Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 16


__ADS_3

Kukira semakin ramai rumah ini, maka akan semakin menyenangkan. Ternyata tidak juga. Semuanya sibuk dengan agendanya masing-masing. Termasuk dengan Mas Dwi yang harus bekerja setiap harinya. Ya sudahlah, toh aku juga kuliah hampir setiap hari. Dan kali ini aku kuliah tidak sendirian, ada si kecil yang selalu menemaniku. Aku jadi makin semangat.


"Sayang, pokoknya aku gak mau tahu. Kamu gak boleh mengerjakan pekerjaan rumah sendirian kaya tadi pagi. Kalau tiba-tiba kamu pingsan lagi gimana coba?" ujar Mas Dwi yang masih khawatir padaku.


Ya, tadi kebetulan ketika aku sedang beberes rumah, Mas Dwi tiba-tiba pulang. Ia melihatku sedang mengangkat keranjang pakaian yang sangat penuh dan cukup berat. Ia mengomel sejadinya. Bahkan ia sampai berinisiatif untuk menyewa asisten rumah tangga. Rasanya sedikit berlebihan.


"Iya, Mas. Iya. Aku gak kerja sendirian lagi. Udah dong, jangan marah-marah terus!" jawabku sembari menggenggam tangannya.


"Aku sayang banget sama kamu, terlebih sekarang ada calon anak kita. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Mas Dwi lagi.


Yah, kekhawatirannya yang berlebihan memang terkadang justru membuatku sedikit tidak nyaman. Ingin aku membantah, namun itu hanya akan membuat suasana menjadi semakin rumit. Di satu sisi aku senang mendapat perhatian dari suamiku, namun di sisi lain aku juga tidak bisa membiarkan kakak iparku mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Dia bukan asisten rumah tangga.


"Aku bakal ngomong sama Tria. Biar dia mau bantu Kak Julia juga," ujar Mas Dwi mengagetkanku.


"Mas, jangan gitu ah! Masa gara-gara aku hamil, yang lain jadi kesusahan," tolakku.


"Kesusahan gimana? Tria itu udah besar tapi sama sekali gak mengerti pekerjaan rumah. Iya kalau nanti suaminya mampu menyewa asisten rumah tangga, kalau nggak gimana?"


"Tapi, dulu aku juga kaya Tria kok, Mas. Di rumah gak pernah kerja, semua Mama yang handle," sanggahku lagi.


"Kamu gak mengerjakan pekerjaan rumah karena kamu memang sibuk bekerja di luar. Kalau Tria? Memang aku gak tahu jadwal kuliahnya? Dia itu lebih banyak keluyuran dari pada kuliah. Itulah alasanku sering memarahinya. Tapi dia justru menilaiku seolah membandingkan dia dengan Kak Julia. Padahal kenyataannya dia memang sering keluyuran."


Pernyataan Mas Dwi menyadarkanku. Tria memang merasa selalu disamakan dengan Kak Julia. Jadi, selama ini dia tidak menyadari kesalahannya sendiri?


"Maaf kalau saudara perempuanku semuanya bermasalah," ujar Mas Dwi lagi.


"Gak apa-apa kok, Mas. Bukan kesalahanmu. Mungkin Mas bisa bicara pelan-pelan sama Tria nantinya. Kurasa untuk bicara dengannya harus dengan cara halus," saranku.


Mas Dwi tak menjawab lagi, ia justru memejamkan mata dengan tangan yang masih memelukku. Kasihan sekali Mas Dwi, beban pikirannya pasti sangat banyak. Apa mungkin ini salah satu alasan yang katanya kalau menikah lebih baik tinggal di rumah sendiri saja? Aku juga tidak menyangka akan ada Kak Julia yang tinggal di rumah ini.


"Apa Mas mau kita pindah rumah? Mungkin Papa akan mengizinkan karena ada Kak Julia yang bisa mengawasi Tria," ujarku memberikan opsi.


"Kamu bicara apa sih? Udah ayo tidur aja! Aku mulai ngantuk," jawab Mas Dwi dengan nada malas.


"Oke-oke, baiklah." Aku mengalah, rasanya ini memang bukan hal mudah yang bisa diputuskan dalam waktu sehari saja.


Mas Dwi bangun dari posisi tidurnya lalu mencium perutku dari balik piyama dan dilanjut dengan mencium keningku. Ia memang tak pernah berubah. Sekacau apapun pikiranku, jika ada berada di sisinya aku bisa menjadi lebih tenang.


"Jangan banyak pikiran, ya! Semua bakal baik-baik aja kok," ujar Mas Dwi kemudian. Aku mengangguk setuju.


..


Badanku terasa begitu lelah, padahal mata kuliah hari ini hanya dua saja. Untuk sementara, aku masih berangkat dan pulang kuliah dengan taksi online. Mas Dwi tidak mengizinkanku naik ojek apalagi bawa mobil sendiri. Ya, lagi-lagi aku merasa ia sangat berlebihan, namun tetap saja ia tak bisa dibantah.

__ADS_1


"Baru pulang, Len?" sambut Kak Julia ketika aku baru saja masuk.


"Iya nih, Kak," jawabku kemudian melangkah ke salah satu sofa dan duduk di sana.


"Gimana kandunganmu, aman?" tanya Kak Julia.


"Aman kok, Kak. Oh iya, kayanya akhir-akhir ini aku gak lihat Kakak kerja," tanyaku penasaran.


"Iya, aku resign soalnya. Sesuai permintaan Papa, aku harus menjagamu di rumah," jawabnya. Sungguh aku merasa sangat tidak enak.


"Maaf ya, Kak. Gara-gara aku, Kakak sampai harus resign."


"Gak masalah, kan, aku jadi gak perlu capek-capek kerja jauh. Faiz juga mau kupindahkan ke SD dekat sini aja, biar bisa berangkat sendiri," jawabnya. Meski ia terlihat santai, namun tetap saja kini Kak Julia kehilangan pekerjaannya.


"Oh iya, yang di garasi itu mobilmu?" tanyanya lagi.


"Iya, Kak."


"Boleh aku pinjam? Aku besok harus mengurus surat pindah Faiz, akhir-akhir ini juga sering hujan, kan. Jadi, kalau boleh aku mau pinjam mobilmu," ujarnya.


"Ah, tentu boleh, Kak. Pakai aja gak apa-apa," jawabku tidak keberatan. Justru aku senang bisa membantu Kak Julia.


Kami mengobrol banyak hal. Kak Julia cukup pandai mencari bahan obrolan, aku tidak merasa kesepian lagi berada di rumah sendiri seperti biasanya. Yah, semoga Kak Julia juga senang tinggal di rumah ini.


"Iya, halo, Ma," ucapku setelah telepon itu kuangkat.


"Maaf ya, Mama belum bisa jenguk kamu. Kandungan kamu gimana? Sehat?" tanya Mama dari seberang sana.


"Sehat kok, Ma. Tenang aja! Mama gak perlu khawatir," jawabku.


"Kamu di rumah sama siapa selama Dwi kerja?" tanya Mama lagi.


"Ada Kak Julia."


"Siapa Julia? Asisten baru?"


"Ish! Bukan, Ma. Kak Julia itu kakaknya Mas Dwi," jawabku meluruskan.


"Oh, Dwi punya kakak? Kok gak datang ke pernikahanmu waktu itu?"


"Panjang ceritanya, Ma."


"Dia orang baik-baik, kan?"

__ADS_1


"Hmm ... semoga begitu," jawabku. Meski saat ini menurutku Kak Julia itu orang baik, namun aku belum lama mengenalnya. Jadi hanya bisa berharap kalau ia benar-benar orang baik.


"Ya udah, jaga dirimu baik-baik. Jangan kecapekan, jangan makan sembarangan! Ingat sekarang kamu gak mengurus dirimu sendiri, tapi ada anakmu juga," ujar Mama mengingatkan.


"Iya, Ma. Lena akan jaga diri baik-baik."


Tak lama kemudian, panggilan berakhir karena Mama masih ada urusan lain. Kurebahkan diri di kasurku yang empuk. Entah mengapa rasanya nyaman sekali. Tanpa membuka jaket dan meletakkan tas pada tempatnya, aku langsung bisa terpejam begitu saja.


Entah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba ada bau yang menusuk hidungku. Aku pun mulai membuka mata dan melihat Mas Dwi yang baru melepaskan jasnya.


"Mas pake parfum apa?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Yang biasanya, memang masih ada baunya?" tanya Mas Dwi lagi.


"Mas buruan mandi gih! Aku gak suka baunya," perintahku pada Mas Dwi.


Ia langsung mencium kedua ketiaknya bergantian. "Kayanya cuma ada bau keringat deh, memang sebau itu?" tanya Mas Dwi lagi.


"Ih, udah buruan mandi! Aku hampir mual nih!" rengekku padanya


"Iya, Sayang, iya. Aku mandi sekarang," ujar Mas Dwi yang langsung keluar lagi dari kamar.


Dulu parfum itu aku yang memilihkan, tapi rasanya sekarang aku malah membenci aroma itu. Untung saja Mas Dwi tidak keberatan kusuruh mandi tiba-tiba. Aku pun melepaskan jaket yang masih kupakai sejak tadi dan meletakkan tasku pada tempatnya. Kubawa juga jas Mas Dwi ke keranjang pakaian kotor, jas itu juga lumayan bau bagi hidungku.


"Udah mandi nih, masih bau gak?" tanya Mas Dwi yang baru kembali dari kamar mandi.


Penampilannya begitu sempurna. Kaus putih itu sangat cocok menempel pada tubuhnya yang bagus. Rambutnya yang baru keramas juga menambah kesan tampan pada dirinya. Aku sungguh bangga, dia lelakiku yang paling sempurna.


"Kenapa malah ngelihatin kaya gitu? Ada yang salah, ya?" Aku tak menjawab hanya menggeleng dan tersenyum.


"Kamu semenjak hamil jadi makin aneh, aku jadi takut," ujarnya lagi.


"Kok takut?" tanyaku bingung.


"Iya, ekspresimu seperti melihat barang bagus. Aku jadi takut diperkosa."


"Ih! Mas apaan deh!" Aku mencubit gemas lengannya.


"Haha, ya abis lihatnya gitu banget. Aku tahu, suamimu ini tampan seperti artis papan atas," ujarnya kemudian tertawa.


"Apa sih, pede banget!" sanggahku seraya memukul lengannya pelan. Aku juga tertawa mendengarnya.


Kuakui dia sangat tampan dan dia adalah milikku. Kupeluk tubuhnya erat-erat. Kunikmati harum tubuhnya yang tanpa parfum itu. Aku sangat menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2