Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
29


__ADS_3

“Mau jelaskan apa Lena? Mau beritahu kalau uang itu adalah bayaranmu atas pelayananmu pada ku tempo hari?” ujar Robi dengan senyum liciknya.


Oh ****! Laki-laki ini benar-benar sakit jiwa. Aku melihat ke arah Mas Dwi, dia menatapku dengan ekspresi yang begitu kesal. Nafasnya mulai memburu. Aku bingung bagaimana harus menjelaskan.


"Ng ... Mas ... aku bisa jelaskan kok," ujarku gugup. Mas Dwi tak mengindahkanku, ia berjalan menghampiri Robi.


"Apa yang sudah Lena berikan padamu?" tanya Mas Dwi dengan nada menantang.


"Emm ... sesuatu yang cukup membuatku ... puas?" Lagi-lagi ucapan Robi memancing pikiran yang tidak-tidak.


"Lebih memuaskan mana jika dibandingkan dengan Puspa? Ahh, Puspita Aurelia lengkapnya," tanya Mas Dwi lagi seraya menyunggingkan senyum sinis.


"Puspa? Siapa?" tanyaku bingung. Aku belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Mas Dwi tersenyum tipis ke arahku. Robi pun tampak terbelalak kaget.


"A--ku gak pernah dengar nama itu," jawab Robi gugup. Tingkahnya semakin membuatku curiga, siapa wanita yang di maksud Mas Dwi?


"Oh, gak pernah dengar? Ya sudah, nanti kubilang Om Erwan kalau calon menantunya, emm ... ralat, Robi gak mau melanjutkan pertunangannya lagi dengan Puspa," ujar Mas Dwi yang membuatku terkejut, begitu pula Mas Robi. Jadi, nama tunangan Robi itu Puspa? Lalu bagaimana mungkin Mas Dwi bisa mengenalnya?


"Jangan pernah kamu macam-macam padaku! Lihat saja!" ujar Robi yang kemudian langsung masuk ke mobilnya dan pergi. Mas Dwi tersenyum menang. Aku masih melongo melihat ini semua.


"Tutup mulutmu, Len! Nanti ada nyamuk masuk," ujar Mas Dwi meledekku.


"Ish! Puspa itu siapa? tanyaku lagi.


"Hmm ... apa kamu gak mau memberikanku segelas teh hangat atau pijatan lembut? Rasanya urat leherku hampir saja putus," ujarnya seraya mengusap leher bagian belakangnya.


"Baiklah-baiklah." Aku berjalan membuka gerbang, Mas Dwi ikut di belakangku.


"Duduklah Mas, akan kubuatkan minuman," ujarku ketika kami sudah sampai di depan kamarku. Aku masuk dan membuatkan segelas teh hangat sesuai permintaannya.


"Padahal aku hanya bercanda," ujar Mas Dwi seraya menyeruput teh itu.


"Kalau bercanda kenapa langsung diminum? Padahal aku belum mempersilakan," jawabku seraya duduk di salah satu kursi yang ada.


"Sorry, berdebat membuatku lebih cepat haus," ujarnya seraya tertawa kecil dan kemudian meletakkan gelas di atas tatakannya.


"Mas, apa Mas percaya dengan ucapan Robi?" tanyaku sedikit takut.


"Yang mana?"


"Anu, masalah ... uang."


"Kalau aku percaya padanya, mungkin kamu sekarang hanya tinggal nama, Len," ujarnya membuatku bergidik ngeri.


"Mas, jangan menakutiku!"


"Aku gak berusaha menakutimu, Lena. Gak ada toleransi bagi mereka yang gak setia."

__ADS_1


"Ah ya, aku mengerti," ujarku sambil mengangguk. "Lalu, siapa itu Puspa?" tanyaku lagi.


"Tunangan Robi."


"I--iya aku tahu. Maksudnya, bagaimana Mas bisa mengetahui itu?"


"Sebenarnya dia adalah sepupuku. Om Erwan adalah kakak dari ayahku. Namanya Erwansyah, sedangkan ayahku Hermansyah. Mirip bukan?"


"Hmm ... iya." Aku mengangguk lagi.


"Pertama aku melihatnya, aku seperti pernah bertemu dengannya. Di tambah dengan ceritamu, aku ingat kalau Puspa sedang menyelesaikan S2 di luar negeri dan juga punya tunangan bernama Robi."


"Lalu, bagaimana mas yakin kalau Puspa yang mas kenal sama dengan Puspa tunangan Robi?"


"Sebenarnya aku pun gak yakin, tapi waktu aku berkata seperti tadi, buktinya Robi langsung mati kutu. Tandanya semua yang kusebut tadi itu benar."


"Benar juga. Aku merasa malu," ujarku kemudian menunduk.


"Kenapa harus malu?"


"Bisa dibohongi sebegitu lamanya."


"Iya ku akui kamu b*doh," ujar Mas Dwi. "Tapi itu bukan sepenuhnya salahmu. Puspa memang anak yang sangat tekun dalam belajar. Wajar kalau mungkin dia dan Robi jarang berkomunikasi. Lagi pula, mereka bertunangan karena perjodohan, aku gak yakin ada cinta di antara mereka."


"Tetap saja aku malu."


..


Genap dua bulan aku tidak tinggal di rumah. Semuanya berjalan dengan baik, meski aku tidak mengunjungi Mama tapi uang bulanan tetap kukirim. Walaupun aku membencinya, aku tidak munafik kalau rasa rindu terkadang juga masih ada.


"Malam nanti orang tuaku datang, kamu kujemput sebelum jam makan malam, ya?" ujar Mas Dwi. Kami sedang berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Apa gak sebaiknya kita yang mengunjungi mereka, Mas?


"Mereka terlalu sibuk, lebih gak mungkin untuk kita mengunjungi mereka. Aku sudah bilang akan mengenalkanmu, tapi justru mereka yang memaksa untuk pulang. Aku sih gak masalah," ujarnya.


"Apa gak terlalu cepat ya, Mas?"


"Apa kamu masih belum yakin padaku?"


"Aku lebih gak yakin sama diriku sendiri, Mas. Aku ... aku takut mengecewakan," ujarku.


"Aku percaya padamu, Lena," ujar Mas Dwi dengan menyunggingkan senyum yang selalu menenangkanku.


..


Tegang. Satu kata yang kini menggambarkan keadaanku. Tanganku dingin, tubuhku gemetar, rasanya jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya.

__ADS_1


"Tenang saja, mereka pasti akan menerimamu dengan baik." Kalimat yang seharusnya bisa menenangkanku, rasanya tidak ada pengaruhnya untuk saat ini.


Sebelum memencet bel, Tria sudah lebih dulu membukakan pintu untuk kami.


"Hai Kak Len! Sudah lama gak ketemu. Yuk masuk!" ujar Tria dengan keceriaannya seperti biasa.


Aku hanya tersenyum kaku, sungguh, rasanya aku ingin pulang saja. Aku terlalu takut untuk bertemu dengan orang tua dari Mas Dwi, tapi aku juga sadar. Mau sampai kapan aku menghindar?


"Selamat datang." Seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari Mama kini menyambutku. Sekilas wajahnya mirip Mas Dwi, tapi mata indahnya persis dengan mata yang di miliki Tria. Tidak salah lagi, wanita ini pasti mama mereka.


"Alena ya? Kenalkan, Tante mamanya Dwi dan Tria," ujarnya seraya mengulurkan tangan dan menghiasi wajahnya dengan senyuman yang indah. Keceriaan yang persis dimiliki Tria.


"I--iya, Tante," jawabku gugup dan mencium tangannya. Belumku lepas tangannya, beliau menarik tanganku dan mencium pipi kanan kiriku. Serius, aku benar-benar terkejut menerima perlakuan seperti ini.


"Cantik sekali ya kamu! Yuk masuk! Makanannya keburu dingin," ujar beliau.


Aku pun menurut. Mas Dwi hanya tersenyum di sebelahku. Begitu masuk ke ruang makan, aku sedikit takut melihat papanya. Meski terlihat begitu tampan dan awet muda, terlihat dari raut wajah kalau ia adalah orang tua yang sangat tegas.


Sungguh aku begitu kaku, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku duduk di antara Mas Dwi dan Tria, sedangkan kedua orangtuanya di depan kami. Rasa makanan ini mungkin sebenarnya enak, namun pada situasi yang menegangkan seperti ini membuatku tidak bisa merasakan apapun.


"Ayo tambah lagi! Duh, jangan malu-malu dong, Kak," ujar Tria.


"Eh? Segini aja udah cukup kok." Aku tersenyum kaku.


"Masakan Tante gak enak, ya?" tanya mama mereka. Meski pertanyaan yang diajukan begitu sederhana, aku kelabakan untuk menjawabnya.


"Lena itu tegang, Ma," ujar Mas Dwi sambil tertawa kecil. Sungguh aku ingin mencubit lengannya sampai merah.


"Ma--maaf, Tante. Masakan Tante enak kok," jawabku. Beliau pun tersenyum.


"Ya sudah, habiskan ya!" ujarnya kemudian. Aku pun membalas dengan senyum.


Usai makan, kami duduk di ruang tengah. Aku ditanya berbagai macam hal. Meski mereka semua membawakannya dengan santai, rasanya keteganganku tak juga luntur.


"Kamu alumni kampus mana?" tanya Om Hermansyah, papa Mas Dwi.


"Eng ... saya kebetulan gak kuliah, Om." jawabku sedikit takut. Apa karena aku tidak kuliah lantas aku gugur menjadi calon menantu?


"Hanya tamatan SMA?" tanyanya lagi. Aku menunduk. Belum sempat aku menjawab, Mas Dwi sudah bicara lebih dulu.


"Jangan bicara seperti itu, Pa!" ujar Mas Dwi yang rasanya kini paham yang aku rasakan.


"Seorang ibu itu harus bisa mendidik anak dengan baik, jadi pendidikan yang tinggi itu perlu. Lihat mamamu, dia lulusan S2 di Jepang. Kalian berdua bisa pintar, kan?" tentu yang dimaksud adalah Mas Dwi dan Tria.


"Pa, jangan bicara begitu di depan Alena!" Kali ini Tante Meira, mama Mas Dwi yang angkat bicara.


Jujur, hatiku sedikit sakit dan tidak mampu berkata apapun. Mas Dwi memegang tanganku dan menatap mataku seolah mengisyaratkan kalau aku harus tetap tenang. Meski sulit, aku mencoba tersenyum dan mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2