Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 24


__ADS_3

"Lena, kamu gak apa-apa, kan?"


"Ngapain kamu ikut ke sini, sih?" tanya Mama.


"Ya aku juga khawatir sama Lena," jawab Robi, ia tidak bohong. Aku bisa membaca ekspresinya.


"Masih berani kamu muncul di sini?" tanya Mas Dwi seraya mendekat dan menarik kerah kemeja Robi.


"Sorry, aku gak berniat cari masalah. Tolong lepasin!" ujarnya pada Mas Dwi.


"Mama yang ... bawa dia ke sini?" tanyaku tak percaya.


"Maaf, tadi Mama buru-buru kebetulan dia mau ke rumah, jadi sekalian." Mama terlihat salah tingkah. Mas Dwi melepaskan tangannya dari kerah kemeja Robi.


"Jadi, selama ini?" tanyaku meminta kejelasan.


"Gak seperti yang kamu bayangkan, Mama gak tinggal berdua dengannya," jawab Mama.


"Mama pulang aja sekarang! Aku mau istirahat," usirku.


"Baiklah, nanti kabari Mama lagi, ya!"


"Hmm," jawabku. Aku kesal melihat kejadian ini. Mamaku benar-benar bod*h atau bagaimana sih? Aku sama sekali gak mengerti jalan pikirannya.


Mama keluar, diikuti oleh Robi juga. Mas Dwi menutup pintu kamar dan duduk di kursi sebelahku. Ia duduk dan membenamkan wajahnya di kasurku. Terlihat ia baru menghela napas panjang.


"Mas, maaf," ujarku. Ia pun mengangkat kembali kepalanya dan menatapku.


"Berhenti minta maaf! Masalah ini bukan ulahmu," jawab Mas Dwi.


"Tapi, Mama--"


"Stop! Kamu gak mau membuatku semakin pusing, kan?" tanya Mas Dwi dengan nada yang tegas.


Aku pun memilih diam. Pikiranku kacau, aku tidak tahu harus bagaimana. Tak ada tempat yang bisa menerimaku dengan baik. Di rumah Mama ada Robi, di rumah Mas Dwi ada Kak Julia. Sepertinya aku hidup pun sudah salah. Mungkin aku adalah pendosa di masa lalu, hingga aku dihidupkan kembali untuk mendapatkan balasan atas perbuatanku.


Air mataku kembali mengalir. Ah, aku bisa g*la. Mengapa aku sekarang cengeng sekali? Kepalaku pusing, rasanya ingin teriak. Kuremas kain yang menyelimutiku, perutku kembali bergejolak, kembali ada yang memaksa untuk keluar.


"Sayang, kamu kenapa?"


Aku menggeleng dan menutup mulutku dengan telapak tangan. Mas Dwi langsung bangkit berdiri dan membantuku untuk duduk. Ia mengusap keningku, aku mulai berkeringat dingin. Ia membantuku turun dari ranjang dan menuntunku ke wastafel. Sama seperti biasa, tidak ada yang keluar sama sekali. Mas Dwi memijat leher belakangku pelan-pelan. Agak membantu, tenggorokanku perlahan mulai membaik.


Aku pun kembali ke ranjang, Mas Dwi menyelimutiku dengan sabar. Ia memijat lembut lenganku. Aku bisa merasakan tubuhku semakin tidak sehat.

__ADS_1


"Kamu tidur aja ya, jangan mikir aneh-aneh!" ujar Mas Dwi.


"Mas gak kerja?" Aku baru ingat ini bukan hari libur.


"Istriku jauh lebih penting. Istirahat ya, Sayang! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ucapnya.


Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Ya, aku butuh Mas Dwi, aku tidak bisa ditinggal sendirian untuk sekarang. Kupejamkan kembali mataku, tubuhku begitu lemas. Aku tidak boleh tumbang, aku harus menjaga anakku.


..


Aku tidak jadi menginap di rumah Mama, sepertinya di rumah sakit saja lebih baik sampai rumah kontrakan kami siap huni. Aku tidak tahu kapan Mas Dwi pulang, setelah aku bangun tidur, kulihat ia sudah kembali sibuk dengan laptopnya. Hatiku sakit, aku merasa semakin tidak berguna. Aku hanya bisa menambah beban untuk Mas Dwi saja.


"Sayang, kenapa nangis lagi?" tanya Mas Dwi seraya menyeka air mataku.


"Maafin aku, Mas," ucapku pelan.


"Minta maaf untuk apa? Apa yang kamu pikirin sekarang?"


Aku menggeleng, tangisku semakin pecah. Aku semakin merasa tidak layak berada di sampingnya. Mas Dwi menyisihkan laptopnya dan duduk di ranjangku. Kemudian ia menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. Aku terisak dalam dekapannya. Aku mencintainya namun aku juga tidak ingin menjadi bebannya.


"Semua bakal baik-baik aja, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri!" ucap Mas Dwi dengan lembut sembari mengusap kepalaku.


Ia tak banyak bicara, ia membiarkanku melepaskan semuanya lewat tangisku sampai aku lelah. Itulah cara yang selalu ia lakukan setiap kali aku butuh "obat penenang". Dialah obatku. Namun, apakah aku bisa menjadi obatnya? Bisakah aku menjadi sandarannya? Aku takut aku tidak layak untuk itu.


"Ah, iya, silakan!" Mas Dwi melepaskan pelukannya dariku. Aku kembali berbaring dan menyeka air mataku sendiri.


"Maaf, ya, Bu. Saya periksa dulu sebentar," izin dokter itu dengan sopan kemudian memeriksaku.


"Ibu jangan sampai stres, ya! Ibu sudah pulih, namun tekanan darahnya belum begitu stabil," ucap dokter itu padaku setelah pemeriksaan selesai dilakukan.


Kemudian ia bicara lagi pada Mas Dwi. "Tolong istrinya dibantu agar lebih tenang ya, Pak! Peran suami juga sangat penting untuk menjaga kandungan istrinya," ujar dokter itu seraya tersenyum.


"Baik, Dok. Terima kasih," jawab Mas Dwi.


"Saya permisi dulu, ya!" pamit dokter itu dan kemudian keluar.


Mas Dwi kembali duduk di sebelahku dan memegang tanganku. Ia tersenyum lembut padaku. Entah mengapa senyuman yang kulihat itu kini justru membuat dadaku semakin sesak.


"Mas makan dulu gih! Mas pasti belum makan, kan?" tanyaku.


"Aku belum laper kok," jawabnya.


"Mas, Mas harus makan. Kalau Mas sakit nanti gak ada yang jagain aku," ujarku mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, nanti aku makan kok, sekarang aku belum laper," jawabnya yakin.


"Ya udah kalau gitu. Aku tidur sebentar, ya, Mas?" izinku.


"Mau tidur lagi?"


"Iya, Mas. Kepalaku pusing," jawabku. Rasanya aku berpikir terlalu keras. Aku benci pikiranku sendiri di saat-saat seperti ini.


"Ya udah, gak apa-apa. Tidurlah, yang nyenyak, ya! Tenangkan pikiranmu! Semua bakal baik-baik aja." Mas Dwi mengucapkan kata yang sama berulang kali, hal itu membuatku semakin merasa kalau saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Dering telepon terdengar dari saku celana Mas Dwi. Ia mengambilnya dan menerima panggilan itu.


"Iya, halo, Ma," ucap Mas Dwi ketika ponsel telah menempel di telinganya.


"Ah, iya. Lena baik-baik aja kok," ucap Mas Dwi lagi. Kemudian ia memberikan ponselnya padaku.


"Mama mau ngomong," ucapnya.


Kulihat nama yang muncul di layar ponsel, ternyata Mama Meira yang meneleponnya.


"Halo, Ma," jawabku.


"Halo, Sayang. Gimana keadaanmu? Ada yang sakit?" tanya Mama khawatir dari seberang sana.


"Lena baik-baik aja kok, Ma. Mama jangan khawatir ya!" ujarku meyakinkan.


"Maafin Mama ya, Sayang! Mama akan kasih pelajaran sama kakakmu itu," ucap Mama lagi. Mama kandung dan mertuaku ternyata memiliki kesamaan. Sama-sama menyeramkan.


"Gak perlu, Ma. Lena aja yang terlalu lemah, jangan salahin Kak Julia!" jawabku. Aku takut semakin banyak yang memojokkan Kak Julia, semakin ia dendam padaku.


"Mama udah janji akan mengusir Julia kalau sampai dia berulah lagi. Mama harus menepati janji, Len," ujar Mama.


"Ma, jangan! Kasihan Kak Julia, dia udah resign dari kerjaannya, dia juga punya anak. Kalau diusir mau tinggal di mana?" Aku masih berusaha melarang.


"Meski secara biologis dia adalah anak kandung Mama, kini dia bukan anak Mama lagi. Kamu yang terpenting untuk saat ini. Kamu sedang mengandung keturunan keluarga kami."


Aku sama sekali tidak menyangka bisa mendengar itu langsung dari Mama. Aku tidak bisa percaya seorang ibu bisa memutuskan hubungan darah dengan anaknya sendiri. Keluarga ini benar-benar tegas, bahkan nalarku sulit untuk menerimanya.


"Tapi, Ma, Mas Dwi udah mengontrak rumah untuk kami berdua," ujarku lagi.


"Apa? Ngontrak di mana?" tanya Mama dengan suara yang tampak kaget. "Coba kasih teleponnya ke Dwi lagi!" pintanya. Aku pun mengembalikan ponsel Mas Dwi. Ternyata Mama belum tahu masalah niat kepindahan kami.


Aku tidak tahu pasti apa yang Mas Dwi bicarakan dengan Mama. Ia menjauh dariku dan berdiri di dekat jendela. Namun, aku masih bisa mendengar sedikit. Mas Dwi mencoba meyakinkan akan kepindahan kami dari rumah itu. Semoga saja Mama mengizinkan. Sungguh aku tidak bisa membiarkan Kak Julia hidup kesusahan meski aku sudah sakit hati karenanya.

__ADS_1


__ADS_2