![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Tante Meira : Hari ini jadwalnya kita cari baju pengantin. Jangan terlambat!
Sepulang kerja, aku dan Mas Dwi dipaksa untuk datang ke sebuah butik. Sesampainya di sana, kami langsung disambut Tante Meira dan rekannya.
"Halo, ini calon pengantinnya, ya?" ujar lelaki yang ada di sebelah Tante Meira. Aku sedikit terkejut. Lelaki itu cukup tampan, bahkan kuakui lebih tampan dari Mas Dwi, tapi cara bicaranya sedikit melambai.
"Ha--halo," jawabku sedikit tergagap.
"Jangan tegang gitu ah! Kenalin, Senora ini yang akan bantu memilihkanmu gaun pengantin," ujar Tante Meira memperkenalkan.
"Halo cantik, panggil aja Kak Sen," ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata.
"Ah ... haha iya, Kak Sen. Saya Alena."
"Cantik seperti orangnya," ujarnya lagi. Aku hanya tersenyum. Kemudian ia melirik ke arah Mas Dwi. "Dwi, lu gak inget gue?"
"Urusin aja calon gue, gak usah usil!" ujar Mas Dwi. Ternyata mereka berdua saling kenal.
"Cih! Masih galak aja lu," ujarnya pada Mas Dwi, lalu kembali melihatku. "Cantik, kok mau sih menikah sama lelaki galak macem Dwi?" tanya orang itu padaku.
"Ahh, Mas Dwi gak galak kalau sama saya, Kak," jawabku seraya tertawa kecil.
"Dwi mah ngalah kalau sama perempuan. Mana bisa galak dia," tambah Tante Meira.
"Tapi kok lu sangar sih ke gue?" tanyanya lagi pada Mas Dwi.
"Lu cowok, heh! Gue juga masih normal Seno!" ujar Mas Dwi tegas, sontak membuatku dan Tante Meira menahan tawa.
"Gue juga normal padahal. Cih! Negatif mulu lu sama gue," ujarnya lagi seraya mengalihkan pandangannya ke arahku. "Yuk, cantik! Kita pilih gaun yang cocok buatmu. Dwi suruh pake karung goni aja," ujarnya dengan nada kesal.
"Iya, Kak." Aku mengikuti berjalan di belakangnya sambil menahan tawa.
Mas Dwi dan Tante Meira juga ikut melangkah di belakangku. Aku diajak masuk ke ruang koleksinya. Semuanya cantik dan terlihat elegan. Aku belum pernah melihat pakaian secantik ini sebelumnya.
"Seandainya waktu menikah kalian masih lama, gue bisa tuh bikin baju khusus untuk pernikahan kalian. Sayangnya tinggal sebentar lagi sih, jadi dari pada hasilnya kurang bagus mending pilih aja yang udah jadi," ujarnya sambil memandangi manekin berbalut gaun yang berjajar di depan kami.
Aku hanya tersenyum, meski rasanya semua begitu mendadak sepertinya aku tidak akan menyesal menikah dengan Mas Dwi. Ketika aku melihat ke arahnya, mata kami bertemu pandang. Ia pun tersenyum. Ah, aku benar-benar jatuh cinta padanya.
"Alena," bisik Kak Sen tepat di telingaku.
"Iya?" ujarku terkejut.
"Sudah berapa bulan?" bisiknya lagi.
"Hm? Apanya kak?" tanyaku tidak mengerti.
"Itu, yang di dalam perut." Seketika aku terkejut. Apa-apaan?
"Maaf, Kak. Saya belum hamil," jawabku sesopan mungkin. Aku sedikit tersinggung.
"Ahh ... jangan malu-malu! Bukan aib kok. Udah banyak klien gue yang mendadak menikah seperti kalian." Pernyataannya membuatku terbelalak.
__ADS_1
"Udah dibilang kan, jangan ganggu calon istri gue!" ujar Mas Dwi yang tiba-tiba menyela kami berdua.
"Hah! Gak asik." Kemudian ia masuk ke sebuah ruangan.
"Jangan terlalu dipikirkan, Len! Lingkungan kita yang sudah terlalu buruk. Jadi ketika ada yang menikah mendadak, orang-orang akan mengira kalau mempelainya sudah hamil. Sabar ya!" ujar Tante Meira menenangkanku.
"Iya, Tante. Terima kasih."
Aku diminta untuk mencoba beberapa gaun. Karena pernikahan kami akan diselenggarakan dengan sederhana, aku dan Mas Dwi setuju untuk memilih gaun yang sederhana namun tetap elegan. Dan lagi, karena tamu undangan tidaklah banyak, aku hanya memilih satu kebaya untuk akad dan satu gaun untuk acara resepsi. Tidak akan memakan waktu banyak di acara resepsi, satu gaun saja sudah cukup.
"Apa kamu lelah?" tanya Mas Dwi ketika mobil baru saja berhenti di depan kostanku.
"Yah, lumayan. Padahal hanya pilih gaun, tapi rasanya cukup melelahkan."
"Sabar ya! Lelahmu akan terbayar sebentar lagi," ujarnya seraya tersenyum.
"Iya, Mas. Semoga semua berjalan lancar."
..
Keesokan harinya, jadwal kami memilih dekorasi untuk gedung. Gedung sudah siap, tinggal dekorasinya saja yang perlu kami tentukan. Hari ini kami ditemani oleh sepasang karyawan yang merupakan tim dari WO yang bertanggungjawab atas acara kami.
Dengan bantuan dari tim WO, kami berhasil menentukan dekorasi yang cocok dalam waktu yang lebih cepat dari pada perkiraan. Selain menentukan dekorasi, kami juga diajak untuk memilih menu makanan apa yang sekiranya nanti akan dihidangkan.
Aku sadar, hal paling penting nomor dua ketika kondangan ialah mencicip makanannya. Nomor satu tentu saja mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Maka dari itu, makanan yang dihidangkan haruslah yang terbaik, tidak boleh asal-asalan.
Hari ini cukup. Rencananya hanya memilih dekorasi saja, tapi karena waktunya masih panjang akhirnya kami memutuskan untuk memilih menu makanan juga. Tiga dari sekian banyak list akhirnya selesai. Besok waktunya menemui make up artist. Harusnya bisa sekalian waktu kami memesan gaun, tapi kebetulan MUA-nya sedang ada urusan lain, jadi kami harus menunda sampai besok.
"Masih kuat?" tanya Mas Dwi lagi. Setiap kami baru saja kembali dari mengurus persiapan pernikahan, ia selalu menanyakan keadaanku. Padahal aku tahu, dia juga pasti lelah.
"Apa kamu meremehkan aku?" tanyanya seraya memiringkan kepala.
"Hahh ... memang melelahkan, tapi rasa bahagiaku berhasil menutupi rasa lelahku," ujarku. Ia pun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepalaku.
"Apa kamu mau ambil cuti?" tawarnya.
"Jangan manja! Nanti karyawan lain iri pada kita," tolakku mentah-mentah.
"Kenapa harus iri? Tiap orang kan punya jatah cuti masing-masing. Aku belum pernah ambil cuti dalam tiga tahun terakhir," ujar Mas Dwi membuatku terkejut.
"Tiga tahun, Mas?" tanyaku tak percaya. Ia mengangguk.
"Ambil cuti juga untuk apa? Dulu hampir ambil cuti untuk menikah, tapi ternyata gagal. Gak papa sih, sekarang aku dapat pengganti yang jauh lebih baik," ujarnya seraya mengusap pipiku. Kurasakan wajahku kembali merona.
"Jangan terus-terusan menggodaku, Mas! Kamu tahu persis kalau jantungku gak sehat jika berada di dekatmu," ucapanku membuatnya terkekeh geli.
"Maaf, aku suka melihat pipimu yang memerah. Rasanya ingin sekali kugigit," ujarnya gemas seraya mencubit pipi kananku.
"Aku ragu kalau dirimu itu manusia, Mas."
"Iya, aku juga. Apa mungkin aku ini malaikat?"
__ADS_1
"Aku menyesal sudah mengatakannya tadi," ujarku seraya membuang pandangan ke luar jendela. Sejenak kami diam, ia membuka handphonenya, tiba-tiba perutku kembali meronta.
"Em ... Mas ...."
"Iya? Ada apa?" tanyanya kemudian memasukkan handphonenya lagi ke saku celana.
"Mumpung masih jam sembilan, apa mas mau menemaniku sebentar?"
"Kemana?"
"Aku ingin makan ayam goreng."
"Dasar! Ya sudah, pakai lagi sabuk pengamanmu. Kita ke restoran cepat saji yang ada di ujung jalan."
"Terima kasih, Mas," ujarku seraya memasang sabuk pengaman.
"Sebenarnya aku juga lapar."
"Oh ya?"
"Sepertinya kita terlalu lelah. Gak papa makan saja, kalau kenyang kan tidur juga nyenyak," ujarnya kemudian menghidupkan mesin mobil lagi.
Kami lanjut ke restoran. Sepertinya kami terlalu lelah bergerak dan berpikir, kami jadi mudah lapar. Terlebih aku ingat pesan Kak Sen kemarin, katanya aku terlalu kurus. Mungkin itu salah satu penyebab nafsu makanku kembali naik.
..
"Jadi, siapa saja yang akan kita undang, Mas?" tanyaku dengan buku dan pulpen yang sudah siap di tangan.
"Tinggal kenalanmu dan orang kantor saja. Teman-temanku dan keluargaku sudah beres semua."
"Ah, begitu ya. Kenalanku, siapa ya?" Aku berpikir keras. Sejak keluar dari sekolah, aku tidak punya teman sama sekali. Semuanya lost contact. Siapa temanku?
"Teman SD? SMP? SMA?" tanya Mas Dwi. Aku menggeleng.
"Aku mungkin masih ingat rumah mereka, tapi aku gak yakin mereka masih tinggal disana. Aku juga bukan SMA di desa ini, jadi teman-temanku jauh."
"Ya sudah, toh resepsi kita juga gak terlalu besar. Undang yang memang dekat denganmu saja. Irvan misalnya."
"Ah iya, dia gak mungkin terlewat sih. Kalau bukan karena dia mungkin aku sudah masuk ke dalam hutan waktu itu."
"Dasar kamu ini!"
"Oh iya, Mas, Reyna diundang gak?" Tiba-tiba namanya terlintas di pikiran ku.
"Apa yakin kamu akan mengundangnya? Waktu dia menumpahkan kopi saja, kamu terlihat sangat emosi," ujar Mas Dwi dengan ekspresi yang menahan tawa.
"Bahagia sekali bisa membuatku cemburu, Mas," ujarku seraya meliriknya sinis.
"Bahagia dong! Kapan lagi seorang Alena terang-terangan membuktikan kalau dia mencintaiku?" tanyanya meledek.
"Mas! Ish! Awas ya!" ujarku seraya mengangkat buku hendak memukul.
__ADS_1
"Pukul saja kalau berani!" tantang Mas Dwi sambil tertawa.
Sungguh laki-laki ini sangat menyebalkan, tapi aku mencintainya.