AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Bertemu Ziva


__ADS_3

Tidak ada kehilangan yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan seorang anak! Jika seorang anak disebut anak 'yatim' ketika kehilangan Ayah, anak 'piatu' ketika kehilangan Ibu, anak 'yatim piatu' jika kehilangan ayah dan ibu, disebut 'janda' ketika seorang isteri kehilangan suami, disebut 'duda' jika seorang suami kehilangan isteri. Namun tidak ada istilah bagi orang tua yang kehilangan anaknya! Karena tidak ada satupun kata di dunia ini yang dapat menggambarkan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak! Apalagi bagi seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang.


Jika berpisah dengan Angga membuat Reyna sangat terluka dan kehilangan. Maka saat ini kehilangan Ziva membuat Reyna kehilangan arah, kehilangan pegangan dan harapan hidup. Reyna bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk bernafas.


Entah apa yang merasukinya, sehingga Reyna nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Pikirannya buntu. Kehilangan Ziva membuat Reyna hidup dalam penyesalan yang sangat amat menyiksa, sehingga kematian adalah jalan satu-satunya yang Reyna pilih untuk mengakhiri penderitaannya tanpa memikirkan akan dosa besar yang menanti jika dia mati dengan tangannya sendiri.


Reyna telah berdiri diatas kursi, dan akan segera menyelesaikan aksinya. Reyna sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Reyna pun menutup matanya dan mendorong kursi dengan kakinya, sehingga tubuhnya menggelantung di udara.


"Astagfirullahalaziiimm!!!"


Ayah baru saja masuk ke gudang untuk menyimpan karpet. Tapi ayah disuguhkan pemandangn yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Ayah melihat Reyna mendorong kursi dengan kakinya dan menggelantung di udara dengan leher terikat. Ayah pun langsung lari menghampiri Reyna, dan memeluk kaki Reyna agar tubuh Reyna tidak lagi menggelantung di udara.


"Ibu! Gina! Reva! Tolong Reyna!" Ayah berteriak sekencang-kencanya, seperti orang gila sampai urat di lehernya keluar. Orang tua mana yang tidak gila, melihat langsung kejadian seperti itu. Ayah begitu shock dan sedih dengan keputusan Reyna. Beberapa detik kemudian Ibu, Gina dan Reva sudah sampai di gudang.


"Astagfirullahalaziim..." Ibu, Gina dan Reva serentak mengucap istigfar. Siapa yang tidak kaget melihat pemandangan yang ada di depan mereka.


"Kak Reyna, kenapa kakak harus pergi dengan cara seperti ini?!" Gina menangisi Reyna yang bunuh diri.


"Tidak Gina. Kakakmu belum mati! Ayo semua bantu ayah. Cepaaat! Ayah baru saja melihat Reyna saat mendorong kursi dengan kakinya. Kemungkinan Reyna hanya pingsan dan belum meninggal." Ucap ayah dengan antusias tetapi penuh kekhawatiran, ayah sekuat tenaga menahan untuk tidak menangis.


Mereka pun lalu memotong tali dan melepaskan jerat di leher Reyna dan membopong Reyna ke kamarnya lalu membaringkan Reyna di atas ranjang.

__ADS_1


Masih terlihat jelas sisa-sisa isak tangis dari Ayah dan Ibu. Mereka begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa mereka. Bagaimana tidak, mereka baru saja berduka kehilangan cucu mereka satu-satunya, dan saat ini mereka hampir saja kehilangan putri sulung mereka.


"Gina, Reva... Cepat panggilkan suster Ela! Semoga saja beliau tidak sedang piket sekarang." Titah ayah kepada kepada kedua putrinya.


"Baik yah." Ucap Gina dan Reva serentak. Mereka lalu keluar dan memanggil suster Ela yang rumahnya hanya berbeda empat rumah dengan rumah mereka.


*****


Sementara itu dalam keadaan pingsan, Reyna bermimpi sedang berjalan-jalan di taman bunga. Taman itu begitu luas dan terdapat beragam bunga yang indah. Reyna pun tersenyum sambil menutup matanya menghirup aroma bunga-bunga yang harum dan memanjakan indra penciuman dan menenangkan itu. Tiba-tiba Reyna mendengar ada suara anak kecil memanggil.


"Mama... Mama..." Reyna lalu membuka matanya saat mendengar seseorang memanggil mama.


"Ziva..." Ucap Reyna dengan senyum penuh kasih sayang kepada anak semata wayangnya ini.


"Mama sayaaaaang sekali sama Ziva!" Reyna pun mencium seluruh wajah putri yang sangat dia cintai. Ziva tidak menjawab dan hanya tersenyum lalu berjalan lurus kedepan, menuju ke arah tangga yang bersinar dan menjulang tinggi ke langit.


"Ziva..." Reyna berlari kecil mencegat Ziva dengan memegang tangan putrinya.


"Ziva, mau kemana sayang? Kenapa ninggalin mama sih?" Tanya Reyna dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ma, Mama kan sudah janji sama Ziva." Ucap Ziva merajuk tapi dengan gayanya yang lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Janji? Janji apa sayang?" Ucap Reyna bingung, sepertinya Reyna pernah menjanjikan sesuatu tapi belum sempat ia tepati. Mungkin Reyna berjanji akan membelikan mainan, boneka, atau mungkin jalan-jalan ke mall. Reyna benar-benar sudah lupa akan janjinya kepada anaknya.


"Mama udah janji sama Ziva akan baik-baik saja kalau Ziva nggak ada. Mama lupa?"


Tiba-tiba kilasan kejadian sebelum Ziva meninggal sampai saat Ziva meninggal dunia terlintas di depan Reyna. Mulai dari kebersamaan Reyna dan Ziva, kemudian saat Reyna berdebat dengan Angga karena berubah pikiran dan tidak mengizinkan Angga membawa Ziva, lalu saat Reyna bersama Ziva di kamar, mereka membuat sebuah janji dengan jari kelingking dan cap dengan ibu jari.


Lalu berlanjut kejadian saat Ziva meninggal di rumah sakit pun muncul, membuat dada Reyna sangat sesak dan hampir tidak bisa bernafas. Reyna menyadari kalau anak kesayangan yang ada di hadapannya telah meninggal.


Ziva pun lalu terus berjalan ke arah tangga dan meninggalkan Reyna dengan pikirannya sendiri.


"Ziva, tunggu mama nak! Mama ikut sama Ziva ya?!" Reyna berlari ke arah Ziva yang sudah berada di anak tangga pertama.


Ziva hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Ziva lalu memberikan boneka kesayangannya pada Reyna, boneka kuda poni kecil kesayangan Ziva yang di bawa ke rumah Angga sebelum Ziva meninggal. Entah darimana boneka itu tiba-tiba saja sudah berada di tangan Ziva dan diserahkan pada Reyna. 'Bukankah boneka ini ada di keranjang mainan Ziva yang di berikan Bi Nur padaku setelah pemakaman Ziva. Kenapa Ziva menyerahkan boneka ini padaku?' Batin Reyna.


Ziva hanya tersenyum dan mengangguk pada Reyna. Senyum manis yang penuh dengan kedamaian yang membuat hati merasa tenang. Ziva lalu menyerahkan lagi sesuatu pada Reyna. Reyna menerima pemberian Ziva, dan ternyata itu baju yang di pakai Ziva sebelum Ziva meninggal. Tiba-tiba Reyna mengingat dokter Vita, dokter cantik yang memberikan baju Ziva yang telah dokter Vita jahit sesaat setelah Ziva meninggal. 'Kenapa Ziva memberikan baju ini?' batin Reyna.


"Na... Reyna!" Reyna lalu membuka matanya, perlahan Reyna mulai sadar dari pingsannya, kepalanya sakit. 'Dimana ini? Apa yang terjadi?' Reyna bertanya dalam hatinya. Reyna melihat wajah kedua orang tua yang sangat mengasihinya, mereka terlihat sedih dan khawatir dengan keadaan anak sulung mereka. Ayah bahkan masih menangis sambil menggenggam erat tangan putri sulungnya dengan penuh kasih dan mencium tangan Reyna.


Seumur hidup Reyna baru dua kali melihat ayahnya menangis, pertama saat kematian anaknya Ziva dan yang kedua saat ini.


'Apa yang telah terjadi sehingga membuat ayah dan ibu sangat sedih?!'

__ADS_1


"Kamu sudah sadar nak? Alhamdulilllah... Alhamdulillah!" Ibu menangis sambil memeluk Reyna yang masih terbaring di tempat tidur, tapi kali ini dengan air mata syukur karena anaknya masih diberikan kesempatan oleh sang Pencipta untuk berada di dunia ini.


__ADS_2