AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Dava marah


__ADS_3

"Sebenarnya ini kamar anakku dan almarhumah isterinya. Tapi setelah menantuku meninggal dunia, Dava tak mau lagi tidur disini. Jangankan tidur disini, masuk kamar ini saja Dava tidak mau. Pelayan pun tidak ada yang berani masuk kesini walaupun hanya untuk membersihkan kamar. Hanya saat ada aku disini, pelayan baru berani untuk membersihkan kamar ini. Hhhuuff, aku sudah terlalu tua dan sangat capek bolak balik ke kota ini hanya untuk mengurusi anakku itu."


Ibu Sinta berbicara sambil duduk di depan meja rias.


"Ohh." Reyna tersenyum sopan menanggapi, tidak tahu harus merespon apa perkataan ibu Sinta.


Reyna lalu membuka beauty case atau wadah potabel yang menyimpan kosmetik dan peralatan makeup lainnya yang berbentuk seperti koper kecil. Reyna lalu menjepit beberapa bagian rambut Ibu Sinta, agar tidak menghalangi proses make up. Setelah itu Reyna mengoleskan pelembab atau moisturizer di kulit wajah ibu Sinta untuk menjaga kelembapan. Selanjutnya mengaplikasikan primer, fondation, tidak lupa juga mengcountur tulang pipi dan rahang agar terlihat lebih tirus. Membingkai alis, kemudian mulai mengaplikasikan eye-shadow dan eye-liner, tak lupa menggunakan bulu mata palsu untuk mempertegas mata. Kemudian mengunci make up dengan bedak menggunakan kuas, terakhir mengaplikasikan lipstik di bibir ibu Sinta.


Hasilnya begitu cantik, Reyna bisa membuat wajah ibu Sinta yang memang cantik terlihat lebih cantik dan segar. Tak lupa Reyna memblow rambut ibu Sinta untuk menyempurnakan penampilannya, dan hasilnya sangat memuaskan bagi ibu Sinta.


"Wah, hasil make up mu sangat cantik dan segar. Aku terlihat seperti sepuluh tahun lebih muda dari usiaku." Ibu Sinta puas dan memuji hasil make up Reyna.


"Tidak salah, Vita merekomendasikan kamu untuk merias wajahku. Kamu benar-benar sangat berbakat Reyna." Lagi ibu Sinta memuji Reyna sambil memegang wajah dan rambutnya yang sudah tertata sempurna.


"Terima kasih bu. Syukurlah Ibu suka hasil make up nya." Jawab Reyna dengan senyuman.


Ibu Sinta lalu mengeluarkan uang pecahan seratus ribu rupiah dari dalam dompetnya. Kemudian menghitungnya dan menyerahkan uang senilai dua juta lima ratus ribu rupiah kepada Reyna.


"Hah?" Reyna yang melihat uang itu sejak di keluarkan dari dalam dompet, dan kemudian di hitung ibu Sinta dan di serahkan padanya sangat kaget diberi uang sebanyak itu. Reyna tidak menyangka ibu Sinta memberikan ia bayaran sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah.

__ADS_1


"Ini ambil Reyna. Terus ini uang transport kamu." Ibu Sinta kemudian menambah lima ratus ribu rupiah kepada Reyna.


"Hmm, maaf bu. Uang ini sudah kebanyakan, saya kesini juga menggunakan motor." Reyna tidak enak menerima bayaran semahal itu, lalu dengan sopan menyerahkan kembali semua uang itu kepada ibu Sinta.


"Kenapa kamu menolak? Aku membayar kamu sesuai dengan tarif yang biasa aku keluarkan kalau make up di salon langgananku. Hasil make up kamu bahkan lebih bagus dari salon langgananku. Lagian kalau aku kesana pasti membuang banyak waktuku, belum lagi bensin. Itu aku kasih kamu sesuai dengan pekerjaan kamu." Ibu Sinta tidak menerima kembali pemberiannya kepada Reyna.


"Tapi ini sudah kebanyakan bu." Reyna masih tidak enak menerima uang sebesar tiga juta rupiah dari ibu Sinta.


"Ck, kamu ini. Atau kamu mau minta bayaranmu di tambah?" Ibu Sinta berlagak membuka dompetnya, dan akan mengeluarkan uang lagi.


"Tidak, tidak perlu bu. Iya saya terima uang ini." Akhirnya Reyna menerima pemberian ibu Sinta, walaupun hatinya masih merasa tidak enak.


Reyna sedang merapikan peralatan make up dan memasukkan semuanya ke dalam beauty case, tiba-tiba Reyna mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah kamar itu. Pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan...


"Siapa kamu? Kenapa kamu disini? Berani sekali kamu masuk kamar ini?!! Kamu ingin mencuri ya?!!!" Suara Dava menggelegar di telinga Reyna, dengan sorot mata membunuh seakan ingin menerkam Reyna bulat-bulat.


Jantung Reyna hampir keluar dari tempatnya, ia sangat kaget dengan kemunculan Dava yang tiba-tiba di ambang pintu, dan suara Dava yang bergema hampir merusak gendang telinganya. Tapi itu tidak membuat dirinya gentar dan takut, Reyna hanya menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


'Tenang... Kamu harus tenang Reyna. Kamu tidak melakukan perbuatan yang salah, jadi kamu tidak perlu takut! Angkat wajah mu, dan bicara!' Reyna mensugesti dirinya sendiri agar tidak terlihat takut. Ia bukan lagi wanita lemah yang selalu takut dan mudah ditindas, tanpa bicara atau mengklarifikasi tuduhan laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Maaf pak, saya make up artist yang di panggil ibu Sinta untuk merias wajahnya. Ibu Sinta saat ini sedang berada di ruang ganti, bapak bisa menanyakan langsung kepada beliau." Sorot mata Reyna sangat tenang namun tak kalah menakutkan saat ia bisa dengan santai menjawab pertanyaan Dava dengan sopan dan lancar.


Seluruh kolega dan bawahan Dava di perusahaan bahkan akan takut dan lari ketakutan mendengar suara Dava yang mengintimidasi seperti itu. Tapi tidak dengan Reyna, ia hanya diam melihat ke arah Dava, dan dengan elegan menjawab sekaligus mengklarifikasi tuduhan Dava. Reyna langsung menutup beauty casenya yang masih terbuka, dan ingin cepat-cepat keluar dari kamar itu.


"Dava, ada apa dengan kamu? Suara kamu itu seperti bunyi sangkakala yang menandakan kiamat! Ibu sampai bisa mendengar suara kamu di dalam ruang ganti. Ini Reyna, make up artist yang merias wajah ibu. Jangan memarahinya seperti itu!" Ibu Sinta keluar dari dalam Walk In Closet dengan setelan rapi dan sepatu heels yang tidak terlalu tinggi namun terlihat sangat cantik di kaki nya.


"Aku sudah bilang kan bu, aku tidak suka ada orang asing yang masuk kamar ini!" Dava mengarahkan pandangannya kepada Reyna yang masih berdiri di depan meja rias.


"Ibu yang menyuruhnya ke tempat ini. Jadi kamu mau memarahi ibu?" Ibu Sinta tidak mau kalah galak membentak Dava.


Dava hanya bisa membuang nafas kasar saat ibu Sinta sudah seperti ini.


"Bukan seperti itu bu! Aku hanya tidak ingin ada orang asing yang masuk ke kamar ini!" emosi Dava mulai redah di hadapan wanita yang melahirkannya.


"Ibu yang mengajaknya ke kamar ini. Pakaian ibu kan ada sini. Ibu tidak mungkin make up pan di kamar lain, dan bolak balik di kamar ini untuk ganti baju. Lagian kenapa juga kamu balik lagi ke rumah. Bukannya tadi kamu sudah berangkat ke kantor?"


"Iya, tadi aku melupakan berkas penting di ruang kerjaku. Jadi aku balik lagi ke sini." Dava menunjukkan berkas yang ada di tangannya.


"Oh ya sudah, kamu balik lagi sana. Ibu juga mau pergi sekarang, kalau tidak nanti ibu terlambat. Atau kamu ingin mengantar kan ibu?" Tanya ibu Sinta kepada Dava yang langsung di jawab dengan ciuman di pipinya.

__ADS_1


"Aku juga buru-buru bu. Bukannya Ibu punya supir sendiri? Lagian kantor ku juga berlainan arah dengan tujuan ibu. Aku duluan ya bu." Dengan langkah cepat Dava keluar dari kamar itu.


__ADS_2