Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 4


__ADS_3

Tak tik tak tik tak tik.


Suara itu mengusik telingaku hingga akhirnya aku memutuskan untuk bangun. Perlahan kubuka kedua kelopak mataku dan mendapati Mas Dwi sedang duduk di sebelahku dengan memangku laptopnya. Jari lincahnya sangat lihai menekan setiap huruf yang ada di keyboard. Hahh, bahkan hari minggu pun ia masih tetap bekerja.


"Eh, kamu udah bangun?" tanyanya padaku.


"Em, iya, Mas."


"Gimana badanmu? Masih sakit?" tanyanya lagi sembari memegang keningku. Aku menggeleng.


"Udah mendingan kok, Mas. Ini jam berapa?" tanyaku. Aku mulai merasakan udara yang cukup hangat.


"Baru jam 9 kok. Mau sarapan? Tadi udah aku belikan bubur ayam, tinggal dipanaskan lagi."


"Ah, maaf Mas gak aku masakin pagi ini," ucapku seraya bangkit dari posisi tidur.


"Hei, it's ok. Gak ada orang yang mau sakit, yang penting sekarang kamu udah membaik," ujarnya seraya tersenyum dan mencium keningku.


Ia pun meletakkan laptopnya di atas meja dan keluar kamar lalu mengambilkan bubur. Padahal aku merasa tidak sesakit itu hingga harus diperlakukan spesial. Ketika memegang kening, aku sedikit terkejut. Ada plester kompres demam di sana. Ah, Mas Dwi terlalu berlebihan.


"Nih, udah aku panaskan. Makan pelan-pelan, ya!" ujarnya setelah kembali dari dapur.


"Iya, Mas. Terima kasih banyak, ya. Oh iya, ini apa?" tanyaku sembari menunjuk kening.


"Tadi badanmu sedikit hangat, jadi aku pakaikan itu. Soalnya kalau pakai kompres handuk, pasti akan mengganggu tidurmu," ujarnya menjelaskan.


"Mas gak perlu repot-repot begitu, aku gak ke--"


"Udah sembuh, ya, jadinya udah bisa bawel," ujarnya memotong ucapanku kemudian mencubit pipiku dengan gemas.


Ting tung!


Mendengar bel rumah berbunyi, Mas Dwi langsung keluar kamar lagi. Aku menghabiskan bubur yang masih setengah. Rasanya enak, sepertinya aku sudah lama tidak makan bubur ayam.


Usai makan, aku ke luar kamar untuk mengembalikan mangkuk sekaligus melihat siapa tamu yang datang. Terlihat Bu Ijah bersama seorang anak kecil sedang duduk di sofa. Setelah meletakkan mangkuk, aku turut bergabung bersama mereka.


"Mbak Alena meriang, ya? Jangan-jangan hamil tuh, Mbak," ujar Bu Ijah tiba-tiba ketika aku baru saja menghampiri mereka.


Manik mata Mas Dwi mengisyaratkan agar aku tak tersulut emosi. Aku pun hanya tersenyum kemudian duduk.


"Cuma masuk angin kok, Bu," jawabku.


Seenaknya bilang hamil padahal tidak tahu akar masalahnya. Kalau saja aku sedang tidak mens, mungkin aku akan langsung tes kehamilan. Sayangnya aku sedang dalam masa bulanan. Bukannya senang dengan pernyataan Bu Ijah, yang ada justru kesal dengan kesimpulan darinya yang tak berdasar.


"Coba dites dulu, kali aja positif, kan?" ujarnya lagi.


"Maaf, Bu. Saya lagi bulanan," jawabku kesal.

__ADS_1


"Ah, begitu," responnya singkat. Lalu ia langsung mengalihkan topik pembicaraan, "Saya titip Rino, Mbak Alena gak keberatan, kan?"


"Gak apa-apa, Bu. Kebetulan kami hari ini gak ke mana-mana," jawab Mas Dwi.


Aku hanya bisa menarik napas panjang. Entah mengapa rasanya aku begitu kesal pada Bu Ijah. Bukan tidak mau dititipi anak, hanya saja aku tidak suka dengan kelakuannya. Semoga anaknya tidak nakal, kalau iya, bisa-bisa dia kukurung dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian Bu Ijah pulang. Ia titip anaknya sampai nanti sore karena harus pergi ke rumah saudaranya yang sedang punya hajat. Yah, sekali lagi aku berharap anaknya bisa bersahabat denganku, tidak menyebalkan seperti ibunya.


"Rino udah makan?" tanya Mas Dwi.


"Belum, Om," jawabnya. Anak itu tampan, tidak mirip dengan ibunya.


"Yuk, makan dulu! Om punya ayam goreng," ujar Mas Dwi sembari menarik Rino ke dapur. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang.


"Rino kenapa gak ikut Ibu?" tanyaku menyelidik. Mas Dwi sedang menyiapkan makanan untuk Rino.


"Kata Ibu, motornya sempit, Tante. Rino juga gak punya helm, nanti bisa ditangkep Pak Polisi," jawab Rino dengan polosnya.


"Oh, begitu ya. Memang Rino gak pengen ikut?" tanyaku lagi.


"Nggak, kata Ibu kalau Rino ikut nanti gak bisa makan daging." Jawaban Rino membuatku mengerutkan kening.


"Apa hubungannya?"


"Rino gak boleh makan daging kalau di sana, Tante. Soalnya Ibu gak mau nyuapin Rino, jadi nanti dibawain aja katanya."


"Ni ayamnya udah Om suwir-suwir, biar Rino gak susah makannya," ujar Mas Dwi seraya memberikan piring berisi makanan itu pada Rino.


"Makasih banyak, Om. Ada yang lagi ulang tahun ya, Om? Tante atau Om yang ulang tahun?" tanyanya bertubi-tubi.


"Ulang tahun? Gak ada tuh," jawab Mas Dwi bingung.


"Kata Ibu, Rino boleh minta ayam goreng kalau ulang tahun," ujarnya polos.


"Ahh ... jadi Rino jarang makan daging ya?" tanyaku mengingat Bu Ijah pernah bilang kalau anaknya bosan makan daging dan minta sayur kangkung.


"Iya, Tante. Ini boleh Rino makan?"


"Boleh, Sayang. Abisin ya! Makan yang banyak! Kalau kurang bilang aja, nanti Tante ambilin lagi."


Sungguh aku kasihan melihatnya. Apakah nutrisinya di rumah terpenuhi? Mas Dwi menemani Rino makan dengan telaten. Pandangannya sungguh menghangatkan. Ia sudah cocok menjadi seorang ayah. Seandainya aku benar-benar hamil, tentu ia akan bahagia.


Mereka kutinggal mandi sejenak. Matahari mulai memperlihatkan kekuasaannya, udara di dalam rumah terasa semakin gerah. Sebenarnya kemarin sore aku sempat senang, mengingat salah satu tanda kehamilan adalah rasa mual. Sayang, malamnya aku justru datang bulan. Memang belum saatnya aku untuk mempunyai momongan.


Adanya Rino sekarang, membuatku sedikit senang. Mas Dwi bisa melepaskan pekerjaannya sejenak. Meski aku tidak tahu apakah ada pekerjaan yang sedang mendesak atau tidak. Rino juga terlihat senang dititipkan di sini. Mas Dwi punya koleksi mainan yang cukup banyak, rasanya Rino tidak akan bosan sampai orang tuanya menjemput nanti.


"Tante, besok Rino boleh main ke sini lagi gak?" tanyanya padaku yang masih memperhatikan mereka membangun menara menggunakan lego.

__ADS_1


"Boleh dong! Kalau Tante ada di rumah, main aja!" ujarku. Aku sungguh tidak keberatan kalau anaknya penurut seperti Rino.


Hari sudah menjelang sore, Rino juga sudah mulai lelah. Kutawarkan untuk tidur di kamar, tapi ia menolak. Ia memilih untuk tidur di ruang tengah, menggunakan karpet. Aku dan Mas Dwi menjaganya seperti anak kami sendiri.


"Senang ya kalau anaknya penurut seperti Rino," ujar Mas Dwi padaku.


"Iya. Gak nakal, gak bikin berantakan. Tadi aku udah berencana mengurungnya di kamar mandi kalau dia nakal," jawabku.


"Dasar ibu yang jahat!" ujar Mas Dwi seraya mengacak rambutku sambil tertawa.


..


Matahari sudah sembunyi, Bu Ijah tak juga menjemput Rino. Kami berusaha berpikir positif, mungkin saja jalanan macet. Untung Rino tidak rewel. Yah, untuk anak berusia 6 tahun, Rino tergolong anak yang sangat baik, tidak menyusahkan orang lain.


Ketika kami tawarkan untuk mandi, dia menolak. Alasannya tidak ada pakaian ganti, benar juga. Akhirnya kami menawarkannya makan lagi, ia menolak juga. Mungkin ia sudah rindu orang tuanya, entahlah. Diajak bermain pun tidak bersemangat. Kini ia hanya diam menatap layar TV, menonton acara 'Tay*'.


"Aku pulang," ujar Tria yang baru saja membuka pintu depan. "Anak siapa nih?" tanyanya lagi.


"Anak Bu Ijah," jawabku.


"Halo, Kakak," sapa Rino dengan ramahnya.


"Halo, siapa namamu?" tanya Tria.


"Rino, Kak. Kakak namanya Kak Tria, ya?" ujarnya. Ternyata dia sudah mengenal Tria.


"Loh, kok tahu nama Kakak?"


"Iya, Ibu yang kasih tahu Rino. Ibu kadang suka sebut nama Kakak."


"Oh iya? Kok bisa?" tanya Tria yang mulai heran, aku pun sama. Untuk apa Bu Ijah sering menyebut nama Tria?


Ting tung!


Mungkin itu Bu Ijah yang datang. Tria masuk ke kamarnya dan aku membuka pintu. Benar, Bu Ijah datang menjemput Rino. Terlihat seorang lelaki yang mungkin adalah suaminya sedang duduk di atas motor yang mesinnya tidak di matikan. Rino yang berdiri di belakangku langsung memeluk ibunya.


"Maaf ya Mbak Lena kalau saya titip Rino terlalu lama, tadi tamunya banyak banget. Jadi mau pamitan gak jadi-jadi." Bu Ijah menjelaskan.


"Iya gak apa-apa, Bu. Rino juga gak rewel kok," ujarku.


"Iya, Rino memang anak yang baik. Gak seperti anak seumurannya yang nakal-nakal," jawabnya lagi.


"Bu, cepetan!" Terdengar suara lelaki yang sedang duduk di atas motor itu. Mendengarnya aku menjadi kembali kesal, benar-benar tidak punya sopan santun.


"Sekali lagi terima kasih ya, Mbak Lena. Saya permisi dulu," pamitnya kemudian menggandeng Rino ke luar dari sini.


Kuperhatikan mereka sampai motor berlalu. Rasanya pasangan suami-istri ini tidak ada yang beres. Semoga Rino tidak menurun sifat jelek dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2