AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Tangisan yang memilukan


__ADS_3

Ah, aku sangat termotivasi dengan ibu driver ojol ini. Walaupun sudah menjanda, beliau punya semangat yang tinggi demi kelangsungan hidupnya dan kedua anaknya. Aku juga punya anak yang menjadi penyemangat hidupku. Aku akan berjuang demi Ziva, walau harus menjanda yang penting aku tidak tersakiti lagi karena perbuatan mas Angga dan keluarganya.


Ah nenek, tiba tiba saja aku mengingat nenek Mas Angga. Aku merindukannya. Sudah 3 hari kami tak bertemu. Tadi juga aku tak melihatnya di rumah mas Angga. Seandainya aku bisa membawamu tinggal bersamaku dan Ziva, aku akan mengurusmu dengan baik. Tapi tentu saja aku tak punya hak membawa nenek Mina ikut denganku. Aku sangat menyayanginya.


Walaupun bagi orang lain nenek tidak berguna, hanyalah pengganggu dan pembuat masalah, tapi tidak bagiku. Bagiku nenek adalah sahabat dan peghiburku di rumah mas Angga.


Aku tersadar dari lamunanku ketika ojol yang kutumpangi berhenti di depan rumahku.


"Bu, bisa tolong tunggu aku mau ke dalam sebentar?" Tanyaku.


Ibu driver ojol menganggukkan kepala dan tersenyum. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan mengambil dompet ku yang ketinggalan di kamarku. Aku bergegas keluar dan membayar ongkos ke ibu driver ojol.


"Ini Bu, aku lebihin sedikit." Aku tambahkan uang 20 ribu dari ongkos yang tertera di aplikasi.


"Aduh ini udah kebanyakan mbak."


"Ngga apa apa. Ini rejeki Ibi. Mudah mudahan pekerjaannya berkah buat keluarga ya." Aku dengan tulus mendoakannya. Ya walaupun saat ini aku juga masih dalam kekurangan tapi aku sangat senang masih diberi kesempatan untuk berbagi. Ibu driver ojol sangat berterima kasih dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


*****


Tak terasa sudah seminggu berlalu sejak kejadian aku bertemu dengan Raya dan mas Angga.


Siang ini, setelah menidurkan Ziva aku menggantikan ayah untuk menjaga warung. Menjaga warung tidak sulit, hanya duduk menunggu pembeli datang sambil aku membaca novel di aplikasi baca online kesayanganku.


Sebenarnya pekerjaanku di rumah ini tidaklah banyak. Ayah, ibu dan adik adikku terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, jadi aku hanya fokus merawat Ziva dan melihat kalau ada sesuatu hal yang bisa ku kerjakan untuk membantu. Seperti saat ini, aku menyuruh ayah istirahat, dan menggantikannya menjaga warung.


"Selamat siang!" terdengar salam dari arah seberang, di pintu ruang tamu rumahku.

__ADS_1


Aku membalas sapaannya. Aku kesana untuk melihatnya. Sepertinya yang datang orang asing, bukan keluarga atau tetangga kompleks rumah kami


"Ada yang bisa dibantu?" Tanyaku dengan sopan.


"Saya pegawai dari kantor pengadilan, bu. Bisa bertemu dengan ibu Reyna Putri Rahayu?"


Deggh! Jantungku berhenti seketika, jangan-jangan....


"Saya ingin memberikan undangan untuk sidang perceraiannya."


Sudah kuduga ternyata Mas Angga akan langsung merealisasikan apa yang dia katakan. Tapi secepat inikah? Kakiku gemetaran, badanku lemas, untunglah dibelakanngku ada sofa yang bisa langsung bisa kududuki.


"Ya, aku Reyna pak." Jawabku kemudian mempersilahkan beliau duduk.


Beliau lalu menjelaskan isi surat, waktu dan tempat pelaksanaan sidang perceraianku. Aku hanya mengangguk, tak sanggup lagi berkata.


Setelah menyampaikan isi surat secara lisan, Bapak dari kantor pengadilan ini meminta tanda tanganku untuk tanda terima surat lalu pergi dari rumahku, meninggalkan aku sendiri yang duduk sambil memandang surat yang ada di genggamanku dengan pandangan kosong.


Saat menikah dengan Mas Angga aku berharap pernikahan itu adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Tak pernah terbayangkan kalau saat ini pernikahanku sebentar lagi akan berakhir dengan perceraian.


Air mata ini tak hentinya jatuh membasahi pipi ini. Hati ini begitu sakit, teramat sakit, dan dada ini begitu sesak mengingat lagi pengkhianatan suamiku. Seperti ada puluhan pisau yang menancap di jantungku. Seperti kaca yang jatuh dan hancur berkeping keping, demikianlah hatiku, hidupku dan rumah tanggaku.


Aku menumpahkan semua rasa ini lewat air mata tanpa bisa bersuara. Sungguh aku takut jika orang tuaku atau Gina mendengar aku menangis. Mereka bahkan sangat sedih ketika mengetahui mas Angga berselingkuh, dan ingin menikah lagi. Aku tidak mau menambah kesedihan hati mereka karena mendengar aku menangis.


Ya, hati ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku menyadari semua ini adalah sebuah proses dari Tuhan yang harus aku jalani. Aku tidak akan meminta Tuhan mengambil penderitaanku. Tapi aku berdoa agar Tuhan memampukan dan menguatkan aku menghadapinya. Saat ini aku hanya ingin menangis, menangis sesaat.


Aku kemudian menyeka air mataku, dan mulai mengatur nafasku. Aku harus kuat demi anakku Ziva, itulah yang menjadi harapan dan motivasiku untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini.

__ADS_1


****


Pov Regina


Semenjak kak Reyna datang ke rumah ini beberapa hari yang lalu, hampir setiap malam aku mendengar suara-suara aneh. Seperti suara orang yang menangis namun ditahan, begitu menyayat hati jika mendengarnya.


Aku kasihan pada kak Reyna, dia orang yang sangat baik. Sejak kecil aku tak pernah melihatnya marah pada orang lain. Orangnya pendiam, namun terlihat elegan dengan pembawaanya yang ramah.


Suatu malam aku sangat terkejut ketika ayah membangunkan aku dan menyuruh aku pindah untuk tidur di kamar kak Reva, ternyata ada kak Reyna yang datang tengah malam lebih tepatnya subuh.


Kudengar dari ibu, untuk sementara ini kak Reyna dan Ziva akan tinggal disini. Katanya suami kak Reyna berselingkuh dan berencana akan menikah lagi. Ya Tuhan, benar benar ya suaminya kak Reyna, kayak pemeran laki laki brengsek di novel novel online yang sering aku baca. Mudah mudahan kak Reyna juga akan mendapatkan kebahagian seperti pemeran utama yang ada di novel novel itu!


Aku senang sejak ada kak Reyna, rumah tidak terasa sepi lagi. Apalagi ada si kecil Ziva yang lucu dengan celotehannya yang pintar ditambah wajahnya yang cantik membuat orang gemas jika melihatnya.


Siang ini saat aku sedang mengerjakan tugas kuliahku dari kamar kak Reva yang sekarang sudah menjadi kamarku juga, aku samar samar mendengar suara tangisan yang ditahan. Terdengar lebih memilukan dari suara yang pernah aku dengar sebelumnya. Aku keluar dan pergi untuk melihat.


Kulihat kak Reyna sedang duduk memegang sesuatu di tangannya. Kak Reyna terlihat baru saja menangis,dan sudah mulai mengatur nafasnya.


"Kak apa yang sedang terjadi?" Tanyaku dengan hati hati sambil duduk di sofa yang sama disamping kak Reyna.


Kak Reyna tiba tiba memelukku sambil terus mengatur nafasnya. Sepertinya kak Reyna mencoba untuk tidak menangis lagi.


Aku membalas pelukannya dengan erat, seperti mentransfer kekuatanku untuknya. Kami lalu bertatapan, aku mengambil dengan pelan surat yang sedang dipegang oleh kak Reyna lalu membacanya. Benar saja. Inilah yang membuat Kak Reyna menangis.


"Kak, perceraian bukanlah sebuah kegagalan. Perceraian hanyalah sebuah akhir cerita antara kak Reyna dan Mas Angga. Sebuah cerita pasti punya awal dan akhir kan?!"


"Setelah cerita ini berakhir akan ada awal untuk cerita yang baru. Semangat ya kak! Kami akan selalu disampingmu, mendukung dan mendoakanmu!" Kataku sambil menggenggam tangannya.

__ADS_1


Ah untunglah aku baru saja membaca novel tentang tema perceraian, jadi aku bisa mencopy kata katanya.


Sebenarnya walaupun aku masih muda dan belum menikah, aku lebih suka membaca novel dengan tema rumah tangga karena konfliknya lebih menegangkan dari pada percintaan anak muda. Hehehe.


__ADS_2