AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
79


__ADS_3

"Hhhuuffhh." Dava menghembuskan nafas gusar, karena masalah pekerjaan yang belum selesai. Ternyata masih ada berkas penting yang harus ia tanda tangani, padahal tadi Aldy mengatakan kalau semuanya sudah beres. Dan lagi Aldy menambahkan bahwa ia sedang mengurus hal penting untuk pertemuan dengan PT. Halilintar sebentar sore, jadi ia tidak bisa mengantarkan berkas penting itu pada Dava.


'Keterlaluan! Katanya semuanya sudah beres, tinggal mempersiapkan pertemuan dengan PT. Halilintar sebentar sore. Ternyata masih ada lagi berkas yang harus aku tanda tangani. Hhmmmm!'


[Ck, kamu ini gimana sih?! Katanya tadi sudah fix semua! Kamu mau suruh aku yang balik ke kantor untuk menandatangani berkas itu?!] ucap Dava di telepon dengan amarah yang memuncak.


Tidak mungkin bagi Dava untuk kembali lagi ke kantor, karena sekarang ia sudah berada di ruang praktek dokter Rendi untuk terapi. Dokter Rendi selalu melaporkan perkembangan kesehatannya pada ibu Sinta. Sudah beberapa kali ia membuat janji bertemu untuk terapi kemudian membatalkannya karena alasan sibuk dengan urusan kantor. Yang terakhir ini ibu Sinta sendiri bahkan yang membuatkan janji terapi untuk hari ini, bisa-bisa ibu Sinta akan mengamuk jika terapi hari ini juga di batalkan.


[Sorry bro, jangan marah-marah dong, nanti gantengnya berkurang. Berkasnya aku minta tolong Reyna yang antarkan ke kamu saja ya.]  Ucap Aldy membujuk sekaligus menenangkan sahabatnya yang sedang marah.


'Oh benar juga ya, kan bisa suruh Reyna bawa berkas itu kesini untuk aku tanda tangani. Bagus juga bisa bertemu dengan Reyna di luar kantor. Ah, seandainya hari ini bukan hari ulang tahun almarhumah Sarah, ini mungkin bisa menjadi kesempatan ku untuk dekat dengan Reyna. Tapi sehabis dari sini aku harus membawa bunga di makam Sarah.' Batin Dava.


[Ok. Suruh Reyna mengantarkannya padaku di ruang praktek Rendi.] Ucap Dava dengan suara datar lalu mengakhiri panggilannya.


"Ehmm..." Dokter Rendi berdeham mengalihkan kembali perhatian Dava padanya yang sempat putus karena menerima panggilan dari kakaknya Aldy.


"Bagaimana Mas, bisa dimulai sekarang terapinya?" Tanya dokter Rendi pada Dava.

__ADS_1


"Iya dok silahkan."  Jawab Dava dengan datar. Biasanya ia akan memanggil nama dokter Rendi dengan akrab, ia mungkin akan mengadukan sikap Aldy yang sering tidak becus dalam pekerjaannya. Tapi semenjak Dava mengalami trauma karena kepergian isterinya yang tiba-tiba Dava menjadi tertutup dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya Aldy dan Sinta ibunya yang bisa menembus tembok yang dibuat oleh Dava, bahkan dengan anaknya sendiri pun Dava tidak bisa bersikap terbuka.


Lima belas menit Dava menjalani terapi dari dokter Rendi, tiba-tiba terdengar pintu diketuk.


Tok tok tok...


"Iya, masuk." Ucap dokter Rendi. Pintu pun di buka.


"Permisi Dokter, ada seorang wanita yang mau bertemu dengan Pak Dava. Katanya ia sekretaris Pak Dava." Ucap seorang perawat  asisten dokter Rendi. Rendi menatap Dava, meminta persetujuan.


"Iya, suruh saja masuk, ia membawa berkas penting yang harus saya tanda tangani." Ucap Dava. Rendi hanya mengangguk kepada asistennya mengiyakan ucapan Dava.


"Iya. Kabar Dinda baik." Jawab Dava singkat. Biasanya ia akan menjawab panjang lebar tentang perkembangan putrinya atau menanyakan balik keadaan putra Rendi yang berusia 5 tahun. Tapi Dava hanya menjawab sekedarnya saja, karena tidak enak jika ia tidak menjawab pertanyaan dokter yang juga adalah adik sahabatnya.


"Syukurlah." Balas Rendi berusaha untuk tersenyum.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Ya, masuk." Ucap Rendi.


"Permisi, selamat siang." Ucap Reyna sopan dengan suara khasnya yang lembut, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan.


"Masuklah Reyna." Dava menyuruh Reyna untuk segera masuk ke dalam ruangan itu.


Reyna masuk dan terkejut saat matanya menangkap sosok Rendi orang yang ia temui dan tolong beberapa waktu yang lalu. Melihat Rendi  mengenakan jas dokternya sekarang Reyna bisa mengingat dengan jelas kapan dan dimana pertama kali ia bertemu dengan dokter tampan itu. Walaupu saat itu Rendi bukan memakai jas dokter tapi setelan hijau para medis, tapi Reyna bisa mengingat wajah Rendi yang adalah dokter yang menangani pasien PTSD yang Reyna tolong dari kuburan hari itu. Namun Reyna tidak bisa mengenali wajah Dava karena saat itu Dava sangat kacau, dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan dan penampilannya yang berantakan, berbanding terbalik dengan keseharian Dava yang selalu tampil rapi dan menarik. Reyna mungkin tidak akan menyangka kalau pria yang ia tolong hari itu  ternyata adalah pemilik perusahaan dimana ia bekerja saat ini.


Hari itu tidak akan mungkin Reyna lupakan, itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya hari dimana ia berada pada titik terendah hidupnya saat kehilangan Ziva putrinya yang sangat berharga. Hatinya sakit setiap kali mengingat putrinya yang telah tiada.


Namun ia dengan cepat bisa menguasai dirinya, dan segera menghilangkan perasaan sedih yang tiba-tiba hinggap di hatinya itu. Memang tidak mudah untuk menghilangkan rasa sakit itu, perasaan sedih dan hancur menjadi satu antara ingin melupakan dan tetap mengenang kejadian itu secara bersamaan. Dulu ia berpikir, bahkan semua hal baik yang akan terjadi suatu saat nanti, tidak akan bisa mengggantikan dan sebanding dengan nyawa putrinya yang telah tiada. Hal itulah yang membuat Reyna hampir kehilangan kewarasannya dan bahkan hampir membuat ia kehilangan nyawanya karena melakukan perbuatan bodoh dan sangat di benci oleh Tuhan. Namun kini Reyna menyadari bahwa semua yang terjadi atas seijin Yang Maha Kuasa dan Ia pasti punya rencana yang baik dan indah untuk hidup Reyna.


Tidak perlu tersesat kehilangan arah dan kebingungan dengan apa yang terjadi dan sedang ia alami. Tentang kenapa ia harus mengalami hal menyakitkan itu dan mengapa harus Ziva putri kesayangannya yang meninggal dunia?! Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan nyawa Ziva?! Mengapa begini, Mengapa begitu. Mengapa, Mengapa, Mengapa? Kata yang di pakai iblis untuk menghancurkan kebagiaan dan kedamaian dalam hati manusia. Namun sekarang Reyna sudah terbebas dari segala kebingungan dan dari pertanyaan-pertanyaan yang Reyna tidak tahu jawabannya dan hanya Tuhan yang mengetahui jawabannya. Reyna hanya bisa percaya dan memasrahkan seluruh hidupnya kepada Yang Maha Kuasa, karena jika tiba waktunya maka Ia akan menjawab dan menyatakan kemahakuasaan Nya. Tak perlu terkurung dengan kebingungan, ketakutan dan kuatir akan hal-hal yang telah terjadi di masa lalu dan yang akan terjadi di masa depan. Karena jika tiba waktunya, maka Ia akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang tidak kita mengerti. Itulah yang membuat Reyna bisa bahagia menikmati hidupnya saat ini bersama sahabat, orang tua, adik-adik dan putri kecilnya Galena.


*****


Hai-hai readersku tersayang yang masih setia menanti cerita tentang Reyna. 🤗 Author mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat menghilang dan tidak up selama dua minggu... Dan yaa lagi-lagi ada sesuatu dan lain hal yang menjadi alasan. Author mohon maaf yang sebesar-besarnya🙏🙏🙏

__ADS_1


Jika berkenan dukung terus author dengan cara follow akun author, beri rate🌟5, like dan coment setiap babnya, tambahkan sebagai favorit, vote dan gift 😊🙏 Doakan juga author agar bisa melanjutkan dan menyelesaikan cerita ini dengan sebaik-baiknya😇


Akhir kata terus ikuti cerita Reyna, untuk melihat perjalanan cinta Dava dan Reyna, kondisi Raya, Angga dan keluarganya sekarang.😊


__ADS_2