AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Raya melahirkan


__ADS_3

Di rumah Raya, Raya sedang berjuang menahan sakit yang hebat di lantai kamar mandi seorang diri.


Arrggh... sakit... sakiiiit! Tolong... mama!" Raya hanya bisa berteriak dan menangis meratapi ketidak berdayaannya. Raya bahkan tidak bisa berdiri karena menahan sakitnya kontraksi di perutnya. Dalam hati Raya mengutuk keluarganya karena tidak berada di rumah saat Raya membutuhkan mereka.


Satu jam Raya tersiksa karena sakit yang hebat di perutnya. Saat ini suaranya bahkan sudah serak dan mulutnya hampir tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa karena terlalu lama berteriak dan menangis menahan sakit.


Akhirnya setelah satu jam berlalu, mamanya Raya pulang ke rumah, dan kaget mendapati putrinya tergeletak di lantai kamar mandi dengan kondisi setengah sadar.


"Raya... Raya. Ya Tuhan, apa yang terjadi nak?" Ucap Ibu Ratna, ibunya Raya yang khawatir melihat kondisi anaknya. Raya pun segera di larikan oleh mamanya ke rumah sakit terdekat.


Setelah tiba di IGD rumah sakit, dokter langsung menangani Raya. Raya hanya bisa berteriak dan menangis menahan sakit di perutnya. Raya langsung di infus dan diperiksa tekanan darahnya, ternyata tekanan darah Raya sangat tinggi yaitu 160/110. Dokter umum kemudian mengalihkan Raya ke dokter spesilis obgyn lalu Raya dipindahkan ke bagian kandungan. Di ruangan bersalin dokter spesialis obgyn kemudian melakukan berbagai tes untuk pemeriksaan lanjutan.


Dokter kemudian melakukan tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine. Kemimudian tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah. Lalu melakukan USG untuk melihat kondisi dan pergerakan janin. Lalu melakukan USG Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta. Dan terakhir dokter melakukan pemeriksaan Nonstress test (NST) dengan cardiotocography atau CTG, untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan.


Dokter kemudian memanggil ibu Ratna selaku wali dan orang tua Raya.


"Bu, kami telah melakukan berbagai tes pada pasien dan dapat diketahui anak ibu mengalami preeklamsia (Preeklamsia adalah peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine yang terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Bila tidak segera ditangani, preeklamsia bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu dan janin). Kami harus segera mengeluarkan bayi dalam kandungan pasien, karena kalau tidak kondisi ini sangat berbahaya dan mengancam keselamatan ibu dan janin." Ucap dokter pada Ibu Ratna.

__ADS_1


"Kami telah memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah dan obat untuk mencegah komplikasi kejang pada pasien. Tapi sampai saat ini tekanan darah pasien masih tinggi, dan sangat beresiko melakukan persalinan normal walaupun secara induksi." Sambung dokter.


"Jadi solusi untuk anak saya bagaimana dok?" Tanya ibu Ratna ketus karena tidak sabaran dan bingung dengan penjelasan dokter yang panjang lebar, sehingga membuat dokter kurang respect dengan sikap ibu Ratna.


"Kami harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi, agar tidak membahayakan keselamatan ibu dan bayi." Ucap dokter.


"Tapi sekarang operasi caesar sudah bisa pulih dengan cepat kan dok? Dua jam pasien sudah bisa duduk, dan tidak merasa sakit kan? Apa namanya ER... ERANG?"


"Metode ERACS bu. Maaf rumah sakit ini belum melakukan operasi caesar dengan metode ERACS bu." Jawab dokter singkat.


"Iya bu." Jawab dokter sangat singkat, berusaha menahan dirinya agar tidak terpancing dengan ucapan Ibu Ratna.


"Kalau ada Rumah sakit yang melakukan operasi dengan metode Eras, atau apa namanya. Lebih baik saya pindahkan saja anak saya kesana!" Ucap Ibu Ratna dengan sombongnya pada dokter.


"Kalau pasien keluar dari rumah sakit pada saat ini, berarti pasien melakukan penolakan atas tindakan medis yang dilakukan oleh rumah sakit. Dan pasien tidak bisa lagi menggunakan asuransi BP*S kesehatan yang pasien gunakan saat ini. Silahkan ibu pindah ke rumah sakit lain, jika memang itu keinginan ibu." Ucap dokter dengan tegas.


Ucapan dokter sangat telak membungkam kesombongan ibu Ratna. Pasalnya saat ini ia dan keluarganya tidak punya uang untuk persalinan Raya. Tadi saja saat di bagian administrasi, saat petugas meminta data Raya untuk diregistrasi, Ibu Ratna hampir saja kebingungan karena Raya tidak punya berkas apapun yang dia bawa dari rumah Angga. Statusnya sebagai isteri Angga kemungkinan tidak berguna, karena Angga beberapa bulan ini sudah tidak lagi bekerja dan pasti tidak terdaftar mengikuti asuransi kesehatan apapun. Untunglah Ibu Ratna masih menyimpan kartu BP*S Raya yang lama, karena Raya masih tertanggung untuk keikutsertaan ayah Raya dalam asuransi kesehatan yang diikuti ayah Raya. Jadi untuk biaya persalinan Raya masih tercover BP*S kesehatan dan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun.

__ADS_1


Akhirnya Ibu Ratna menyetujui dan menandatangani dokumen persetejuan untuk operasi caesar untuk Raya. Sambil dokter melakukan persiapan operasi, Ibu Ratna segera menelepon suami dan anak sulungnya untuk menemaninya di rumah sakit. Ibu Ratna juga segera menghubungi Angga dan keluarganya, karena bagaimanapun mereka harus tahu dan bertanggung jawab dengan bayi yang akan Raya lahirkan.


Satu jam kemudian, Bapak Anto, Ayah Raya, dan kakak Raya tiba di rumah sakit. Persalinan berjalan lancar dan bayi sudah lahir dengan proses operasi caesar. Kondisi Raya saat ini sudah stabil, dan tekanan darahnya sudah normal. Saat ini Raya masih berada di ruang observasi ruang bedah dan belum dipindahkan ke ruang rawat. Papa, mama dan kakak Raya segera bergegas ke ruang bayi melihat anggota keluarga mereka yang baru walaupun hanya dari kaca.


Papa, mama dan kakak Raya sangat terkejut melihat cucu dan keponakan mereka yang...


"Permisi dokter, apa benar itu cucu saya?" Tanya papa Raya pada dokter yang ada di ruangan bayi.


"Maaf, nama ibu bayi siapa ya?" Dokter balik bertanya.


"Nama anak saya Raya, Raya Permatasari dok." Ucap Bapak Anto.


"Oh iya pak. Itu bayi dari ibu Raya Permatasari. Sesuai dengan papan yang tertera di depan box bayi." Jawab dokter menunjuk sebuah box bayi dengan papan yang tertulis bayi ny. Raya Permatasari. Lalu dokter berlalu meninggalkan papanya Raya.


"Ya Tuhan, kenapa dengan cucu kita ma? Kenapa terlihat seperti bayi orang bule?" Keluarga Raya sangat terkejut melihat anak Raya yang tidak seperti bayi-bayi Asia. Rambut bayi yang lebat dan berwarna pirang dengan hidung mancung, dan kulit putih kemerahan seperti bukan anak dari Raya dan Angga yang tidak memiliki darah atau keturunan bule.


Di saat yang sama Raya sudah dipindahkan dari ruang bedah ke ruang rawat, dan saat ini Angga dan kedua orang tuanya tiba di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2