Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 34


__ADS_3

Sore ini, aku kembali mengikuti arisan bulanan. Tidak terasa satu bulan berlalu begitu saja. Kini aku tidak perlu takut mendengar omongan tajam dari Bu Ijah. Mbak Oktari menghampiriku sebelum berangkat, kali ini ia mengajak anaknya yang paling kecil.


"Halo cantik, siapa namanya?" tanyaku pada anak Mbak Oktari.


"Namaku Lutfia, Tante," jawab Mbak Oktari mewakili anaknya yang masih belum bisa bicara.


Anaknya lucu dan menggemaskan. Pipinya yang gembul menggodaku untuk sering-sering mencubitnya. Gaya berpakaian Lutfia sangat mirip dengan seseorang, aku jadi curiga.


"Mbak, nama anak Mbak yang pertana siapa?" tanyaku.


"Erika," jawabnya, "Oh iya, dia beberapa kali katanya main ke rumahmu. Apa iya?" tanya Mbak Oktari.


"Ah iya benar, dia beberapa kali main ke rumah. Seringnya sih sama Rino," jawabku. Ternyata kecurigaanku benar, Erika memang anak Mbak Oktari.


"Oalah, kukira dia bohong. Soalnya, kan, kamu sama suamimu sama-sama kerja, jadi kukira gak ada waktu siang hari di rumah," ujarnya.


"Aku udah resign kok, Mbak. Jadi, aku sekarang banyak di rumah."


"Ohh, begitu. Terus agendamu apa?"


"Yah, kalau gak kuliah mungkin cuma beres-beres rumah. Mau ngapain lagi? Hehe," jelasku dengan kuselipkan tawa kecil diujungnya.


Kami sudah sampai di rumah Bu Afi. Rumahnya agak tersembunyi karena harus masuk gang kecil, tapi rumahnya lumayan besar, bahkan dua kali lipat lebih besar dari rumahku saat ini.


"Wah, tumben Lutfia diajak. Sini Tante gendong," ujar Bu Nita.


Lutfia sepertinya mudah akrab. Ia tidak rewel dan mau digendong siapa saja. Sepertinya enak jika memiliki anak seperti Lutfia, kalau sedang sibuk ia bisa dititipkan ke Mbak Arum atau Tria. Tidak perlu aku yang menggendongnya terus.


"Mbak Lena, apa gak pengen gendong Lutfia?" tanya Bu Sinta.


"Hehe, nanti aja, Bu," jawabku. Jujur aku memang masih sedikit takut untuk menggendong anak kecil.


"Gendong sekarang aja, Mbak. Biar cepet ketularan," tambah Bu Ijah.


Hmm, manusia satu ini. Belum kapok dia berurusan denganku.


"Udah ketularan kok, Bu. Gak perlu ditularkan lagi," jawabku penuh kemenangan.


'Mamp*s kau! Gak ada bahan gosip lagi, kan?' batinku bersorak merasa menang dari Bu Ijah.

__ADS_1


"Wah, Mbak Alena lagi hamil? Selamat ya! Udah jalan berapa minggu?" tanya Bu Nita.


"Baru jalan enam minggu, Bu. Doakan sehat selalu ya," jawabku meminta doa dari semuanya.


Semua mengaminkan dan terlihat senang. Mereka merespon baik berita baik ini. Tak sedikit juga yang memberikan wejangan-wejangan yang katanya 'kepercayaan orang tua'. Aku menerima semua saran dari mereka, sekiranya baik dan sesuai dengan nalar tentu akan aku lakukan.


Arisan kali ini tidak berlangsung terlalu lama, karena kebetulan kami memulainya juga sudah terlalu sore. Kali ini yang menang arisan uang adalah Mbak Oktari, sedangkan arisan oven listrik dimenangkan oleh Bu Nita. Aku berharap dapat nanti akhir-akhir saja. Anggap saja sedang menabung.


Sesampainya di rumah, aku disambut oleh Mas Dwi yang sedang duduk di ruang tamu ditemani oleh segelas kopi. Ia sudah melepaskan jasnya, namun dasinya belum.


"Gimana arisannya?" tanyanya ketika aku baru menyandarkan punggungku di sebelahnya.


"Aman, gak terlalu lama sih. Gak terlalu berisik juga," jawabku.


"Syukurlah kamu mulai terbiasa," jawab Mas Dwi.


"Mas, tadi aku puas banget loh!" seruku. Aku harus berbagi cerita ini pada Mas Dwi.


"Puas kenapa?"


"Mas tahu, kan, kalau aku gak suka sama omongan Bu Ijah?" tanyaku memulai pembicaraan.


Aku menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah Bu Afi tadi. Bahkan wajah Bu Ijah masih tertekuk sampai acara selesai. Aku berharap ia mulai belajar untuk berhenti ikut campur urusan orang lain.


"Kamu ini, ya, berani banget menjawab orang tua. Gak takut kualat?" tanya Mas Dwi sambil tertawa kecil.


"Ngapain takut? Jelas-jelas dia yang salah kok," jawabku membela diri.


Mas Dwi hanya menggeleng mendengar pembelaanku. Aku tidak peduli siapa yang lebih tua. Kalau memang dia bersalah, aku akan menegurnya. Toh kalau dibiarkan juga akan menjadi dosa untuk Bu Ijah sendiri.


"Oh iya, Mas kenal anaknya Bu Sinta gak?" tanyaku penasaran.


"Bu Sinta yang mana?"


"Itu, yang rumahnya di ujung pager warna cokelat," jawabku.


"Oh, tahu kalau Bu Sinta-nya, tapi gak tahu anaknya. Kenapa?"


"Masa kata Bu Ijah, cucunya Bu Sinta itu anak hasil kecelakaan. Apa iya?" Aku tidak bermaksud menggosip, hanya ingin tahu kebenarannya saja.

__ADS_1


"Aku malah gak tahu tuh. Memang pernah dengar sih anak SMA sini yang dikeluarkan dari sekolah dan langsung dinikahkan karena hamil, tapi aku juga gak tahu dia anak siapa."


Wajar saja Mas Dwi tidak tahu, Mas Dwi banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Sosialisasi dengan tetangga pun sepertinya kurang. Apa lagi dia laki-laki, pasti masalah seperti itu tidak penting baginya.


"Sekarang kamu udah cocok jadi ibu-ibu kompleks, ya! Banyak tahu tentang orang lingkungan sini. Padahal aku yang lama tinggal di sini, tapi malah gak tahu apa-apa," ujar Mas Dwi.


"Kalau aku gak ikut arisan mana mungkin aku bisa tahu banyak informasi tentang masyarakat sini, Mas? Ditambah lagi tetangga sebelah kita itu seperti wartawan. Mana mungkin kita bisa ketinggalan berita?" tanyaku lagi.


"Ada-ada aja kamu ini," ujar Mas Dwi seraya mengacak rambutku.


..


Semakin hari tubuhku semakin sehat, pikiranku juga semakin tenang. Ah, senang rasanya bisa terbebas dari pikiran yang kacau. Aku rindu bisa beraktivitas dengan lancar lagi. Sudah satu minggu juga aku tidak masuk kuliah, untung saja masih minggu-minggu awal kuliah, jadi aku masih punya waktu untuk mengejar keterlambatan.


"Kamu ke mana aja, sih? Kok lama gak masuk kuliah? Mana makin kurus pula," ujar Naura ketika aku baru saja masuk ke kelas.


"Hehe, maaf. Aku sakit kemarin, jadinya gini deh," jawabku seperlunya. Aku tidak mungkin menjelaskan masalah mentalku pada Naura.


"Jaga kesehatannya dong! Kan sekarang kamu gak sendirian," ujarnya mengingatkanku.


"Iya, iya. Makasih loh udah peduli," jawabku seraya tersenyum.


"Wahh, akhirnya kakak kita masuk kuliah lagi!" sambut Idham dan ketiga temannya yang lain.


"Jangan lebay deh!" ucapku malu-malu. Lama tidak masuk kuliah itu bukan kebanggaan, kenapa harus disambut?


"Kita gak lebay, Kak. Kakak tahu gak sih kenapa kita menyambut Kakak?" tanya Ojak.


"Kenapa memangnya?"


"Karena kita ada tugas kelompok dan butuh bantuan Kakak. Hihi," jawab mereka dengan kompak.


"Tahu gini mending aku lama-lamain bolos aja ya!" ujarku bercanda.


"Jangan banyak bolos, Kak! Nanti pas wisuda Kakak dikira dosen loh karena terlalu tua. Ups!" Ojak langsung menutup mulutnya.


"Berani sekali ya anak ini sekarang!" ujarku dengan nada menantang.


"Haha, maaf, Kak. Bercanda!" jawabnya dengan gerakan meminta ampun sambil tertawa.

__ADS_1


Syukurlah anak-anak ini menganggapku sebagai teman. Jadi, kami tidak perlu bingung mengatur batasan ketika sedang bercanda. Yang penting mereka masih ingat aturan dan bisa menghormati aku sewajarnya.


__ADS_2