![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Hari ini terasa sangat melelahkan. Lebih dari biasanya. Rencanaku setelah pulang, aku harus tidur. Sayangnya, rencanaku tidak berjalan mulus. Tak lama setelah aku memasukkan mobil ke dalam garasi, ada mobil lain yang berhenti di depan gerbang dan seseorang memanggilku. Mendengar itu tentu saja aku langsung menghampirinya. Sial! Dia adalah Robi. Bod*h sekali aku tidak mengenali suaranya.
"Kamu mengikutiku?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Tentu. Sekarang kamu bisa pergi," ujarku seraya menarik pintu gerbang.
"Hei, tunggu!" Robi menahan tanganku, aku langsung menghempaskannya.
"Ada apa? Masalah uang? Ahh iya, aku selalu lupa untuk bertanya. Apa maksudmu mengirimkan uang itu? Mengingatkanku akan hutangku bulan lalu?"
"Bukan. Uang itu untuk biaya hidupmu."
"Aku sudah bekerja, gak perlu dikirim lagi. Nanti akan kukembalikan sekaligus cicilan hutangku."
"Lupakan hutang itu, Lena! Aku sudah mengikhlaskannya."
"Enak saja! Hutang ya hutang. Nanti pasti kubayar."
"Len, kenapa kamu harus pergi dari rumah? Siapa yang akan menjagamu kalau kamu tinggal sendirian?" Pertanyaannya membuatku mengerenyitkan kening.
"Kamu pikir aku ini anak SD? Apa pedulimu padaku? Pikirkan saja istri sirimu itu!" ujarku dengan emosi yang memuncak.
Sungguh, aku sangat membenci ibuku sendiri dan manusia di hadapanku ini. Robi menarik paksa tubuhku dan dipeluknya erat. Sekuat tenaga aku berusaha lepas, tapi semakin kuat usahaku semakin kuat pula pelukannya.
"Aku masih sangat mencintaimu, Lena. Bukan mamamu. Aku rela memberinya uang berapa pun karena kupikir uang itu juga untukmu, tapi kalau kamu pun pergi dari sana, aku gak mau memberinya uang lagi," ujar Robi.
"Apa-apaan, sih? Lepaskan! Mau kamu berikan uang atau gak itu bukan urusanku! Dia istrimu, tanggung jawabmu! Lepaskan aku sekarang!" Aku masih terus memberontak.
"Gak akan aku lepaskan sebelum kamu setuju pulang ke rumah itu," ucapnya seraya mengeratkan pelukannya. Tubuhku mulai terasa sakit, pelukan itu terlalu kuat.
"Aku gak akan pulang kesana lagi!"
"Kalau begitu izinkan aku untuk terus mengirimkanmu uang setiap bulan." Ia masih bersikeras.
"Apa-apaan, sih? Aku gak mau! Aku bukan anakmu!"
"Anggap itu sebagai ungkapan permintaan maafku," ucapnya lirih. Ia kini memeluk sembari mengusap rambutku dan mencium kepalaku beberapa saat.
"Cih! Lepaskan aku!" Aku berhasil lepas dari dekapannya. Tatapannya tampak sayu. Tapi aku sama sekali tidak kasihan terhadapnya. Kututup pintu gerbang dan masuk ke kamarku tanpa menengok ke arahnya sama sekali.
"Memang dia pikir semuanya akan selesai dengan uang? Dasar manusia g*la!" pikirku.
Usai cuci muka, kurebahkan diriku di atas singgasana kebesaranku, kasurku tercinta.
Ting! Satu pesan masuk ku terima.
Mas Dwi : Lena, bisa ketemu sekarang?
__ADS_1
Alena : Aku lelah mas, bisa nanti malam saja? Atau mungkin besok di kantor.
Mas Dwi tidak membalas pesanku lagi. Aku curiga kalau ia akan langsung datang ke kostanku. Aku hanya ingin istirahat sebentar saja apakah tidak boleh?
Ting! Satu pesan masuk lagi, kali ini Mas Dwi mengirimkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan aku yang sedang dipeluk Robi di depan gerbang.
Mas Dwi : Apa kamu bisa jelaskan foto ini? Dia lelaki yang waktu itu ada di depan rumahmu, kan?
Deg! Siapa yang mengambil foto ini? Berarti pelakunya tinggal di dekat sini?
Alena : Mas dapat foto itu dari siapa?
Mas Dwi : Aku juga gak tahu, nomornya asing. Aku coba kirim pesan tapi gak terkirim. Jadi, siapa laki-laki itu sebenarnya?
Aku harus jawab apa? Kalau kubilang dia mantan pacarku, tentu akan membuat Mas Dwi murka. Namun, aku juga tidak mungkin mengakuinya sebagai ayahku. Apa sudah saatnya untuk aku jujur?
Mungkin dirasa terlalu lama aku membalas, Mas Dwi mengirimkan satu pesan lagi.
Mas Dwi : Apa terlalu sulit untuk menceritakannya? Apa dia kekasihmu? Atau mantanmu?
Ternyata terlalu mudah dibaca. Aku sedikit takut menerima keadaan. Aku sadar aku salah tidak menceritakan semua sejak awal. Aku takut setelah ini Mas Dwi akan meninggalkanku. Semoga keputusanku untuk jujur padanya bukan sebuah kesalahan.
Alena : Aku akan datang 15 menit lagi. Akan aku ceritakan semuanya dari awal.
..
"Apa yang ingin kamu ceritakan? Tolong jangan ada lagi yang kamu sembunyikan! Aku gak ingin terus-terusan salah paham terhadapmu," ujar Mas Dwi. Aku menarik nafasku perlahan, ku kumpulkan keberanian untuk menceritakan aib keluargaku ini.
"Sebelumnya aku minta maaf, semoga Mas mengerti kenapa aku serapat ini menyembunyikan masalahku. Semua dimulai sejak papaku meninggal dunia, ...."
Aku menceritakan semuanya, mulai dari meninggalnya papa, sekolahku yang gagal, aku yang punya pacar bernama Robi, lalu lanjut mama yang menjadi selingkuhan pacarku sendiri, hingga aku kabur dari rumah dan bertemu dengan Irvan.
"Yah, maaf Mas. Terlalu memalukan untuk diceritakan. Jika setelah ini Mas gak sudi mengenalku lagi, aku gak akan memaksa," ujarku menutup cerita.
Sepanjang cerita, Mas Dwi sama sekali tidak menyela. Ia memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulutku. Namun tetap saja, aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ekspresinya terlalu sulit untuk kumengerti.
"Jadi, siapa yang tahu masalahmu ini selain Irvan?" tanya Mas Dwi setelah kami diam beberapa saat. Aku menggeleng.
"Gak ada Mas. Aku simpan rapat semuanya," jawabku jujur. Mas Dwi menghela nafas panjang lagi.
"Kemarilah!" ujarnya seraya membuka tangannya. Aku mendekat, kemudian ia memelukku lembut.
"Kamu itu bod*h sekali! Sok kuat!" ujar mas Dwi. Suaranya terdengar sedikit serak. Apa dia menangis?
"Apa kamu merasa kamu itu superhero yang tahan banting? Apa kamu pikir hatimu itu sekuat baja?" tanya Mas Dwi lagi. Aku tidak bisa menjawabnya, tapi bendungan air mataku tidak cukup lagi, keduanya tumpah bersamaan.
"Menikahlah denganku! Aku akan membahagiakanmu, akan menjadi pendengar setiamu dan mengeluarkanmu dari semua masalahmu ini," ujarnya yang membuat air mataku mengalir semakin deras.
Dadaku terasa sesak. Aku sangat terharu. Sungguh jauh dari bayanganku. Tidak menyangka Mas Dwi akan langsung menerimaku tanpa terlalu banyak alasan apalagi mempertanyakan keaslian ceritaku.
__ADS_1
"Apa aku boleh bunuh mantan pacarmu itu?" Pertanyaannya membuatku terkejut.
"Mas ...." Aku melepaskan pelukannya dan mendongak melihat wajahnya. Ia tidak menangis, mungkin ditahan.
"Hahh ... seandainya aku tahu ceritamu sejak awal, mungkin dia sudah babak belur hari itu," ujarnya. Kemudian ia melihat ke arahku dan memegang kedua pipiku.
"Kamu sangat bod*h! Bagaimana mungkin kamu dibohongi begitu lama?" tanyanya seraya menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Aku hanya menggeleng. Kemudian ia mendekap tubuhku lagi dan mengusap lembut kepala belakangku.
..
Di kantor, keadaan semakin buruk. Setidaknya di mataku. Mereka mulai terang-terangan menggosipkan aku meskipun mereka tahu aku ada di sekitar mereka. Bagus sekali, mereka tahu kalau aku tidak akan berani menegur.
"Ssttt ... sstttt ...." Tasya memanggilku dari mejanya. Aku pun menengok. "Apa kamu masih sibuk?" tanyanya. Jarak kami mungkin hanya satu setengah meter saja.
"Kebetulan baru saja beres. Ada apa?" tanyaku seraya memutar kursi dan menghadap ke meja kerjanya. Dia pun beranjak dari meja kerjanya lalu duduk di sebelahku.
"Maaf selama ini aku selalu diam, tapi jujur aku gak percaya dengan gosip yang beredar. Apa kamu bisa menceritakan sedikit kebenarannya?" tanyanya setengah berbisik. Aku menghela nafas.
"Ah, baiklah akan aku beritahu sedikit. Sebenarnya aku sekarang tinggal sendiri di kostan, gak tinggal dengan orang tuaku lagi. Masalah laki-laki yang datang ke kostanku, itu bukan ke kamarku. Karena kebetulan kostku itu campur, bisa perempuan maupun laki-laki." Kujelaskan secara singkat. Semoga saja penjelasanku sudah cukup. Aku berharap dia tidak bertanya terlalu banyak.
"Oh begitu. Untung saja aku gak percaya," ujarnya. "Lalu, apa kamu sudah tahu siapa pelakunya?" tanyanya lagi. Aku menggeleng.
"Aku gak tahu, tapi aku masih proses mencari tahu kok. Oh iya, kamu tahu semua gosip tentangku ini berasal dari siapa? Barangkali bisa kucari tahu lebih lanjut."
"Aku juga gak tahu jelasnya. Aku pertama tahu justru dari bagian produksi, Mas Adi. Setelah kutanya dari siapa, katanya dari kantor kita tapi dia gak tahu namanya," jelas Tasya.
"Ciri-cirinya?" tanyaku penasaran.
"Nah itu masalahnya, Mas Adi hanya bilang kalau yang memberitahunya itu perempuan. Kutanya lebih rinci, dia alasannya gak ingat. Mustahil kan?"
"Iya juga sih. Ah ya sudah, gak papa. Nanti aku cari tahu lagi. Makasih banyak ya!"
"Oh iya, aku mau tanya satu hal lagi," ujarnya sedikit ragu.
"Apa itu?"
"Hubunganmu dengan Pak Dwi bagaimana?"
"Ngghhh ... itu ...." pertanyaan yang sedikit sulit untuk kujawab.
"Kami akan segera menikah. Tunggu saja undangannya ya!" jawab Mas Dwi yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami. Spontan aku dan Tasya langsung berdiri.
"Eh? Ng ... Pak Dwi, maaf," ujar Tasya yang kemudian langsung salah tingkah. "Maaf Pak, bukan maksudnya ikut campur."
"Iya, gak apa-apa kok. Dengan gosip yang beredar sekarang, bukan hal yang aneh jika kamu menanyakan hal itu. Tenang saja, kami akan segera menikah dan semua gosip akan mereda," ujar Mas Dwi seraya tersenyum.
"Ah, iya Pak. Semoga dilancarkan semuanya ya!" ujar Tasya yang kemudian kembali ke meja kerjanya.
"Menikah?" Terdengar samar suara perempuan di belakang kami. Begitu kami menengok, perempuan itu baru saja keluar dari ruanganku. Reyna. Kenapa dia harus berlari seperti orang ketakutan?
__ADS_1