AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Kenapa terus memikirkannya?


__ADS_3

"Maaf ya Reyna, sikap anakku tadi jangan di masukkan ke hati. Seperti kataku sebelumnya, anakku sangat sensitif jika menyangkut almarhumah isterinya dan kamar ini." Ibu Sinta merasa tidak enak terhadap sikap Dava tadi.


"Tidak apa-apa bu, aku bisa mengerti sikap tuan Dava. Aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Pasti sangat berat bagi anak ibu melewati itu semua." Reyna dengan tenang dan senyum ramah menanggapi ucapan ibu Sinta.


"Kamu juga pernah kehilangan seseorang yang berharga? Siapa?" Ibu Sinta penasaran dengan ucapan Reyna, siapakah seseorang yang begitu berarti bagi Reyna yang juga pergi meninggalkan Reyna? Apakah itu suami Reyna? Mungkinkah Reyna juga seorang janda? Batin ibu Sinta.


"Anak pertama ku bu. Ia meninggal tahun lalu. Jadi aku sangat mengerti akan sikap dari anak ibu." Reyna menjelaskannya dengan singkat, ia masih sangat sedih jika membicarakan tentang kepergian anaknya Ziva.


Ada perasaan kecewa di hati ibu Sinta saat mengetahui yang pergi untuk selama-lamanya bukanlah suami Reyna melainkan anaknya. Reyna pun tidak mau menjelaskan lebih jauh kepada ibu Sinta perihal kehidupan pribadinya, kalau ia dan suaminya sudah berpisah.


"Aku turut berduka atas kematian anak mu." Ibu Sinta begitu tulus mengucapkan belasungkawa untuk Reyna.


"Terima kasih banyak bu."


"Aduh, maaf Reyna. Sekarang sudah jam sembilan, kegiatan yang akan aku ikuti tinggal satu jam lagi. aku harus segera berangkat, agar tidak terlambat."


Terlalu nyaman mengobrol dengan Reyna membuat Ibu Sinta lupa waktu. Sebenarnya ia ingin mengenal lebih jauh tentang Reyna karena begitu tertarik dengan sikap dan karakter Reyna yang terlihat sederhana namun memiliki aura cantik dari dalam. Bagi ibu Sinta yang adalah seorang dokter yang juga mempelajari tentang psikologis, ibu  Sinta dapat membaca kalau Reyna adalah wanita yang sangat baik. Ibu Sinta tidak mempermasalahkan pekerjaan atau status sosial calon menantunya, asalkan ia wanita yang baik dan bisa mendampingi Dava dan menjadi ibu sambung yang baik untuk cucunya Dinda. Tapi apalah daya, Reyna bukan wanita lajang. Pupus sudah  harapan ibu Sinta untuk mempersatukan Reyna dan anaknya Dava.


"Tapi sebelum kamu pergi, makan dulu ya. Tadi aku membuatkan nasi goreng untuk anakku dan cucuku. Ayo aku antarkan ke ruang makan." Ibu Sinta mengambil tas nya dan menuntun Reyna keluar kamar menuju ke ruang makan di lantai satu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas tawarannya bu. Tapi, aku tadi sudah sarapan sebelum kemari. Aku juga harus segera kembali ke rumah."  Reyna dengan sopan menolak tawaran ibu Sinta.


Tadi pagi setelah olahraga ringan Reyna sudah sarapan tiga buah pisang. Saat ini Reyna sedang menjalankan program diet sehat dengan metode diet defisit kalori.


"Ayo Reyna, tidak usah malu. Aku tidak enak membiarkanmu pulang sebelum makan dulu." Ibu Sinta mencoba membujuk Reyna untuk makan sebelum pulang.


"Terima kasih banyak bu atas tawarannya, tapi maaf aku benar-benar sudah makan sebelum kemari. Aku juga harus segera kembali ke rumah karena tidak enak meninggalkan bayiku terlalu lama pada orang tua ku." Reyna tidak tahu harus memakai alasan apalagi untuk menolak ajakan ibu Sinta, terpaksa ia menggunakan anaknya. Tapi Reyna memang tidak berbohong. Walaupun keluarganya sangat bisa diharapkan dan diandalkan untuk menjaga putrinya, Reyna menyadari bahwa anaknya adalah tanggung jawabnya sebagai ibu yang merangkap ayah untuk Galena. Jadi sebisa mungkin saat selesai bekerja Reyna akan segera pulang tanpa berlama-lama atau bersantai-santai di tempat lain. Sebagai ibu tentu saja Reyna merasa rindu dan tidak nyaman meninggalkan bayinya lama-lama.


"Oh, kamu punya bayi?" Tanya bu Sinta sambil menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Iya bu, usiannya 8 bulan sekarang." jawab Reyna sambil berjalan di samping ibu Sinta.


"Alhamdulilah bayi ku sehat dan ceria bu." Reyna tersenyum mengerti maksud baik ibu Sinta.


Baby Galena tumbuh dengan sehat dan tidak adalah masalah kesehatan yang signifikan. Hanya setelah enam bulan Galena tidak mau lagi meminum ASI. Saat itu ASI Reyna sedikit dan Galena tidak merasa puas jika hanya meminum ASI saja, Reyna sudah coba meminum jamu dan obat untuk memperlancar ASI tapi tetap saja ASI Reyna sangat sedikit. Sejak itu Galena hanya meminum susu formula saja lalu lanjut sekarang dengan makanan pendamping asi (mpasi).


Sejak itu juga Reyna mencoba untuk melakukan diet. Bukan karena ingin terlihat cantik dan langsing, tapi lebih kepada kesehatan tubuhnya. Reyna mulai merasakan kram-kram atau kesemutan di beberapa bagian tubuhnya, ia juga mudah sekali merasa capek.


Dokter Vita menyarankan Reyna untuk diet sehat dengan olahraga ringan berjalan kaki selama 30 menit setiap pagi, dan menjaga pola makan dengan cara mengurangi kalori yang masuk ke dalam tubuhnya agar lebih sedikit dari yang terbakar. Tentu saja Vita yang selalu mengontrol dan menjadi mentor untuk Reyna, karena kalau Reyna melakukan diet yang berlebihan maka akan tidak baik untuk tubuh dan kesehatannya sendiri.

__ADS_1


Hanya dalam dua bulan saja Reyna telah kehilangan 17 kg lemak di tubuhnya. Saat ini berat badan Reyna 60 kg dari berat awal 77 kg dengan tinggi badan 159 cm. Walaupun berat badannya sekarang masih jauh dari berat badan ideal untuk Reyna, namun setidaknya saat ini Reyna sudah merasakan manfaat dari mengurangi berat badannya. Reyna menjadi mudah bergerak, merasa energik sepanjang hari dan pastinya lebih mudah mencari baju untuk di pakai. Dokter Vita pun terus memacu Reyna agar bisa menurunkan berat badannya menjadi berat badan ideal nantinya.


*****


Sementara itu di dalam mobil Mercy hitam, Dava sedang memikirkan kejadian yang baru saja ia alami saat kembali ke rumah. Baru kali ini Dava bertemu dengan seseorang yang tidak terintimidasi dengan ucapannya yang mematikan seperti tadi.


"Ck, punya nyali besar juga perempuan tadi. Atau jangan-jangan urat malu dan takutnya sudah hilang di patok ayam." Gumam Dava pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.


"Apa bos?" Tanya Aldy, yang mendengar ucapan pelan Dava dari kursi belakang. Aldy adalah sahabat sekaligus lawyer perusahaannya dan saat ini merangkap asisten pribadi dan supir pribadinya.


"Kamu kenapa sih bro? Sejak kembali dari rumah kamu terus melamun dan berbicara tidak jelas. Kamu kesambet setan ya?"


"Kesambet setan sok angkuh dan cuek. Cieh." Dava berbicara pelan sambil tersenyum mengejek memikirkan Reyna.


"Apa bro?" Tanya Aldy tidak mengerti dengan ucapan Dava.


"Tidak. Aku hanya sedang kesal saja dengan seseorang." Hah? Kenapa juga Dava harus kepikiran dengan perempuan tadi?! Cantik tidak. sexy juga tidak.


'Tidak, tidak! Apa istimewanya wanita tadi sampai membuatku terus memikirkanya!' Dava menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya tentang Reyna. Apa istimewanya sih perempuan itu, sampai membuatnya tidak bisa menghilangkan wanita yang baru saja ia temui itu dari pikirannya?

__ADS_1


Tanpa Dava sadari, pertemuan mereka di rumahnya bukanlah pertemuan pertama bagi ia dan Reyna. Pertemuan sebelumnya bahkan lebih berkesan dan membekas bagi keduanya.


__ADS_2