Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
35


__ADS_3

Aku tersenyum sendiri jika terbayang akan apa yang sudah kulewati beberapa hari yang lalu. Pertemuan keluarga yang awalnya kukira akan mengerikan, ternyata jauh dari perkiraan. Mama yang ditemani oleh adik dari almarhum Papa, bisa menyambut keluarga Mas Dwi dengan baik.


Mungkin terbalik jika dibandingkan proses pra-nikah pada umumnya. Biasanya pertemuan keluarga dilakukan sebelum persiapan, sedangkan kami persiapan dulu baru pertemuan keluarga. Hal ini dikarenakan dari pihak keluarga Mas Dwi yang menginginkan kami segera menikah, sedangkan keluargaku mengikuti alur saja asalkan calonku tepat dan sesuai dengan yang aku inginkan.


Sedikit mengejutkan, ternyata Om Hermansyah adalah mantan rekan kerja pamanku ketika mereka sama-sama baru merintis karir. Jadi, yang terjadi ketika pertemuan keluarga tidak hanya membahas tentang rencana pernikahanku dan Mas Dwi, tapi lebih banyak membahas tentang nostalgia mereka. Biasalah, terkadang ketika orang terlalu dekat mereka ingin menjadi saudara dan kini doa mereka berdua akan segera terkabulkan.


Dengan perasaan yang cukup tegang, aku membawa lembaran undangan untuk kubagikan ke teman-teman kantor. Apa mungkin mereka akan berpikir hal yang sama seperti Kak Sen kemarin? Semoga saja tidak.


Demi menghemat tenaga, aku membagikan undangan itu di jam makan siang. Sudah pasti aku tidak sendirian, Mas Dwi turut mendampingi aku.


"Wow! Akhirnya rilis juga undangannya," ujar Atika.


"Iya nih. Kemarin katanya belum yakin, surprise ternyata," tambah Mas Dika.


"Iya, hebat kali lah Pak Dwi dan Lena ini. Diam-diam langsung sebar undangan aja. Selamat ya semoga lancar semuanya!" Mas Bobi menyahut.


Kami berdua menjawab dengan hati yang begitu bahagia. Senang melihat respon mereka semuanya baik. Tidak ada yang mempertanyakan alasan dibalik tanggal pernikahan yang tinggal menghitung hari.


"Sebentar-sebentar, 25 Juli bukannya hari ulang tahunmu, Len?" tanya Atika kemudian. Aku sedikit terkejut ada yang menyadari hal itu.


"Hehe, iya. Kami sepakat untuk memilih tanggal yang sama," jawabku malu-malu.


"Luar biasa sekali. Pak Dwi orang yang sangat romantis ternyata," ujar Mas Dika. Entah mengapa aku merasa mereka begitu bahagia hari ini. Sungguh aku sangat bersyukur.


Di kantor, Mas Dwi memang terkenal sebagai sosok yang ramah dan tegas. Di luar jam kerja ia juga tidak begitu banyak bicara, lebih banyak berperan sebagai pendengar. Dalam dua tahun terakhir, sejak awal aku kenal dengannya belum pernah kudengar berita buruk tentang dirinya. Aku lah yang hampir mencemarkan namanya akibat ulah Tasya.


Sore hari, sebelum kami pulang kerja, Tasya menghampiri meja kerjaku. Aku cukup terkejut, sebab sejak kejadian waktu itu ia tidak pernah menyapaku lagi.


"Hai, Len," sapanya sambil berdiri di sebelahku. Ia sudah membawa tas jinjingnya, berarti dia akan segera pulang.


"Eh, Tasya. Ada apa?" responku senetral mungkin.


"Emm, selamat ya atas rencana pernikahanmu dengan Pak Dwi. Semoga berjalan lancar!"


"Ah, iya. Amin. Terima kasih banyak."


"Apa aku boleh bicara sebentar?" tanyanya ragu.


"Boleh, silakan! Aku juga sudah selesai kok," ujarku.

__ADS_1


Jujur aku sedikit takut karena bisa saja ia akan berbuat jahat. Di ruangan ini hanya ada kami berdua, yang lain sudah pulang. Ia mengambil salah satu kursi dan duduk di sebelahku.


"Sebelumnya, aku mau berterima kasih." ujarnya memulai pembicaraan.


"Untuk apa?" tanyaku tak mengerti.


"Terima kasih karena kamu mau memaafkan bahkan gak menuntutku. Padahal aku sama sekali gak meminta maaf padamu," ujarnya dengan pandangan lurus ke bawah. Mungkin ia takut menerima responku. Aku pun tidak bicara apa-apa, aku ingin menyimak dulu apa saja yang akan ia katakan.


"Lalu, aku mau minta maaf. Maaf atas semua kesalahanku padamu. Maaf atas nama baikmu yang tercemar karena ulahku." Kali ini suaranya sedikit bergetar.


"Aku sudah memaafkanmu kok, tapi apa kamu bisa memberitahuku apa sebenarnya penyebabnya? Apa aku punya salah sehingga kamu dendam terhadapku?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Itu sebenarnya bukan kesalahanmu. Semua terjadi karena otakku yang terlalu licik dan penuh dengan iri dengki," ujarnya.


"Iri? Bahkan aku gak punya sesuatu yang bisa aku sombongkan," ujarku bingung.


"Aku bekerja di kantor ini jauh sebelum kamu datang, kamu terlalu pendiam tapi hampir seisi kantor mengenalmu dan menilaimu baik. Kamu jarang bergabung dengan kami, tapi begitu kamu datang semua bisa berbaur seolah kamu memang sering bersama dengan kami."


Aku menyipitkan kedua mataku. Kata-katanya sedikit berbelit, aku kurang begitu paham.


"Sebentar, bisa to the point saja? Maaf aku sulit mencerna kalimatmu barusan," ujarku jujur.


"Eh?" Aku cukup terkejut kali ini. "Maaf, tapi bukannya mereka semua memang baik? Bahkan mereka memang baik sejak awal, sejak pertama kali aku bekerja di sini," ungkapku sesuai dengan apa yang aku rasakan.


"Iya, memang itu yang terjadi denganmu, tapi berbeda dengan yang aku terima."


Kami diam sejenak. Aku berusaha mengingat-ingat. Tasya ini sosok orang yang pandai membuka pembicaraan dan pandai bergaul, mana mungkin aku bisa lebih beruntung dalam hal ini?


"Ada satu lagi," ujarnya lagi. "Kamu bisa mendapatkan apa yang gak bisa aku dapatkan."


"Apa itu?" tanyaku antusias.


"Pasangan yang sempurna."


"Pak Dwi?" tanyaku.


"Dan Robi." tambahnya.


Mendengar nama itu lagi, sontak aku sangat terkejut. Bagaimana mungkin ia tahu nama Robi? Bahkan aku tidak pernah menceritakan padanya ataupun membagikan urusan pribadiku di sosial media.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti terkejut. Apa kamu ingat kalau aku memiliki tunangan?" tanyanya lagi. Kali ini dia sudah berani mengangkat wajahnya.


"Ah, iya, aku ingat. Lalu?"


"Robi itu man--"


Ceklek.


Pintu ruangan kami terbuka. Mas Dwi muncul di sana. Kami berdua pun menengok ke sumber suara.


"Ah, apa aku menganggu? Aku akan menunggu di mobil," ujar Mas Dwi.


"Gak kok, Pak. Kami sudah selesai," ujar Tasya dengan senyum yang dipaksakan lalu ia berdiri dan keluar ruangan. Aku hanya menatapnya bingung. Ingin kuperjelas ucapannya yang terpotong tadi, tapi aku juga masih ada agenda lain sepulang kerja.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mas Dwi ketika ia sudah sampai di depan mejaku.


"Bukan apa-apa. Nanti akan kuceritakan," jawabku seraya mematikan komputer dan membereskan meja kerja.


Hari pernikahan kami kurang lebih tiga minggu lagi. Tinggal souvernir yang belum kami urus. Sebelum ke toko souvernir, kami pergi ke tempat makan terlebih dahulu agar bisa fokus dalam memilih.


"Jadi, Tasya punya dendam padamu?" Mas Dwi menyimpulkan ceritaku sembari mengaduk teh lecinya.


"Mungkin, aku kurang bisa mengerti. Ucapannya terlalu berbelit-belit."


"Sepertinya aku paham. Awal masuk kerja, aura Tasya gak seceria saat kamu mengenalnya. Dia jauh lebih suram dari pada kamu."


"Aku suram?" tanyaku dengan mata menyipit. Mas Dwi pun terkekeh.


"Sedikit," ujarnya dengan tawa yang masih tersisa. "Kamu memang bukan anak yang mudah berbaur dan suka menyendiri, tapi kamu masih mau tersenyum dan bicara dengan orang yang kamu temui meskipun hanya sekedar menyapa."


"Dia gak mau?" tanyaku tidak percaya.


"Iya, dia terlalu diam dan sinis. Beberapa kali aku berikan teguran, hampir kukeluarkan surat peringatan. Akhirnya perlahan dia menjadi lebih baik dan seperti Tasya yang kamu kenal."


"Apa mungkin sebelumnya dia punya masalah?"


"Entahlah. Mungkin saja begitu."


Tak lama kemudian makanan kami datang. Obrolan kami terhenti dan mulai fokus menikmati makanan. Namun di pikiranku masih terngiang ucapan Tasya yang menggantung. Apa mungkin Robi itu mantannya? Apa dia juga tersakiti seperti aku?

__ADS_1


__ADS_2