Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 12


__ADS_3

Kami berhenti di ujung gang jalanan sempit. Tempat itu lumayan sepi, masih terasa nuansa pedesaan yang asri. Terbentang sawah luas yang padinya mulai menguning. Terlihat beberapa orang mengenakan caping di tengah sawah. Aku tidak yakin apa yang sedang mereka lakukan, mungkin menjaga padi itu dari burung-burung nakal.


Tria yang mengajakku ke tempat ini. Sedikit lebih pelosok daripada tempat kami tinggal meski sama-sama sebuah desa kecil. Ternyata Tria sudah lama mengetahui keberadaan Kak Julia, hanya saja ia tak berani untuk menemuinya langsung apa lagi memberitahukan pada Mas Dwi. Aku tidak tahu apa tujuannya yang justru mengajakku yang hanya seorang ipar dan tidak tahu pasti akar permasalahan keluarga mereka.


"Di sana, Kak." Ia menunjuk salah satu bangunan kecil yang letaknya tepat di sebelah sawah.


"Sekolahan?" tanyaku bingung.


"Iya, Kak Julia jadi staf tata usaha di sana."


"Kamu tahu dari mana?"


"Yah, ceritanya panjang, Kak. Yang pasti aku tahu gimana kondisi Kak Julia sekarang."


"Lalu, kita ke sini untuk apa? Mau menemuinya sekarang?" tebakku. Ia menggeleng.


"Aku takut. Takut kalau Kak Julia menolakku, tapi aku juga lebih takut kalau Mas Dwi marah dan mengusirku seperti yang Papa lakukan pada Kak Julia," ujarnya lemah. Aku mengerti, ini keputusan yang tidak mudah untuk diambil.


Sembari memperhatikan bangunan sekolah itu, Tria menceritakan beberapa info yang ia ketahui tentang Kak Julia. Kini ia menjanda, karena laki-laki yang ia nikahi waktu itu memilih untuk kembali kepada istri pertamanya. Kak Julia menghidupi dirinya sendiri serta seorang putra yang sudah duduk di kelas 5 SD. Tria berharap aku bisa membujuk Mas Dwi untuk mengajak Kak Julia agar bisa kembali ke rumah. Karena hak waris rumah nantinya ada di tangan Tria, jadi Tria merasa ia berhak untuk mengajak siapapun untuk tinggal di rumahnya.


"Aku gak bisa janji, tapi aku akan berusaha untuk bicara sama Mas Dwi," ujarku pada Tria.


Meski Mas Dwi selalu menghargai setiap keputusanku, namun rasanya tidak untuk masalah kali ini. Terlebih aku hanyalah anggota baru, aku tidak tahu-menahu titik dari masalah ini. Cukup lama kami berdiam di dalam mobil menatap sesuatu yang bahkan tidak mungkin bergerak.


Beberapa hari berlalu dengan kecemasan yang terus mengganggu. Aku bingung bagaimana kalimat yang tepat untuk bisa menyampaikan masalah Kak Julia ini tanpa membuat Mas Dwi emosi. Tria juga terus bertanya padaku setiap hari yang membuatku semakin terpojok. Aku hanya seorang ipar, rasanya aku tak punya andil sebesar itu.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu belum ngantuk?" tanya Mas Dwi padaku. Ia baru saja selesai lembur dan langsung kembali ke kasur.


"Belum, Mas," jawabku.


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu kaya gak semangat. Ada apa? Ada masalah di kampus?"


"Gak ada kok, Mas," jawabku lagi.


"Ya udah ayo sekarang istirahat, besok kuliah pagi, kan?" tanya Mas Dwi lagi. Ia tahu semua jadwal kuliahku.


"Iya, Mas."


Ia pun menarikku dalam dekapannya, tak lupa kecupan manis dari bibirnya mendarat di keningku. Aku tahu Mas Dwi sedang kelelahan, rasanya tidak sampai hati jika harus membicarakan masalah Kak Julia saat ini. Tak membutuhkan waktu lama, kini ia sudah tertidur dengan lelap. Sayangnya, mataku tidak bisa terpejam meski sudah beberapa kali kucoba.


Akhirnya aku bisa terpejam entah pukul berapa, ketika aku terbangun Mas Dwi sudah tidak ada di sebelahku. Tumben sekali. Kukumpulkan kesadaranku sebelum kuputuskan untuk keluar dari kamar. Kulirik jam dinding, masih menunjukkan pukul 6 pagi.


"Pagi, Sayang. Udah bangun?" tanya Mas Dwi yang baru saja masuk dengan ponsel di tangannya.


"Hmm, pagi, Mas. Dari mana?"


"Kamar mandi, tiba-tiba perutku mules. Mungkin gara-gara sambal ayam geprek kemarin," jawabnya kemudian duduk di sebelahku.


"Hmm, ya-ya-ya," jawabku seperlunya. Mataku masih terasa begitu berat, aku ingin tidur lagi.


"Sayang, aku harus ke luar kota nanti sore, tapi waktunya belum pasti berapa lama," ujar Mas Dwi. Mendengar kata 'ke luar kota' seketika mataku menjadi jernih.

__ADS_1


"Ke mana? Mau ngapain? Kok mendadak banget?" tanyaku bertubi-tubi.


"Urusan pekerjaan, Sayang. Aku pengen ajak kamu, tapi kamu ada kuliah, jadi gak bisa ikut," jawabnya sembari mengusap rambutku lembut.


"Lama, ya?" tanyaku lagi dengan khawatir. Berat rasanya kalau tidak bersama sehari saja.


"Mudah-mudahan nggak, aku juga gak bisa lama-lama jauh dari kamu."


Dengan berat hati aku mengizinkan Mas Dwi untuk pergi ke luar kota. Mau bagaimana lagi, urusan pekerjaan tidak mungkin bisa kuganggu. Aku mengerti ia adalah sosok pekerja keras, aku tidak bisa menghalanginya dengan alasan yang tidak bermutu.


Ketika Mas Dwi sudah berangkat, aku baru teringat akan pesan yang masuk di ponselnya semalam. Aku belum sempat menanyakan siapa yang mengirimkan pesan selarut itu. Namun rasanya tak perlu diambil pusing, bisa saja itu pesan yang memaksa Mas Dwi harus ke luar kota hari ini.


..


Berkabar melalui pesan teks bahkan panggilan video sering kami lakukan. Padahal Mas Dwi baru pergi 3 hari. Agak berlebihan karena sebelum menikah kami tidak pernah melakukan hal seperti ini, jangankan panggilan video, berkirim pesan teks saja bisa dihitung jumlahnya. Semenjak menikah, rasanya aku tidak ingin jauh meski hanya sebentar.


Tak ada Mas Dwi di rumah, rumah semakin sepi. Tria juga semakin sering pulang larut seenaknya. Ketika ditanya, alasannya selalu sama. Yakni dari rumah teman atau mengerjakan tugas. Aku berusaha mengerti karena tugas di perkuliahan tentu tak semudah anak sekolah. Ia butuh teman untuk menyelesaikan tugasnya.


Dua hari kemudian, Mas Dwi pulang. Dengan gembira aku menyambut kepulangannya. Aku sudah memasak makanan kesukaannya, berharap ketika Mas Dwi sampai, kami bisa langsung makan malam bersama. Sayangnya, wajahnya tampak begitu lelah, ia langsung masuk ke kamar dan izin untuk tidur sebentar. Yah, tak apa, aku bisa memanaskan masakanku lagi nanti. Yang penting Mas Dwi bisa istirahat dulu.


Kubereskan pakaian Mas Dwi dari dalam koper. Pakaian kotornya langsung kubawa ke keranjang pakaian di dekat mesin cuci. Ia bahkan tidur masih menggunakan dasinya. Kasihan sekali, ia pasti sangat lelah. Aku bisa membangunkannya beberapa jam lagi untuk makan malam.


Aku duduk di sebelahnya sembari melepaskan dasi serta kancing kemejanya beberapa agar tidak terlalu sumpek. Tak biasanya Mas Dwi sampai seperti ini, sungguh aku tidak tega melihatnya kerja begitu keras. Seandainya bisa, ingin sekali aku meringankan tugasnya. Namun Mas Dwi selalu menolakku untuk membantunya dengan alasan aku sudah cukup lelah dengan perkuliahan dan pekerjaan di rumah.


Ketika dasi dan kaus kaki Mas Dwi kubawa ke keranjang belakang, aku mencium bau harum yang begitu manis. Ternyata sumbernya dari dasi Mas Dwi. Rasanya Mas Dwi tidak punya parfum dengan aroma ini, jelas ini adalah parfum wanita. Mengapa aroma ini bisa begitu kuat menempel pada dasinya?

__ADS_1


__ADS_2