
Reyna kemudian tersenyum sopan kepada Rendi dan Dava. Namun berbeda dengan Reyna, Rendi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Reyna. Padahal ia sudah pernah melihat Reyna mengenakan nama tag dari perusahaan Dava. Namun Rendi tak menyangka jika Reyna adalah sekretaris Dava dan bisa bertemu dengannya lagiĀ dan itu di ruang prakteknya sekarang.
"Kamu?!" Ucap Rendi terkejut melihat Reyna yang semakin cantik dan langsing dengan penuh kharisma.
"Kamu mengenal Reyna?" Tanya Dava pada Rendi tak kalah terkejut.
"Dia...Hmm..." Rendi yang awalnya tergagap langsung menguasai dirinya.
"Silahkan tanda tangani berkas nya Mas. Nanti kita lanjutkan bicaranya sebentar." Ucap Rendi pada Dava dengan lugas, saat melihat Reyna telah menyerahkan berkas yang harus Dava tanda tangani. Terpaksa Dava mengikuti perkataan Rendi dan tidak mengejar jawaban dari pertanyaannya itu.
Selama Dava menanda tangani berkas yang diberikan Reyna, matanya juga memperhatikan pandangan Rendi yang tidak biasa terhadap Reyna.
'Ck.. Apakah Rendi juga menyukai Reyna seperti Aldy kakaknya?!' Dava hanya bisa bertanya di dalam hati.
"Naik apa kesini?" Tanya Rendi pada Reyna dengan senyumnya yang memikat. Rendi memperhatikan wajah Reyna yang sedikit berkeringat, dan rambut Reyna yang sedikit terangkat karena tertiup angin. Padahal sebelum masuk Reyna sudah merapikan rambutnya dan menyeka keringat di wajahnya, namun itu tidak luput dari pengamatan Rendi. Rendi bisa memprediksi kalau wanita cantik yang ada di hadapannya naik motor ke sini.
"Oh, saya dok? Saya naik ojek online kesini." Jawab Reyna sopan menghargai pertanyaan dari Rendi. Ia sebenarnya kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari dokter yang merawat bosnya. Memang sudah tiga kali ia bertemu dengan dokter Rendi, tapi hubungan mereka tidak cukup dekat untuk mendapatkan pertanyaan itu.
"Kenapa ngga naik mobil saja, kan panas siang-siang begini naik motor." Tanya Rendi lagi.
"Biar cepat saja dok." Jawab Reyna sopan dengan singkat.
'Sok perhatian banget dia sama Reyna! Kenapa dia harus peduli sih sama sekretarisku?! Reyna mau naik motor kek, naik mobil, jalan kaki, atau dia ngesot sampai disini, apa hubungannya sama dia?! Ckck Sial*n nih anak. Baru saja aku menyingkirkan kakaknya ternyata adiknya juga mengincar wanita yang aku sukai. Tak bisa ku biarkan. Rendi bahkan lebih muda dan tampan dari kakaknya Aldy. Bisa-bisa aku kalah saing dengannya!' Dava membatin.
__ADS_1
"Oh ya saya Rendi." Rendi memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Reyna.
"Reyna." Jawab Reyna singkat dan membalas jabat tangan Rendi.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi, saya mau mengucapkan terima kasih. Waktu itu..." Rendi masih ingin berbicara dengan Reyna, namun Dava segera memotong ucapannya.
"Reyna, kamu harus segera kembali ke kantor sekarang dan menyerahkan berkas yang sudah saya tanda tangani ini pada Aldy ya! Saya masih ada urusan setelah ini, dan harus pergi ke suatu tempat." Ucap Dava pada Reyna.
"Iya pak." Jawab Reyna bersiap untuk pergi dari ruangan itu.
"Oh ya ini uang transport, kamu naik taksi online saja ya jangan naik motor." Dava memberikan tiga lembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepada Reyna
"Tidak usah pak, terima kasih. Saya tidak apa-apa kok naik motor." Jawab Reyna menolak pemberian Dava.
"Aku menyuruhmu naik taxi dan bukan naik ojek karena saat ini kamu sedang membawa berkas penting perusahaan. Bagaiman jika ada angin kencang atau hujan, sehingga berkas penting yang sedang kamu bawa rusak? Apakah kamu mau betanggung jawab?!"Tanya Dava dengan sinis seperti tak berperasaan, padahal sebenarnya ia melakukan itu karena ia perhatian dan mengkhawatirkan Reyna dan tidak ingin Reyna naik motor berpanas-panasan.
"Ini ambil!" Dava menyodorkan kembali uang tiga ratus ribu pada Reyna untuk uang transport. Tapi Reyna hanya mengambil satu lembar uang yang diberikan oleh Dava.
"Itu terlalu banyak Pak, ini saja sudah sangat cukup untuk ongkos taksi dan masih ada kembaliannya." Ucap Reyna sambil memegang uang seratus ribu. Dava hanya bisa membuang nafas besar menanggapi tindakan Reyna.
"Ya sudah, pergilah!" Ucap Dava seperti mengusir Reyna dari tempat itu. Dava hanya ingin cepat-cepat mengeluarkan Reyna dari ruangan itu karena sejak tadi Rendi selalu memandang Reyna dengan tatapan cinta.
***
__ADS_1
"Jadi, bagaimana kamu bisa mengenal sekretarisku?" Tanya Dava menginterogasi Rendi.
'Sepertinya mereka sudah pernah bertemu, tapi tadi Rendi baru saja memperkenalkan dirinya pada Reyna. Itu berarti sebelumnya mereka belum saling mengenal nama masing-masing. Ah, sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua sehingga meninggalkan bekas mendalam bagi Rendi?!' Batin Dava.
"Ceritanya panjang Mas." Ucap Rendi dengan senyum berbunga-bunga seperti sedang mengingat saat-saat indah bertemu dengan pujaan hatinya.
"Apa aku tidak boleh tahu apa hubungan mu dengan sekretarisku?!" 'Ya, anggap saja aku ini bos yang kepo dengan urusan pribadi bawahannya!' Dava tidak peduli jika Rendi mengganggapnya kepo dengan urusan pribadi bawahannya. Dava mulai panas, tapi dia berusaha untuk tenang dan tidak menunjukkannya secara gamblang di depan Rendi. Bagaimanapun juga Rendi adalah seorang dokter yang mempelajari tentang kejiwaan, Dava pun tidak ingin mempermalukan dirinya dengan menunjukkan kecemburuannya terhadap Rendi.
"Sebenarnya kami belum punya hubungan apa-apa Mas. Ia orang yang pernah menolong ku keluar dari situasi memalukan beberapa waktu yang lalu!" Ucap Rendi masih dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya saat meningat Reyna.
'Kur*ng ajar nih orang! Apa katanya, "belum" punya hubungan?... Maksudnya "belum" dan "akan" punya hubungan gitu?! Kenapa sih tidak bilang saja kalau mereka "tidak" punya hubungan apa-apa?! Dan apalagi itu, mimik wajahnya yang selalu tersenyum saat berbicara tentang Reyna? Dia seperti orang bodoh saja!' Dava hanya bisa mengata-ngatai Rendi dalam hatinya.
"Dia pernah menolongmu? Menolongmu dari apa?"
"Yah adalah mas... Sudah aku bilang kan ia pernah menolongku keluar dari situasi memalukan. Aku malu jika menceritakannya pada orang lain. Biarlah hanya kami berdua dan Tuhan yang tahu." Rendi tertawa kecil mengingat kejadian memalukan itu. Tidak mungkin kan ia menceritakan pada Dava kalau Reyna telah menolongnya sehingga ia tidak sampai buang air besar di celana!
"Aku tidak menyangka ternyata ia adalah sekretaris baru kamu Mas." Sambung Rendi.
'Ya Tuhan... bagaimana caranya agar aku bisa menyingkirkan Rendi seperti Aldy. Rendi adalah saingan terberat bagi ku karena Rendi masih muda, tampan, dan ia seorang dokter. Memang sih ia juga seorang duda beranak satu, tapi tetap saja Rendi adalah kandidat yang menjadi saingan terberat untukku! Aku menarik kembali ucapanku tentang janda cocoknya sama duda!' Dava bermonolog dalam hatinya seperti sedang bersiasat mengikuti kompetisi untuk mendapatkan hati Reyna saja.
"Tapi mas sebenarnya sebelum menolongku, aku pernah bertemu dengan Reyna karena kamu..." Rendi menggantung ucapannya.
"Kamu pernah bertemu dengan Reyna sebelum itu, dan itu karena aku?!" Tanya Dava mengulang ucapan Rendi.
__ADS_1
"Iya Mas. Apa kamu tidak mengingatnya?" Rendi kembali bertanya.
"Tolong bicara yang jelas Rendi! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" 'Mengapa Rendi berkata pertemuannya dengan Reyna pertama kali karena aku?!'