
"Ayo makan Na, mumpung masih hangat. Ini ibu buatkan sup ceker ayam, kesukaanmu." Ah senangnya, Aku merasa seperti anak gadis yang belum menikah saja kalau bersama ibu.
"Gina ngga makan bu?"
"Ini mau ibu bawakan ke warung." Ibu menunjuk dengan mata kearah baskom yang sedang diisi dengan sup yang masih hangat.
"Reva?"
"Pagi-pagi Reva sudah pergi, maklum kantornya jauh. Dia tidak mau sampai terlambat."
"Oohh. Ibu Pagi-pagi sudah buat sup ceker ayam, memangnya kemarin ibu belanja ayam ya?"
"Tadi sebelum ke pasar, ayah beli ayam daging sama Feby, teman sekolah kamu."
"Feby, Feby yang mana bu?"
"Itu, teman SMA kamu dulu yang tindikannya sampai di mata. Apa tidak sakit ya matanya ditindik begitu?! Untung sekarang dia sudah tidak doyan tindik lagi, tapi sekarang doyan sama emas. Kalau lihat dia sekarang kayak toko emas berjalan."
"Ohh." Jawabku singkat sambil tertawa kecil. Tumben ibu menceritakan orang seperti itu. Bukan seperti gaya ibu. Seperti ibu ibu yang lagi gosip saja. Hehehe. Feby memang teman sekelasku saat kelas 3 SMA tapi kami tidak terlalu dekat. Dia punya teman komunitas nya sendiri dan jarang bergaul dengan kami anak anak yang lain. Dan saat semester akhir Dia menghilang seperti di telan bumi. Tidak ada yang tahu kabarnya sampai kami lulus sekolah.
Setelah selesai makan aku bergegas merapikan piring dan peralatan makan lainnya.
"Reyna duduklah kembali, ayo katakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya ibu sambil memegang tanganku.
Aku merasakan ada aura kelembutan dan ketulusan dari suaranya, membuat hatiku tenang dan nyaman. Aku duduk kembali, menarik nafas dan membuangnya. Aku lakukan selama dua kali seraya mengumpulkan keberanianku untuk berkata jujur pada ibu.
Aku menceritakan tentang alasan aku keluar dari rumah suamiku. Tentang perselingkuhan dan rencananya untuk menikah lagi. Tentang sikapnya dan perasaannya yang sudah berubah. Tentang sikap ibu mertua dan adik iparku selama aku tinggal disana. Aku ceritakan semuanya pada ibu, tanpa ada yang aku tutup tutupi.
Mungkin ini adalah langkah awal bagiku, untuk bisa lebih terbuka tentang perasaanku terhadap orang lain khususnya pada ibuku sendiri.
Selama aku berbicara, ibu hanya diam sambil menyimak ceritaku dengan seksama dengan alis yang kadang berkerut, tapi ibu tidak mengatakan apapun atau menyela ucapanku.
"Aku bingung bu. Apakah yang telah aku lakukan saat ini sudah tepat?" Tanyaku pada ibu. Ya sebagian dari diriku sangat membenci Mas Angga, tapi sebagian lagi masih mengharapkannya. 'Ya Tuhan aku benar benar wanita yang bodoh. Aku sudah diperbudak oleh cintaku pada Mas Angga. Aku kesal pada diriku sendiri.' Batinku coba berontak.
__ADS_1
"Hfffuhh" ibu menhembuskan nafasnya seolah habis menahan sesak di dadanya. Ibu mengubah posisi duduknya, bersiap untuk bicara.
"Sejak kecil, kamu selalu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan ibu. Tak pernah ibu melihatmu memukul adik adikmu saat mereka nakal. Tak pernah ibu dengar kamu mengadu jika adik adikmu memukul atau menganggumu ketika kalian bersama. Sampai saat kamu sekolah, kuliah, dan bekerjapun kamu tidak pernah menyusahkan, bahkan selalu menjadi kebanggan ibu. Ibu mencintaimu Nak, dengan seluruh hati Ibu." Ibu berbicara dengan gayanya yang tenang, tapi matanya tampak mulai berkaca-kaca.
"Sungguh Ibu tak rela jika anak yang sangat ibu cintai, disakiti orang lain. Bahkan oleh suami sendiri." Ah, hatiku sakit mendengar ucapan ibu. Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan.
"Kamu juga sekarang seorang ibu, seorang anak adalah permata hati ibunya, pasti kamu sangat mengerti apa maksud ucapan ibu." Dengan lembut ibu menyeka air mata di pipiku. Ada rasa tenang dan damai saat ibu menyentuhku.
"Tapi sekarang kamu sudah dewasa, dan punya rumah tangga sendiri. Pikirkanlah apa yang terbaik untuk dirimu dan untuk Ziva. Setiap keputusan yang kamu ambil pasti mendatangkan suatu penyesalan. Pilihlah keputusan yang mendatangkan sedikit penyesalan! Ibu hanya mendoakan yang terbaik untuk hidupmu. Berdoalah dan minta petunjuk kepada sang Maha Kuasa."
Dengan bijaksana ibu mencoba untuk menyerahkan semua keputusan padaku, karena akulah yang akan menjalani hidupku nanti. Semua beban di hatiku terasa ringan ketika bisa berbagi dengan orang yang tepat.
****
Saat selesai menyuapi Ziva makan siang, tiba tiba ponselku bergetar. Kulihat ada pesan dari nomor mas Angga.
[Reyna. Pulanglah ke rumah! Kita harus bicara dengan kepala dingin agar dapat mencari solusi yang terbaik untuk masalah kita.]
Enak sekali dia. Dia yang membuat masalah sendiri, tapi mengajakku mencari solusi intuk masalah yang dia buat.
Ah aku mulai berani menantangnya. Walaupun hanya melalui pesan teks.
[Bersiaplah. Aku akan menjemputmu! Kita harus membicarakannya secara langsung, tidak bisa hanya lewat ponsel.]
Tiga puluh menit kemudian mobil Mas Angga sudah berada di halaman rumahku. Mas Angga berdiri di depan rumah dan mengucap salam. Ibu menyuruhnya Masuk.
"Ayo masuk, Nak Angga. Silahkan duduk. Tunggu sebentar ya, nanti ibu panggilkan Reyna." Ibu mengetuk pintu sebentar lalu langsung masuk ke kamarku. Aku baru saja menidurkan Ziva.
"Nak, suamimu sudah berada di depan. Keluarlah."
"Bu, aku harus bagaimana?" Tanyaku bimbang pada wanita yang melahirkanku.
"Pilihlah keputusan yang menurutmu terbaik untuk dirimu dan untuk anakmu!"
__ADS_1
"Tapi aku takut mengambil keputusan yang salah, bu."
"Mintalah petunjuk pada yang Maha Kuasa. Tuhan tidak tidur nak. Dia pasti mendengar doamu."
"Aku titip Ziva ya bu. Dia baru saja tertidur"
Aku mencium tangan ibu dan keluar kamar.
Saat keluar kamar, aku mendapati mas Angga sedang duduk di ruang tamu. Dia sedang sibuk dengan ponselnya. Saking sibuk sampai tidak menyadari kehadiranku.
Mungkin dia sedang asik wa dengan pelacur ciliknya itu. Ah, kenapa hatiku sakit sekali melihatnya, seperti ada puluhan paku menancap di jantungku. Dadaku kembali sesak.
Aku melihatnya. Laki laki yang sangat aku cintai, laki laki yang dulu sangat mencintaiku.
Entah kenapa pikiranku kembali berlayar ke masa indah saat kami berpacaran dan baru menikah dulu. Ah, hati ini sakit. Kenapa terasa begitu menyakitkan, hanya dengan melihatnya. Air mataku tak kuasa jatuh. Aku buru buru menghapusnya.
"Oh, kamu sudah siap Na?" Mas Angga terkejut melihatku sudah berada di depannya.
"Mana Ziva?"
"Dia baru saja tertidur. Aku menitipkannya pada ibu." Aku lebih tenang jika menitipkannya pada orang tuaku, tentu saja mereka lebih dapat dipercaya.
"Oh, iya. Ayo."
"Hmm." Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, kami hanya saling diam. Tidak ada pembicaraan atau bahkan basa basi dari Mas Angga walau hanya sekedar bertanya keadaanku, atau setidaknya bertanya tentang Ziva anaknya.
Ya, suamiku sudah berubah. Hatinya bukan lagi untukku. Secepat itukah hati pria berpaling?
Kenapa juga dia masih membutuhkanku untuk mencari solusi? Apakah dia masih berharap aku mempertahankan pernikahan kami? Kenapa, bukan kah dia sudah tidak mencintaiku lagi?
'Tuhan berikanlah hamba petunjuk Mu..'
__ADS_1
Sepanjang perjalanan hanya itu doa yang selalu aku panjatkan dalam hati.