Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 23


__ADS_3

Krucuk-krucuk-krucuk.


Suara perut mengganggu konsentrasi belajarku. Aku baru makan malam sekitar satu jam yang lalu, namun entah mengapa aku sudah kembali merasakan lapar. Kututup buku tugasku dan pergi ke dapur. Terlihat Kak Julia dan Tria sedang menonton TV bersama. Meski aku belum bisa bergabung dengan mereka, tapi aku senang. Kini Tria lebih banyak menghasilkan waktu di rumah.


Kuambil dua potong roti dan memanggangnya, lalu membuat telur dadar serta irisan selada sebagai isiannya. Niat awal dari kamar hanyalah mengambil camilan, namun niat tinggallah niat karena seleraku tiba-tiba berubah.


"Malam-malam begini mau bikin apa, Kak?" tanya Tria dari ruang tengah.


"Roti isi, kamu mau?" Aku balik bertanya.


"Boleh," jawabnya lagi.


Yang kusuka dari Tria, dia tidak malu untuk bertanya bahkan meminta. Dengan begitu aku merasa tidak ada batasan antara kakak dan adik ipar. Asal masih paham aturan dan batas kesopanan, aku tidak masalah.


Aku membuat lima potong roti isi, untukku dua potong, sedangkan Tria, Kak Julia dan Mas Dwi masing-masing sepotong. Yah, entah Kak Julia akan memakannya atau tidak, sepertinya akan lebih buruk jika ia tidak kubuatkan. Faiz tidak ada di sana. Jikalau memang nanti Kak Julia meminta dua potong, maka akan kuberikan bagianku.


"Ini rotinya," ujarku setelah roti isi selesai kubuat dan kuberikan pada Tria.


"Makasih, Kak," ucap Tria seraya menerima piring roti itu dari tanganku.


Kak Julia tetap fokus menatap layar TV tanpa mengacuhkan kehadiranku. Lebih baik begitu dari pada banyak bicara seperti biasanya. Ternyata ancaman Mama Meira lumayan manjur untuk menghentikan perilaku buruk Kak Julia, meski kini Mama sudah kembali ke rumahnya. Sedikit tidak enak, kami sudah sama-sama dewasa, tapi harus melibatkan orang tua hanya untuk menyelesaikan masalah seperti ini. Namun, di sini aku hanyalah seorang pendatang, aku tak punya banyak kendali.


"Kakak gak mau makan di sini aja?" tanya Tria padaku. Aku sedikit kaget mendengarnya.


"Mmm ... aku masih ada tugas yang harus di kumpulkan besok," tolakku.


Kak Julia melirik sinis ke arahku. Aku pun membuang pandangan ke arah lain. Selain karena tugasku yang belum selesai, aku juga enggan bergabung karena ada Kak Julia. Aku tidak ingin merusak mood-ku jika nanti ada kata-kata tajam lagi yang dibuat oleh lidahnya.


Kulangkahkan kembali kakiku ke kamar. Baru hendak membuka pintu kamar, Kak Julia bertanya padaku, "Mobilmu besok dipakai gak? Aku mau pinjam."


"Nggak, pakai aja," jawabku singkat seraya menengok ke arahnya.


Ia kembali menatap layar TV dan tak mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengelus dada dan masuk ke kamar. Manusia yang tidak tahu terima kasih.


"Kamu bikin apa, Sayang?" tanya Mas Dwi ketika aku baru masuk.


"Roti," jawabku dengan nada kesal dan meletakkan piringku di atas meja kerja Mas Dwi.


"Kamu kenapa, Sayang? Hm? Kok mood-nya kayaknya rusak gitu," tanya Mas Dwi lagi.


"Biasa," jawabku seraya kembali ke ranjang. Mas Dwi mengikutiku dan duduk di sebelahku.


"Ada apa lagi sih? Kak Julia?" Mas Dwi langsung bisa menebak biang masalahnya.


"Hahhh...." Aku mendengus kesal. "Pinjem mobil tapi gak ada terima kasihnya sama sekali," gerutuku.

__ADS_1


"Kak Julia pinjem mobil lagi? Sekarang?"


"Besok mungkin," jawabku sembari memindahkan buku-buku ke atas meja dan berbaring.


"Mau ke mana lagi sih orang satu itu?" Kini Mas Dwi ikut menggerutu. Aku diam saja, kupejamkan mataku erat-erat, aku ingin segera tidur dan melupakannya.


"Kamu mau tidur? Tugasnya udah selesai?" tanya Mas Dwi lagi.


"Besok pagi aja, sekarang gak bisa mikir," jawabku.


"Rotinya gak dimakan?" Ia bertanya lagi. Aku pun membuka mata dan menatapnya kesal.


"Ya udah, iya, tidur gih! Nanti aku aja yang makan," ujarnya. Kemudian ia tersenyum dan mengusap rambutku.


Aku kembali memejamkan mata. Mas Dwi mengecup keningku sekali lalu kembali ke meja kerjanya. Kubuka kembali mataku dan melirik ke arahnya. Ia mengambil sepotong roti dan memakannya sembari menyelesaikan pekerjaan.


..


Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu kamar kami dengan keras.


"Lena! Di mana kunci mobilnya?" Terdengar suara yang cukup keras dari depan kamar.


Aku yang masih terpejam langsung terperanjat. Kesadaranku belum sepenuhnya pulih, aku masih berusaha mencerna kalimat yang tadi kudengar.


"Lena buruan, aku buru-buru!" teriaknya lagi sembari menggedor pintu kamarku.


"Jadi manusia punya aturan apa nggak, sih?" bentak Mas Dwi. "Ini masih pagi, kalau butuh bantuan itu yang sopan!" Bentakannya semakin keras dan membuatku pusing.


"Aku mau pinjam mobil dan aku buru-buru, mana kuncinya? Aku pinjam dari semalam bukannya langsung kasih kunci malah enak-enakan di kamar!" seru Kak Julia dengan suara yang tak kalah keras.


"Dasar manusia gak tahu diuntung!" Mas Dwi mulai mengangkat tangannya lagi dan kini ia tak bisa dihalangi. Telapak tangannya sudah mendarat dengan sempurna di pipi kiri Kak Julia.


"Mas--" panggilku hendak menghentikannya namun terlambat.


Perutku semakin mual, rasanya sesuatu sudah sampai ke tenggorokanku memaksa untuk segera dikeluarkan. Mas Dwi langsung menghampiri dan memapahku ke kamar mandi. Aku tak bisa melihat bagaimana ekspresi Kak Julia, yang pasti ia masih mematung di tempatnya sambil memegang pipi kirinya. Aku pernah merasakan itu, pasti rasanya sakit sekali.


"Sayang, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Mas Dwi yang tampak sangat khawatir. Aku menggeleng, aku masih berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganggu di perutku.


"Mas, aku pusing," ucapku. Pandanganku sedikit kabur, badanku semakin lemas dan kemudian aku kembali tidak sadarkan diri.


..


Aku menghirup aroma yang sangat tidak aku sukai, bau berbagai macam obat-obatan yang samar namun tetap saja mengganggu. Kubuka mataku perlahan, nuansa putih terlihat di mana-mana. Aku tahu, ini pasti di rumah sakit.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," ucap Mas Dwi senang namun raut wajahnya terlihat ia begitu khawatir.

__ADS_1


"Kenapa aku di sini, Mas?"


"Kamu pingsan lagi, Sayang," jawab Mas Dwi.


"Kenapa harus ke rumah sakit? Kan bisa di rumah aja kayak waktu itu."


"Aku panik, aku gak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa. Udah ya, yang penting kamu sehat dulu, jangan kebanyakan protes!" ujarnya sembari mengusap puncak kepalaku.


"Kata dokter aku kenapa, Mas?" tanyaku penasaran.


"Tekanan darahmu turun, Sayang. Tapi tenang aja, bayi kita aman kok," jawab Mas Dwi sembari menenangkanku. Aku lega mendengarnya.


"Nanti kita pulang ke rumah Mama, ya!" ujar Mas Dwi tiba-tiba.


"Loh? Kok ke rumah Mama?" tanyaku kaget.


"Aku gak mau istri dan anakku kenapa-kenapa karena manusia gak beradab itu. Aku udah kontrak rumah untuk sementara dan sekarang masih dibersihkan. Mungkin dua atau tiga hari lagi kita bisa pindah ke sana," ujar Mas Dwi. Pernyataannya membuatku semakin terkejut.


"Ngontrak? Di mana, Mas? Nanti Tria gimana?" tanyaku lagi.


"Berhenti buat mikirin orang lain, kamu jauh lebih membutuhkan ketenangan! Atau kamu mau manusia itu yang kita usir dari rumah?" Nada bicara Mas Dwi sedikit berubah, ia terlihat marah.


Aku diam tak menjawab, air mataku mengalir dengan sendirinya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Aku merasa keberadaanku justru membuat masalah untuk keluarga Mas Dwi.


"Sayang, maaf. Aku gak marah sama kamu kok. Aku marah sama Kak Julia, aku marah sama Tria yang terlalu naif. Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa," ucapnya seraya menyeka air mataku mengusap tanganku yang bebas dari jarum infus.


"Kalau aku usir Kak Julia, tentu Tria juga akan memberontak. Jadi, kupikir gak ada jalan lain selain kita yang pergi dari rumah itu. Aku udah dapat asisten rumah tangga untuk kita, jadi kamu gak perlu khawatir. Kalau di rumah Mama terlalu lama aku gak enak, nanti merepotkan," ujar Mas Dwi lagi.


Aku bisa mengerti jalan pikirannya. Aku rasa memang lebih baik seperti itu. Hanya saja, berarti pengeluaran kami akan semakin besar. Jujur, sampai detik ini aku tidak tahu berapa gaji Mas Dwi sebenarnya. Ia selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku membahas itu. Aku akan menanyakannya lagi nanti.


"Lena, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Mama yang baru masuk ke kamar rawatku.


"Lena baik-baik aja kok, Ma. Gak perlu khawatir!" jawabku.


"Gara-gara kakakmu itu, ya?" tanya Mama pada Mas Dwi. Mas Dwi melirikku, aku menggeleng. Jangan sampai Mama tahu, nanti ia bisa marah besar.


"Bu--bukan kok, Ma. Lena semalem cuma makan sedikit, jadi paginya dia belum sempat makan udah pingsan duluan," jawab Mas Dwi agak tergagap, ia tidak pandai berbohong.


"Di mana orang itu?" tanya Mama lagi. Yah, Mama tentu tidak bisa dibohongi lagi.


"Ma, udah ya! Jangan diperpanjang!" pintaku.


"Jangan diperpanjang apanya? Dia udah membahayakan anak dan cucuku!" sanggah Mama.


"Tapi sekarang Lena baik-baik aja, Ma," bujukku. Mas Dwi tampak menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.

__ADS_1


"Lena, kamu gak apa-apa, kan?"


Seseorang masuk ke kamar rawatku dan berhasil mengejutkan kami bertiga. Untuk apa manusia ini muncul lagi dihadapanku?


__ADS_2