Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 46


__ADS_3

"Mas, kok kamu keliatannya santai banget ngeliat tingkahnya Puspa tadi? Memang gak masalah, ya?" tanyaku penasaran sembari melepas sepatu.


"Iya, karena dia belum pernah pacaran. Sekali pacaran aja ketemunya malah sama manusia baj*ngan itu," jawab Mas Dwi dengan sedikit emosi yang tersirat dalam ucapannya.


Ia memang tidak pernah bisa santai jika membahas sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Robi. Karena laki-laki itu sudah menyakiti orang yang sangat ia sayangi, tidak hanya satu melainkan dua. Bukannya aku sudah memaafkan, hanya saja selama aku tidak melihat wajah manusia itu maka rasanya tidak begitu menyakitkan.


"Mas, apa Mas tau kalau hari ini Puspa bakal ke rumah?" tanyaku dengan maksud untuk mengalihkan pembicaraan. Usai meletakkan sepatu di tempatnya, aku membantu Mas Dwi untuk melepaskan kancing kemejanya.


"Iya, makanya tadi aku membatalkan janji kita untuk pergi ke kafe," jawabnya. Mendengar itu, sontak aku menatapnya kesal.


"Kan! Kenapa sih gak jujur aja? Kan, aku juga bakal batalin rencana kita tanpa perlu marah-marah," sungutku.


"Maaf Sayang, ini permintaan Puspa. Kalau aku jujur, harusnya dari Minggu lalu aku udah kasih tau ke kamu kalau dia bakal ke sini."


"Oke, untung aja ini permintaan Puspa. Kalau bukan, mungkin malem ini Mas harus tidur di luar."


"Jangan gitu dong! Nanti siapa yang peluk kamu kalau kamu kedinginan?" Sebelah tangannya sudah memeluk pinggangku dan merapatkan jarak antara kami berdua. "Kamu juga gak betah kan jauh dari aku lama-lama?" godanya lagi sembari mengusap pipiku dengan lembut.


Blush! Pipiku kembali memerah. Meski sudah sering seperti ini, namun tetap saja pipiku tidak bisa dikontrol.


"Udah, ah! Ayo keluar!" tolakku. Aku tidak ingin bermesraan lebih lanjut, karena belum waktunya.


"Hei, kamu belum ganti baju, Sayang." Mas Dwi menahanku untuk tidak pergi dari hadapannya.


Kini gantian ia yang mengarahkan tangannya ke kancing kemejaku yang paling atas. Jantungku berdebar kencang, aliran darah ke seluruh tubuh terasa semakin panas. Ditambah lagi adanya pemandangan indah yang sudah terpampang nyata di depan mataku. Aku tidak tahu kapan terakhir kali Mas Dwi berolahraga, namun bentuk ototnya masih terlihat sangat indah. Sama seperti pertama kali aku melihatnya di malam pertama kami.


"Mau?" tanyanya ketika kancing kemejaku sudah hampir terbuka seluruhnya.


Aku hanya bisa menggeleng, namun sebagian dari diriku mengharapkan yang lebih lagi. Mas Dwi menyunggingkan senyum, lalu menarik daguku perlahan. Jarak wajah kami semakin dekat, ia pun mengecup bibirku dengan lembut. Sejenak kupejamkan mata dan menikmati setiap sentuhannya.


Dengan tangan bebasnya, ia mulai menyingkap kemejaku dan mengusap punggungku perlahan. Secara alami aku pun merapatkan jarak tubuh kami dan memeluknya dengan kedua tanganku.


Sejenak kami larut dalam kemesraan tanpa mengingat apapun lagi. Atasan kami sudah terlepas seluruhnya, Mas Dwi pun perlahan membimbingku untuk berbaring ke ranjang. Ketika kesadaran kami mulai kembali, tanpa sengaja manik mata kami saling bertemu dan kami pun tertawa.


"Kita belum kunci pintu, kan?" tanya Mas Dwi. Aku mengangguk sambil tertawa menyadari kecerobohan kami.


"Ya udah, lanjut nanti malam lagi, ya?" tanya Mas Dwi lagi yang sebenarnya adalah permintaan yang tidak bisa ditolak. Lagi-lagi aku mengangguk. Mas Dwi kembali mengecup bibirku dengan singkat, tak lupa ia juga mengecup keningku untuk mengakhiri permainan singkat ini.


Usai berganti pakaian, kami kembali keluar dari kamar. Aroma lezat sudah memenuhi ruangan, kami pun langsung masuk ke ruang makan.


"Kali ini kamu masak apa?" tanyaku pada Tria. Aku dan Mas Dwi langsung duduk di kursi makan.


"Ayam balado, ayam kecap, sama… ah, sop ayam," jawabnya yakin sembari menyusun piring di atas meja.


"Bahaya juga ya kalau kamu pinter masak. Boros banget!" gerutu Mas Dwi.

__ADS_1


"Berisik! Padahal ujung-ujungnya juga Mas yang makan paling banyak!" balas Tria.


"Ya tapi, kan, kamu bisa masak beberapa jenis gitu. Jangan ayam semua! Kaya gini liat, mana sayurnya?"


"Ada kok!" bantah Tria lagi. Mereka ini tidak pernah tidak berdebat, selalu ada saja yang mereka permasalahkan. Namun setidaknya, yang mereka perdebatkan kali ini bukanlah sesuatu yang buruk seperti dulu.


"Di sop ada kentang, wortel, jamur, kubis, teru… s…." Ia terlihat sedang berpikir, lalu bertanya pada Mbak Arum, "Mbak, yang ijo-ijo ini apa?"


Mendengar pertanyaan itu, aku dan Mas Dwi kompak menahan tawa.


"Buncis, Non," jawab Mbak Arum dengan sabar.


"Nah, tuh! Ada buncis juga. Banyak, kan?"


"Hei-hei-hei!! Jangan asyik sendiri tanpa aku!" ucap Puspa yang baru saja menyelesaikan ritual bebersihnya dan langsung duduk di sebelahku.


"Parfummu enak," ujarku yang salah fokus.


"Kamu suka?"


"Iya, kalian satu selera kalau urusan parfum," sambung Mas Dwi. Aku mengangguk setuju.


"Wah, bagus dong! Besok kita belanja, yuk! Nanti kita beli parfum yang sama," ajak Puspa dengan semangat.


"Aku ikut!" sahut Tria.


"Dih! Pede sekali! Kamu mau ikut pun gak boleh, bikin risih aja!" sungut Puspa.


Kemudian kami pun makan bersama. Kali ini Mbak Arum kami paksa untuk makan bersama. Biasanya ia tidak pernah mau, namun karena bujukan Puspa akhirnya ia luluh dan mau makan bersama kami.


Usai makan, kami berkumpul di ruang tengah. Obrolan kali ini didominasi oleh cerita kehidupan Puspa yang isinya 90% adalah bekerja. Bersyukur kini kuliah S2-nya sudah selesai, jadi ia hanya fokus untuk mengurus bisnisnya saja.


"Tria udah skripsian, kan? Nanti selesai sidang, kalau transkripnya udah keluar langsung daftar aja di kantor Kak Puspa, ya!" ajak Puspa dengan santainya.


"Terus, aku ikut Kakak ke Singapur?" tanya Tria.


"Ya… iya, memang kenapa?" Puspa menengok ke arah Mas Dwi. "Kamu yang larang, ya?"


"Apaan! Padahal dari tadi aku diem aja," sungut Mas Dwi.


"Bukan Mas Dwi kok, Kak, tapi Papa sama Mama kayaknya gak bakal kasih izin. Lagi pula, kata Papa aku harus S2."


"Ya S2 di Singapur aja! Bisa, kan?"


"Nanti deh aku pikirin lagi, Kak," jawab Tria. Bersamaan dengan itu, terdengar ponselnya berdering. "Bentar ya, Kak!" pamitnya pada kami dan langsung berlari ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu, bisa gak sih gak usah mainin jarinya Lena gitu? Geli tau liatnya!" protes Puspa. Iya, sejak tadi Mas Dwi memang memainkan jari kelingkingku, entah apa tujuannya.


"Sirik aja!" sungut Mas Dwi yang kini justru menarik tubuhku sehingga membuat kepalaku bersandar di bahunya. "Gimana? Udah makin risih?" ledek Mas Dwi.


"Si*lan!" Lagi-lagi Puspa melempar bantal yang ada di pangkuannya ke wajah Mas Dwi. Yang dilempar justru tertawa dengan puas.


"Aku itu gak berniat buruk sama kamu, Pus!"


"Bodo amat!" sungut Puspa lagi.


"Sensi banget! Padahal niatku baik. Aku pengen kamu itu bisa kayak kami." Mas Dwi pun melepaskan rangkulannya dan duduk lebih tegak.


"Bisa pamer kemesraan?" tandas Puspa.


"Hei, bukan itu! Cobalah untuk lebih terbuka sama pasanganmu! Aku tau kamu bisa melakukan semuanya sendirian, tapi dengan begitu laki-laki jadi merasa gak berguna kalau kamu tetep jadi dirimu yang seperti ini," jelas Mas Dwi.


"Kalau mereka gak berguna, terus aku juga yang salah?" Nada bicara Puspa lumayan ketus. Sepertinya dia benar-benar berbeda jalan pikirannya dengan kami.


"Emm… aku boleh ikut ngomong gak?" tanyaku memberanikan diri.


"Boleh, boleh banget! Aku lebih suka kalau kamu yang ngomong daripada suamimu yang nyebelin itu!" jawab Puspa dengan mantapnya.


"Dasar wanita!" ledek Mas Dwi, lalu ia tiba-tiba mencium pipiku dan beranjak dari posisi duduknya.


"Woah, bener-bener!" geram Puspa. Namun, ia tak memiliki barang lagi untuk dilempar dan itu membuat Mas Dwi merasa semakin menang. Terlihat dari tawanya yang sangat lepas.


"Mas, jahat ih! Sana buruan masuk, bikin orang kesel aja!" usirku juga. Meski sebenarnya terlihat lucu, namun aku juga pasti merasa kesal kalau ada di posisi Puspa.


Dengan tawa yang masih tersisa, Mas Dwi pun melangkah masuk ke dalam kamar dan meninggalkan kami berdua.


"Kukira semenjak punya istri, dia bisa lebih kalem. Eh, ternyata sama aja!" gerutu Puspa.


"Kayaknya mau sampai kapanpun, Mas Dwi bakal tetep jadi orang yang sama, sih," balasku.


"Ya, sebenernya aku seneng liat dia yang kayak gini. Aku pernah kehilangan sosok Dwi yang asli, dan aku bersyukur kamu bisa kembalikan sosok Dwi itu lagi," jawab Puspa dengan senyuman, namun sorot matanya memancarkan keharuan.


"Jadi, sebelumnya Mas Dwi pernah berubah?" tanyaku penasaran, meskipun sudah kutebak kalau penyebabnya adalah Layla.


Puspa mengangguk pelan, lalu menjawab, "Semenjak Dwi ketemu perempuan itu, dia banyak berubah. Entah apa penyebabnya, yang pasti akhirnya terbukti kalau perempuan iblis itu bukan perempuan baik-baik. Seandainya aku bisa ketemu perempuan itu lagi, rasanya ingin kujambak rambutnya sampai botak."


"Hm, aku mengerti." Aku mengangguk setuju, bahkan aku berharap perempuan itu mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan.


"Satu info sih yang udah aku dapetin. Dia ternyata tinggal gak jauh dari desa ini, anaknya perempuan umur 2 tahunan."


"Oh iya? Memang sebelumnya dia tinggal di mana?"

__ADS_1


"Lumayan jauh dari sini, karena mereka kenal itu di kampus. Dan kalau dia tinggal deket sini kemungkinannya ada dua. Yang pertama, suaminya memang orang sini dan yang kedua..., dia mau ngusik Dwi lagi."


__ADS_2