Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
26


__ADS_3

"Kenapa dia lari?" tanyaku ketika melihat Reyna keluar dari ruangan.


"Entahlah," jawab Mas Dwi.


"Mungkin dia kecewa mengetahui Pak Dwi akan menikah," sahut Tasya dari kursinya.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Ayo pulang!" ajak Mas Dwi.


Lalu kami pulang. Mulai hari ini kami berangkat dan pulang kantor bersama. Dia yang menjemputku. Alasan klasik, katanya aku harus menghemat pengeluaran karena sudah tinggal sendirian.


"Coba kamu cek ini!" ujar Mas Dwi sebelum menggunakan sabuk pengamannya. Ia memberikanku sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.


"Data diri karyawan? Untuk apa?" tanyaku tidak mengerti.


"Ada beberapa nama yang sudah ku tandai. Barangkali kamu bisa menemukannya," ujar Mas Dwi sembari menghidupkan mesin mobil.


Kubuka lembar itu satu persatu. Ada beberapa karyawan yang memang tinggal di dekat komplek kostanku, tapi tidak termasuk Reyna. Arah tempat tinggalnya cukup jauh dari tempatku, padahal aku sudah mencurigainya.


"Jadi, bukan Reyna?" tanyaku pada Mas Dwi.


"Aku pun gak tahu. Kalau memang dia, bagaimana caranya? Bahkan untuk pulang dia selalu naik angkutan umum," ujar Mas Dwi dengan pandangan yang lurus ke jalan.


"Hanya ada Tasya, Amelia, Mas Dika dan Pak Dharma," ujarku.


"Menurutku pasti perempuan. Karena Pak Dharma sudah berkeluarga, untuk apa dia mengurusi kehidupanmu? Begitu juga Mas Dika yang belum lama menikah," prediksi Mas Dwi.


"Kalau Tasya aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia pun tadi menanyakan kebenaran tentangku, rasanya bukan dia."


"Kalau Amelia?"


"Aku gak begitu kenal karena dia bagian produksi dan sepertinya juga dia gak kenal aku."


"Dia sedang cuti melahirkan. Baru satu bulan. Apa mungkin dia pelakunya? Rasanya gak mungkin," jelas Mas Dwi.


"Jadi? Tasya?" Aku mengambil kesimpulan.


"Aku juga gak tahu," Mas Dwi mengangkat kedua bahunya.


"Tapi kalau memang Tasya, apa tujuannya? Selama ini dia selalu baik. Dia juga sudah punya tunangan, mana mungkin dia menyukai Mas?"


"Nanti kita cari tahu lagi," ujar Mas Dwi.


Aku masih terus memikirkannya. Apa mungkin Tasya? Apa dia memiliki dendam padaku? Aku merasa bersalah pada Reyna. Belum lama sejak nama Reyna berkutat di pikiran, seseorang baru saja turun dari angkutan umum menarik perhatianku.


"Mas, coba pelankan mobilnya!" pintaku. Mas Dwi pun menurut.


"Ada apa?" tanya Mas Dwi.


"Itu Reyna, kan?" Aku menunjuk perempuan yang sedang berjalan tak jauh dari mobil kami.


"Iya, mau kemana dia? Rumahnya bukan di sini," tanya Mas Dwi penasaran.


"Entahlah. Coba kita ikuti saja dulu mas!"


Mas Dwi menghentikan mobil kami di sudut jalan sembari memperhatikan Reyna. Gang kosku tidak jauh lagi, di sini kecurigaan kami pada Reyna kembali muncul. Benar, dia masuk ke gang kosku. Mas Dwi kembali menjalankan mobil perlahan. Reyna masuk ke salah satu rumah yang tak jauh dari seberang kostanku. Hal itu membuat kami berdua saling pandang.


"Sepertinya dugaanmu gak salah," ujar Mas Dwi. Aku mengangguk.

__ADS_1


"Setega itu dia padaku, lalu kita harus bagaimana?"


"Besok akan kupanggil dia ke ruangan. Kamu juga."


"Tapi mas, ini kan bukan masalah kantor. Masalah pribadi."


"Tapi dia menyebarkan gosip itu di lingkungan kantor. Aku sebagai atasan sekaligus penanggung jawab karyawan, berhak untuk memanggil dia."


"Ini gak termasuk menyalahgunakan kekuasaan, kan?" tanyaku khawatir.


"Hei, meskipun kamu bukan pasanganku, sudah menjadi tugasku untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada di kantor. Jangan khawatir! Terlebih kamu sekarang pasanganku, aku gak akan membiarkanmu menanggung masalahmu sendirian," ujar mas Dwi seraya mengusap rambutku. Aku pun tersenyum. Aku bersyukur memilikinya.


..


Hari ini, gosip rasanya sedikit mereda. Ada beberapa orang yang mulai mau menyapaku. Mungkin karena Mas Dwi sudah terang-terangan menunjukkan kalau aku adalah pasangannya. Atau mungkin juga mereka bungkam bukan karena sudah mengetahui kebenarannya, tapi bisa juga mereka berpikir jika mereka macam-macam padaku, pekerjaan mereka taruhannya. Entahlah. Rasanya aku sangat membutuhkan Atika disaat-saat seperti ini.


Sengaja kukejar cepat pekerjaanku agar tidak terganggu ketika Mas Dwi memanggil, tapi ternyata nihil. Aku menunggu Mas Dwi memanggilku ke ruangannya, tapi sampai jam istirahat tak ada panggilan sama sekali.


"Menunggu Pak Dwi?" tanya Tasya.


"Eh? Bukan kok." Aku sedikit berbohong.


"Yuk makan siang!" ajaknya.


"Duluan deh, masih ada yang harus kuurus." aku menolak karena masih menunggu kabar dari Mas Dwi.


"Oh iya, aku ada info terbaru," ujar Tasya.


"Hm? Apa itu?"


"Reyna baru mengundurkan diri."


"Iya, kemarin dia menghubungi aku. Dia titip surat pengunduran dirinya. Baru tadi kuberikan ke Pak Dwi."


"Kenapa mendadak sekali? Bahkan dia belum ada setengah tahun bekerja. Bukannya dia bisa memberikannya kemarin?" tanyaku bingung.


"Aku juga kurang tahu. Dia hanya bilang kalau dipaksa pulang ibunya."


"Memang dia tinggal dimana?"


"Desa F."


"Kapan dia memberikan surat pengunduran dirinya?"


"Kemarin dia datang ke rumahku."


"Ahh begitu."


Kemudian Tasya pergi ke kantin, tak lama setelah itu Mas Dwi masuk ke ruanganku. Merasa ada yang perlu dibicarakan, akhirnya kami memutuskan untuk makan diluar.


"Jadi benar Reyna mengundurkan diri?" tanyaku ketika kami sudah mendapatkan tempat duduk di restoran yang kami masuki.


"Tahu dari Tasya?" tanya Mas Dwi, aku mengangguk. "Dia mengirimkan pesan juga."


"Oh iya? Boleh aku lihat?"


"Sebentar." Mas Dwi mengambil handphone dari sakunya dan membuka pesan dari Reyna.

__ADS_1


Reyna :


Selamat pagi Bapak Alfarez Dwi Hermansyah, maaf saya menyita waktu Bapak. Saya Reyna, karyawan bagian marketing. Mohon maaf sebelumnya karena kurang sopan menghubungi Bapak lewat chat seperti ini.


Saya sudah menitipkan surat pengunduran diri lewat mbak Tasya bagian editing. Maaf saya tidak bisa menemui Bapak secara langsung karena malam tadi juga saya mendadak pulang ke kampung karena ada keperluan keluarga.


Semoga pengunduran diri saya bisa di terima. Terima kasih karena Bapak pernah menerima saya bekerja di perusahaan ini. Mohon maaf sebesar-besarnya jika kinerja saya kurang memuaskan.


Ttd. Reyna Ari Lestika


Aku diam sejenak. Dia pergi dari semalam dan kemarin dia memberikan surat itu pada Tasya. Jadi Tasya tinggal di situ? Dekat sekali?


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya mas Dwi.


"Mas ingat rumah yang dimasuki Reyna kemarin, kan?"


"Iya, kenapa?"


"Mas terima surat Reyna dari Tasya kan?"


"Iya, lalu?"


"Dari yang Tasya bilang, aku menyimpulkan kalau rumah yang dimasuki Reyna kemarin adalah rumah Tasya. Aku memang belum begitu tahu nomor rumah di daerah kostku, jadi mungkin saja itu rumah Tasya."


"Lalu menurutmu yang menyebar gosip selama ini Tasya? Bukan Reyna?" Mas Dwi menyimpulkan. Aku mengangguk.


"Kenapa kamu bisa yakin?" tanya Mas Dwi lagi.


"Aku sudah bertanya pada Atika, dia bilang Reyna itu anaknya tertutup. Gak dekat dengan siapapun. Jangankan bergosip, diajak ngobrol pun sulit. Lalu, hanya ada sedikit kemungkinan dia sampai mengobrol dengan Mas Adi di gedung sebelah," jelasku.


"Aku juga sudah menghubungi Mas Adi, dari penuturannya, dia gak tahu banyak soal gosip tentangmu. Dia akhir-akhir ini sibuk karena ada produksi buku baru yang bekerja sama dengan perusahaan lain," tambah Mas Dwi.


"Lalu Tasya tahu darimana?" tanyaku bingung.


"Aku sejak awal sudah tahu kalau Tasya bukan orang yang bisa dipercaya."


"Kenapa mas bisa bilang begitu?"


"Dari caranya bicara pun aku sudah tahu. Menurutmu, apa yang membuatku mengatakan kalau kita akan segera menikah padahal orang tua kita belum bertemu?" pertanyaan Mas Dwi masih sulit kucerna. Aku hanya menggeleng.


"Kamu lihat, orang-orang mulai menyapamu meskipun aku belum mempublikasikan tentang hubungan kita?" tanya Mas Dwi lagi.


"Tapi kan kita memang sering pergi bersama," jawabku yang masih belum mengerti.


"Gak semudah yang kamu pikirkan, Len. Mereka berhenti bergosip tentu karena sudah ada yang menyebarkan tentang status kita berdua. Kamu tahu apa tujuannya?" Lagi-lagi aku menggeleng.


"Si dalang gosip berusaha meredam gosip yang ia buat karena ia tahu aku punya kuasa lebih di kantor. Dia gak mau ketahuan kalau sampai aku ikut campur," jelas Mas Dwi.


"Ah ... aku gak menyangka analisis Mas akan sejauh itu," ujarku sembari mengangguk setuju.


"Jadi kamu sudah tahu siapa yang kumaksud?"


"Iya, kita tinggal cari cara lain untuk membuktikannya atau mungkin kita lepaskan saja? Toh gosip akan segera menghilang?"


"Setiap orang layak mendapatkan ganjaran dari apa yang sudah mereka perbuat. Aku pun yakin si dalang ini masih akan melanjutkan aksinya kalau kita gak beri peringatan."


"Apa yang akan Mas lakukan?"

__ADS_1


"Jangan khawatir! Hanya membuktikan apa yang kini menjadi prasangka kita supaya gak jadi fitnah."


Mas Dwi tersenyum ke arahku lalu kembali menikmati makanannya. Sedangkan aku? Masih tak habis pikir dengan semua ini dan tentu saja aku masih belum bisa percaya sepenuhnya dia bisa sejahat itu.


__ADS_2