AKU YANG KAU SAKITI

AKU YANG KAU SAKITI
Menikah lagi?


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah berwarna krem desain klasik dengan dua pilar tinggi bergaris vertikal, di depannya ada gerbang besar berbentuk unik yang semakin menambah kesan mewah nan elegan dari rumah itu. Hari masih pagi, namun sudah terjadi perdebatan antara ibu dan anak di meja makan yang cukup besar untuk diduduki dua orang saja.


"Bu, aku sudah bilang berapa kali kan. Ibu tidak perlu sering-sering datang kesini hanya untuk menengokku dan Dinda. Teknologi semakin canggih, kan bisa telepon dan video call. Ibu tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu tiga jam berkendara hanya untuk datang menengokku!" Ucap Dava pada Ibu Sinta yang duduk di depannya.


"Dasar anak nakal! 'Hanya' kamu bilang? Harusnya di umur ibu yang sudah senja ini, ibu sudah hidup tenang dengan pekerjaan ibu. Kamu selalu saja membuat ibu cemas." Ibu Sinta seorang dokter spesialis anak senior dan dosen di salah satu universitas B, memarahi anaknya yang tidak pernah mau mendengarkan ucapannya. Ia baru saja tiba semalam setelah melakukan perjalanan tiga jam dengan mobil ditemani oleh supirnya. Ibu Sinta lalu memukul kuat lengan kekar anaknya.


"Awww... sakit Bu, aku bukan anak kecil atau ABG lagi yang harus ibu cemaskan. Aku pria dewasa dan sudah cukup tua untuk ibu perlakukan seperti ini." Ucap Dava Pratama dengan keras kepala pada ibu yang telah melahirkannya.


"Makanya, cepatlah menikah lagi agar ibu tidak khawatir meninggalkanmu di kota ini sendirian. Harusnya dulu ibu tidak pernah mengizinkanmu kuliah sampai akhirnya membuka perusahaan sendiri di kota ini! Tapi kamu memang tidak pernah mendengarkan ucapan ibu! Kamu bisa buat jantung ibu kumat, kalau ibu mendengar lagi kamu sakit."


Menikah lagi?! Tidak mudah bagi Dava mencari wanita seperti Sarah, isteri yang sangat ia cintai sepenuh hati, yang selalu setia menemaninya dalam suka dan duka. Kesalahan terbesar Dava sebagai seorang suami adalah tidak berada bersama isterinya di saat-saat terakhir isterinya di dunia ini. Dava bahkan tidak mengetahui kalau sudah setahun isterinya mengidap penyakit kanker hati. Saat itu perusahaan sedang mengalami krisis keuangan, Dava dan seluruh pegawainya harus bekerja keras membuat inovasi baru, bahkan mencari investor untuk menopang keuangan perusahaan. Sarah sebagai isteri yang baik dan pengertian tidak ingin menambah beban pikiran suaminya dan berusaha tetap melayani suaminya seperti biasa tanpa memberitahukan rasa sakit yang sedang ia rasakan, sampai akhirnya Sarah meninggal dunia dan meninggalkan kepedihan mendalam di hati Dava. Rasa bersalah dan terluka kehilangan isteri yang begitu tiba-tiba sampai membuat Dava mengalami trauma hingga membutuhkan penanganan khusus.


Sampai saat ini tidak ada satupun wanita yang bisa mengantikan posisi Sarah di hati Dava. Wanita yang datang mendekatinya selalu hanya menginginkan hartanya, selain karena ketampanannya yang masih terlihat di usianya yang tidak lagi muda, yaitu 39 tahun. Tidak ada wanita yang tulus dan baik seperti mendiang isterinya Sarah.

__ADS_1


"Kamu harus segera menemukan wanita yang baik dan menikah lagi, kalau tidak ingin melihat ibumu ini cepat mati!" Ancam Ibu Sinta kepada anak bungsunya yang sangat ia cintai.


"Hhhuufff" Lagi-lagi hanya hembusan nafas panjang yang bisa Dava lakukan. Tidak ada gunanya berdebat dengan wanita yang telah melahirkannya yang juga sangat keras kepala di depannya ini.


"Jam berapa sekarang? Ya Tuhan, sekarang sudah jam delapan. Ibu harus segera bersiap untuk Seminar Ilmiah Dokter Spesialis Anak di hotel Aston jam sepuluh pagi ini! " Ibu Sinta melihat jam di tangannya dan terkejut.


"Ck, ini gara-gara kamu anak nakal, sampai Ibu lupa waktu berbicara denganmu. Kamu kira pekerjaan ibu hanya mengurusimu saja!" Ucap Ibu Sinta memarahi anaknya.


"Dava tolong hubungi sepupumu Vita, tanyakan kalau ia punya kenalan make up artis yang bisa secepatnya datang kesini untuk merias wajah Ibu. Ibu sudah tidak punya waktu lagi untuk ke Salon." Ucap Ibu Sinta pada Dava yang sudah berada di pintu.


"Ibu telepon saja sendiri, ibu kan punya nomor telepon Vita." Dava lalu tersenyum jahil pada ibunya dan segera berlari menuju mobilnya sebelum mendapat lemparan barang dari ibunya. Ibu Sinta hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap putranya yang terkadang masih kekanak-kanakan.


Ibu Sinta lalu menghubungi Vita keponakannya, untuk menanyakan apakah ia punya kenalan seorang make up artis yang bisa datang kesana secepatnya. Tampil cantik dan menarik adalah sebuah keharusan bagi Ibu Sinta yang adalah seorang wanita karir, ia masih terlihat cantik walaupun umurnya sudah tidak lagi muda dan terlihat beberapa kerutan di wajahnya. Ibu Sinta sudah biasa berdandan sendiri untuk ke acara-acara tertentu. Namun hari ini, ia akan menjadi pembicara atau membawa materi dalam Seminar Ilmiah di salah satu hotel. Ia ingin ke salon untuk menunjang penampilannya, tapi sepertinya waktunya tidak cukup untuk menghubungi owner salon langganannya agar bisa membuka salon sepagi ini. 'Mudah-mudahan saja Vita punya kenalan MUA yang bisa segera datang kemari!' Ucap Ibu Sinta dalam hati sambil menelepon Vita.

__ADS_1


[Halo tante, apa kabar?] Jawab Vita di seberang telepon.


[Halo Vit, kabar tante baik. Kamu datang kan sebentar ke Seminar di hotel Aston?]


[Iya tante. Aku utusan dari Rumah Sakit ku jadi aku harus hadir dong, lagian yang jadi pembicaranya kan tanteku tersayang Profesor Sinta, dokter spesialis anak yang terkenal. Hehehe] Vita memuji kesuksesan tantenya yang sangat hebat menangani pasien anak khusus dalam bidang jantung dan operasi penutupan jantung bocor, kesuksesannya membuat dokter Sinta sangat terkenal bahkan diantara rekan sesama spesialis anak, walaupun mereka berada di kota yang berbeda.


[Ah, kamu ini terlalu memuji Vit. Oh ya, tante mau minta tolong nih. Kamu punya ngga kenalan Make Up Artis yang bisa datang kesini secepatnya? Tante ngga cukup waktu buat pergi ke salon langganan tante.]


[Oh, make up artis ya tante. Iya, iya aku punya teman seorang MUA, bentar aku telepon dia dulu ya. Tante di rumahnya Dava kan?!] Vita mengkonfirmasi keberadaan tantenya, apakah dokter Sinta di rumah anaknya atau berada di hotel.


[Ah, syukurlah! Iya tante di rumah Dava, kamu tolong langsung kasih alamat rumah ini, dan kalau bisa secepatnya ya kesini ya. Terima kasih banyak Vita.]


[Ok tante aku akan segera menghubungi temanku, iya tante sama-sama.] Ucap dokter Vita lalu mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ibu Sinta. Setelah itu langsung menghubungi temannya Reyna.

__ADS_1


__ADS_2