![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Ternyata aku ketiduran di halaman belakang kurang lebih dua jam. Mbak Arum mengetahui keberadaanku setelah Mas Dwi menanyakannya lewat telepon. Ponselku kutinggal di kamar, jadi aku tidak tahu kalau Mas Dwi sudah menghubungiku. Dan untuk kesekian kalinya, Mas Dwi terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena aku yang bergeming ketika Mbak Arum membangunkanku. Sudah bisa ditebak, aku demam dan bermimpi aneh hingga tidak bisa membedakan mana mimpi dengan kenyataan.
Mas Dwi memaksaku untuk pergi ke rumah sakit, namun aku menolak. Aku hanya membutuhkan dirinya sekarang. Obatku adalah dirinya. Kini aku hanya bisa berbaring di ranjangku dengan selimut dua lapis dan handuk kompres di keningku. Dengan sabar Mas Dwi merawatku tanpa mengeluh. Aku benar-benar merasa bersalah telah membuatnya menangis tadi.
"Mas, maafin aku, ya!" pintaku lagi entah sudah berapa kali.
Ia hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Untungnya ia paham pikiranku memang sedang tidak stabil. Antara trauma dan juga bawaan hamil, aku bersyukur ia selalu bisa menjadi malaikat penjagaku.
"Cepat sembuh, ya, Sayang! Jangan buat aku semakin khawatir!" ujarnya seraya mengusap pipiku.
"Iya, Mas. Mas udah makan?" tanyaku.
"Belum, nanti kita makan sama-sama," jawabnya. Ia bilang seperti itu karena sejak tadi aku menolak untuk makan.
"Ya udah, ayo makan!" Aku mengalah, sudah cukup aku membuat masalah untuk Mas Dwi. Aku tidak ingin membuatnya sakit juga.
"Beneran mau makan?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Ia pun turun dari ranjang kami dan memanggil Mbak Arum. Tak lama kemudian, Mbak Arum datang dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya sudah tersedia semangkuk bubur ayam yang masih hangat dan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan capcay goreng.
Mas Dwi membantuku untuk duduk, lalu ia memanfaatkan meja lipatnya untuk menaruh makanan kami. Setelah makanan siap di atas meja, Mbak Arum kembali ke dapur. Aku memperhatikan bubur ayam yang ada di hadapanku. Rasanya aku sama sekali tidak tertarik untuk menelannya.
"Mau aku suapin?" tanya Mas Dwi.
"Gak usah, Mas. Makan sendiri aja," jawabku.
"Ya udah, ayo makan!" ajak Mas Dwi seraya mengambil piringnya dari meja yang ada di hadapanku.
Kuaduk bubur itu perlahan, lalu memakannya sedikit. Rasanya hambar, mungkinkah karena aku sedang sakit? Aku benci sakit. Makanan kesukaanku jadi tidak ada rasanya seperti ini.
"Mau capcaynya?" tanya Mas Dwi.
Kulirik capcay yang ada di atas piring Mas Dwi. Warnanya yang agak kemerahan menarik perhatianku. Aku pun mengangguk. Mas Dwi mengambilkan sepotong bakso dengan wortel dan menyuapkan padaku. Rasanya lebih baik dari pada buburku.
"Buburnya gak enak, ya?" tanya Mas Dwi lagi. Aku mengangguk, mulutku masih mengunyah makanan.
__ADS_1
"Ya udah, aku suapin aja, ya? Buburnya gak usah dihabisin!" ujarnya.
Akhirnya, aku makan sepiring berdua dengan Mas Dwi. Dengan sabar ia menyuapi aku sedikit demi sedikit. Benar-benar merepotkan. Setelah nasi kami habis, Mas Dwi mencicipi bubur ayamku.
"Apanya yang gak enak?" tanyanya.
"Hambar, Mas," jawabku.
"Sama aja kok," jawabnya sembari menghabiskan bubur itu perlahan. Ia pasti masih lapar karena porsi makannya tadi dibagi padaku.
"Ya udah kalau enak, Mas habisin aja. Sayang kalau dibuang," ujarku.
"Tapi aku lebih sayang kamu," candanya.
"Apa sih, Mas!" jawabku malu-malu.
Aku merasa sudah tidak muda lagi untuk mendapatkan gombalan seperti itu. Mas Dwi tertawa kecil melihat responku. Kadang candaan sepele seperti ini membuat kami merasa seperti masih pacaran.
Setelah Mas Dwi mengembalikan piring-piring itu ke dapur, ia kembali masuk ke kamar dan duduk di sebelahku. Ia memandang wajahku sambil tersenyum, pandangannya sayu. Ada bahagia sekaligus rasa sakit yang terpancar di matanya. Kami saling diam untuk beberapa saat. Mas Dwi merapikan rambutku yang terurai tidak pada jalurnya. Kemudian ia memegang kedua pipiku dan mencium keningku.
'Aku pun merasa sakit karena telah membuatmu sakit, Mas,' batinku.
"Mas ...."
"Iya?"
"Temenin aku tidur, ya!"
"Iya, Sayang."
Aku kembali masuk dalam selimutku. Kali ini aku menggunakan satu lapis saja, kalau dua lapis takutnya nanti Mas Dwi malah ikut kepanasan. Kurapatkan jarak antara kami berdua, lalu kubenamkan tubuhku dalam dekapannya. Seperti ini jauh lebih hangat dari pada selimut dua lapis tadi.
..
Hampir satu minggu masalah datang bertubi-tubi, tak hanya itu, aku juga sampai drop berkali-kali. Pengalaman buruk yang sangat tidak ingin kuulang. Bisa kurasakan kalau kondisi tubuhku semakin lemah semenjak mengandung. Bahkan sebelumnya aku belum pernah pingsan, semenjak hamil aku sudah pingsan bahkan sampai tiga kali.
__ADS_1
Pengawasan Mas Dwi semakin ketat. Ia juga sampai mengajukan 'kerja dari rumah' kepada atasannya agar bisa menjagaku lebih intens. Untung saja kinerja Mas Dwi selama ini sangat baik, hingga pihak atasan meloloskan permohonan Mas Dwi tersebut.
"Mas bener gak masalah mengajukan seperti itu? Nanti karyawan lain iri sama Mas gimana?" tanyaku khawatir.
"Aku gak peduli apa kata mereka, dipecat juga aku gak masalah," jawabnya yakin sembari mengambil potongan apel yang sudah disiapkan Mbak Arum.
"Ya udah, aku manut Mas aja," ujarku menurut.
Aku tidak bisa banyak protes karena aku juga masih takut kalau tiba-tiba pikiranku kembali kacau. Bukan hanya bahaya bagiku, tapi juga bagi kandunganku. Aku selalu lupa kalau kini aku sedang mengandung, hingga ketika kekacauan ini terjadi hanyalah Mas Dwi yang ada dalam pikiranku.
'Maafkan Mama, ya, Nak. Mama akan menjagamu dengan baik,' batinku sembari mengusap perutku.
Ting tung! Seseorang memencet bel rumah kami. Mbak Arum langsung membukakan pintu.
"Itu tamumu," ujar Mas Dwi padaku.
"Aku?" tanyaku bingung.
"Iya, lihat aja!" jawab Mas Dwi lagi.
Aku mengintip dari celah tirai dapur, tamunya sudah duduk di sofa jadi aku tidak bisa melihatnya. Aku pun melangkah ke luar. Melihatku datang, tamu itu langsung berhambur memelukku.
"Lenaaaaaa! Ya ampun, kamu kok jadi kurus banget sih? Kamu sakit apa? Kenapa bisa sampai begini?" Ia terlihat begitu khawatir.
"Tanyanya satu-satunya dong!" jawabku dengan suara lirih. Kesehatanku belum sepenuhnya pulih.
"Ya ampun, Lena kecilku beneran sakit ternyata. Bahkan untuk ngomong aja susah," ujarnya dengan wajah yang tampak sedih.
Mas Dwi datang dan berdiri di sebelahku, lalu ia menyapa, "Selamat pagi, Atika."
"Selamat pagi, Pak. Alena diapain sampai kurus dan makin kecil begini?" tanya Atika dengan berani, padahal Mas Dwi adalah atasannya. Mas Dwi hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Mending duduk dulu deh, sambil ngemil atau minum-minum," saranku.
Lalu obrolan kami berlanjut di sofa. Atika sudah seperti kakakku sendiri. Ia sangat perhatian, bahkan ia sampai rela menitipkan anaknya pada ibu mertuanya demi mengunjungi aku pagi ini. Aku senang masih ada orang yang menyayangi aku selain keluargaku.
__ADS_1