![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Jawabanku beberapa hari yang lalu memang membuat Om Hermansyah tersenyum puas, tapi berbeda dengan laki-laki yang kini sedang duduk di sebelahku. Dengan ekspresi wajah yang datar, ia terus menyuap sedikit demi sedikit nasi dari piringnya. Tak ada satu patah pun kata yang keluar. Aku hanya bisa menghela napas melihat tingkahnya.
"Aku sudah selesai," ujarnya. Kulihat piringnya sudah kosong, sedangkan milikku masih setengah.
"Ah, aku belum," jawabku.
"Habiskan!" ujarnya pelan seraya mengeluarkan handphone dari saku celana.
Ia menggulirkan halaman demi halaman di layar handphone-nya. Aku tidak tahu apa yang sedang ia buka. Sepertinya sebuah dokumen, karena isinya tulisan semua.
"Mau ambil jurusan apa?" tanya Mas Dwi secara tiba-tiba.
"Eh? Ju--jurusan?" tanyaku tidak mengerti.
"Iya, katanya mau kuliah. Mau ambil jurusan apa?" tanyanya datar tanpa melihat ke arahku.
"Engg ... belum tahu," jawabku bingung. Aku tidak tahu jurusan apa yang bisa aku ambil.
"Hahhh ...." Mas Dwi menghela nafas. "Ya sudah, pikirkan lagi nanti," ujarnya kemudian menutup ponselnya dan melihat ke arah lain. Melihatnya yang seperti ini, nafsu makanku hilang.
"Ayo balik ke ruangan, jam makan siang hampir habis!" ajakku.
"Makananmu?"
"Aku kenyang," ujarku kemudian beranjak dari kursi meninggalkan makanan yang masih tersisa setengah lagi. Kami pun kembali ke kantor.
Kusandarkan punggungku di sandaran kursi. Memejamkan mata sejenak sembari menghirup napas panjang. Benar juga, aku terlalu nekat menyetujui untuk lanjut kuliah. Padahal aku sendiri tidak tahu harus mengambil jurusan apa. Terlebih, akhir bulan depan usiaku tepat seperempat abad, yakni dua puluh lima tahun.
"Ada apa sih? Kayanya lagi punya masalah berat banget," ujar Atika yang seketika membuatku kaget. Aku langsung membuka mata dan duduk lebih tegak.
"Please deh ya, gak usah ngagetin!" ujarku kesal.
"Loh? Padahal aku pelan kok ngomongnya."
"Haahhh ...." Aku menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.
"Ada apa, sih? Sini cerita! Berat banget kayanya," ujarnya kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di sebelahku.
"Sini deh!" pintaku agar dia duduk lebih dekat. Ia pun menggeser kursinya lalu akupun berbisik.
"Aku diberi syarat orang tua Pak Dwi untuk lanjut kuliah," bisikku tepat di depan telinga Atika.
"Wow ... sudah pertemuan keluarga ternyata," ujar Atika dengan volume suara yang cukup kencang.
"Ssstttt jangan kuat-kuat! Nanti ada yang nguping," ujarku sembari menoleh ke belakang. Terlihat Tasya masih sibuk dengan komputernya.
"Ah, sorry. Jadi, kamu sudah bertemu orang tuanya?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan.
"Iya," jawabku sambil mengangguk. "Tapi masalahnya aku harus kuliah lagi."
"Menikahnya setelah lulus kuliah atau yang penting kamu kuliah setelah menikah?"
"Itu aku belum tahu, kayanya sih harus lulus kuliah S1 dulu baru boleh menikah."
"Wow ... empat tahun itu gak sebentar loh. Kok kesannya kaya penolakan secara halus, sih?" Atika menduga-duga.
"Jangan nakutin aku deh!"
"Ehh, maaf bukannya nakutin. Nebak doang. Mungkin saja calon mertuamu mau menguji kesetiaan kalian berdua. Coba deh pastiin dulu gimana perjanjiannya!"
"Hahhh ... jangankan mau memastikan, sekarang aja Pak Dwi masih marah padaku," jawabku lesu.
"Marah? Kenapa?"
"Gara-gara aku menerima persyaratan itu tanpa persetujuan Pak Dwi."
"Pintar sekali kamu Alena," ujar Atika sarkas.
"Aku tahu, maaf. Kupikir kalau aku gak menerima persyaratan itu hubunganku dengan Pak Dwi harus berakhir."
"Aku mengerti tapi seharusnya kamu jangan ambil keputusan sepihak."
"Iya, aku sadar aku salah."
__ADS_1
"Jangan pusing sendiri! Segera bicarakan semuanya dengan Pak Dwi! Jangan bertengkar terlalu lama!" saran Atika.
"Iya, terima kasih, Tik."
"Jadi, apa yang sekarang menjadi bebanmu? Biaya kuliah? Jurusannya? Atau yang lain?"
"Semuanya," jawabku putus asa.
"Hei! Jangan seperti itu! Kamu pasti bisa melewati semuanya."
"Biaya kuliah jelas mahal. Aku harus cari kampus yang biayanya murah, baru aku sesuaikan harus ambil jurusan apa," ujarku.
"Sepertinya alur yang kamu pikirkan salah," ujar Atika.
"Lalu?"
"Em, begini. Kuliah itu gak semudah sekolah. Kamu harus benar-benar dalam memilih fokusmu. Terutama kamu akan mengambil S1 yang nantinya akan ada yang namanya skripsi sebagai tugas akhirmu."
"Hm ... lalu?"
"Setelah kamu menyelesaikan skripsi, akan ada yang namanya sidang akhir. Nah jadi kamu gak bisa tuh seenaknya dalam buat skripsi, kamu harus paham dan bisa mempertanggungjawabkan dari apa yang kamu buat," jelas Atika.
"Sepertinya mengerikan," jawabku spontan.
"Gak semenyeramkan yang kamu bayangkan kok. Aku dulu juga begitu. Sebelum sidang akhir aku panik, takut gak bisa jawab lah, takut gak lulus lah. Yah, tapi nyatanya aku bisa tuh. Asal kamu memang mengerjakan sendiri bukan membayar orang lain, kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku yakin," ujarnya penuh semangat.
Aku mengerenyitkan kening dan menatap ke arahnya. Terlihat ia begitu semangat membagikan pengalaman itu kepadaku. Aku diam sejenak. Bisa lanjut kuliah memang itu salah satu impianku, tapi dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, aku menjadi buntu dan tidak tahu harus ambil jurusan apa.
"Kuliah kelas karyawan ada, kan?" tanyaku pada Atika.
"Iya ada. Bisa kamu ambil weekend atau kuliah malam. Tergantung kampusnya."
"Hmm ... bisa jadi pertimbangan."
"Kamu yakin mau kuliah sambil bekerja? Itu pasti capek loh!" ujar Atika yang mengkhawatirkan aku.
"Kalau gak begitu, bagaimana aku bisa membayar SPP-nya?"
"Hahhh ... membantu pun gak mungkin aku beratkan padanya semua. Biaya kuliah itu gak sedikit, Tik."
"Tapi kan kasihan kamu, Len. Lagi pula ini permintaan calon mertuamu, harusnya mereka turut andil menanggung biaya kuliahmu juga."
"Kita lihat saja nanti kedepannya ya! Terima kasih loh kamu mau memberikan aku sedikit pencerahan," ujarku seraya tersenyum dan menepuk pelan bahu Atika.
"Pencerahan?"
"Ya pokoknya itulah," ujarku kemudian tertawa kecil.
Meski aku belum menentukan jurusan apa yang mungkin akan kuambil, yang pasti setidaknya aku tidak merasakan keputusasaan seperti tadi. Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan lebih tenang, semua pun selesai tepat waktu.
..
Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahku. Iya, rumah yang kini hanya di tempati mamaku. Bukan keinginanku untuk datang mengunjunginya. Kalau bukan karena menerima kabar bahwa beliau sakit, aku tidak akan datang.
Meski masih ada rasa kesal, tapi setidaknya aku tidak lagi takut untuk masuk ke rumah itu, karena Robi tidak lagi berhubungan dengan Mama. Kutepikan mobilku dan masuk ke dalam rumah. Masih sama, rapi dan bersih. Hanya saja terasa rumah ini begitu sunyi, seperti tak ada penghuninya.
Kubuka pintu kamar Mama, kamar yang terus membayangi bersamaan dengan rasa sakit yang belum bisa hilang dari hatiku. Kubuang sejenak semuanya, bagaimanapun juga beliau adalah ibu kandungku. Tubuh itu terlihat semakin kurus, tapi kecantikannya tidak pudar sama sekali. Kulirik meja riasnya, masih lengkap skincare dan beragam make-upnya. Meski kurus, sepertinya kecantikan itu nomor satu ya.
"Ma, aku datang," ujarku pelan.
Beliau masih terpejam. Mungkin baru saja tidur. Aku beranjak dari sana dan masuk ke dapur. Aku sedikit terkejut, kulkas yang biasanya tidak pernah kosong, kini hanya berisikan air mineral dingin dan beberapa butir telur. Menyedihkan sekali.
'Apakah makannya terjamin? Rasanya aku gak yakin,' batinku.
Aku keluar rumah lagi dan pergi ke supermarket terdekat. Kubeli beberapa sayuran, ayam dan buah. Tak lupa vitamin untuk Mama. Cemilan? Ah, bolehlah. Mungkin aku akan menginap malam ini.
Ceklek.
Kubuka pintu rumah. Masih tak ada orang terlihat. Tandanya Mama masih tidur. Dengan keahlian memasak yang baru kumiliki sejak tinggal sendiri, aku nekat membuatkan makanan untuk Mama. Memang ada makanan di rumah, tapi aku tidak tahu itu sudah berapa hari. Meski belum basi, rasanya makanan itu sudah dihangatkan beberapa kali. Sungguh bukan seperti Mama yang aku kenal.
"Lena ...." panggil Mama dari pintu kamar.
Beliau berdiri dengan tubuh yang tampak begitu lemah. Seketika aku menengok ketika mendengar namaku disebut. Tanganku sedang mencuci ayam.
__ADS_1
"Ah, iya," jawabku kemudian.
"Kamu ngapain? Sejak kapan kamu ada di rumah?" tanyanya sembari berjalan ke arahku.
"Belum lama," jawabku. "Duduklah. Aku akan membuatkan ayam goreng."
"Memang kamu bisa memasak?" tanya Mama. Aku sedikit tersinggung, tapi memang kenyataan aku tidak pernah memasak di rumah.
"Bisa. Kalau begini saja mah gampang," ujarku menyombongkan diri. Padahal aku belum pernah membuat ayam goreng, hanya melihat tutorial saja di Yo*Tube.
"Kamu sudah dewasa ya! Bisa tinggal sendiri, masak sendiri. Mama senang melihatnya," ujarnya sambil tersenyum.
"Jangan meremehkan aku!" ujarku kemudian.
Beliau tak banyak bicara, begitupun aku. Aku fokus memasak. Memasak ayam goreng dan sop sayuran. Semoga saja enak. Beberapa menit kemudian masakanku selesai. Aku menghidangkannya di atas meja.
"Boleh dimakan?" tanya Mama kemudian.
"Ya, silakan. Memang aku masak untuk Mama." ujarku.
"Ayo makan bersama!"
"Aku masih kenyang," ujarku sedikit berbohong.
"Jangan bohong! Kamu gak akan bisa menolak ayam goreng."
"Kata siapa?" jawabku tidak mau kalah.
"Ya sudah kalau gak mau." jawab Mama. Kemudian beliau mengambil nasi dan lauk pauknya. Lalu makan. Aku masih berdiri di belakangnya.
"Sudah, jangan cuma nonton! Nanti gak makan menyesal loh." bujuk Mama lagi.
"Apasih? Aku tuh gak lapar," ujarku pelan.
Krucuk-krucuk.
Tiba-tiba perutku tidak bisa diajak kompromi. Suara perutku kini bergemuruh. Sial! Padahal aku sudah makan tadi.
"Kan, sudah jangan malu!" ujar Mama. Dengan sedikit rasa malu, aku duduk dan ikut makan.
"Pintar juga kamu masak," ujar Mama lagi. Aku tak menjawab. Begitu satu suapan pertama masuk ke mulutku, aku langsung mengerenyitkan kening.
"Ngg ... asin." Aku mengomentari makananku sendiri.
"Sedikit. Masih bisa ditoleransi kok," jawab Mama sembari fokus makan. Memang sih masih bisa ditoleransi, tapi tetap saja asin.
"Kamu sudah ingin menikah ya?" ujar Mama lagi.
"Uhukkk!" Aku tersedak mendengarnya.
"Eh! Pelan-pelan dong!" ujar Mama seraya memberikanku segelas air mineral. Aku pun meminumnya.
"Pertanyaan apasih? Bikin kaget saja!" ujarku menyanggah dugaan Mama.
"Kalau gak benar, kenapa kamu kaget?" tanya Mama lagi. Hah, rasanya feeling orang tua tidak pernah salah.
"Sudahlah! Habiskan saja makanan Mama. Gak perlu bertanya macam-macam," ujarku seraya menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringku.
"Mama sakit apa? Gak terlihat sakit begitu," tanyaku. Memang tidak terlihat sedang sakit, hanya terlihat lesu saja.
"Setres mungkin," jawab Mama singkat.
Rasanya Mama hanya sakit karena rindu pada anaknya. Ya, mungkin saja. Namanya juga orang tua. Usai makan, aku membuka tas dan memberikan vitamin yang tadi kubeli.
"Ini untuk Mama. Sudah tua, harus bisa jaga kesehatan!" ujarku tanpa basa-basi.
"Dasar anak kurang aj*r!" ujar Mama. Beliau tidak marah, justru beliau senang karena menerima perhatian dariku. Setidaknya itu yang bisa kutangkap dari nada bicara dan ekspresinya.
"Apa kamu akan menginap?" tanyanya.
"Hemm, semalam saja," jawabku kemudian masuk ke kamar.
Meski tidak kutempati selama beberapa bulan, kamar ini masih rapi dan bersih. Seperti memang ada yang tidur di kamar ini. Mama memang rajin sekali, bahkan kamar anak durhakanya saja masih mau ia bersihkan.
__ADS_1