Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 20


__ADS_3

"Tante Lena! Tante Lena!"


Terdengar suara anak-anak dari luar. Mereka belum bisa memencet bel yang tersedia di pintu gerbang.


"Len, ada yang nyariin kamu tuh! Buruan samperin, berisik banget!" seru Kak Julia dari ruang tamu.


"Iya sabar, aku dengar kok," jawabku dari kamar sembari mengikat rambut.


Ternyata Rino dan Erika yang datang. Sudah lama sekali tidak melihat mereka berdua. Sepertinya orang tua Erika memang menyukai sesuatu yang lucu-lucu. Pakaian yang dipakai Erika selalu terlihat menggemaskan. Kali ini ia memakai sepatu yang senada dengan topinya. Warna merah dengan telinga bulat di atasnya. Mirip seperti Mickey Mouse.


"Kalian mau main lagi?" tanyaku.


"Iya, Tante. Tadi Erika lihat Tante baru pulang, jadi dia langsung lari ke rumahku," ucap Rino menjelaskan.


"Soalnya Elika kangen sama Tante Lena, lasanya kaya lamaaaaa banget gak ketemu," tambah Erika dengan lidah cadelnya, sangat menggemaskan.


"Aduh, kalian berdua ngegemesin banget sih! Yuk, masuk!"


Kuajak mereka masuk ke dalam rumah. Kak Julia masih bersama Faiz di ruang tamu. Sambutan yang sama seperti aku pulang kuliah tadi, lirikan mata yang sinis serta mulut yang pedas kembali menyerangku.


"Ngapain anak-anak kecil ini ke sini?" tanyanya.


"Main sama aku," jawabku sekenanya. "Anak-anak, kenalin ini namanya Tante Julia, kakaknya Om Dwi," Aku memperkenalkan Kak Julia pada anak-anak itu.


Mereka pun langsung berlari dan mencium tangan Kak Julia. Ia tidak protes, meski tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Setidaknya aku bersyukur ia tak memperlakukan anak-anak ini dengan kasar.


"Kalau kakak siapa?" tanya Rino pada Faiz, Erika mengangguk-angguk di belakang Rino seolah ia juga penasaran siapa yang sedang duduk di depan mereka.


"Namaku Faiz," jawab Faiz tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Aku mengelus dada, benar kaya pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


"Rino, Erika, yuk kita main di sana aja!" ajakku seraya menunjuk ruang tengah.


"Ayo, Tante!" jawab mereka semangat.


"Jadi, kalian mau main apa?" tanyaku setelah kami sudah duduk di karpet di ruang tengah.

__ADS_1


"Tante Lena punya TV bagus banget, harganya mahal, ya?" tanya Rino.


"Iya mahal, dulu nenek aku juga punya. Katanya mahal banget, jadi aku disuluh belajal yang pintel bial kalau udah gede bisa beli TV mahal juga," jawab Erika. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum mendengar jawabannya.


"Kalau TV-nya mahal, jadi banyak film robotnya ya, Tante? Rino mau nonton robot!" seru Rino dengan semangat.


"Jangan lobot! Elika gak suka lobot!" sanggah Erika.


"Ehh, jangan berantem! Kalian suka kartun tentang hewan-hewan gitu gak?" tanyaku. Aku berusaha mencari tontonan yang bisa diterima kedua anak ini.


"Elika suka, Tante! Ada beluangnya gak?"


"Emmm ... kayaknya ada. Mau lihat dulu?"


"Mau-mau-mau!" seru Erika.


"Ya udah deh, gak apa-apa," jawab Rino lesu.


Kuputarkan sebuah film animasi kesukaanku. Aku yakin Rino tidak akan kecewa. Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang mempunyai mimpi menjadi seorang polisi. Namun karena dia hanyalah seekor kelinci kecil, maka banyak pihak yang menyepelekannya. Karena perjuangan dan kegigihannya, akhirnya ia bisa menjadi polisi terbaik di pusat kota.


Rino masih terdiam tanpa komentar. Ah, aku mulai gelisah. Takut kalau ia tidak menyukai film ini. Mataku beralih ke dapur, mengingat-ingat apakah aku masih menyimpan camilan. Kutinggalkan kedua anak ini ke dapur. Kulkasku kosong, hanya tersisa telur dan beberapa potong daging dalam freezer. Mengapa tak ada camilan sama sekali? Sepertinya minggu lalu aku membeli beberapa keripik kentang yang belum kumakan. Ke mana perginya?


Akhirnya kubuatkan susu stroberi saja, tak ada camilan yang tersisa di kulkas. Ketika kubuang bungkus susu ke keranjang sampah, aku melihat bungkus keripik kentangku ada di sana. Yang lebih mengejutkan, isinya masih lumayan banyak. Kuperiksa tanggal kadaluarsanya, tak ada yang aneh. Masih empat bulan lagi sampai tanggal expired-nya. Pasti pelakunya Kak Julia, tidak salah lagi. Karena Mas Dwi dan Tria tidak pernah melakukan itu selama aku tinggal di rumah ini.


Setelah kuberikan masing-masing segelas susu pada Rino dan Erika, aku menghampiri Kak Julia. Aku butuh penjelasan darinya. Bukan perhitungan, kalau habis dimakan tidak masalah. Masalahnya camilan itu masih banyak lalu dibuang.


"Kak, Kakak tahu siapa yang ambil camilanku di kulkas?" tanyaku dengan nada yang sangat halus. Aku tidak ingin ada keributan, hanya mencari kejelasan saja.


"Pelit banget sih sebungkus doang ditanyain!" sungut Kak Julia. Padahal aku bertanya baik-baik.


"Bukan begitu, Kak. Aku lihat bungkusnya ada di tempat sampah dan masih ada isinya," jawabku dengan emosi yang masih berusaha kukontrol.


"Salah siapa beli makanan rasanya aneh? Keripik kentang kok asem, ya kubuang aja. Kalau gak percaya, cicip aja sendiri!" jawabnya tanpa rasa bersalah dan malah menyuruhku mengambil makanan di tempat sampah.


Kutarik napasku dalam-dalam. Keripik yang kubeli itu memang rasa sambal matah, ada campuran rasa jeruk nipis. Jadi, memang rasanya agak asam, bukan karena kadaluarsa. Aku tidak ingin berdebat kali ini, namun lihat saja. Sekali lagi ia membuatku kesal, akan kuberi dia pelajaran. Aku kembali ke ruang tengah dan menemani Rino juga Erika menonton.

__ADS_1


Rino mulai bisa menikmati filmnya. Mereka berdua saling mengomentari setiap adegan yang muncul. Sembari ikut menonton, aku berusaha mengontrol emosiku agar segera mereda.


Suara pintu depan yang baru tertutup berhasil membuatku mengalihkan pandangan dari layar TV. Mas Dwi baru saja pulang, aku pun beranjak dan menghampirinya, mencium tangannya, lalu ia mencium keningku.


"Jijik banget sih! Sok romantis di depan orang," ejek Kak Julia pelan namun masih bisa kudengar.


"Aku bawa jajanan kesukaan kamu loh, Sayang," ucap Mas Dwi tanpa mengacuhkan Kak Julia.


"Keripik kentang rasa sambal matah?" tanyaku semangat. Sengaja agar Kak Julia juga dengar.


"Iya dong! Terus ada juga cokelat, ada wafer keju, ada choco pie juga, semua yang kamu suka pokoknya."


"Makasih, Sayangku!" seruku seraya memeluk manja Mas Dwi. "Oh iya, bawa ke kamar aja ya, Mas! Takut diambil tikus kalau disimpen di dapur," ujarku lagi.


"Tikus?" tanya Mas Dwi bingung.


"Soalnya camilan yang aku beli kemarin hilang, padahal aku simpan di kulkas kayak biasanya," jawabku dengan bibir yang sengaja kumanyunkan.


"Oalah, ya udah, jangan sedih gitu! Kan, aku udah beli gantinya, lebih banyak pula," ujar Mas Dwi menghiburku. Aku mengangguk setuju. Kuduga ia pasti paham siapa 'tikus' yang kumaksud.


"Di dalem ada siapa? Kok kayak ada yang lagi nonton," tanya Mas Dwi lagi.


"Ah, itu Erika sama Rino. Kasih jajannya juga, ya?" Aku meminta izin Mas Dwi.


"Iya, gak apa-apa, kasih aja."


"Em, sebentar, Mas!"


Kubuka plastik yang dibawa Mas Dwi dan mengambil sebungkus biskuit cokelat. Rencananya akan kuberikan untuk Faiz. Kasihan, sejak tadi ia mendengar Mas Dwi membeli berbagai macam jajanan.


"Faiz, ini buat kamu," ujarku sembari memberikan biskuit itu.


"Gak usah! Faiz gampang sakit gigi kalau makan cokelat," ujar Kak Julia dari kursinya. Faiz pun bergeming tanpa melihatku sama sekali.


"Sayang, kamu mau ngasih ke siapa sih? Aku gak lihat ada manusia di sini, mending kasih ke Rino sama Erika aja," ucap Mas Dwi sembari menarikku dengan lembut ke ruang tengah.

__ADS_1


Jantungku terasa sakit, rasanya ingin menangis. Aku benar-benar sakit hati kali ini.


__ADS_2