AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Ziva Kritis


__ADS_3

Ya Tuhan, apalagi ini? Anakku sedang di operasi?!


Sesaat aku seperti orang yang hilang kesadaran, entah berapa menit aku terduduk di lantai lobi rumah sakit ini. Keadaanku yang seperti orang linglung, sukses membuat ku menjadi perhatian orang-orang yang lewat di lobi rumah sakit ini. Aku langsung menguasai diriku. Anakku belum mati! Aku harus semangat demi Ziva!


Aku berjalan dengan cepat menuju ruang tunggu operasi sambil menelepon mas Angga untuk menanyakan lantai berapa tempat Ziva di operasi. Sampai di ruang tunggu operasi, aku melihat semua keluarga mas Angga sedang menunggu disana termasuk Raya.


Mas Angga terlihat kacau, sedangkan ibu dan Fani mereka duduk bergandengan tangan sambil menangis.... Kenapa mereka menangis? Anakku belum mati kan? Ziva sedang mendapat penanganan medis bukan?


Aku berjalan ke arah dimana mas Angga dan keluarganya menunggu. Saat melihatku mereka semua berdiri, seperti orang yang ketakutan. Ayah mas Angga bahkan memelukku, berusaha untuk menguatkanku saat aku sampai di depan mereka. Sesaat aku terdiam mematung.


"Apa sebenarnya yang terjadi ayah?" Tanyaku pada mantan ayah mertuaku sambil menautkan kedua alisku. Aku masih bingung, apa sebenarnya yang terjadi sampai membuat Zivaku jatuh dari jendela. Ziva anak yang cukup aktif, tapi aktifnya bukan di hal-hal fisik seperti anak laki-laki yang suka panjat-panjat sesuatu. Ziva lebih suka bercerita dan bereksplorasi dengan mainan-mainannya.


*****


4 jam yang lalu di dalam kamar Raya...


"Tante lagi apa?" Tanya Ziva dengan polos pada Raya.


"Lagi nonton!" Jawab Raya ketus.


"Nonton apa tante?" Tanya Ziva kembali dengan polosnya.


"Nonton ya nonton! Udah sana kamu pergi bermain! Jangan ganggu tante!" Kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Ziva, Raya mendorong tubuh kecil Ziva untuk menjauh darinya sehingga balon gas bergambar princess Elsa yang sedang dipegang Ziva terlepas dari genggamannya dan terbang melayang di dalam kamar.


"Kenapa tante dolong-dolong Ziva?! Yahh balon Plinses Elsa lepas.... Tante tolong dong ambilin balon Ziva!" Ucap Ziva memohon pada Raya.


"Ambil sendiri! Jangan ganggu tante! Tante lagi sibuk!"

__ADS_1


"Tente jahat! Tante udah dolong Ziva sampai balonnya tellepas dali tangan Ziva! Telus ngga mau ambilin balonnya Ziva! Huhuhu." Ucap Ziva sambil menangis.


"Halah... Sudah jangan menangis! Balonnya kan masih ada satu. Tante sibuk Ziva! Ziva Jangan ganggu tante!"


Raya tidak mempedulikan Ziva dan melanjutkan aktivitas menontonnya. Ziva kemudian menaiki tempat tidur untuk menyuruh Raya mengambil balonnya yang terlepas.


Traakk!!


Tanpa sengaja Ziva menginjak keyboard di laptop, dan membuat semua aplikasi nonton online yang Raya buka di laptopnya tertutup.


"Sialan! Dasar anak nakal!" Raya langsung mencubit lengan Ziva dengan kuat saking kesalnya dengan ulah Ziva yang membuat tontonannya terganggu.


"Awww...Huuuaaaa... Mamaaa, sakit. Huhuhu... Mama!" Tangis Ziva pecah karena dicubit oleh ibu tirinya. Tangannya sampai membiru karena perbuatan Raya. Seumur hidupnya baru kali ini Ziva mendapat perlakuan kasar dari seseorang. Sejak lahir semua orang selalu memperlakukan Ziva dengan penuh kasih sayang, apalagi mamanya selalu merawatnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Cuma dicubit seperti itu saja sudah menangis! Dasar anak manja!" Ucap Raya tanpa rasa bersalah lalu berbalik membelakangi Ziva, dan melanjutkan aktivitasnya menonton drama korea di laptop.


Sepuluh menit berselang terdengar bunyi benda keras yang jatuh.


Bruuukkk!!!!


"Duh, Ziva... Apalagi yang kamu lakukan siihh?!" Ucap Raya dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun. Aktivitas menontonnya teganggu berkali-kali karena kehadiran Ziva.


Saat Raya mengangkat kepalanya, dia tidak melihat Ziva di dalam kamarnya, dia bahkan sudah mencari ke dalam kamar mandi tapi Ziva tidak ada di manapun.


'Duh, anak itu kemana sih?! Kayak setan aja ngilangnya!' batin Raya. Dia tidak bisa menemukan Ziva dimanapun. Hanya ada balon gas bergamabar Elsa milik Ziva yang tersangkut di gorden jendela kamarnya. Saat mendekati jendela, Dona sepertinya melihat sesuatu di bawah. Raya mendekat, dan.... 'Astagfirullahalaziiim. Ziva terkapar di bawah. Apakah anak itu sudah mati?! Anak itu tidak bergerak, Aku takut!' Batin Raya.


Raya keluar dari kamar sambil menelepon Angga. Panggilan pertama tidak dijawab. Raya pun kembali menelepon suaminya, kali ini sambil menuruni tangga rumahnya. Terdengar bunyi telepon dari arah ruang makan. 'Apakah mas Angga sudah pulang? Astaga, apa yang harus aku katakan kepada mas Angga nanti?! Tidak mungkin aku bilang kalau aku hanya sibuk menonton drakor dan membiarkan Ziva mengambil balon gas yang terbang di gorden kamar, dan terjatuh dari jendela...' ucap Raya dalam hati. Raya sangat takut jika disalahkan. Raya pun segera menuju ke arah ruang makan menuju ke suara telepon berdering.

__ADS_1


Tapi bukan Angga yang Raya temui, hanya ponselnya saja yang berada di atas meja makan. Ternyata Angga lupa membawa ponselnya sehabis menelepon dengan atasannya tadi di ruang makan.


Raya pun mengambil ponsel Angga, dan pergi ke luar rumah untuk melihat Ziva yang terjatuh dari lantai dua, kamarnya. Raya menghampiri Ziva, terlihat Ziva sudah mulai merespon keadaan sekitar.


"Sakiit... Kepala Ziva Sakit! Mama...huhuhu!" Ziva menangis, dan dalam keadaan lemah memanggil dan mencari mamanya sambil memegang kepalanya yang mengeluarkan darah.


'Ah, untunglah... Anak ini tidak mati! Ah, bikin jantungan saja!' batin Raya senang. Raya pun membawa Ziva ke ruang tamu.


"Tante kepala Ziva sakit... Papa sudah pulang kantol?" Tanya Ziva dengan diselingi tangisan anak itu.


"Apa katamu?" Ucap Raya masih dengan gaya juteknya. Raya tidak terlalu mengerti ucapan Ziva karena Ziva berbicara tidak jelas sambil menangis. Entah Raya memang tidak mengerti atau tidak mau mengerti perkataan Ziva.


"Tante, tolong-panggilin-mama-Ziva-kemali!" Pinta Ziva dengan pelan agar ucapannya bisa dimengerti. Ia mengingat perkataan mamanya tentang kalau menginginkan sesuatu bilang pelan-pelan agar orang lain mengerti.


"Apa kamu bilang?! Kamu suruh aku nelpon mama kamu?!"


"Iya tante. Huhuhu." Ucap Ziva masih sambil menangis.


"Iya, iya! Nanti tante hubungi mama kamu!" Terpaksa Raya mengiyakan, karena berusaha menenangkan Ziva agar berhenti menangis. Tapi tentu saja hal itu tidak dilakukan Raya. 'Huh, Enak aja aku disuruh menghubungi mamanya! Ogah!... Aku ngga mau menelepon si nenek sihir gendut itu!' batin Raya.


'Tunggu saja papa kamu! Sebentar lagi papa kamu pulang kok!' Ucap Raya dalam hati. Raya pun pergi meninggalkan Ziva yang menangis sampai tertidur di kursi ruang tamu, karena Raya pikir Ziva tidak apa-apa. Padahal kondisi Ziva saat ini tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Telinga Ziva mengeluarkan darah, dan Ziva sudah mulai kehilangan kesadaran. Raya bahkan tidak membersihkan darah di kepala Ziva, dan tidak menyadari kondisi Ziva yang sedang kritis.


Raya kemudian naik ke kamarnya di lantai dua untuk mandi dan bersiap. 'Sebentar lagi mas Angga pulang, aku harus siap-siap dan berdandan yang cantik.' Ucap Raya dengan centilnya di depan cermin. Tanpa rasa bersalah Raya meninggalkan Ziva sendirian di ruang tamu, dalam keadaan kritis.


Selesai mandi dan berdandan, Raya pun turun dari kamarnya. Sampai di ruang tamu dia melihat Ziva sedang tertidur. 'Syukurlah, anak itu sedang tidur. Mas Angga kenapa belum pulang ya? katanya cuma ngga lama!' batin Raya. Raya pun menuju meja makan karena perutnya sudah keroncongan ingin makan siang. Selesai makan terdengar bunyi mobil yang masuk ke garasi. 'Ah, sepertinya itu suara mobil mas Angga. Asyik! Waktunya jalan-jalan and shopping.' Ucap Raya dalam hati dengan senang. Angga pun masuk ke dalam rumah.


"Ziva, papa sudah pulang!" Ucap Angga saat memasuki rumah.

__ADS_1


__ADS_2