Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 49


__ADS_3

"Bu, mending kita masuk dulu deh baru ngobrol lagi!" saran Pak Agung.


"Oh iya, maaf saya terlalu bersemangat. Mari, silakan masuk!" Bu Hepi langsung memberikan kami jalan.


Perlahan Mas Dwi menggandengku masuk ke dalam villa ini. Bentuk rumah ini sepertinya memang di desain untuk keluarga besar. Banyak ruang yang disediakan di dalamnya. Aku masih berusaha mengingat, memang dulu kami pernah berlibur ke Bali, tapi aku tidak mengenali tempat ini termasuk dengan Bu Hepi dan keluarganya.


Kami duduk di sofa yang tersedia. Layaknya rumah sendiri, Tria langsung melangkah ke dalamdan membuatku semakin bertanya-tanya.


"Dia mau ke mana?" bisikku pada Mas Dwi.


"Ke kamarnya, mungkin mau langsung tidur."


"Ah, begitu," jawabku sambil mengangguk.


"Kamu suka, gak?"tanya Mas Dwi kemudian.


"Apanya?"


"Rumah ini."


"Mmm… suka, bagus kok. Nyaman juga. Memangnya kenapa?"


"Ya gak apa-apa. Kalau kamu suka, nanti kita bisa sering-sering ke sini."


Kemudian Bu Hepi datang seraya meletakkan sebuah nampan yang di atasnya ada beberapa gelas serta sebuah teko berisi minuman—sepertinya teh. "Silakan diminum!"ujarnya.


"Terima kasih," jawab Mas Dwi. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum.


Bu Hepi terus memperhatikanku, rasanya sedikit tidak nyaman meskipun senyuman masih terulas di wajahnya.  "Mbak Alena beneran gak ingat sama saya?" tanya Bu Hepi lagi.


"Maaf, Bu. Saya benar-benar gak ingat,"jawabku yakin.


"Ah, dulu Pak Hendra pernah sekali menyewa tempat ini. Nama ayahnya Mbak Alena, Pak Hendra, kan?"


"Iya benar.”


“Yah, dulu villa ini masih kecil dan belum tingkat. Jadi mungkin Mbak Alena lupa karena masih terlalu kecil,” jelas Bu Hepi yang terdengar begitu yakin, tapi tetap saja aku tidak ingat.

__ADS_1


Mas Dwi mengusap punggungku dan bergabung dalam obrolan. “Mungkin Lena beneran lupa karena udah terlalu lama, Bu. Kalau memang benar dia pernah kemari, nanti juga pasti bisa ingat.”


Seharusnya aku merasa terbantu dengan ucapan Mas Dwi, tapi entah mengapa aku justru menjadi penasaran. Sedikit mustahil jika ada ayah dan anak yang memiliki nama yang sama dengan keluargaku, kebetulan yang sangat kebetulan.


Bli Agung yang baru saja kembali dari belakang, kini duduk bersama kami di ruang tamu. “Kalau seingat saya, namanya Selena, Bu. Bukan Alena,” sahutnya.


Bu Hepi mengerjap beberapa kali, tampaknya sedang berusaha mengingat benarkah Selena atau tetap Alena. “Masa sih? Kalau Bapak ingatnya siapa?” Kali ini Bu Hepi bertanya pada Pak Agung. Aku pun menoleh ke arah Pak Agung, berharap jawabannya tidak membuatku semakin bingung.


Sebelum menjawab, ekspresi Pak Agung sedikit berubah. Sorot matanya seolah mengisyaratkan agar Bu Hepi berhenti untuk membahas masalah nama ini. “Lupa, Bu. Sudah terlalu banyak tamu yang menyewa villa ini. Lebih baik sekarang kita ke belakang, biarkan mereka beristirahat.”


Tidak membantah, Bu Hepi kembali meminta maaf karena begitu bersemangat. Kemudian mereka semua meninggalkan kami bertiga di ruang tamu.


“Aku capek, mau tidur duluan,” ujar Puspa seraya beranjak.


“Kamu mau ke kamar juga?” tanya Mas Dwi padaku.


“Boleh, Mas.”


Lalu kami semua masuk ke kamar masing-masing. Semua barang kami juga sudah ada di sana. Kamarnya besar, rapi dan wangi. Terlihat jika kamar ini benar-benar dirawat dengan baik. Yang menarik di mataku adalah mayoritas perabotnya terbuat


dari kayu yang diukir. Meski terlihat lawas, tapi aku suka. Seandainya aku bisa tinggal di rumah seperti ini setiap hari.


“Ah, gak terlalu, Mas,” jawabku seraya duduk di sebelahnya.


“Rumah ini cocok banget buat refreshing. Dulu Tria suka banget ke sini tiap liburan, tapi semenjak ditolak, dia justru jadi orang yang paling gak mau diajak ke sini,” ujar Mas Dwi dengan sedikit tawa yang ia tahan.


“Dia ditolak sama Bli Agung?” tebakku langsung.


Mas Dwi mengangguk, lalu menjelaskan kronologinya secara singkat. Waktu Tria duduk di bangku SMA kelas 2, ia pernah mengutarakan isi hatinya pada Bli Agung. Bukan karena wanita lain ataupun Tria tak cukup baik baginya, tetapi ada dua alasan kuat yang membuat Tria tertolak.


Pertama, usia mereka yang terpaut cukup jauh, hampir 5 tahun. Dan yang kedua, Bli Agung merasa rendah diri karena keluarga Hermansyah adalah atasannya—atau kasarnya adalah majikan. Ia merasa buruk jika sampai menjalin hubungan dengan atasannya sendiri.


Aku bisa mengerti. Kondisi yang sudah selayaknya dihentikan karena dari awal memang sudah tidak yakin. Ditambah lagi usia Tria yang kala itu masih cukup muda, akan lebih buruk jika mereka sempat menjalin hubungan dan berakhir menjadi mantan kekasih. Pekerjaan Bli Agung bisa terancam.


“Terus kalo memang Bli Agung mau terima, apa kamu setuju, Mas?” tanyaku yang tiba-tiba penasaran.


“Gak setuju,” jawab Mas Dwi tanpa ragu.

__ADS_1


“Kenapa? Kayaknya Bli Agung baik.”


“Bli Agung memang baik, tapi Tria itu labil, masih bocah banget. Pasti bakal nyusahin doang kalo mereka pacaran. Lagi pula, memangnya Tria bisa LDR? Bisa-bisa sekolahnya terbengkalai karena dia keseringan terbang ke sini untuk nemuin pacarnya.”


Yah, kali ini aku juga tidak bisa mengelak. Jika dibayangkan sekilas, rasanya memang hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Seorang anak yang nekat ditambah dengan keuangan yang mendukung, cukup menjadi perpaduan yang epic.


“Tidur sebentar, yuk! Aku capek banget,” ajak Mas Dwi.


“Mas duluan aja gimana? Aku pengen keliling sebentar.”


“Tapi jangan jauh-jauh, ya? Jangan keluar dari villa!” ujarnya mengingatkan dan aku setuju.


Izin sudah kudapatkan dan Mas Dwi mulai memejamkan matanya di atas ranjang. Sebenarnya aku sedikit merasa lelah, tapi rumah ini terlalu menarik sehingga sayang untuk bisa diabaikan. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ruangan


di villa ini lumayan banyak, tetapi aku tidak berani untuk masuk tanpa persetujuan. Sehingga aku memilih untuk berkeliling saja.


Hingga akhirnya aku mencium aroma yang sangat manis, seseorang sedang membuat kue di suatu tempat. Dengan bantuan aroma tersebut, aku bisa tiba di dapur. Benar, ada Bu Hepi dan Pak Agung di sana. Namun sebelum masuk ke dalam dapur, telingaku bisa menangkap kalau mereka sedang membicarakan sesuatu yang tampaknya lumayan serius. Ketika ingin menghindar, aku mendengar nama ‘Lena’ disebut. Bohong jika rasa penasaranku tidak muncul.


“Kenapa Bapak gak ingetin sih?” omel Bu Hepi dengan keras, tapi juga tertahan.


“Ya gimana Bapak bisa ingetin, orang Ibu main serobot aja,” ujar Pak Agung membela diri.


“Terus gimana caranya Ibu jelasin ke Mbak Alena? Gimana kalo dia tanya ke Pak Hendra?” tanya Bu Hepi khawatir.


Tak sabar mendengar penjelasan dari mereka, aku pun memutuskan untuk masuk dan menanyakan semuanya secara langsung.


“Papa saya sudah meninggal, Bu. Jadi saya gak bisa tanya ke Papa. Gimana kalau Ibu saja yang menjelaskan ke saya?” ujarku tanpa permisi. Pak Agung dan Bu Hepi berbalik bersamaan, terlihat ekspresi keduanya yang begitu terkejut.


“Anu, Mbak… gak ada yang perlu dijelaskan kok. Saya cuma salah ingat,” jawab Bu Hepi, sayangnya aku tidak bisa mempercayai itu.


“Gak apa-apa, Bu. Jelaskan saja! Saya sudah cukup dewasa untuk tahu masalah di keluarga saya—kalau memang ada,” ujarku meyakinkan.


Sepasang suami istri itu saling lirik dan sepertinya Pak Agung mempersilakan Bu Hepi untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Maaf sebelumnya ya, Mbak Alena. Saya juga gak tahu Mbak Alena sudah tahu atau belum, tapi Pak Hendra pernah menyewa villa ini bersama istri dan seorang anak gadis yang masih sangat kecil, namanya Mbak Selena." Bu Hepi diam sejenak untuk mengambil napas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Dan terakhir Pak Hendra datang sembilan tahun lalu, kemudian beliau memperlihatkan foto Mbak Alena. Karena foto inilah, ingatan saya jadi tercampur. Mohon maaf sekali, Mbak Alena," ujar Bu Hepi seraya menutup cerita dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Jadi, maksudnya Papa punya 2 istri?” tanyaku sekali lagi.


Bu Hepi pun menjawab dengan anggukan kepala tanpa berani menatap mataku.


__ADS_2