Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 30


__ADS_3

Mas Dwi masih mencoba mengutak-atik ponsel yang tadi pagi kubanting. Aku hanya diam di ranjangku sembari memperhatikannya. Layarnya retak parah, ketika dinyalakan, ponsel itu sama sekali tidak memberikan respon.


"Badanmu kecil tapi tenagamu kayak Hulk, ya!" ujar Mas Dwi setelah ia menyerah membongkar ponselku.


"Gak usah meledek," sungutku.


"Biasanya cewek kalau banting barang mentok-mentok tuh pecah doang, ini sampai mati total," ujar Mas Dwi.


"Ya gimana lagi," jawabku asal.


"Kamu mau minta yang merk apa? Aku beliin sekarang," ujar Mas Dwi.


"Gak mau," jawabku lagi.


"Masih marah, ya?" tanyanya sembari memegang pipiku.


Aku menggeleng. Pikiranku terasa kosong. Aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan sekarang. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Amarah dan rasa bersalah saling beradu. Melihat Mas Dwi di depanku, rasanya justru ingin menangis.


"Mas, infusnya boleh di lepas?" tanyaku.


"Nanti, sebentar lagi dokternya dateng kok," jawab Mas Dwi.


Aku membuang pandangan ke arah lain, aku merasa lelah. Aku ingin bahagia, mengapa rasanya sulit sekali? Kadang aku mempertanyakan apakah Tuhan itu benar-benar adil. Benarkah aku seorang pendosa di masa lalu? Kukira hidupku sudah sempurna dengan hadirnya Mas Dwi dan calon buah hati kami. Tapi nampaknya, hidupku tak semudah yang dibayangkan.


Hari ini Mas Dwi tidak berangkat ke kantor lagi. Tadi pagi ia wajib ke kantor karena ada rapat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi waktu itu. Kini ia harus bekerja lagi dari rumah. Kalau hal ini terus terjadi, bisa-bisa Mas Dwi akan mendapatkan surat peringatan dan citranya akan tercemar.


"Mas gak mau balik ke kantor?" tanyaku.


"Nggak, ngapain? Aku bisa kerja dari rumah kok. Lagi pula, udah jam segini juga, tanggung," jawabnya sembari membuka kemasan choco pie.

__ADS_1


"Mas udah sering gak masuk, loh. Nanti kena SP gimana?" tanyaku khawatir.


"Aku memberi SP untuk diriku sendiri?" tanyanya, kemudian ia menggigit choco pie-nya yang pertama.


"Ya bukan berarti Mas bisa menyalahgunakan jabatan begitu, kan?"


"Hmm." Ia mengangguk sembari mengunyah makanannya. "Kamu gak mau?" tanyanya setelah makanan itu ia telan.


"Nggak," jawabku malas.


Ia membuka kemasan choco pie itu satu lagi. Sengaja sekali ia makan di depanku. Terlihat ia begitu menikmatinya. Lalu ia membuka kotak lagi hendak mengambil satu buah lagi.


"Mas, jangan dihabisin dong!" tegurku sembari mengambil kotak itu dari tangannya.


"Loh, katanya gak mau," jawabnya enteng.


"Ya bukan berarti harus dihabisin semuanya sekarang," ujarku kemudian memasukkan kotak choco pie itu ke dalam nakas.


"Mas gak kasih tahu Mama lagi, kan?"


"Nggak, aku gak mau piaraan mamamu itu ikut muncul lagi di hadapanku," jawab Mas Dwi dengan nada kesal.


Aku sependapat dengannya. Jika Mama saja yang datang tidak masalah, yang menjadi masalah adalah manusia yang satunya lagi. Aku masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin Mama dan Robi masih berhubungan dengan baik. Rencana apa lagi uang sedang mereka buat? Apa mereka pikir dengan aku diam berarti aku sudah memaafkan mereka?


"Kamu mau jalan-jalan gak?" Pertanyaan Mas Dwi membuyarkan lamunanku.


"Aku mau tidur aja," jawabku malas. Aku sudah kehabisan energi, aku ingin tidur lebih banyak.


"Ya udah, tidurlah. Nanti kalau dokternya dateng, kamu kubangunkan lagi," ujar Mas Dwi seraya mengusap puncak kepalaku.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan dan mulai berbaring. Pikiran burukku muncul lagi. Aku kembali duduk dan meminta ponsel Mas Dwi.


"Peganglah, kamu bebas memeriksa ponselku!" ujarnya seraya memberikan ponselnya padaku.


Masih sama seperti dulu, aku tidak menemukan apa pun yang bisa menjawab kecurigaanku. Sayangnya, meski kecurigaanku tidak terjawab, perasaanku belum bisa tenang. Kukembalikan ponsel itu pada Mas Dwi dan kembali berbaring. Kupejamkan mata dan segera menghitung domba yang sudah berbaris rapi. Mereka pasti bisa mengantarku ke alam mimpi lebih cepat.


"Kamu tahu gak sih? Aku belum pernah secinta ini sama perempuan selain Mamaku," ucap Mas Dwi pelan sembari mengusap rambutku dari ujung kepala sampai punggung. Posisiku membelakangi Mas Dwi.


"Aku gak bisa lihat kamu terluka sedikit aja, apa pun yang kamu inginkan sebisa mungkin aku penuhi," ucapnya lagi. Aku tetap memejamkan mata dan mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.


"Lihat kamu kacau tadi pagi, rasanya hatiku seperti dihantam kayu besar. Benar-benar sakit dan hancur, aku merasa gagal memegang janjiku padamu." Kemudian Mas Dwi diam sejenak. Terdengar napasnya ia hembuskan begitu panjang.


"Berbahagialah selalu di sampingku! Tetaplah hidup meskipun semuanya terasa sulit! Cinta dalam hidupku udah kamu pegang sepenuhnya, gak ada cinta lagi yang tersisa untuk orang lain."


Ia menutup ucapannya dengan kecupan manis di puncak kepalaku. Kemudian ia beranjak dari ranjang kami dan ke luar kamar. Aku menangis lagi. Ungkapan hatinya begitu dalam. Aku begitu bersyukur bisa dicintai sedalam itu olehnya. Namun, semakin dalam ia mencintaiku, semakin aku takut. Aku takut menyakiti hatinya yang begitu tulus.


..


Seperti biasa, Mas Dwi sudah berangkat ke kantor lagi; Tria juga masuk kuliah pagi; sedangkan aku masih duduk mematung di depan sofa ruang tamu. Kondisi tubuhku belum memungkinkan untuk beraktivitas di luar rumah. Mas Dwi terus memantauku meski hanya lewat telepon.


"Ibu mau saya buatkan minuman hangat?" tanya Mbak Arum padaku.


"Gak usah, Mbak," jawabku tanpa melihat ke arahnya.


Kemudian ia kembali ke dapur. Aku duduk tanpa melakukan apa pun yang berarti. Mataku menatap vas bunga yang berdiri tegak di atas meja, namun pikiranku berkeliaran entah ke mana. Tanganku meremas bantal sofa yang kini kupeluk. Air mataku mengalir lagi tanpa alasan yang jelas. Buru-buru aku hapus air mataku, aku tidak ingin Mbak Arum melihatnya dan lapor pada Mas Dwi.


Aku beranjak dari sofa dan pergi ke halaman belakang. Di sana ada sebuah ayunan yang letaknya di bawah pohon mangga. Aku duduk sembari menikmati udara segar. Langit pagi ini tidak cerah, banyak awan gelap yang menghalang pandanganku.


Beberapa menit kemudian, hujan turun dengan deras tanpa aba-aba. Tidak ada gerimis sama sekali, tapi langsung disambut hujan besar. Aku tidak bisa masuk ke rumah, untungnya ayunan tempat aku duduk saat ini ada atapnya. Jadi, aku tidak kebasahan.

__ADS_1


Aku merasakan ketenangan di sini, udara yang dingin; aroma tanah yang basah; serta alunan suara air yang jatuh diantara dedaunan dan batang pohon juga atap rumah. Aku merasa lebih baik. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Kurebahkan diriku di ayunan ini sembari menikmati suara alam. Aku berharap hujan ini berlangsung sedikit lebih lama.


__ADS_2