin berani melakukan itu." Ucap Angga sambil menjalankan mobilnya dengan perlahan.


"Kamu kenapa sih mas, masih aja belain isteri kamu yang jelek itu! Buktinya kan sudah kita lihat. Masa kejadian kemarin bisa di videoin dan bisa tersebar ke sekolahku sih. Perbuatan siapa coba kalau bukan ulah isteri kamu!"


"Iya, tapi bukan berarti itu perbuatan Reyna kan. Mungkin saja seperti katamu di telepon tadi, ada teman sekolah kamu yang lewat lalu mereka merekam kejadian kemarin." Ucap Angga masih membela Reyna.


"Duh mas, kamu ya dibilangin ngga mau percaya. Terserah deh.. jangan sampai kamu nyesel ya! Jangan-jangan setelah ini giliran kamu yang dipermalukan di depan teman teman kerjamu. Aku sih ngga masalah kalau harus berhenti sekolah. Lah kamu, memangnya kamu rela berhenti dari kerjaan kamu?!"

__ADS_1


__ADS_2