![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Jika sebagian orang lebih nyaman ketika bisa bersantai tanpa perlu memikirkan pekerjaan, aku justru bingung karena tidak tahu harus melakukan apa. Sudah tidak memiliki pekerjaan, tugas kuliah juga sudah beres, pekerjaan rumah juga sudah dikerjakan Mbak Arum. Aku juga tidak begitu suka menonton TV, akun sosial media juga tidak punya.
"Mbak Arum gak mau bagi pekerjaannya sedikit sama saya gitu?" tanyaku pada Mbak Arum yang sedang membersihkan jagung. Aku sedang ingin dibuatkan bakwan jagung.
"Bagi pekerjaan apa, Bu? Kan, saya dibayar untuk bantu Ibu. Kalau Ibu ikut bantu, berarti saya makan gaji buta," jawabnya dengan sopan.
Aku senang dengan kinerja Mbak Arum. Semuanya bisa selesai dengan cepat dan hasilnya juga memuaskan. Ternyata usianya sudah hampir empat puluh tahun, kukira baru tiga puluhan. Ia begitu awet muda, mirip seperti Mama.
Ia memiliki seorang anak yang kini masih kuliah semester akhir. Hebatnya, ia sama sekali tidak membiayai perkuliahan anaknya. Anaknya mendapatkan beasiswa penuh. Bahkan terkadang anaknya menyisihkan uang makannya untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya. Aku ikut bangga mendengar ceritanya.
"Kalau boleh tahu, suami Mbak Arum kerja apa?" tanyaku berhati-hati.
"Ah, dia …." Mbak Arum sepertinya berat untuk menceritakan masalah keluarganya.
"Maaf, Mbak. Kalau Mbak Arum keberatan, jangan diceritakan. Saya gak maksa kok," ujarku kemudian.
"Gak apa-apa kok, Bu. Saya hanya sedikit malu untuk mengakuinya," jawab Mbak Arum dengan senyum yang ia paksakan.
"Ya udah gak apa-apa kok, Mbak."
Aku beranjak dari kursi dan membuka kulkas untuk mengambil camilan serta minuman dingin. Kemudian aku kembali duduk dan melihat Mbak Arum menyiapkan bumbu.
"Sebenarnya, suami saya pengangguran, Bu," ujarnya mulai bercerita.
"Oh iya? Kenapa?" tanyaku kaget. Awalnya kukira kalau suami tidak bisa bekerja mungkin saja karena memiliki kekurangan atau mungkin juga sakit.
"Suami saya di-PHK tak lama setelah anak kami lahir. Sejak saat itu dia gak bisa bekerja lagi," ujarnya dengan suara yang cukup pelan. Kudengarkan dengan seksama setiap kalimat yang ia ucapkan. Terasa ada beban yang begitu berat.
"Dia di-PHK karena menggelapkan uang perusahaan, jadi dengan melihat track record dia yang seperti itu, gak ada perusahaan yang mau menerimanya lagi."
"T--tapi, kan, masih bisa cari pekerjaan lain. Jadi tukang ojek online misalnya, atau pekerjaan yang lain, daripada menganggur," ucapku menanggapi cerita Mbak Arum.
__ADS_1
"Yah, saya sudah capek mengingatkan, Bu. Setiap saya suruh cari pekerjaan yang seperti itu dia malah menganggap kalau saya merendahkan derajatnya. Gengsinya terlalu tinggi," jawab Mbak Arum lirih.
Aku merasa miris mendengarnya. Mbak Arum bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarganya. Kalau begitu keadaannya, menurutku lebih baik tidak punya suami sekalian. Istri bekerja banting tulang, sedangkan suaminya hanya enak-enakan di rumah.
Bagi Mbak Arum, tidak masalah kalau ia harus mencari uang untuk makan sehari-hari bersama suaminya. Yang membuatnya keberatan adalah masalah uang untuk rokok suaminya. Kalau ia menolak memberikan uang rokok, tak segan suaminya itu berlaku kasar padanya.
Ia menunjukkanku salah satu luka yang pernah ia terima akibat perlakuan suaminya itu. Ada luka bekas jahitan di lengannya. Luka sobek itu ia dapatkan akibat didorong ke arah jendela yang kacanya baru saja dipecahkan. Aku merinding mendengarnya.
Aku merasa berdosa karena terlalu banyak mengeluh. Padahal banyak yang nasibnya jauh lebih tidak menguntungkan daripada aku. Aku harus lebih banyak bersyukur lagi.
"Ah, saya malah jadi curhat," ucapnya setelah ia menceritakan semuanya.
"Gak apa-apa, Mbak. Kalau Mbak butuh cerita, cerita aja. Saya gak masalah kok. Lagi pula, kalau lagi gak ada siapa-siapa begini, temen ngomong saya, kan, cuma Mbak Arum aja," jawabku seraya tersenyum. Aku berharap Mbak Arum bisa betah bekerja di sini.
..
Malam sudah hampir larut. Mas Dwi belum juga menutup lembar kerjanya di komputer. Terlihat sesekali ia memijat pelipisnya. Dua gelas kopi yang sudah kosong pun berjajar di ujung mejanya. Pasti ada masalah lagi.
"Ah, iya. Sebentar lagi ya, Sayang. Kamu tidur duluan aja," ujarnya seraya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mas keteteran banget, ya?" tanyaku mengingat Mas Dwi hampir tidak memiliki waktu istirahat.
"Nggak kok, Sayang. Ini kebetulan tadi salah cek, setelah kuubah ternyata malah benar yang pertama. Jadi, aku harus mengulang lagi. Gak lama kok, sebentar lagi selesai," jawabnya sembari mengusap punggung tanganku.
"Ya udah, aku mau balikin gelas-gelas ini dulu. Mau aku ambilkan minuman lagi?"
"Nggak usah, sebentar lagi selesai kok."
"Baiklah."
Aku mengembalikan gelas kotor tadi ke dapur. Keadaan rumah sudah sepi, Mbak Arum juga sepertinya sudah pulang. Biasanya ia pulang sebelum jam 10. Aku penasaran di mana rumahnya. Kalau memang rumahnya jauh, lebih baik tinggal di sini saja.
__ADS_1
Tanpa mencucinya, aku tinggal gelas kotor tadi dan segera kembali ke kamar. Mas Dwi masih sibuk dengan lembar kerjanya. Kubiarkan ia untuk fokus dahulu. Daripada aku memburunya untuk segera tidur, tapi malah pekerjaannya terabaikan, takutnya malah membuat masalah baru.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit berlalu. Mas Dwi tak juga menutup lembar kerjanya. Mataku mulai tidak kuat untuk tetap terjaga. Alhasil aku ketiduran.
Ketika aku terbangun mendengar suara alarm, Mas Dwi sudah tidak ada di sebelahku. Ia masih duduk di meja kerjanya. Aku mengerjap beberapa kali. Aku lihat dirinya lalu melihat jam dinding. Berkali-kali aku memastikan kalau apa yang kulihat tidaklah salah.
"Mas, kamu gak tidur?" tanyaku sembari berjalan ke arahnya.
"Eh, selamat pagi, Sayang," ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Pagi, Mas. Kamu gak tidur?" Kuulang lagi pertanyaanku.
"Tidur kok. Gak lama dari kamu tidur, aku juga ikut tidur," jawabnya, namun kurang meyakinkan.
"Terus kenapa udah bangun? Kan, berangkat ke kantor masih dua jam lagi," tanyaku lagi.
"Perutku bermasalah kayaknya, kebanyakan minum kopi. Jadi, tidurnya juga gak nyaman."
"Tuh, kan, Mas. Udah minum obat? Aku ambilin, ya?" ujarku khawatir. Aku sudah mengingatkan untuk tidak minum kopi terlalu banyak, namun Mas Dwi masih mengeyel.
"Aku udah minum obatnya kok. Udah ya, jangan khawatir!" Ia masih meyakinkanku kalau dirinya baik-baik saja.
"Aku minta tugas kerjaku, Mas janji untuk beri aku kerjaan setelah aku resign, kan?"
Aku menagih janjinya. Aku meminta pekerjaan ini bukan untuk mendapatkan uang, tetapi untuk meringankan tugas Mas Dwi. Kupikir akan lebih baik jikalau aku membantunya daripada ia yang mengerjakannya sendiri bahkan sampai tidak memiliki waktu istirahat.
"Eh? T--tapi--"
"Gak ada tapi," jawabku tak mau kalah.
Ia terlalu menganggap dirinya superpower. Bisa mengerjakan semuanya sendirian. Aku sebagai istri mana mungkin diam saja melihatnya kurang memiliki waktu istirahat seperti itu.
__ADS_1