
"Kamu itu ya, wanita bodoh dan idiot yang pernah saya temui di dunia! Sudah tidak punya kelebihan apa-apa, kamu malah mencelakai cucuku dan sekarang membuat anak kesayanganku sakit!" Ibu Nia sangat kesal dengan menantunya. Bagaimana bisa tidak ada satupun kelebihan yang bisa ia temukan dari Raya, selain dari kemudaannya. Yang ada setiap hari Ibu Nia makan hati karena kesal dan jengkel dengan menantunya yang malas dan bertindak seenaknya di dalam rumahnya sendiri.
Ibu Nia bahkan sempat malu pada teman-teman arisannya yang datang ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Teman-teman arisan bu Nia melihat Raya yang baru bangun dan keluar kamar untuk makan dengan penampilan kusut seperti orang baru bangun tidur padahal jam sudah menunjukkan jam dua siang. Dan saat keluar kamar Raya bahkan tidak menyapa atau sekedar tersenyum sopan kepada ibu-ibu arisan teman mertuanya. Setelah kejadian itu Ibu Nia bahkan di ejek oleh beberapa teman arisannya karena memiliki menantu yang malas dan tidak tahu sopan santun.
Sejenak Ibu Nia membandingkan menantunya dengan Reyna mantan menantunya yang selalu bisa diandalkan untuk urusan dapur dan kebersihan rumah. Sepertinya ia telah salah membiarkan Angga menikahi bocah ingusan ini. Padahal awalnya ia cukup senang punya menantu yang cantik dan bisa diajak ke kondangan tanpa harus malu, dan pastinya karena Raya masih muda.
"Lalu apalagi yang kamu lakukan pada Ziva dan membuat Angga menjadi seperti orang gila?" Tanya Ibu Nia dengan kesal dan geram pada menantunya.
Drrrtttt...
Tiba-tiba ponsel Reyna bergetar tanda ada panggilan masuk, dan mengganggu rekamannya. Reyna langsung mengakhiri kegiatan merekam Raya dan Ibu Nia. Lalu menerima panggilan yang masuk.
[Assalamualaikum yah..] Reyna menjauh dari tempat Raya dan Ibu Nia berada, lalu menerima panggilan dari ayah nya.
[Waalaikumsalam wr wb. Gimana nak, belum selesai pemeriksaan kandunganmu?]
[Sudah selesai, yah. Ini Reyna sudah mau pulang.]
[Tadi kenapa kamu tidak mengajak Gina atau ayah nak?]
__ADS_1
[Tidak apa-apa Yah. Aku bisa sendiri kok, aku juga tidak ingin merepotkan orang lain] Reyna tersenyum menjawab pertanyaan ayahnya di telepon. 'Sepertinya ayah terlalu over protektif, dikira aku ini anak perawan yang belum pulang saat sudah malam.' Batin Reyna. Sebenarnya Reyna tidak mengajak Gina atau siapapun untuk menemaninya karena sejak awal Reyna berencana untuk bertemu dengan dokter Vita di rumah sakit ini.
[Ayah...] Ucap Reyna ragu-ragu.
[Iya nak, apa yang ingin kamu katakan?] Tanya ayah dengan antusias.
[Hmm... Bisakah ayah menjemputku sekarang?]
[Ada masalah Nak? ayah akan segera kesana!] Jawab ayah dengan khawatir.
[Tidak, yah. Tidak ada masalah denganku. Aku hanya ingin ayah mengantar ku ke suatu tempat.] Sebenarnya Reyna ingin meminta ayah mengantar nya ke polda bertemu dengan Erwin suami Lisa sepupunya. Reyna ingin menyerahkan bukti atas pengakuan Raya yang lalai menjaga anaknya sehingga Ziva meninggal dunia. Sekalian untuk konsultasi untuk tindak kekerasan yang dilakukan Raya pada Ziva sebelum Ziva meninggal.
[Iya nak, tentu saja. Ayah akan segera kesana sekarang.]
****
Saat Reyna selesai menerima telepon dari Ayah, Ibu Nia dan Raya sudah berjalan kembali ke dalam rumah sakit. Mereka berpapasan, tapi untung saja ada seorang bapak yang mengangkat kardus ukuran besar menghalangi pandangan Raya dan Ibu Nia sehingga mereka tidak melihat Reyna.
Saat Reyna menyadari keadaan mereka yang berpapasan, Reyna langsung memalingkan wajahnya ke samping agar tidak dikenali atau dilihat oleh Raya dan Ibu Nia.
__ADS_1
Untunglah tadi Reyna menerima telepon dari ayah dan tidak mendengar pengakuan Raya pada Ibu Nia, saat Raya membiarkan Ziva seorang diri di ruang tamu setelah jatuh dari jendela. Reyna pun tidak mendengar penuturan Raya yang tidak melakukan apa-apa selama dua jam kepada Ziva sampai Angga datang. Dan dalam keadaan kritis saat Ziva meminta tolong untuk menelepon mamanya agar mamanya datang, Raya tidak melakukan apa yang Ziva minta. Mungkin Tuhan tidak ingin Raya mendengar hal itu, karena akan membuat hati Reyna hancur dan sedih mengetahui saat terakhir anaknya.
***
Sambil menunggu Pak Ridwan ayah Reyna, Reyna menghubungi sepupunya Lisa untuk meminta izin bertemu dengan suami nya Erwin di Polda. Setelah menghubungi suaminya, Lisa pun kemudian mengirimkan pesan kepada Reyna bahwa suaminya saat ini berada di kantor dan telah memberitahukan kedatangan Reyna disana, jadi suaminya telah menunggu Reyna di kantor.
Lima belas menit kemudian Bapak Ridwan sampai di rumah sakit dengan motornya. Reyna pun menceritakan pada Pak Ridwan apa yang terjadi di taman, dan Reyna telah merekam pembicaraan Ibu Nia dan Raya, yang adalah pengakuan dari Raya sehingga bisa dijadikan sebagai alat bukti untuk melaporkan Raya pada pihak berwenang.
Pak Ridwan menjalankan motornya mengantar Reyna ke polda untuk melaporkan Raya. Untunglah tadi Reyna sudah berkonsultasi dengan dokter kandungannya soal kehamilannya, bayi dalam kandungannya sangat sehat dan tidak ada masalah untuk melakukan aktivitas seperti biasa seperti naik motor dan mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya lebih berhati-hati saat berkativitas, dan tidak boleh terlalu memaksakan diri.
Sampai di Polda dan bertemu dengan Erwin suami Lisa sepupunya, Erwin mengantar Reyna dan Pak Ridwan bertemu dengan rekannya pejabat bagian pelayanan terhadap laporan/pengaduan masyarakat, yang memberi bantuan dan pertolongan, dan pelayanan informasi.
Setelah berkonsultasi dan memberikan laporan kepada penyidik serta memberikan bukti rekaman video percakapan Raya dan Ibu Nia yang berisi pengakuan Raya yang telah lalai menjaga Ziva, maka menurut penyidik kasus ini dapat dijerat dengan pasal 359 KUHP yang berisi : “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.”
Dalam video yang direkam, Raya juga mengaku telah mencubit Ziva sampai lengannya biru, dan perbuatan mencubit pada yurisprudensi dikategorikan sebagai bentuk penganiayaan. Pelaku penganiayaan terhadap anak dapat dijerat Pasal 80 ayat (1) jo. Pasal 76C UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak 72 juta rupiah.
Setelah Reyna melakukan pelaporan untuk kasus kematian Ziva, menurut Erwin tinggal menunggu Surat Perintah Penyidikan untuk dilakukan proses penyidikan. Reyna pun pulang dengan hati yang lega, karena telah berani mengambil langkah ini.
Untunglah saat ini Reyna lebih kuat, walaupun menggali kematian Ziva membuat hatinya sakit dan luka hatinya seperti terbuka kembali, tapi Reyna sekarang bisa menahan semuanya demi keadilan untuk Ziva anaknya. Reyna juga tidak mau terus-terusan menjadi wanita lemah. Waktu satu bulan ini Reyna gunakan baik-baik untuk lebih mendekatkan diri kepada yang maha Kuasa, sehingga memberinya harapan, ketenangan, dan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukannya. Semakin hari Reyna menjadi pribadi yang kuat. Semua itu juga tidak terlepas dari peran seluruh keluarga Reyna, baik ayah, ibu dan kedua adiknya. Mereka selalu memberikan dorongan yang postif bagi Reyna tanpa harus menghakimi dan membuat Reyna tertekan.
__ADS_1