Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 51


__ADS_3

Pov Author


“Bli yakin mau sama cewek ini?” tanya Tria sekali lagi.


Agung tidak terkejut melihat respon Tria, sebab gadis yang ia sukai memang bukan orang yang baik di mata Tria. Aurina atau yang kerap disapa Rina merupakan seorang teman lama Tria kala ia berkunjung ke Bali. Gadis itu sama seperti Agung, yakni anak dari pasangan yang mengurus vila.


“Setelah lulus kuliah, dia berubah total. Bahkan sekarang dia kerja jadi manajer hotel,” ujar Agung menceritakan sedikit tentang Rina.


Tria masih mengernyitkan kening. Alasannya tak menyukai Rina adalah karena kesombongan yang dimiliki gadis itu. Tak hanya sombong, dulu Rina benar-benar dikenal sebagai sosok gadis yang memiliki image buruk karena pergaulannya dan sering mendapatkan skorsing.


“Memangnya orang bisa berubah seratus persen ya?”


“Mmm… mungkin enggak seratus persen juga sih. Setidaknya dia jauh lebih baik daripada yang dulu. Dia bener-bener berubah setelah ibunya sempat sakit keras, beruntung sekarang udah baik-baik aja,” jawab Agung.


Terjawab sudah, alasan gadis itu berubah adalah orang tuanya. Tria menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk percaya kalau gadis itu benar-benar bisa berubah.


“Terus apa yang bikin Bli gak berani buat deketin dia? Gerak cepet aja! Jabatan dia bagus, pasti udah banyak yang lirik.”


“Bukannya udah jelas, ya? Saya cuma lulusan SMA, gak setara sama dia.” Agung mengatakannya dengan senyuman miris yang terulas di wajah.


“Jangan merendah untuk meroket! Memang Bli kira aku gak tau? Kedai di sebelah sana itu punya siapa? Memang gak terlalu besar, tapi omsetnya lumayan kan? Menurutku itu lebih menjanjikan daripada karyawan kantoran. Apalagi kedainya gak cuma satu. Bener, kan?” omel Tria sembari menunjuk sebuah kedai yang tak jauh dari mereka dan dipenuhi dengan pengunjung.


Agung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada sedikit kebanggaan dalam dirinya mendengar pernyataan dari seorang gadis yang terlahir kaya seperti Tria. “Bener begitu? Tapi kan gak bisa dipamerin, apalagi dibandingin sama mereka yang kerjanya pakai dasi dan jas,” dalihnya.


Tria melirik sinis, lalu mendengus kesal. “Yang kayak gini nih, tipe-tipe manusia kurang bersyukur dan terus-terusan membandingkan diri. Nih ya aku kasih tau, jaman sekarang itu yang penting cuan! Duit! Percuma kerja pake jas kalo duitnya pas-pasan. Mending yang kerja cuma pake kaos tapi duitnya ngalir terus. Iya, kan?"


Omelan Tria terdengar begitu menggemaskan di telinga Agung, hingga ia tak kuasa menahan tawa, gadis itu benar-benar realistis. Tanpa sadar, ia merangkul Tria dan menghapus jarak diantara mereka. Seketika jantung Tria berdebar kuat, ditatapnya lekat wajah lelaki yang sedang tertawa begitu lepas setelah mendengar omelannya. Di bawah cahaya bulan dan lampu yang temaram, ia bisa melihat dengan jelas wajah Agung yang semakin tampan jika dibandingkan dengan pertemuan mereka yang terakhir—kurang lebih dua tahun lalu.


Kemudian Agung menunduk sedikit hingga membuat kedua manik mata mereka bertemu. Tawanya pun terhenti, lalu ditelannya saliva dengan paksa. Menyadari bahwa refleknya berlebihan, ia langsung melepaskan rangkulannya dan keduanya menjadi salah tingkah.

__ADS_1


“Maaf, kalau saya lancang,” ujar Agung dengan tatapan yang lurus ke arah laut untuk menghindari kontak mata dengan Tria.


Tria mengangguk pelan seraya memalingkan wajahnya pula. “Gimana kalo pulang sekarang? Takut mas Dwi nyariin," ajaknya sekaligus menghindari keadaan awkward yang berkepanjangan.


Tanpa berbasa basi, keduanya langsung pulang kembali ke villa dengan perasaan yang sama canggungnya. Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Puspa yang duduk di ruang tengah sembari memainkan ponselnya.


“Kalian dari mana?” tanya Puspa sembari meletakkan ponselnya di atas meja.


“Jalan-jalan aja, cari angin,” jawab Tria dengan wajah yang masih memperlihatkan kecanggungan. Agung yang berdiri di belakang Tria langsung pamit untuk pergi ke belakang.


“Asiknya bisa kencan, jadi iri,” ledek Puspa.


“Ih, apaan deh! Siapa juga yang kencan!” sanggah Tria seraya duduk di sofa yang kosong dan meluruskan kakinya.


“Kamu masih suka sama Agung?” tanya Puspa tanpa basa-basi.


“Oh ya? Kamu patah hati dong?”


Ada kebahagiaan tersendiri bagi Puspa ketika berhasil meledek Tria yang sudah ia anggap seperti adik kandung. Tidak menjawab, Tria hanya membuang muka sembari memanyunkan bibir karena kesal. Puspa pun mengalah dan mengalihkan pembicaraannya.


“Siapa calonnya Agung? Orang sini juga?”


Tria mengangguk pelan. “Iya, tapi kayaknya Kakak gak kenal dia. Belum bisa dibilang calon juga sih, soalnya Bli Agung masih belum berani buat maju.”


“Dasar laki-laki jaman sekarang. Senengnya gantungin perasaan perempuan.” Respon Puspa terdengar seperti keluhan dari lubuk hati terdalam.


Tria melirik dan memperhatikan raut wajah Puspa yang seketika berubah. Untuk usia yang tak lagi muda, cukup terlihat kalau Puspa sebenarnya sudah ingin membina rumah tangga seperti lainnya. Sayangnya, lelaki yang tepat belum berhasil ia temukan.


“Kak, kayaknya di seberang jalan ada yang jual jagung bakar. Beli yuk!” ajak Tria yang tak ingin membahas lebih lanjut.

__ADS_1


“Udah malem, Tri. Jangan banyak makan!” tolak Puspa. Ya, wanita itu sangat menjaga proporsi badannya.


“Sedikit aja! Satu bagi dua deh,” bujuk Tria seraya beranjak dari kursinya.


“Enggak, aku gak mau.”


“Jahat! Ya udah, aku beli sendiri aja.” Tria pun pergi meninggalkan Puspa sendiri di ruang tengah.


Layaknya kakak yang meyayangi adiknya, Puspa pun bangkit berdiri dan mengikuti langkah Tria. Ia tidak berniat makan, ia hanya ingin menemani dan mengawasi adik kecilnya yang manja itu.


Panjang umur, gadis yang namanya baru disebut-sebut, lewat di depan villa dengan tas jinjing di tangan kanannya. Pakaiannya tampak begitu rapi dan formal, dengan rambut panjang sebahu yang sudah sedikit berminyak. Tak hanya Tria, Rina juga sama terkejutnya ketika mereka tak sengaja saling menatap.


“Tria, apa kabar?” sapanya ramah seraya menghentikan langkahnya.


“Baik,” jawab Tria seperlunya tanpa balik bertanya. Ia bukan tipe orang yang ramah pada sembarang orang.


“Udah lama di sini?” tanya Rina lagi.


“Baru tadi pagi.”


Menghindari kontak mata dari Rina, Tria justru mendapati Agung berdiri di samping villa dan memperhatikan mereka. Perasaannya menjadi semakin tidak nyaman. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah.


“Kenapa gak jadi beli?” tanya Puspa yang tidak mengerti duduk permasalahannya.


“Tiba-tiba kenyang, takut gak ke makan,” jawab Tria tanpa menghentikan langkahnya dan masuk ke dalam kamar.


Meski tidak diceritakan, Puspa bisa menebak alasan mood Tria yang tiba-tiba berubah adalah gadis yang masih berdiri di depan villa mereka. Benar saja. Tak lama kemudian, Agung keluar dan menghampiri Rina.


‘Ah, ternyata ini masalahnya,’ batin Puspa.

__ADS_1


__ADS_2