
Rendi sangat ingin menyapa wanita yang pernah menolongnya itu, namun rasa malu yang sangat besar mengalahkan niatnya untuk menyapa wanita itu. Rendi hanya bisa mengamati Reyna dari tempat duduknya.
'Benar, ia wanita yang juga menolong dan membawa Mas Dava ke rumah sakit satu setengah tahun yang lalu saat penyakit mas Dava kumat!' Rendi menjadi sangat yakin dengan hal itu saat mendengar suara Reyna yang lembut waktu berbicara di telepon dengan seseorang.
'Pantas saja kemarin aku merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Ternyata dia wanita yang di cari-cari oleh mas Dava.' Saat bertemu dengan Reyna kemarin Rendi memang tidak sempat memperhatikan Reyna, karena kemarin ia berada dalam kondisi yang tidak baik. Keadaan itu membuatnya untuk bernafas saja terasa menyiksa. Seumur hidup baru kali ini Rendi mengalami kebelet sakit perut dan berada di tempat umum. Sesuatu yang jika dipikirkan adalah hal sepele, namun saat mengalaminya secara langsung terasa hidup berada di ujung tanduk.
Reyna mengambil waktu istirahat makan siangnya untuk menelepon ibu Nabila, mencari tahu akan kabar putrinya Galena. Sekarang adalah masa dimana Galena melakukan dan belajar banyak hal baru. Kemarin untuk pertama kalinya Galena berdiri di atas stroller saat Reyna sedang membersihkan kamar, untung saja Reyna cepat melihat tubuh Galena yang hampir saja terjungkal ke lantai padahal sudah di pakaikan sabuk pengaman yang ada di stroller bayi. Kejadian itu membuat Reyna sedikit was-was, dan selalu mencari tahu kabar putrinya setiap ada kesempatan. Kehilangan putri pertamanya membuat Reyna lebih sedikit trauma jika menyangkut keselamatan Galena
Putri kecilnya sekarang sudah bisa mengucapkan kata mam-mam yang artinya makan. Galena juga sudah bisa menunjukkan ekpresinya mulai dari rasa sedih, marah, benci, jengkel, senang sampai tertawa dengan lucu. Ia mulai tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu dan menggemaskan.
Sebenarnya Reyna tidak ingin melewatkan momen-momen pertama dari putrinya. Hanya dengan menyaksikan momen-momen tersebut Reyna mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa di beli dengan apapun. Tapi Reyna juga harus memikirkan masa depannya dan putrinya kelak. Ia tidak mungkin terus hidup bergantung pada keluarganya. Pekerjaannya sebagai penulis novel online dan make up artist di rasa belum cukup untuk menjamin kehidupan di masa yang akan datang bersama putrinya nanti, belum lagi biaya pendidikan Galena nanti yang semuanya adalah tanggung jawab penuh dari Reyna. Reyna harus mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang. Kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan besar pun tidak ia sia-siakan, karena belum tentu kesempatan ini akan datang dua kali. Itulah yang menjadi salah satu alasan Reyna menerima permintaan Vita sahabatnya. Karena selain menyenangkan hati sahabatnya Vita, pekerjaan ini juga dia yakini adalah cara Tuhan untuk menjamin masa depan ia dan putrinya.
Selesai menelepon ibunya, Reyna mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia merasa sejak tadi ada seseorang yang mengawasi dan memperhatikannya.
Rendi langsung menghadap ke sisi lain dan pura-pura sedang sibuk dengan ponselnya. Untunglah ia memakai jaket kulit dan memakai masker saat selesai makan tadi. Jika tidak, ada kemungkinan Reyna mengenalinya karena mereka belum lama bertemu.
'Ah, mungkin hanya perasaanku saja.' Batin Reyna mengabaikan firasat yang muncul.
__ADS_1
'Huh? Apakah ia mengetahui aku sedang memperhatikannya.' Rendi kembali memperhatikan Reyna yang sudah bersiap untuk pergi dari tempat ini.
'Dia benar-benar wanita yang hebat! Saat menolong mas Dava ia bahkan tidak mau memberikan nomor teleponnya karena tidak ingin menerima kompensasi apapun setelah menolong mas Dava yang adalah Pemilik perusahaan besar.' Batin Rendi.
'Huh? Bukankah itu ID card perusahaan mas Dava?' Rendi melihat ID card yang menggantung di leher Reyna, Rendi dengan jelas mengetahui hal itu karena ID card tersebut mirip dengan yang sering di pakai Aldy.
'Mungkinkah mas Dava telah bertemu dengannya sehingga mas Dava memberikan pekerjaan di perusahaannya. Sepertinya dulu ia hanya bekerja sebagai driver ojek online, karena dulu saat bertemu di rumah sakit ia menggunakan jaket ojek online. Hmmm sudahlah, berarti mereka sudah saling mengetahui masing-masing.' Rendi ber opini sendiri.
*****
Tak terasa sudah sebulan Reyna bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Dava. Selama Reyna bekerja Dava pun selalu puas dengan hasil kerjanya, Reyna jarang bahkan tidak pernah melakukan kesalahan. Tanpa sadar benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Dava, dari kagum menjadi suka dan dari suka menjadi cinta. Ia sudah berusaha menepisnya namun pesona Reyna mampu menyihir Dava untuk jatuh dalam pesona Reyna.
Namun sayang Reyna sepertinya menjaga jarak dengan dirinya, Reyna seperti punya tembok tinggi yang membuat ia tidak mudah ia dekati. Tapi sebenarnya jika diperhatikan bukan hanya Dava saja yang sulit mendekati Reyna, tapi semua laki-laki yang ingin mendekati Reyna tidak punya celah dan kesempatan untuk menggodanya. Sebenarnya menurut Dava itu sangat bagus, karena tandanya Reyna bukan wanita murahan. Itulah yang membuat Dava semakin hari semakin jatuh cinta pada Reyna.
Beberapa waktu yang lalu, Dava pernah mencoba mengajak Reyna untuk makan siang bersama. Namun Reyna tolak.
"Reyna, ayo ikut bersama ku." Ucap Dava memerintah.
__ADS_1
"Iya pak? Maaf, mau kemana ya?" Tanya Reyna bingung karena menurutnya tidak ada tugas yang membuat Reyna harus ikut dengan Direktur Utama.
"Ikut saja, susah amat sih!" Ucap Dava dengan jengkel.
"Aku mau kamu temani aku makan siang."
"Mohon maaf pak, aku sudah bawa bekal dari rumah." Jawab Reyna telak. Dava pun dengan perasaan kecewa pergi meninggalkan Reyna sendirian.
Pagi yang cerah di kator Dava.
"Reyna, apa jadwalku hari ini?" Ucap Dava dengan angkuh. Rasa cintanya pada Reyna belum mengubah sikap arogan Dava, namun hatinya sudah mulai mencair seiring dengan bertumbuhnya cinta untuk Reyna.
"Jam sembilan pagi ada rapat dengan Para pemegang saham pak. Jam sebeles ada janji bertemu dengan dokter Rendi untuk terapi, dan setelah itu jam dua siang ada pertemuan dan penanda tanganan kontrak kerja sama dengan PT. Halilintar." Reyna berdiri dari tempat duduknya dan berbicara dengan sopan dan lembut namun berwibawa.
"Hanya itu?" Tanya Dava belum beranjak dari tempatnya berdiri di hadapan Reyna.
"Hari ini itu saja pak." Jawan Reyna mantap.
__ADS_1
"Ok, segera siapkan materi rapat sebentar, hubungi Aldy dan pastikan kehadirannya sebentar, karena kalau sampai kali ini ia juga tidak hadir maka kamu lah yang akan menggantikannya presentasi di hadapan para pimpinan perusahaan seperti bulan lalu.
"Iya pak, saya mengerti."