Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
28


__ADS_3

Meskipun tidak ada bukti tertulis, setidaknya aku punya saksi yang bisa membuktikan kalau Tasya bersalah. Tapi jika bukan dia dalang dari semuanya bagaimana, ya? Sebenarnya aku ingin melepaskannya, tapi aku juga penasaran apa motifnya. Apa aku punya salah padanya hingga menimbulkan dendam?


Ting! Satu pesan masuk dari mobile banking-ku.


Lima juta lagi dari Robi. Belum ada satu bulan, dia sudah mengirimkan aku uang lagi? Kali ini aku langsung mengirimkannya pesan.


Lena : Maunya apa, sih? Apa kamu berharap aku akan luluh dan memaafkanmu?


Berselang lima menit kemudian ia baru membalas pesanku.


Robi : Sudah masuk, ya? Aku baru dapat proyek besar nih, jadi ku rasa kamu juga harus dapat bagian.


Lena : Bagian?


Robi : Yap! Untuk uang jajanmu.


Lena : Hei! Aku bukan siapa-siapa mu lagi! Jangan ganggu hidupku lagi!


Robi : Haahhh … Lenaa ... Lena. Tinggal terima uangnya saja apa gak bisa? Aku gak akan mengganggumu.


Lena : Dengan adanya uang yang aku terima ini saja sudah menggangguku!


Setelah itu Robi tidak lagi membalas pesanku, dibaca pun tidak. Kutransfer kembali uang sebesar tiga belas juta. Sepuluh juta dari uang yang dia transfer, tiga juta untuk cicilan hutang. Aku ingin segera lepas dari jeratan manusia g*la itu.


Tiba-tiba aku teringat Mama. Mama dapat uang dari mana kalau bukan dari Robi? Usaha online shop Mama juga rasanya tidak cukup untuk gaya hidup Mama yang mewah itu. Apa aku harus mengirimkan uang? Meskipun aku membencinya, tetap saja aku tidak bisa membiarkannya susah. Kutransfer tiga juta lagi untuk Mama, semoga saja cukup.


 “Sedang apa?” tanya Mas Dwi yang baru masuk ruanganku.


“Eh? Mmm ... aku baru transfer uang untuk Mama,” jawabku.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”


“Bukan kok. Mmm ... kasihan Mama kalau gak ada yang beri uang lagi.”


“Butuh tambahan?”


“Eh ... gak perlu. Aku masih ada tabungan kok.”


“Untuk makan sampai bulan depan bagaimana?” tanyanya khawatir.


“Masih, Pak, tenang saja.”


“Kalau ada apa-apa beritahu aku, ya! Jangan menyusahkan diri sendiri!”


“Iya, Pak.”

__ADS_1


“Sudah beres, kan, pekerjaanmu? Yuk makan!”


“Mau makan dimana?”


“Emm ... Kamu mau makan apa?”


“Bagaimana kalau makan di kantin?"


"Kamu yakin mau ketemu orang banyak?”


“Gak papa kok, Pak. Kalau bukan kita yang mendekat nanti dikira kita memang salah.”


“Ah ya, kamu benar. Ya sudah, ayo ke sana!”


Lalu kami berdua berjalan ke kantin. Terlihat rombongan Tasya, Mas Dika dan lainnya sedang mengobrol asik sekali. Entah apa yang menjadi candaan mereka kali ini.


“Asik banget sih? Pada bahas apa?” tanya Mas Dwi yang membuat mereka seketika diam.


“Eh ada Pak Dwi, Lena. Mari gabung!” ajak Mas Dika.


“Iya, terima kasih, Mas," ujarku. Lalu kami berdua gabung.


“Udah pesan makanan?” tanya Mas Bobi.


“Haha ... bukan apa-apa kok, Pak. Kalau kami lanjutkan nanti buat Lena gak enak hati,” jawab Mas Bobi.


“Lena juga udah tahu kok,” tambah Mas Dika.


“Ehh? Tahu apa Mas?” tanyaku tak mengerti. Aku melirik Tasya, ia seolah tidak tahu apapun. Ia malah mengobrol dengan Atika dan Erni.


“Itu loh, soal Reyna yang mengundurkan diri karena tahu Pak Dwi akan segera menikah,” jawab Mas Dika.


“Reyna? Dia mengundurkan diri bukan karena aku. Beberapa hari sebelum mengundurkan diri dia sudah cerita semuanya,” ujar Mas Dwi bohong. Sampai saat ini pun kami belum tahu alasan sebenarnya. Ia hanya memancing si biang gosip saja.


“Loh? Bapak serius?” tanya Mas Dika seolah tak percaya.


“Yah, apa gunanya juga aku berbohong?” jawab Mas Dwi santai, namun tentu saja orang akan lebih percaya Mas Dwi.


“Hei Tasya! Sumber beritamu itu dari siapa?” Mas Bobi langsung bertanya dengan logat khas Sumatera-nya. Mendengar itu Tasya langsung terperanjat kaget.


“Hah? Ehh, ya da--dari Reyna dong! Mana mungkin aku mengada-ngada?” jawab Tasya sedikit gugup.


“Wahh ... ini ... kenapa kamu gugup? Jangan-jangan gosip tentang Lena pun kamu yang membuatnya?” ujar Mas Bobi yang membuat mereka semua menengok ke arahku, akupun terkejut.


“A--aku?” Jujur aku sangat kaget. Aku bahkan tidak berniat untuk membongkarnya saat ini juga. Kuperhatikan Mas Dwi tersenyum tipis. Sepertinya ini memang rencananya.

__ADS_1


“Ah, ada telepon masuk. Sebentar ya! Nanti aku kembali lagi,” ujar Tasya kemudian. Kenapa kebetulan sekali? Apakah ini taktiknya saja?


Setelah Tasya pergi, beberapa dari kami mendengus kesal dan tidak satu dua orang juga yang mengatakan bahwa Tasya sedang menghindar. Kemudian obrolan kami pun berlanjut dengan bahasan yang lain.


Aku sedikit puas, tanpa perlu aku bergerak, banyak orang lain yang membantuku. Memang aku tidak ingin dia dibenci, tapi aku sedikit senang ketika banyak orang yang kini tahu mana omongan yang bisa dipercaya mana yang tidak.


..


Hari-hari berjalan semakin baik. Semua karyawan juga meminta maaf padaku karena sempat percaya dengan gosip yang beredar. Tasya? Dia menjadi sedikit lebih diam daripada biasanya. Sesekali ia mau menyapaku, tapi tetap saja terasa berbeda.


“Terima kasih ya, Mas,” ujarku sebelum turun dari mobil.


“Iya, sama-sama,” balas Mas Dwi.


Kemudian sebuah mobil lewat dan berhenti di depan mobil kami. Pikirku itu adalah mobil dari teman kostku yang lain atau tamunya. Aku keluar dari mobil, pemilik mobil depan juga membuka pintunya.


“Hai, Alena,” panggilnya seraya menyunggingkan senyum licik.


Dia ganti mobil lagi? Arghh! Belum sempat aku menyahut Robi, Mas Dwi keluar dari mobil dan langsung berdiri di sebelahku.


“Wah, kalian bersama lagi rupanya. Apa kalian sudah resmi berpacaran?” tanya Robi seraya mendekat ke arah kami.


“Ada urusan apa kamu mencari Lena?” tanya Mas Dwi.


“Hmm ... hanya ada sedikit urusan dan … sedikit rasa rindu,” jawabnya dengan nada mengejek. Kuperhatikan Mas Dwi, ia masih tenang. Aku tidak berharap ada keributan lagi, terutama di sini aku masih baru.


“Silakan pergi dengan hormat sebelum saya usir paksa,” ujar Mas Dwi.


“Wah, tegas sekali. Kamu siapanya Lena berani mengusir saya seperti itu?” tanya Robi dengan nada yang masih sok kuat.


Salah satu sisi yang tidak ku suka darinya, yakni sombong. Kemudian dia melihat mobil Mas Dwi dengan mata yang menyelidik.


“Ternyata mobilmu bagus juga. Pantas Lena mau,” ujarnya lagi. Terlihat Mas Dwi menahan nafasnya. Aku mulai sedikit panik.


“Kamu mau apa lagi?” tanyaku pada Robi.


“Hanya ingin tanya kok. Kenapa uang dariku kamu kembalikan? Kan aku sudah bilang, aku gak akan ganggu asal kamu juga terima uang itu.”


“Uang? Uang apa?” tanya Mas Dwi tidak mengerti. Ahh, rasanya ia akan marah lagi karena aku masih menutupi sesuatu darinya.


“Nanti aku jelaskan ya, Mas,” ujarku sedikit khawatir.


“Mau jelaskan apa Lena? Mau beritahu kalau uang itu adalah bayaranmu atas pelayananmu padaku tempo hari?” ujar Robi dengan senyum liciknya.


Astaga! Aku sangat terkejut mendengarnya. Fitnah macam apalagi ini? Yang kemarin belum beres, tapi sudah ada yang baru lagi.

__ADS_1


__ADS_2