Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 40


__ADS_3

Sepanjang jalan, Naura seperti tidak memiliki salah sama sekali. Ia bersenandung kecil sembari memainkan ponselnya. Aku dan Mas Dwi saling diam, aku juga tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


Tak lama kemudian Mas Dwi meraih tanganku dan menggenggamnya. Hal itu biasa ia lakukan jika pikirannya sedang tidak baik dan kami sedang dalam perjalanan. Kulihat dari spion tengah, Naura tak bereaksi apapun. Ia tetap asyik dengan ponselnya, aku tak bisa mengerti apa yang ia pikirkan sebenarnya.


"Makasih banyak ya, Len!" ucapnya sebelum turun dari mobil.


"Oke, sama-sama," jawabku.


Ia pun membuka pintu mobil, turun dan menutupnya lagi dengan cepat lalu lari ke dalam rumah. Hujan masih belum juga reda, kalau ia tidak cepat maka akan basah kuyup. Mas Dwi menghela napasnya, kemudian melajukan mobil kembali.


"Mas," panggilku.


"It's ok, gak apa-apa," jawab Mas Dwi sembari menengok sebentar dengan senyum yang ia sematkan di bibirnya.


Ketika sudah masuk jalan besar, ia kembali menggenggam tanganku dengan tangan bebasnya. Pandangannya fokus ke depan tanpa bicara apapun.


"Sayang, ini terakhir kalinya dia naik mobil kita, ya!" ucap Mas Dwi ketika kami baru turun dari mobil.


"Iya, Mas," jawabku.


Kami kembali larut dalam keheningan. Dalam pikiranku terlintas berbagai macam pertanyaan. Ekspresi Mas Dwi tak bisa kubaca, ia terlihat santai dan tenang. Namun, apa yang membuatnya diam seperti ini? Bukankah seharusnya aku yang kesal?


Mataku fokus melihat tetesan air yang mengalir ke atas karena tertiup angin di kaca depan mobil. Hujannya tak juga reda, ditambah angin yang bertiup lumayan kencang. Meski begitu, untungnya tidak ada petir yang menyambar. Kendaraan yang lalu lalang juga tidak banyak, mungkin hanya orang-orang yang baru pulang dari tempat kerja.


Awalnya hanya mengamati tetesan air, namun lama-kelamaan aku menyadari kalau laju mobil kami semakin ke kanan dan hampir masuk ke badan jalan yang berlawanan arah dengan kami.


"Mas-Mas! Mobilnya!" Aku berteriak sembari menepuk bahu Mas Dwi.


Mas Dwi langsung banting stir ke arah kiri dan menghentikan laju mobil kami. Jantungku berdegup kencang karena takut. Kondisi jalan seperti ini rawan sekali karena mobil dari jauh lumayan tidak terlihat karena tertutup hujan. Mas Dwi juga langsung menyandarkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Mas kenapa ngelamun?" tanyaku khawatir.


"Maaf," ucapnya lirih tanpa melihat ke arahku.


"Mas, Mas gak apa-apa, kan?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa kok."


Mas Dwi masih tak melihat ke arahku. Ia langsung kembali menyalakan mesin mobil, namun kutahan.


"Mas mau kita berdua mati, hah?" bentakku.


"Maksudmu apa?" balas Mas Dwi yang tak kalah keras seraya melihat ke arahku.


Aku tidak menjawabnya, ia menatapku sejenak lalu menghela napas. "Maaf, maafkan aku," ucapnya seraya kembali bersandar dan mengacak rambutnya asal. Ia tak pernah terlihat sekacau ini.


"Biar aku yang menyetir, Mas istirahat aja!" saranku. Bukan waktu yang tepat untuk menginterogasinya meski aku ingin.


"Gak apa-apa, aku masih bisa kok. Aku akan bawa mobilnya pelan-pelan. Aku gak akan sebod*h itu untuk membunuh kita berdua," jawabnya dengan yakin seraya kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju perlahan.


Tidak terlalu jauh, sebentar lagi kami sampai di rumah. Namun, tentu saja aku masih was-was. Aku ikut memperhatikan jalanan dengan mobil yang melaju dengan lambat. Sesekali aku melirik ke arah Mas Dwi, pandangannya lurus ke depan. Terlihat ia sedang mengatur napasnya.


Sampailah kami di rumah, Mas Dwi keluar mobil dan masuk sendiri ke dalam rumah tanpa menungguku. Aku masih berusaha menahan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Mas Dwi kenapa, Kak?" tanya Tria yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Belum sempat aku membuka omongan, ia lebih dulu bicara padaku, "Kamu istirahat aja dulu, aku mau lanjut kerja."


Ucapannya begitu pelan namun tegas. Tersirat kalau ia sedang tidak ingin dibantah apalagi diganggu. Aku pun mengangguk pelan dan meninggalkan Mas Dwi dengan kesibukannya. Ia mulai menghidupkan komputer dan membuka berkasnya.


Dua jam berlalu, Mas Dwi belum berpindah dari tempatnya. Ia masih menyibukkan diri dengan berkasnya.


"Mas, makan dulu yuk! Nanti dilanjut lagi kerjanya," ajakku pelan.


"Kamu duluan aja, ya! Nanti aku ambil sendiri," jawabnya sembari menatapku sebentar lalu kembali menatap layar monitor.


"Ah, iya. Ya udah kalau gitu," jawabku pasrah. Aku tidak berani mengusiknya. Ia tidak seperti Mas Dwi yang biasanya.


Aku ke luar kamar dan mendapati Tria sedang makan di meja makan.


"Mas Dwi mana, Kak?" tanya Tria ketika aku baru duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ada, lagi sibuk," jawabku. Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin aku bisa menelan makanan?


"Lagi sibuk kerja?" tanya Tria lagi. Aku hanya mengangguk. Mood-ku ikut berantakan.


"Aku jadi ingat waktu dulu Mas awal-awal gagal menikah, sama seperti itu. Tapi dulu lebih parah sih." Ucapan Tria membuatku tertegun.


"Maaf, coba ulangi! Gimana maksudnya?" pintaku pada Tria.


"Ya intinya Mas kalau udah stres memang begitu. Dia lampiaskan sama pekerjaan dan gak mau diganggu. Memang lagi ada masalah ya, Kak?"


Aku menggeleng lagi. Aku sendiri tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Dulu waktu ada masalah dengan Reyna, Mas Dwi tidak masalah, mengapa kali ini berbeda?


"Jangan kebiasaan bergosip, gak baik tahu!" ujar Mas Dwi, tiba-tiba ia sudah berdiri di belakangku dan menuang air minum.


Aku dan Tria saling pandang. Mas Dwi terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi sesuatu. Ekspresinya kembali seperti biasanya, namun aku merasa masih ada yang ia sembunyikan.


"Mbak, tolong buatkan kopi ya!" pinta Mas Dwi pada Mbak Arum yang masih merapikan kompor.


"Baik, Pak," jawab Mbak Arum.


"Kalian kenapa diem aja? Pasti tadi lagi ngomongin aku, ya?" tanya Mas Dwi padaku dan Tria.


Aku tidak bisa mengatakan apapun, otakku seperti sedang memproses sesuatu yang begitu berat.


"Iya, Mas nyebelin," balas Tria seraya meletakkan piringnya di bak cuci dan melangkah ke luar.


"Kamu kenapa diem aja, Sayang?" tanya Mas Dwi lembut sembari mengusap bahuku.


"Mas aneh." Kata-kata itu terlontar begitu saja, pikiranku sedang tidak mengerti sedang ada di situasi apa aku saat ini.


"Maaf, ya, tadi aku pusing, di kantor ada masalah lagi. Dana untuk gaji ada yang terselip, sehingga ada beberapa karyawan yang gajinya masih tertahan," jelasnya.


"Terselip? Kok bisa?" tanyaku.


Mas Dwi menggeleng. "Aku juga belum tahu, sekarang masih proses penyelidikan. Kemarin semuanya udah fix, gak tahu gimana bisa berubah dalam waktu sehari begitu," jawab Mas Dwi.

__ADS_1


Konsentrasiku mulai terbagi. Firasat burukku tentang Mas Dwi mulai tergeser dengan masalah yang baru ia ungkapkan. Tentu bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah terkait dengan hak orang lain seperti ini.


__ADS_2