
Ya Tuhan, kata-katanya sungguh sangat menyinggungku. Memangnya pekerjaan ojek online sangat hina dan rendah dimatanya?! Hatiku sakit dan kalut menghadapi situasi ini!
Tapi aku berusaha berpikir positif. Inilah tantangan yang harus aku lalui dalam pekerjaan ini. Semua pekerjaan pasti punya tantangannya masing-masing. Aku hanya tidak menyangka sama sekali kalau barang yang kubawa ini adalah uang tunai, karena selain si pengirim tidak memberitahukannya, barang ini ditaruh dalam paper bag dan isinya terbungkus dengan plastik hitam yang terikat.
Aku sadar aku memang bersalah, karena tadi saat tahu ban kempis harusnya aku langsung menghubungi Bapak ini, dan mengabarkan bahwa akan terlambat karena kondisi ban motor yang kempis dan hujan deras. Dan lagi barang yang aku bawa ini adalah uang, aku memang tidak mengetahui nominalnya tapi tetap saja ini barang berharga. Pasti si Bapak sangat khawatir tadi karena tidak ada kabar dari yang mengantarkan barang.
Aku memberanikan diriku menjawab perkataannya yang... Uuhhh, menyakitkan sekali! Kutarik nafas dalam-dalam dan ku buang melalui mulutku, kutenangkan pikiran agar dapat menjawab perkataannya dengan baik.
"Mohon maaf pak, tadi saya tidak diberi tahu oleh isteri Bapak kalau barang yang saya bawa ini uang tunai. Saya juga belum terlalu jauh dari rumah Bapak. Motor saya terkena paku dan bannya kempis, posisi saat ini juga sedang hujan deras pak. Kalau mau, bapak bisa mengambilnya disini atau menunggu saya selesai memperbaiki motor. Saya akan mengirimkan lokasi saya dan foto barang, serta keadaan saya disini yang sedang hujan lebat pada bapak via WA. Saya tidak akan melarikan diri Pak. Saya bisa jamin itu!"
"Saya tidak mau tahu! Isteri saya sudah menyerahkan barang itu padamu untuk diantarkan pada saya! Pokoknya saya tidak mau tahu ya, saya tunggu kamu sekarang juga! Saya beri waktu tiga puluh menit, jika kamu belum juga sampai disini dalam waktu tiga puluh menit, siap-siap kamu saya laporkan ke polisi!"
Ia lalu memutuskan telepon secara sepihak.
Duuh betapa sangat tidak sopannya Bapak ini.
Aku menarik nafasku dalam, lalu membuangnya melalui mulutku sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Entah kenapa, cara ini biasanya efektif membuat aku tenang dan rileks kembali. Tapi saat ini cara tersebut tidak memberikan dampak apapun bagiku. Hatiku sakit, gelisah, dan aku tak tahu harus melakukan apa. Dimana aku harus menemukan bengkel atau tempat tambal ban di tempat yang tidak pernah ku kunjungi ini, dan dalam kondisi hujan badai seperti ini!? Adakah yang bisa menolongku dari situasi ini?!
Udara dingin, angin kencang, hujan lebat dan petir semakin membuat hatiku merasa sakit. Sakit sekali... Rasa sakit dari penghinaan dan kemiskinan yang kurasakan membuat aku merasa sesak di dada! Aku merasa benar-benar sendiri! Tidak ada kekasih dan tempat untuk bersandar! Suami yang bahkan kupukir orang yang terdekat dalam hidupku, pergi meninggalkanku!
Aku lalu teringat pesan ayah, agar menghubunginya ketika terjadi sesuatu di jalan. Aku ingin meneleponnya. Tapi... Apa yang nanti ayah pikirkan tentangku, jika pada hari pertama bekerja saja aku tidak bisa mengatasi masalahku! Ayah juga pasti tidak senang kalau tahu aku mengalami kejadian seperti ini! Aku maluu!! Tuhan... Apa yang harus aku lakukan?
Aku mengambil foto barang yang ku gantung di motor, ku foto kondisi jalanan yang hujan, dan tempat dimana aku berteduh, lalu ku kirim di nomor WA Bapak tadi. Tak lupa aku juga mengirimkan lokasiku. Selesai mengirimkan pesan, tanganku bergetar, aku menangis! Air mata ini mengalir dengan deras seperti hujan lebat ini. Sebegitu beratkah mencari sesuap nasi!? Mengapa hal yang tidak menyenangkan selalu menghampiriku?!
Semua kejadian buruk yang terjadi dalam hidupku beberapa bulan ini terlintas dalam ingatanku, membuatku semakin terisak! Aku menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa yang membebani hatiku! Apakah tidak ada kebahagiaan untuk diriku?!
Biasanya aku harus menahan suara tangisku karena takut terdengar orang rumah. Tapi saat ini aku menumpahkan tangisku, tanpa harus takut terdengar orang lain, karena tertutup dengan suara hujan yang lebat! Aku menangis... Berteriak sekeras-kerasnya, meratapi nasibku!!!
Aku terkejut, sampai membuatku melompat dari tempatku berdiri! Aku menghapus air mata yang masih tersisa di pipiku. Apakah ini setan?? Tuyul?? Malaikat maut??
Ya Tuhan maafkan aku! Sepertinya ini manusia biasa! Aku tak menyangka ternyata disampingku ada seorang Bapak yang memakai kursi roda sedang melihatku dengan tatapan sedih. Beliau seperti merasakan kesedihanku.
Sejak kapan Bapak ini berada di sampingku? Aku bahkan tidak menyadari keberadaannya? Kapan Ia datang ke tempat ini? Perasaan sejak tadi hanya aku seorang diri di tempat ini!
__ADS_1
"Saya tiba disini saat mbak sedang sibuk dengan ponsel mbak." Sepertinya Beliau bisa memahami maksud tatapanku.
"Oh...hmmm.." jawabku sambil menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum yang terkesan dipaksakan. Bagaimana tidak, aku masih syok dengan keberadaannya.
"Saya tidak tahu apa yang sedang mbak alami, tapi saya lihat mbak masih di beri kesehatan dan organ yang sempurna untuk bekerja."
"Saya kehilangan kaki saya karena kecelakaan bersama isteri saya. Isteri saya meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan saya harus kehilangan kedua kaki saya. Saya harus kehilangan pekerjaan saya sebagai security di sebuah perusahaan swasta. Saya bahkan tidak bisa berdiri dengan kedua kaki saya sendiri! Awalnya semua keperluanku harus dibantu orang lain, sampai untuk buang air saja saya tidak bisa sendiri! Belum lagi kala mendengar omongan orang, ada yang seperti menghakimi ku, seakan aku mendapat kutukan dari Tuhan. Sangat menyakitkan! Saya merasa sangaaat sangat terpuruk...seakan diri saya yang paling menderita di dunia ini!"
"Tapi ketika saya merasa tidak berdaya, tidak punya tempat berbagi keluh kesah, tidak ada lagi kekuatan dan harapan untuk hidup, seakan masalahku tidak ada habisnya. Kehilangan kedua kaki, kehilangan isteri, kehilangan pekerjaan, dan harus hidup dan berjuang untuk membesarkan anak-anak ku seorang diri, masalah datang silih berganti, seakan tiada habisnya. Kemudian saya menyadari bahwa saya telah menjauh dari Tuhan. Saya lebih fokus dengan masalah hidup saya dibandingkan dengan berserah pada Tuhan. Saya tidak bisa melihat kasih karunia Tuhan yang begitu besar dalam hidup saya. Saya kemudian mulai berserah dan berharap kepada Tuhan. Tuhan sumber kekuatan dan tempat untuk berkeluh kesah."
"Saya mulai menerima keadaan saya! Beban di hati saya pun lambat laun terasa ringan. Setidaknya saat ini saya masih punya tangan untuk bekerja dan membiayai kedua anak saya. Pesangon yang saya terima dari perusahaan tempat saya dulu bekerja, saya jadikan modal untuk membuka bengkel, dan usaha kecil-kecilan di rumah. Saya bisa menghidupi kedua anak saya dari hasil usaha saya sendiri. Ah, itu anak saya. Tadi saat turun hujan saya meneleponnya, dan katanya dia sudah di jalan pulang, jadi saya datang kemari menjemputnya untuk membawakan payung dan jaket hujan karena tadi masih hujan dan angin kencang."
Bapak ini berbicara panjang lebar. Beliau seperti mailakat yang datang untuk menghibur dan menasihati ku. Aku mendapat kekuatan dari kata-katanya. Seperti mendapat pengalaman yang berharga dari cerita si Bapak. Ternyata di luar sana banyak orang lebih menderita dariku, dan beliau bisa bangkit dari keterpurukannya.
Hujan saat ini sudah mulai reda. Aku melihat anak laki-laki berseragam putih biru turun dari angkot.
Ahh, Bukankah tadi Bapak ini bilang kalau dia punya bengkel? Kuberanikan diriku untuk bertanya.
__ADS_1
"Pak, Bapak punya bengkel?? Rumah bapak dimana?"