Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 48


__ADS_3

"Mas, kamu serius kasih aku ini?" tanyaku tak percaya.


Dengan senyuman, ia menjawab pertanyaanku. Bukan perhiasan mewah, kopi kesukaanku, ataupun barang mahal lainnya. Melainkan tiket liburan ke Bali.


"Ini… kenapa tiba-tiba? Gak mungkin, kan, cuma gara-gara Mas beli game tadi?"


"Ahh… aku inget kalau kamu pernah minta kita untuk refreshing, tapi aku selalu sibuk," ucapnya kemudian duduk di sebelahku. "Sebenernya aku pengen ajak kamu ke luar negeri, tapi mungkin lebih baik nanti aja setelah bayi kecil kita lahir. Sementara di dalem negeri dulu gak apa-apa, kan?"


Aku sangat terharu, bahkan aku sudah lupa kapan permintaan itu pernah kuutarakan. Liburan akhir tahun juga sudah lama berakhir, benar-benar hadiah yang tidak terduga.


"Aku seneng banget!" ujarku seraya memeluknya erat. "Makasih banyak ya, Mas."


"Sama-sama, Sayang." Mas Dwi balas memelukku.


"Tapi Mas, kita cuma berdua aja? Tria gimana?" tanyaku seraya meregangkan pelukan kami.


"Emm… maunya gimana?"


"Ya, kayaknya jahat kalau kita liburan sendiri. Lagi pula, Puspa juga lagi ada di sini, masa malah kita tinggal," ujarku.


"Ya... karena aku kenal kamu, jadi aku ajak Puspa dan Tria juga."


"Mas serius?"


"Iya, Sayang. Untuk apa aku bercanda?"


"Aaaaaa! Makasih banyak!" Kembali kupeluk tubuh suamiku itu. Ia benar-benar mengenalku yang sering tidak enakan ini.


Satu minggu kemudian, kami berangkat berlibur sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Meskipun bukan hari libur, ternyata bandara tidak pernah sepi. Namun entah bagaimana nanti di sana, aku berharap tempat yang sudah direservasi tidak terlalu ramai. Kami butuh tempat yang menenangkan agar bisa menenangkan pikiran.


"Beruntung ada Kak Puspa, jadi aku gak perlu jadi obat nyamuk," ujar Tria. Kini kami sedang duduk di ruang tunggu.


"Belum tau aja kamu," jawab Puspa.


"Jadi, Kakak juga bawa pasangan?" tanya Tria yang tampak terkejut.


"Iyalah… maunya," jawab Puspa seraya tertawa kecil. Ia hanya mengerjai Tria.


"Ish! Ngeselin banget!" gerutu Tria. Puspa pun hanya membalasnya dengan tawa.


"Aman, kan?" tanya Mas Dwi lagi padaku. Entah sudah berapa kali ia menanyakan kondisi kesehatanku sejak kemarin malam.


"Aman kok, Mas. Tenang aja! Adek gak nakal kok," ujarku. Adek adalah panggilan untuk calon bayi kecil kami.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau ada apa-apa, bilang loh, ya!"


"Iya Mas, iya," jawabku seraya mengusap punggung tangannya.


Tak lama kemudian, suara panggilan untuk masuk ke dalam pesawat mulai berbunyi. Kami segera beranjak, bersamaan juga dengan para penumpang lain yang memiliki tujuan sama dengan kami.


Untuk pertama kalinya setelah Papa meninggal, akhirnya aku bisa merasakan naik pesawat lagi. Dulu aku, Mama dan Papa biasa pergi setidaknya dua kali dalam setahun untuk berlibur. Namun semenjak Papa pergi, rasanya liburan tidak perlu dilakukan lagi karena tidak ada Papa yang turut bersama kami.


Aku pun menundukkan kepala dan sejenak mengirimkan doa untuk Papa. Kini aku benar-benar sudah bahagia dan mengikhlaskan Papa yang pasti sudah bersama dengan Tuhan di surga. Aku akan membuktikan pada Papa kalau suamiku bisa menjadi menantu yang memang dulu sering dia idamkan.


"Sayang, kamu baik-baik aja?" tanya Mas Dwi lagi.


Aku mengangguk pelan dan mengangkat kembali kepalaku. "Iya, Mas. Aku baik-baik aja kok."


Sepuluh menit kemudian, pramugari mulai memberikan petunjuk keamanan sebelum pesawat lepas landas. Sembari mendengarkan, kusandarkan kepalaku di bahu Mas Dwi. Ia pun menggenggam tanganku dengan erat. Tak lupa untaian doa selalu aku ucapkan dalam hati, agar kami semua diberikan perlindungan.


Perjalanan udara kami berlangsung hampir dua jam. Kami mengambil perjalanan yang langsung sampai di Bali dan tidak perlu transit di tempat lain. Sehingga lebih menghemat waktu dan tenaga. Sepanjang perjalanan aku banyak tidur, sehingga aku tidak menikmati pemandangan lewat atas awan ini sama sekali.


"Huahhh! Akhirnya sampe juga!" ucap Tria sembari meregangkan otot tubuhnya ketika kami baru turun dari pesawat.


"Siapa yang jemput kita?" tanya Puspa pada Mas Dwi.


"Ada kok, yang biasanya."


"Oh, jadi kita nginep di villa?" tanya Tria mendahului Puspa.


"Iya, untuk malem ini kita nginep di villa dulu. Besok pagi baru kita pindah ke penginapan. Agak jauh soalnya."


"Loh, jadi sebenernya kita mau ke mana?" tanyaku kaget.


"Nanti kamu juga tahu kok. Aku juga pengen kasih liat dulu ke kamu villa keluarga yang kita punya di sini. Barangkali kamu suka, atau berniat untuk pindah ke sini."


"Ah, ya… oke," jawabku sembari mengangguk.


Kami menuju tempat pengambilan bagasi sebelum pergi dari sini. Sebenarnya tidak banyak, namun koper kami tidak bisa masuk ke kabin, sehingga terpaksa harus masuk bagasi.


Setelah barang bawaan kami sudah lengkap, kami segera keluar dari gedung bandara ini dan menuju tempat penjemputan. Kami bertiga hanya mengikuti langkah Mas Dwi, karena dialah penunjuk jalan liburan kami kali ini.


"Tunggu sebentar, aku telepon Bli Agung dulu!" ucapnya dengan ponsel yang sudah menampilkan panggilan keluar dan ia dekatkan ke telinga. Tak perlu menunggu lama, panggilan tersebut langsung dijawab.


"Halo Bli. Iya, kami udah di tempat penjemputan."


"Iya."

__ADS_1


"Oh, sebelah mana?"


"Dari sini gak kelihatan sih," ucap Mas Dwi sembari celingukan.


"Oke-oke. Kami tunggu kok."


"Iya, makasih ya, Bli." Kemudian Mas Dwi menutup panggilan teleponnya.


"Kebablasan lagi?" tanya Tria yang sepertinya sudah hafal.


"Iya. Dia parkir di sana tuh," ujar Mas Dwi seraya menunjuk ke arah timur. "Dia mau muter lagi, jadi kita tunggu dulu sebentar." Aku hanya mengangguk mendengar itu.


"Mobilnya udah ganti belum?" tanya Puspa.


"Gak tahu, mungkin udah," jawab Mas Dwi ragu.


"Harusnya sih udah. Terakhir Papa bilang, katanya lebih baik ganti baru daripada harus service tiap bulan yang harganya gak murah," tambah Tria.


Tak lama kemudian, sebuah mobil keluarga nan mewah berhenti di depan kami. Hampir saja aku melongo, namun untung saja aku segera sadar agar tidak membuat malu yang lain. Mobil itu berwarna hitam mengkilap, pintu sampingnya bisa bergeser dan terbuka sendiri tanpa perlu dibukakan. Pemandangan ini membuatku semakin menciut karena belum terbiasa dengan kehidupan keluarga Hermansyah.


"Loh, Bli, mobilnya belum ganti?" tanya Tria bahkan sebelum Bli Agung menyapa kami.


"Maaf, Mbak. Kata Bapak mobilnya masih dipesan, mungkin bulan depan baru sampai," jawab Bli Agung dengan sangat sopan.


"Gimana kabarnya, Bli?" sapa Mas Dwi seraya mengulurkan tangan.


"Baik, Mas." Bli Agung pun membalas jabat tangan Mas Dwi.


"Syukurlah. Kenalkan ini istri saya, Alena!" ujar Mas Dwi memperkenalkan.


"Alena," ujarku memperkenalkan diri seraya bersalaman juga dengan Bli Agung.


"Saya Agung, Mas Dwi biasanya panggil Bli Agung. Saya anak dari orang kepercayaan Pak Hermansyah untuk menjaga sekaligus mengurus villa."


"Ah, iya. Salam kenal," jawabku lagi.


Bli Agung terlihat masih cukup muda, mungkin hanya berjarak satu atau dua tahun di atas Mas Dwi. Cara bicaranya juga begitu sopan, namun juga tidak terlalu kaku. Sehingga tidak membuatku menjadi canggung. Namun sepertinya hubungannya dengan Tria tidak cukup baik, terlihat dari cara Tria bertanya di awal tadi. Ia begitu ketus, tidak seperti biasanya.


Tak perlu berlama-lama lagi, kami masuk ke dalam mobil dan mulai melaju ke villa tempat kami akan menginap untuk sementara. Lima belas menit kemudian, kami sampai. Tidak terlalu jauh, lokasinya juga ternyata dekat dengan pantai. Sangat strategis jika orang-orang ingin menyewa villa ini untuk berlibur bersama keluarga.


Kedatangan kami di villa langsung disambut Pak Agung dan Bu Hepi. Jadi, Agung itu nama bapak atau anaknya? Atau keduanya memang bernama Agung? Entahlah. Yang pasti mereka semua sangat ramah.


"Perkenalkan, ini Alena, istri saya." Lagi-lagi Mas Dwi memperkenalkanku.

__ADS_1


"Wah, Mbak Alena! Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Apa Mbak ingat dulu pernah menyewa villa di sini?" ucap Bu Hepi yang tentu saja membuatku terkejut. Tak hanya aku, tapi kami berempat.


"A--aku pernah menginap di sini?"


__ADS_2