AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Ziva kecelakaan


__ADS_3

Entah kenapa sepanjang hari, perasaan ku tidak tenang. Hatiku seperti di remas-remas, membuat aku ingin menangis. Tapi rasa sakit ini tidak seperti biasanya.


Ya Tuhan, sampai kapan aku akan keluar dari keterpurukan ini? Sudah tak terhitung lagi aku mengatakan kepada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang kuat! Aku tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam perasaan seperti ini. Aku ingin bahagia ya Tuhan. Tapi kenapa aku selalu saja merasakan rasa sakit ini!?


Tidak mudah melupakan perjalanan rumah tangga, yang kupikir hanya sekali seumur hidup kujalani. Aku bukanlah wanita perkasa seperti di novel-novel yang hari ini terluka, besok langsung sembuh dari semua rasa sakit dan pengkhianatan.


*****


Selesai mengantarkan penumpang ke suatu kompleks, aku terus menjalankan motorku keluar sisi jalan lain sambil menunggu orderan baru yang masuk. Saat melewati kuburan, aku melihat dua orang laki-laki. Yang satu berpakaian rapi, dan yang satunya mungkin penjaga makam atau seorang petani yang sedang lewat. Terlihat Bapak yang berpakaian sederhana sedang kesulitan memeluk Bapak satunya yang memakai pakaian rapi.


Aku memelankan laju motorku, untuk melihat keadaan kedua bapak itu, dan ternyata bapak yang satunya sedang berteriak meminta tolong. Aku langsung menepikan motorku dan berlari menuju ke tengah makam tempat dimana kedua bapak itu berada.


"Tolong! Tolong!" Teriak Bapak yang berpakaian sederhana.


"Pak, ada apa ini?" Tanyaku terkejut melihat kondisi Bapak yang satunya.


"Mbak, tolong mbak. Bapak ini sepertinya terkena serangan jantung! Tadi Bapak ini baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja badannya gemetaran, dan hampir kehilangan kesadaran."


Kulihat Bapak ini masih berbicara tapi suaranya kurang jelas seperti sedang meracau, badannya gemetaran, berkeringat dingin, dan jantungya terdengar berdebar-debar. Kalau aku tidak salah duga, sepertinya Bapak ini mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stress pasca trauma. Dilihat dari kondisinya, dan keadaan dimana kami berada. Sepertinya ini makam orang yang sangat penting bagi orang ini. Aku pernah punya teman yang menderita penyakit ini karena trauma melihat kematian pacarnya yang meninggal akibat tertabrak mobil di depan matanya. Keadaannya sama persis dengan Bapak ini saat dalam kondisi tertentu.


"Pak?" Aku bertanya dengan suara sedikit keras sambil memegang pundaknya.


"Pak, Bapak bisa dengar suara saya?! Tarik nafas dalam-dalam ya pak. Lalu buang melalui mulut!" Aku menuntun Bapak ini untuk melakukannya beberapa kali, sampai dia terlihat sedikit tenang. Aku mengetahui dari temanku, cara ini bisa menjadi pertolongan pertama bagi pasien penderita PTSD selain meminum obat anti depresan.


Dia ingin berdiri, tapi kakinya tidak kuat. sepertinya kondisinya belum sepenuhnya stabil. Aku dan Bapak yang satunya berinisiatif untuk membantu memapah Bapak ini menuju ke mobilnya.


"Bapak yakin bisa mengendarai mobil dengan baik pada saat ini?" Aku bertanya, saat Bapak ini masuk ke mobilnya dan duduk di bangku kemudi.

__ADS_1


Aku tidak yakin dia bisa, melihat kondisi Bapak ini yang masih lemah wajahnya saja terlihat pucat, dan kelihatannya dia tidak bisa mengendarai mobill dengan benar, bisa-bisa dia kecelakaan. Sepertinya saat ini dia butuh penanganan medis.


"Ada keluarga, atau orang terdekat yang bisa dihubungi untuk datang kemari Pak?" Bapak ini seperti berpikir sedikit lama.


"Hmm, sepertinya asisten saya saat ini berada jauh dari tempat ini. Butuh waktu dua jam baginya untuk sampai disini" Jawabnya dengan suara lemah.


"Kamu bisa nyetir?" Bapak ini balik bertanya padaku.


"Bi-bisa sih pak. Tapi..."


Aku memang bisa menyetir dan juga punya SIM A. Tapi aku tidak yakin bisa mengendarai mobil mewah ini. Bapak ini menyerahkan kunci mobil Mercy nya kepadaku. Ya Tuhan, bagaimana cara mengendarai mobil mewah ini. Aku saja baru pertama kali masuk mobil seperti ini. Mobil mas Angga memang termasuk mobil mewah, tapi masih jauh di bawah mobil ini. Disini bahkan tidak ada tuas porsnelengnya. Ya Tuhan bagaimana cara ku menjalankan mobil ini?


Untung saja aku tidak kehilangan akal, aku segera membuka youtube untuk melihat cara menggunakan mobil mewah ini. Untunglah di video yang berdurasi sepuluh menit, semua dijelaskan dengan cara yang sangat mudah di pahami walaupun aku hanya melihatnya selama dua menit, kupercepat hanya di bagian yang tidak ku mengerti saja.


Akhirnya aku bisa mengendarai mobil mewah ini dengan mulus tanpa hambatan. Motorku tadi kuparkir di sebuah pondok dekat makam. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semoga motorku aman sampai aku jemput nanti. Saat ini hanya motor itu satu-satunya yang memberikanku pekerjaan.


[Dok, penyakitku kumat lagi.]


[Sekarang sudah agak baikan sih.]


[Kami sedang menuju Rumah Sakit Harapan Kita sekarang.]


[Ok. Kita ketemu disana saja.] Kudengar Bapak yang ada di belakangku berbicara di telepon, masih dengan kondisinya yang lemah.



Sampai di rumah sakit, seorang dokter Laki-laki berusia awal empat puluhan sudah menunggu kami dengan membawa kursi roda. Kulihat di bajunya tertulis nama dr. Rendi. Setelah Bapak tadi duduk di kursi roda, dokter lalu mendorong kursi roda ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Aku memarkirkan mobil Mercy ini di area parkir rumah sakit. Setelah itu mencari dokter yang bernama Rendi tadi di tempat yang kulihat dia masuki. Seteleh bertemu, aku menyerahkan kunci mobil bapak tadi dan memberitahukan lokasi tempat aku memarkirkan mobil.


Dokter Rendi, bertanya namaku. Akupun mengatakan namaku padanya. Tapi saat beliau meminta nomor telepon ku, aku tidak memberikannya. Katanya dia akan menghubungiku untuk memberikan sejumlah uang kompensasi sebagai tanda terima kasih karena telah menolong bapak tadi. Tentu saja aku tolak. Aku tulus menolong bapak tadi. Tidak ada harapan mendapat imbalan apapun, karena menolong orang yang terlihat kaya. Aku lalu pamit untuk mengambil motor yang kuparkir di makam tadi.


Sebelum mencari ojek online, aku melihat jam. Ternyata sudah jam tiga sore. Aku ingin menghubungi mas Angga untuk menanyakan keadaan Ziva. Tapi aku ragu-ragu untuk menghubungi mas Angga, karena status kami yang bukan lagi suami isteri. Dia bahkan sudah punya isteri baru. Jangan sampai telepon ku membuat terjadi salah paham diantara mereka.


Ahhh, tapi aku kepikiran terus dengan Ziva. Sedang apa anakku saat ini?! Aku harus menghubungi anakku.


Baru saja aku ingin menelepon Mas Angg, tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor Mas Angga. Kebetulan sekali. Aku langsung mengangkatnya.


[Halo Mas, bagaimana Ziva? Sedang apa dia sekarang, Mas?] Aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia, kala mendapat kabar dari Mas Angga.


Tapi tiba-tiba senyumku langsung hilang, saat mendengar jawaban dari mas Angga.


[Na... Ziva, Ziva kecelakaan!] Ucap Mas Angga dengan suara gemetar.


Deghh!!!!


[Ke-kecelakaan? Maksud mas Ziva putriku kecelakaan?! Bagaimana bisa Mas?] Aku bertanya sambil sedikit berteriak.


Aku sudah tidak bisa mengontrol diriku lagi. Aku sangat kalut! Hatiku sakit menerima kabar dari mas Angga.



[Ziva jatuh dari jendela, kepalanya terbentur pot bunga dan mengalami cedera di bagian kepalanya, saat ini kami sedang menunggu proses operasi di Rumah Sakit Harapan Kita] Ucap Mas Angga.


Kakiku langsung lemas saat mendengar ucapan mas Angga. Seperti tidak memiliki urat dan sendi untuk menopang tubuhku. Aku langsung tersungkur di lantai. Tanpa sadar air mataku langsung jatuh.

__ADS_1


Ya Tuhan, apalagi ini? Anakku kecelakaan dan saat ini sedang di operasi?!


__ADS_2