Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 15


__ADS_3

Perlahan kubuka mataku, kepalaku masih sedikit pusing. Samar terlihat Mas Dwi duduk di sebelahku sembari memainkan ponsel dan tangan sebelahnya lagi menggenggam tangan kananku. Di dekat ranjang kami juga terlihat Mama Meira dan Papa yang langsung beranjak ketika menyadari aku sudah siuman.


"Pa, Alena siuman, Pa!" ujar Mama Meira sembari menepuk-nepuk tangan kiri Papa.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," ujar Mas Dwi.


"Mmm ... aku kenapa, Mas?" tanyaku.


"Kamu pingsan, Sayang. Ada yang sakit?"


Aku menggeleng dan bertanya, "Aku udah gak apa-apa kok, Mas. Ini ada apa, ya? Kenapa kalian kelihatannya lagi bahagia?"


"Sayang, kamu bakal jadi ibu sebentar lagi," ujar Mas Dwi dengan senangnya.


"Ibu? Maksudnya?" Aku masih belum bisa mencerna kalimat itu dengan baik.


Mas Dwi mengusap perutku dengan lembut. "Di sini ada anak kita, Sayang," ucapnya.


"Anak? Aku ha--hamil?" tanyaku tak percaya. Mas Dwi mengangguk dengan semangat.


"Selamat ya anakku, akhirnya akan ada bayi kecil yang bisa meramaikan rumah kita," ucap Mama Meira yang tak kalah gembira. Papa juga tersenyum menatapku meski ia tak mengucapkan apa-apa.


"T--tapi, bagaimana bisa tahu kalau aku hamil?" tanyaku masih bingung.


"Tadi aku memanggil dokter untuk memeriksamu. Kami semua khawatir kamu tiba-tiba pingsan di kamar mandi. Tapi ternyata kamu membawa kabar baik untuk kita semua," jelas Mas Dwi seraya memelukku.


Aku pun begitu senang mendengarnya. Tak kuasa kutahan, air mataku mengalir begitu saja. Sungguh anugerah terindah bagi hidupku di tahun ini. Aku akan punya anak dari Mas Dwi. Kami akan punya anak. Aku sangat bahagia.


Di sela kebahagiaan yang sedang kami rasakan, aku menyadari kalau sebelum pingsan tadi semuanya sedang ada pembicaraan yang serius.


"Kak Julia di mana?" tanyaku.


"Ada kok di depan. Udah ya, kamu sekarang fokus sama anak kita aja! Yang lain biar aku yang urus," jawab Mas Dwi.


"Jangan sampai setres ya, Sayang! Pikiranmu sangat berpengaruh pada kesehatan janinmu juga." Mama Meira menambahkan. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Papa dan Mama keluar dari kamar kami. Tinggallah aku berdua dengan Mas Dwi.


"Aku pingsan berapa lama, Mas?"


"Lumayan lama, hampir tiga jam. Kamu mau tahu kabar baik yang lain gak?" tanya Mas Dwi.


"Apa itu, Mas?"


"Kak Julia diizinkan untuk tinggal di sini lagi karena menurut Papa harus ada yang menjagamu selagi aku bekerja."


Terdengar seperti berita baik. Namun, alasannya mengapa harus aku? Tandanya Kak Julia belum benar-benar diterima lagi di rumah ini.


"Tapi, Mas, memang Kak Julia gak keberatan? Kak Julia juga, kan, punya pekerjaan."


"Sepertinya dia gak punya pilihan lain. Ini salah satu syarat yang harus ia penuhi untuk menebus kesalahan yang pernah dia buat."


"Tapi itu gak adil untuk Kak Julia, Mas."


"Mau gimana lagi, itu keputusan Papa. Aku sih senang-senang aja, aku gak perlu susah-susah cari perawat yang bisa dipercaya."


Kuusap perutku dengan lembut, akhirnya yang sudah ditunggu-tunggu datang juga. Keinginanku untuk memiliki Dwi Junior akan segera terwujud.


'Semoga kita berdua bisa sehat terus dan kamu bisa lahir dengan selamat ya, Nak,' batinku. Sungguh kebahagiaan yang sempurna.


..


Sejak kehamilanku terungkap, aku tidak diizinkan lagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dilakukan oleh Kak Julia. Sementara Mama tinggal di rumah, Papa pulang sendiri. Selama beberapa hari ini, urusan dapur Mama yang urus, sedangkan Kak Julia yang beberes rumah.


Aku merasa sangat tidak enak diperlakukan seperti majikan. Namun kondisi tubuhku yang kurang mendukung, aku sering mual dan pusing. Yang paling menyebalkan adalah aku tidak bisa mencium bau bawang putih mentah. Sedangkan kalau hendak masak, tentu bawang putih tidak bisa ditinggalkan.


"Sayang, kira-kira anak kita nanti perempuan atau laki-laki, ya?" tanya Mas Dwi padaku sembari mengusap perutku dengan lembut.


"Mas pengennya gimana?" Aku balik bertanya.


"Laki-laki, karena dia anak pertama. Tapi kalau dikasihnya anak perempuan juga gak masalah, dia pasti secantik ibunya," jawab Mas Dwi. Aku senang bisa melihat senyuman indahnya setiap hari.

__ADS_1


"Mas, aku boleh peluk?" tanyaku.


"Tentu boleh, kenapa harus izin begitu?"


"Gak apa-apa," jawabku sekenanya. Aku pun memeluk Mas Dwi dan menikmati aroma tubuhnya. "Mas, pake parfum apa?" tanyaku.


"Gak pake parfum apa-apa. Udah malem ngapain pake parfum?" tanya Mas Dwi.


"Aku suka baunya," ucapku jujur. Aromanya terasa lebih wangi daripada biasanya.


"Apa ini bawaan bayi?" tanya Mas Dwi lagi.


Aku hanya menggeleng. Sebelumnya aku memang suka tidur dalam pelukan Mas Dwi, namun semakin hari rasanya aku semakin tidak bisa jauh darinya. Mas Dwi sampai membeli meja lipat agar bisa menyelesaikan pekerjaannya di kasur dan aku bersandar di sebelahnya. Jika keinginanku tak terpenuhi, rasanya ingin menangis. Aku kesal dengan diriku, mengapa jadi secengeng ini?


..


Mas Dwi baru saja berangkat bekerja, Mama juga baru pulang ke rumahnya. Aku senang, Mama sangat menyayangiku. Bahkan tak segan ia membuatkan aku susu ibu hamil setiap pagi dan malam, padahal aku bisa membuatnya sendiri.


"Perutmu masih sering mual, ya?" tanya Kak Julia ketika aku baru menutup pintu depan.


"Sedikit, Kak. Ada apa?" tanyaku.


"Aku mau pergi, mungkin pulang sore. Tolong cuci piringnya, ya!" pinta Kak Julia.


"Ah, iya gak apa-apa kok, Kak. Nanti aku cuci," jawabku. Aku juga sudah cukup lelah terlalu lama tidak diizinkan memegang kerjaan rumah sama sekali.


Kak Julia pun pergi bersama dengan Faiz. Hari ini ia tidak bekerja, Faiz juga tidak sekolah, mungkin sedang libur. Karena tidak kulihat adanya seragam yang menempel pada tubuh mereka, jadi kusimpulkan mereka tidak pergi ke sekolah. Entahlah, aku juga tidak tahu.


Setelah rumah kosong, aku berjalan ke dapur untuk mulai mengerjakan tugasku. Mulai kucuci setiap piring dan alat makan lainnya yang ada di tumpukan cucian. Untung saja hidungku tidak menolak untuk mengerjakan ini. Aku baru menyadari, cucian ini lumayan banyak. Tidak seperti waktu kami masih tinggal bertiga saja.


Tidak memakan waktu lama, semua piring kotor beserta teman-temannya sudah selesai aku bersihkan. Kemudian sudut mataku menangkap tumpukan pakaian kotor di keranjang pakaian. Tidak ada salahnya kalau kucuci, Mas Dwi juga tidak akan marah karena mencuci dengan mesin tentu tidak melelahkan. Namun ada hal yang mengagetkan untukku, tak hanya pakaian di keranjang yang penuh, di dalam mesin cuci juga penuh. Ya, sudahlah, aku cuci semuanya bergantian.


Sedikit menguras tenaga, karena banyak pakaian yang bahannya cukup berat di tanganku. Bahkan pakaianku dengan Mas Dwi tidak pernah sebanyak ini. Meski pakaian kami ada yang berbahan keras juga, namun aku biasanya mencuci setiap hari. Tentu tidak akan terasa melelahkan karena jumlahnya tidak terlalu banyak.


Aku tidak ingin mengeluh, Kak Julia tentu selama ini juga lelah karena mengerjakan semuanya sendirian. Aku tidak ingin ia merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri.

__ADS_1


Ada yang membuatku sedikit terkejut lagi, di kamar mandi juga terdapat pakaian kotor yang tergantung. Pakaian itu milik Faiz. Mungkin ia lupa membawanya keluar. Yang membuatku bingung, sebenarnya mereka berganti pakaian sehari berapa kali? Mengapa jumlahnya banyak sekali? Bahkan jika dibandingkan, jumlah pakaianku dengan Mas Dwi tadi tidak ada apa-apanya.


__ADS_2