![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Ting! Satu pesan masuk ke handphoneku. Notifikasinya cukup asing. Kulihat di halaman pemberitahuan, ternyata pesan dari aplikasi mobile banking-ku. Terlihat di sana uang masuk sebesar lima juta rupiah. Setelah aku cek siapa pengirimnya, orang itu adalah Robi.
'Keningku bertaut. Uang apa ini? Apa tujuannya mengirimkan aku uang?'
"Hai, Len." Sapaan Mas Dwi mengagetkanku. Aku buru-buru mematikan layar.
"Eh, hai Pak," jawabku kemudian tersenyum.
"Yuk, makan!" ajaknya.
"Bapak yakin? Nanti kena gosip juga loh."
"Kamu butuh makan, Len. Sudah, ayo!" ujarnya memaksa.
Aku pun menurut. Meski aku banyak menunduk untuk menghindari tatapan banyak orang, Mas Dwi justru menyapa mereka semua yang kami temui. Aku tidak tahu apa rencananya, yang pasti aku tidak ingin nama baiknya tercoreng karena gosip tentangku ini.
"Mau makan apa?" tanyanya setelah kami duduk di salah satu kursi yang ada di kantin.
"Aku gak tau, Pak." Disaat seperti ini, aku sama sekali tidak nafsu makan karena banyak mata yang menatapku. Itulah sebabnya lebih baik aku makan sendirian di luar.
"Ya sudah." Kemudian Mas Dwi berdiri dan mendatangi salah satu penjual makanan. Aku hanya diam, tapi juga kepikiran akan uang yang dikirimkan Robi. Apa itu Mama yang suruh?
"Mikirin apa, sih?" tanya Mas Dwi yang baru saja kembali.
"Bukan apa-apa kok, Pak."
"Kita hanya berdua, boleh kok panggil 'mas'."
"Nggak Pak, ini masih wilayah kantor," jawabku kemudian.
"Yah, okelah, terserah kamu saja. Oh iya, sudah ada pakaian untuk ke acara Irvan?"
"Astaga aku hampir lupa!" ujarku langsung menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.
"Ini sudah hari Rabu, Sabtu nanti akadnya. Kita mau datang waktu akad atau resepsi?" tanya Mas Dwi lagi.
"Haduh! Kok bisa lupa sih?" Aku masih mengumpat pada diriku sendiri.
"Hei, tenang! Masih ada waktu," ujarnya seraya memegang tanganku. Spontan kutarik karena mengingat ini masih di lingkungan kantor. Ia hanya tersenyum.
"Mungkin baiknya kita ke sana waktu resepsi saja, Pak. Lagi pula akad biasanya hanya didatangi keluarga," jawabku kemudian.
"Baiklah, aku nurut calon istriku saja," ujarnya kemudian tersenyum. Semudah itu ia melontarkan kata 'calon istri'? Sedangkan aku yang mendengar itu serasa jantungku langsung ingin melompat dari tempatnya.
__ADS_1
Ada seseorang yang baru saja lewat di belakangku langsung berhenti sejenak, belum sempat aku menengok orang itu sudah berjalan lagi.
"Siapa?" tanyaku pada Mas Dwi.
"Reyna," jawab Mas Dwi singkat, terlihat Mas Dwi sangat tidak menyukai Reyna.
Berselang beberapa menit kemudian, makanan datang. Dua porsi sop ayam beserta nasi dan es teh.
"Ayo makan!" ajak Mas Dwi.
"Eh? Tapi kan aku gak pesan," jawabku.
"Aku yang pesan. Ayo makan! Aku tahu kamu lapar, tapi tertutup dengan pikiranmu yang sedang kalut itu. Bayangkan aku saja, itu akan membuatmu merasa lebih baik."
Blush! Selalu saja ada cara Mas Dwi membuatku merona. Sungguh ini tidak sehat untuk jantungku.
"Ayo makan! Jangan sampai gak habis!"
"I--iya. Terima kasih," jawabku. Akhirnya aku memakan sop itu perlahan. Kami makan sambil mengobrol, tidak terasa tiba-tiba piring sudah kosong.
"Nah, gini dong. Kan aku senang lihatnya," ujarnya sambil tersenyum.
Aku sedikit malu, tapi melihat senyumnya yang tulus rasa maluku tergantikan dengan bunga-bunga yang kembali bersemi. Sore harinya, sepulang kerja, aku bersama Mas Dwi sengaja pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari pakaian yang pantas dipakai untuk ke kondangan.
"Apa sebelumnya kamu belum pernah pergi ke kondangan?" tanya Mas Dwi sembari memilah pakaian yang ada di hadapan kami.
"Mulai sekarang jangan seperti itu lagi, ya?" pintanya tanpa melihat ke arahku.
"Eh?"
"Aku gak maksa sekarang kok, pelan-pelan saja," ucapnya kemudian tersenyum.
Mas Dwi memang tipe orang yang mudah bergaul, dia berteman dengan siapa saja. Jika aku bersanding dengannya, tentu saja aku harus bisa menyesuaikan.
"Ini cantik," ujarnya seraya mengambil sebuah atasan kebaya berlengan sebatas siku berwarna pink dengan sentuhan ikat pinggang kecil berbentuk pita.
"Apa aku cocok dengan warna pink?" tanyaku heran. Bajuku hampir tidak ada yang berwarna pink, terlalu lembut menurutku, kurang cocok denganku yang keras kepala ini.
"Cocok kok. Kamu kan manis, pasti kalau pakai baju ini akan terlihat lebih manis," ujarnya. Aku senang dia memujiku, tapi tetap saja warna itu sedikit aneh jika aku yang pakai.
"Bagaimana kalau merah?" Aku mengajukan kebaya yang sama hanya warna saja yang berbeda.
"Merah?"
__ADS_1
"Iya, nanti Mas juga cari kemeja atau batik warna merah," jawabku begitu saja. Ekspresi Mas Dwi tampak berubah menjadi malu. Apa aku salah bicara?
"Kamu mau pakai pakaian yang kembar denganku?" tanyanya meyakinkan.
"I--iya, salahnya dimana?" Aku masih tidak mengerti. Dia hanya diam dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
"Aku sedikit malu untuk mengajakmu menggunakan pakaian yang kembar, kukira kamu gak suka dengan hal-hal seperti itu. Ternyata kamu punya sisi imut juga." Ucapan Mas Dwi membuatku spontan tersadar.
"Ahh ... hehe ... i--iya, Mas." Akhirnya aku mengiyakan saja. Aku salah. Aku tidak bermaksud mengajak menggunakan pakaian kembar selayaknya pasangan suami istri, aku hanya ingin menghindar dari kebaya pink tadi.
Akhirnya kami mengambil kebaya merah untukku dan batik bernuansa merah untuk mas Dwi. Jantungku sering bergejolak ketika kami sedang jalan berdua, aku takut jantungku lari dari tempatnya.
"Mas, makan malam aku yang bayar ya?" pintaku karena tadi Mas Dwi memaksa untuk membayarkan pakaianku. Kini kami sedang berdiri di atas eskalator menuju ke lantai atas, bagian mall yang menjual berbagai macam makanan.
"Boleh, mau makan apa?" tanyanya tanpa menolak. Ia tahu aku tidak akan menerima pemberiannya secara cuma-cuma.
"Mas suka apa? Bagaimana kalau nasi goreng?"
"Boleh."
Setelah sampai disana, kami memesan nasi goreng dan duduk di bangku yang terletak di sebelah dinding kaca. Sehingga kami bisa melihat lalu lintas juga pemandangan di luar mall pada malam hari. Romantis sekali. Bahkan bersama Robi aku tidak pernah mendapatkan momen seperti ini.
..
Aku dan Mas Dwi tiba di tempat resepsi pernikahan Irvan. Tempatnya bukan di desa tempat dia tinggal, melainkan di sebuah gedung yang tidak jauh dari desaku. Melihat persiapannya, rasanya tidak terlihat sama sekali kalau Irvan belum siap.
Sejak kami tiba di parkiran, Mas Dwi terlihat sedikit gelisah. Rasanya aku mengerti, ia mungkin teringat akan masa lalunya. Sebelum keluar dari mobil, kupegang tangan Mas Dwi dan mengusapnya perlahan.
"Semuanya akan baik-baik saja, Mas. Kita akan salaman kemudian pulang. Gak perlu berlama-lama," ujarku.
Aku ingin mencoba untuk menenangkannya. Ia mengatur nafasnya sekali lagi lalu tersenyum padaku. Melepaskan genggaman tanganku, kemudian mengusap kepalaku lembut.
"Terima kasih banyak ya," ucapnya kemudian tersenyum lagi. Aku pun membalas senyumannya.
Terlihat ekspresi yang begitu bahagia dari wajah kedua mempelai, begitu juga orang tua mereka. Aku sedikit terharu melihat orang tua yang lengkap bisa hadir di hari pernikahan. Itu hal yang tidak bisa aku dapatkan. Tidak terasa air mataku menetes. Sontak Mas Dwi menghapus air mataku.
"Hei, ada apa?" tanyanya. Mungkin ia bingung, dia yang trauma tapi mengapa aku yang menangis?
"Gak papa, Mas. Aku hanya bahagia melihat mereka."
"Kamu ingin segera seperti mereka?" tanya Mas Dwi seolah menyimpulkan apa yang aku rasakan.
"Eh? Bu--bukan begitu maksudku."
__ADS_1
Mas Dwi hanya tersenyum dan menggandeng tanganku. "Aku tunggu jawabanmu, lalu kita akan merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini," bisik Mas Dwi di telingaku.
Blush! Sepertinya Mas Dwi sudah memonopoli perasaanku. Sehancur apapun hatiku, ketika ia sudah bicara maka akan tergantikan dengan bunga-bunga yang kembali merekah. Aku tersenyum menatap wajahnya, ia pun senyum membalas senyumanku. Apakah begini rasanya 'dunia milik berdua' seperti yang orang bilang?