
Aku tak ingin membenci, tapi kenapa hati ini begitu sulit untuk memaafkan semua perbuatan mereka. Teristimewa Raya, aku sangat amat membenci Raya. Kehadirannya dalam rumah tanggaku bagaikan racun yang menghancurkan setiap sel-sel dan membunuh jiwaku. Salah mas Angga juga yang tidak tahan akan godaan. Tapi seperti kata mas Angga, dia juga sudah tidak mencintaiku lagi. Cinta itu sudah hilang seiiring dengan bertambahnya berat badanku yang membuatku sudah tidak menarik lagi.
Ya, kalau dipikir-pikir sudah lama mas Angga tidak mencintaiku lagi. Mungkin setelah Ziva lahir atau semenjak badanku menjadi gemuk, saat itu mas Angga sudah tidak lagi perhatian seperti dulu. Mas Angga jarang pulang kantor tepat waktu dan mas Angga juga jarang sekali menyentuhku.
Aku hanya terlalu naif untuk menyadari ada yang berbeda dari sikap mas Angga padaku, dan dengan bodohnya aku selalu mencoba untuk memahami semua sikapnya padaku. Tanpa kehadiran Raya pun rumah tanggaku memang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Mas Angga menggenggam tangan Raya dan masuk ke dalam rumahku. Aku hanya melihat semuanya dalam diam, tanpa mengatakan apapun. Melihat mas Angga dan Raya tidak semenyakitkan sebelumnya, lebih tepatnya perasaanku sudah berada di tahap mati rasa. Hatiku sudah penuh dengan lubang dan tidak ada lagi tempat kosong untukku merasakan sakit. Bukan aku tidak mencintai mas Angga lagi, hatiku masih mengharapkan dan mencintainya. Walau berkali-kali aku berkata dalam hatiku untuk jangan lagi mencintai dan mengingatnya, tapi kenapa aku begitu sulit untuk melupakannya?! Ya aku memang wanita lemah. Melupakannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses dan semua butuh waktu.
"Ayo masuk, Ray!" Ajak Mas Angga.
Kulihat Raya patuh mengikuti mas Angga, walau terlihat enggan untuk masuk. Gina keluar dari ruang makan bersama dengan Ziva. Ziva pun langsung berlari pada mas Angga. Terlihat Ziva sangat merindukan papanya. Mas Angga langsung memeluk dan mencium Ziva.
"Ah, anak gadis papa makin cantik aja!" Puji mas Angga pada putri kesayangannya.
"Iya dong. Kan Ziva anaknya mama dan papa."
Jawab Ziva dengan bangganya. Pintar sekali anakku. Darimana dia belajar bicara seperti itu?!
Kulihat Raya menggandeng lengan mas Angga yang masih dan sedang memeluk Ziva. Sepertinya Raya tidak suka dengan kebersamaan mereka terlihat dari wajahnya yang terlihat... Astaga, Raya cemburu pada anakku?! Ini pertanda tidak baik, mengapa wanita ini cemburu pada Ziva yang masih kecil, dia juga anak Mas Angga yang berhak mendapat kasih sayang papanya. Aku tak akan membiarkan anak ku berlama-lama dengan orang seperti Raya.
"Mas, sebaiknya Ziva diantar pulang sebentar sore ya! Aku tidak ingin Ziva bermalam dengan orang yang tidak menyukainya!" Aku bicara sambil melirik tidak suka pada Raya
"Apa maksudmu Reyna?!! Bukankah kamu sudah menyetujui untuk memberikan waktu bersama aku dan Ziva selama dua hari? Lagian hanya dua hari juga! Aku tidak meminta waktu dua minggu atau dua tahun. Apa maksudmu dengan orang yang tidak menyukainya? Aku ayah kandung Ziva!!" Jawab Mas Angga sedikit kesal.
__ADS_1
"Bukan kamu yang aku maksud mas, tapi orang di sebelahmu!" Jawabku santai.
"Ma-maksud kamu aku? Siapa yang tidak menyukai Ziva. Aku sangat menyukai Ziva kok. Ziva anak yang manis dan menggemaskan." Raya seperti sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah, jawabannya juga terbata-bata sambil tertawa paksa dan melirik ke arah mas Angga.
"Ziva sayang, masuk ke kamar dulu sebantar ya!" Aku menyuruh Ziva untuk masuk ke kamar, saat mas Angga menurunkan Ziva dari pelukannya.
"Iya, ma." Untunglah Ziva mematuhi tanpa membantah atau banyak bertanya.
"Gin, tolong bawa Ziva ke kamar ya!" Ucapku pada Gina.
"Apa maksudmu Reyna?!" Mas Angga terlihat geram dengan tindakanku.
"Aku hanya tidak ingin Ziva bersama dengan isteri mudamu, karena sepertinya dia tidak menyukai anak kita! Aku takut terjadi sesuatu pada Ziva, mas!" Aku sengaja memberi penekanan pada ucapan anak kita, agar Raya sadar bahwa Ziva juga anaknya Mas Angga.
"Aku tidak menuduhmu Raya. Aku hanya takut terjadi apa-apa pada anak ku. Wajar kan aku takut, aku ibu kandungnya. Sedangkan kamu, hanya ibu tiri yang masih labil!" Ucapku dengan santai mengatainya labil. Ya Tuhan ampunilah aku karena sudah berprasangka buruk. Tapi aku hanya mencoba untuk hati-hati. Aku sudah cukup lama mengenal Raya sebagai teman Fani, bahkan untuk mengurus dirinya sendiri dia tidak bisa. Apalagi tadi dia menunjukkan gelagat tidak suka pada Ziva.
"Kamu mengatai ku labil hah? Sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang ibu. Bilang saja kamu hanya cemburu padaku, iya kan?!" Ucap Raya dengan lantangnya.
Astaga anak ini benar-benar tidak tahu malu. Sudah berani datang ke rumahku, dan dengan tidak sopannya dia bicara sambil teriak-teriak. Dia pikir rumahku ini pasar apa, teriak-teriak seperti sedang menjual sayur.
"Kamu lihat kan mas, isteri mudamu ini. Tadi aku melihat wajahnya berubah cemberut dan tidak suka saat kamu menggendong Ziva. Dia langsung merangkul tanganmu seakan cemburu kamu membagi perhatianmu pada Ziva."
"Iya, mas. Aku juga melihatnya!" Ucap Gina yang tiba-tiba keluar dari kamar.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Bohong Mas. Mana mungkin aku seperti itu! Dasar kakak beradik tukang iri. Bilang saja kalau kalian iri dan cemburu padaku kan?"
"Apa kamu bilang? Kami kakak beradik tukang iri?! Heh dasar anak sekolahan, tukang rebut suami orang! Tidak tahu malu! Kamu tidak merasa berdosa datang ke rumah kami?!" Gina mulai emosi menanggapi Raya.
"Sudah Gin, sabar! Jangan terpancing emosi karena wanita itu!" Aku berusaha menenangkan Gina yang mulai terpancing emosinya dengan Raya. Untunglah ibu berada di warung, mungkin sedang melayani pembeli, sedangkan ayah masih belum pulang dari pasar.
"Tenangkan adikmu Reyna! Sebaiknya dia tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!"
Apa kata Mas Angga, dia anggap adikku masih kecil apa? Gina bahkan lebih tua dari Raya isterinya. Kenapa juga dia menyuruhku menegur adikku, sedangkan isterinya yang berteriak-teriak tadi dia abaikan.
"Apa kamu bilang mas? Tidak usah ikut campur urusan orang dewasa?! Helloo... Aku bahkan lebih tua dari isterimu itu! Kamu Raya Permatasari kan sekolah di SMA Tunas Harapan?"
Gina tidak terima dengan ucapan mas Angga, tapi emosinya terlihat lebih terkontrol dari yang tadi. Sepertinya Gina mengenal Raya dan dia mengetahui sesuatu tentang wanita ini.
"Mmm, Memangnya kenapa? Kamu mengenalku?!" Ckck, anak ini tidak kenal takut. Bahkan dia balas menantang Gina.
"Kamu beneran tidak mengenalku? Aku Regina kakak kelasmu! Coba lihat wajahku baik-baik. Bukankah saat kamu masih siswa baru dan aku kelas dua, katamu kamu sangat mengagumiku!?"
Kedua adikku termasuk cantik, kulit mereka juga putih dan memiliki tubuh yang langsing. Mereka juga anak yang pintar karena giat belajar. Tidak hanya itu, Gina juga aktif dalam beberapa kegiatan kesiswaan. Pasti banyak teman sekolah Gina yang mengenalnya. Aku juga baru tahu kalau Raya satu sekolah dengan Gina.
"A-aku, tidak, mengenalmu!" Jawab Raya terbata, Wajahnya juga terlihat pucat.
"Tidak usah pura-pura kamu Raya! Mana mungkin kamu melupakanku kakak kelas pembimbingmu waktu MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat kamu kagumi?!" Gina dengan bangganya memperkenalkan diri.
__ADS_1