
Pembicaraan ayah dan ibu membuatku merasa menjadi beban bagi orang tuaku. Bagaimana tidak, kehadiranku di rumah ini menambah pengeluaran mereka untuk tambahan 2 mulut yang harus diberi makan, belum lagi biaya untuk membeli susu formula bagi Ziva karena Ziva masih meminum susu. Sejak aku tinggal disini susu formula Ziva selalu di beli oleh ibu. Ibu pasti tahu aku tidak punya uang. Aku tidak pernah meminta apapun pada ibu, tapi seminggu sekali ibu akan membeli 1 kaleng susu untuk Ziva.
Sejak umur 1 tahun Ziva sudah tidak lagi meminum ASI karena ASI ku sudah tidak lagi keluar, jadi sampai sekarang Ziva hanya ditopang dengan susu formula yang diminum sore dan malam hari sebelum tidur.
Saat ini aku bertekad untuk mencari pekerjaan. Kupersiapkan semua berkas-berkas ku sebagai persyaratan untuk melamar kerja. Untunglah semua berkas dan surat-surat penting kusimpan di rumah ini. Aku mengambil holder berkas-berkas penting seperti akte lahir, ijazah SD - ijazah S1, transkrip nilai, dan berkas penting lainnya yang ada di laci lemari pakaian. Untunglah Gina tidak memindahkannya. Baju-baju serta barang-barang milikku masih tertata rapi di lemari milik ku
Untuk melamar pekerjaan aku juga butuh pas foto. Kulihat pas fotoku... Ah sudah tidak seperti diriku yang sekarang. Tentu saja aku yang dulu masih terlihat cantik dengan tubuh langsing dan wajah tirus, terlihat cantik walaupun hanya memakai bedak dan lipgloss. Ah, aku memuji diriku, tapi diriku yang dulu.
Aku harus mengambil foto baru. Aku mengambil gambarku secara selfie dengan latar dinding putih di belakang, hanya dengan kamera ponsel. Aku menaruh ponselku di atas meja yang sedikit tinggi dan menaruh ponselku dengan ganjalan. Kuaktifkan timer kamera dan aku mulai mengambil gambar untuk pas foto.
Aku meminjam laptop Gina untuk mengetik surat lamaran, dan CV. Sekarang tinggal mencetak foto, surat lamaran,CV dan mengcoppy ktp, ijazah, transkrip nilai, dan surat pengalaman kerja.
Untunglah saat ini Ziva masih tidur siang. Aku akan meminjam motor ayah untuk pergi ke tempat fotokopi.
"Ayah, aku boleh pinjam motor ayah sebentar?"
"Mau kemana,Nak?"
"Aku ada urusan sebentar yah."
Aku sengaja belum memberitahukan perihal aku yang akan melamar pekerjaan kepada ayah.
"Kunci nya ada digantungan paku ruang tengah ya. Hati-hati di jalan!"
"Iya Yah, aku hanya sebentar kok. Titip Ziva juga yah, dia masih tidur siang di kamar."
__ADS_1
"Hhmm." Ayah menganggukkan kepalanya. Aku lalu mengambil kunci motor, map, dan dompetku. Lalu bergegas pergi dengan motor ayah.
Sesampainya di tempat fotokopi, aku langsung mengirimkan melalui whats app data surat lamaran kerja dan CV yang kusimpan dari ponselku ke komputer untuk di print, kebetulan tempat ini sudah lengkap untuk fotokopi dan pencetakan foto. Jadi aku tak perlu pergi ke tempat lain. Kubuat lamaran beberapa rangkap agar bisa memasukkan ke beberapa perusahaan.
Sementara mem print surat lamaran, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang masuk untuk fotokopi. Ternyata itu Rian, teman sekantor ku waktu bekerja di perusahaan pembiayaan.
Aku tersenyum melihatnya. Tapi sepertinya Rian tidak mengingatku, padahal baru 3 tahun lebih aku berhenti bekerja. Rian mengerutkan dahinya, melihatku sambil mencoba mengenaliku. Mungkin dia sulit mengenaliku karena bobot tubuhku yang bertambah gembul, dan perangaiku seperti ibu-ibu.
"Reyna? Kamu Reyna? Waahhh.... Apa kabar kamu?" Dia melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan seperti... mencemooh. aku menjadi risih mendapat tatapan seperti itu.
"Kabarku baik." Jawabku sambil berusaha tersenyum padanya.
"Sedang apa kamu disini, kamu sudah menikah kan?
"Hmm, aku sedang memprint surat lamaran."
"Kamu sudah bercerai?" Ternyata dia fokus pada bagian status pernikahanku yang tertulis di surat lamaran.
Ya Tuhan... kata-katanya tidak salah. Tapi gaya dan caranya berbicara, aku merasa seperti mendapat hinaan. Istighfar!! Aku mengucapkan Astagfirullah dalam hatiku.
"Coba dulu kamu tidak jual mahal padaku. Pasti saat ini kita sudah menikah dan hidupmu terjamin. Tidak seperti sekarang!" Rian melihatku dengan tatapan merendahkan.
Dulu saat masih bekerja, Rian adalah salah satu laki-laki yang mendekatiku, tapi aku selalu menolak ajakan dan pendekatannya dengan cara halus. Tentu saja aku menolak, orangnya memang terlihat kurang baik. Selalu menunjukkan kekayaannya dengan cara berlebihan, dan merasa lebih dari orang lain.
Padahal dulu kami seangkatan waktu masuk kerja, tapi dia tidak pernah menghormati para senior. Wajar jika banyak teman-teman yang tidak menyukainya. Tapi dia sangat percaya diri karena Pamannya adalah pimpinan di pusat.
__ADS_1
Dia juga sering menyombangkan kekayaan keluarganya baik dengan barang-barang miliknya seperti, mobil, ponsel, sepatu,dll. Bukan hanya itu saja, bahkan Rian tidak segan-segan menceritakan tentang harga barang-barang yang dia punya. Tentu saja aku tidak menyukai sifatnya itu, malah semakin membuatku ilfeel.
Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapannya. Aku lalu memyibukkan diri dengan aktifitasku melanjutkan memprint CV. Tak kuhiraukan lagi dia. Malas.
Kulihat dia sudah selesai dengan aktifitas fotokopi nya. Setelah membayar, dia lalu keluar tempat ini tanpa menyapaku.
Biar saja, dia pergi. Tak perlu juga aku disapa olehnya. Aku malah lega dia sudah pergi dari tempat ini. Aku lalu lanjut untuk fotokopi dan mencetak pas fotoku.
Setelah selesai dengan keperluanku di tempat ini, aku lalu membayar ke kasir dan pergi dari tempat ini.
Hari ini cukup sampai disini. Yang penting aku sudah mempersiapkan berkas lamaran yang kubuat beberapa rangkap untuk dimasukkan dibeberapa tempat. Rencananya besok pagi, baru aku akan berjalan memasukkan lamaran baik itu di perusahaan-perusahaan atau di toko-toko, atau dimana saja yang penting bisa kerja dan mendapatkan uang secara halal. Entahlah aku seperti sudah tidak percaya diri melamar di perusahaan-perusahaan besar mengingat statusku yang menikah dan sudah bercerai, ditambah lagi penampilanku sekarang yang tidak muda dan menarik lagi.
Aku mampir ke SPBU untuk mengisi bensin karena kulihat bensin motor ayah ini tinggal sedikit, aku berencana untuk meminjam motor lagi pada ayah besok supaya lebih hemat ongkos, karena harus pergi ke beberapa tempat.
Sambil mengantri untuk pengisian bensin, aku melihat mobil yang sangat aku kenali. Ada mobil Mas Angga di seberangku sedang mengantri mengisi bensin berada di antrian mobil. Aku bisa melihat dengan jelas Mas Angga dan Raya berada dalam mobil. Mereka begitu mesra saling merangkul di dalam mobil.
Tiba-tiba pikiranku melayang ke masa-masa saat masih menjadi pengantin baru, saat kami baru menikah dulu. Mas Angga mengajarkan aku cara menyetir, lalu setelah lancar membawa mobil dan mendapat SIM A mas Angga menyuruhku membawa mobil sendiri. Setiap hari aku yang membawa mobil dan mengantar Mas Angga pergi dan pulang kantor. Ah, itulah masa-masa bahagiaku saat bersama dengan Mas Angga.
Sakit... Masih sakit melihat mantan suamiku. Ya sekarang mas Angga sudah resmi menjadi mantan suamiku. Sebenarnya aku sudah tidak punya hak lagi untuk cemburu pada mereka. Tapi salahkan hati ini yang masih sakit melihatnya. Aku berusaha mengontrol hatiku, tapi apakah bisa mengontrol hati ini? Aku hanya bisa mengontrol sikapku. Tuhan mampukan aku! begitu besar luka yang dia torehkan di hati ini! Aku ingin sembuh dari luka ini! Aku tidak membencinya, aku hanya tidak ingin mencintainya lagi!
Selesai giliranku mengisi bensin, aku meminggirkan motorku, bersiap naik ke atas motor, menstater dan bergegas pergi.
Tiba-tiba ada suara memanggil.
"Hey... Reyna!"
__ADS_1
Suara wanita.... Aku mencari sumber suara.