Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 44


__ADS_3

Baru dua jam berlalu setelah Mas Dwi memutuskan untuk berangkat ke kantor, aku sudah berharap ia bisa segera pulang. Ia berhutang penjelasan padaku. Ingin sekali rasanya marah karena ia masih berusaha menutupi masalah dariku, namun mendengar penjelasannya tadi, aku merasa tidak tahu diri. Ia selalu menghargai segala keputusanku, bahkan keputusan untuk 'menunda' bercerita akan masalah pribadiku.


Aku sadar, aku masih banyak kekurangan sebagai seorang istri. Seharusnya aku bisa menjadi tempat ternyaman bagi suamiku untuk bisa mencurahkan segala isi hatinya. Kejadian seperti ini membuatku merasa gagal. Meski berkali-kali ia sudah meyakinkan kalau semua ini bukan salahku, tetap saja hatiku masih merasa cemas.


"Bu, ada Bu Ijah."


Mbak Arum membuyarkan lamunanku, di belakangnya sudah ada Bu Ijah dengan daster hijau favoritnya. Iya, bisa kukatakan favorit karena tidak terhitung berapa kali baju itu bisa ia pakai dalam sebulan. Aku sering melihat ia memakai daster itu ketika ia lewat depan rumah.


"Wah, kirain Mbak Arum ini saudara Mbak Alena. Ternyata asistennya, toh! Enak ya, masih muda udah dibantu asisten. Saya sampai punya anak tiga juga mengerjakan semuanya sendirian," ujar Bu Ijah.


Mbak Arum hendak membuka mulutnya, mungkin hendak membantah, namun kukode untuk tetap diam. Tidak ada gunanya membalas ucapan Bu Ijah, hanya akan memperkeruh keadaan saja.


"Ada perlu apa Bu Ijah kemari?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Mau pinjam micin, ada gak? Mau ke warung kejauhan, Rino juga gak mau disuruh," ujarnya.


"Kebetulan kalau micin gak ada, Bu. Tapi kalau Roy*o ada," jawabku jujur. Sebenarnya sama saja, sama-sama mengandung MSG.


"Ya udah, gak apa-apa. Sama aja. Pinjam tiga sachet ada?" tanyanya lagi.


Lalu aku meminta Mbak Arum untuk memastikan stoknya masih ada atau tidak. Sembari menunggu Mbak Arum, terlihat Bu Ijah menyapu seluruh isi rumahku dengan matanya. Ia sudah sering masuk rumah ini, namun tetap saja tatapan menyelidik itu tidak pernah tidak ia lakukan.


"Tinggal dua, Bu," ucap Mbak Arum dengan menunjukkan dua bungkus penyedap berwarna merah.


"Gak apa-apa deh. Saya bawa semua, ya. Mbak Alena udah masak, kan?" tanya Bu Ijah tanpa rasa malu.


"Iya, bawa aja, Bu. Gak usah dikembalikan," jawabku. Niatku menyindir, namun yang disindir sepertinya tidak akan sadar.


Senyumnya mengembang, "Terima kasih, Mbak Alena. Saya langsung pulang, ya!"


Belum sempat kami menjawab, ia sudah berlalu dan keluar dari rumahku. Sudah seperti rumahnya sendiri. Aku dan Mbak Arum kompak menggeleng melihat tingkahnya. Aku kembali duduk di kursi makan dan Mbak Arum melanjutkan beberes.


"Gula sekilo kemarin juga belum dikembalikan loh, Bu. Saya pengen ceplosin, tapi takutnya nanti nama Ibu yang jelek," ujar Mbak Arum sambil menyusun buah di kulkas.


"Gak apa-apa, Mbak. Mungkin Bu Ijah belum ada rezeki untuk mengembalikan," jawabku dengan malas.


Sudah banyak bumbu dapur yang 'dipinjam' Bu Ijah, namun tak ada satupun yang kembali. Untung saja masih bahan dapur yang ia bawa, kalau sampai barang-barang juga, tentu tidak akan aku berikan. Minggu lalu, hampir saja panci presto juga ia bawa. Kebetulan aku tidak ada di rumah, jadi Mbak Arum tidak memberikannya.

__ADS_1


Bukan bermaksud pelit, hanya saja jikalau memang meminjam bukankah seharusnya dikembalikan? Berbeda dengan meminta apalagi membeli. Tak tahu bagaimana pendirian orang lain. Namun bagiku, sebisa mungkin barang apapun jangan sampai pinjam. Murah tapi milik sendiri tidak apa-apa daripada harus merepotkan orang lain.


"Oh iya, Bu. Kemarin Bu Ijah juga pinjam sapu lidi," ujar Mbak Arum.


"Sapu lidi? Sapu untuk halaman depan?" tanyaku memastikan.


"Iya, Bu. Sudah dikembalikan kok, tapi anu …." Mbak Arum tidak melanjutkan ucapannya.


"Kenapa, Mbak?" tanyaku lagi.


"Pas dikembalikan lidinya pada bubar, jadi kemarin saya buat ulang ikatannya," jawab Mbak Arum ragu, mungkin ia takut aku akan marah.


Kutarik napas dalam-dalam. Mood-ku sedang kurang baik, ditambah mendengar informasi seperti ini. Rasanya ingin kudatangi dan kuacak-acak rumah Bu Ijah. Namun tentu jika kulakukan, hal itu hanya akan menambah masalah. Belum lagi mengingat mulut Bu Ijah sudah seperti mulut wartawan stasiun TV. Nama keluarga kami bisa tercemar dalam waktu singkat karenanya.


"Beritahu saya kalau terjadi sesuatu lagi, Mbak! Nanti kalau udah kelewat batas bakal saya tegur," ujarku seraya menghabiskan susu yang tinggal seperempat gelas.


..


Meskipun mengantuk, rasanya tubuhku menolak untuk bisa terlelap. Daripada waktuku terbuang sia-sia, akhirnya aku membuka berkas milik Mas Dwi, barangkali ada yang bisa kukerjakan. Di buku kecilnya, ia menuliskan dengan lengkap berkas apa saja yang sudah dan belum diurus. Hal itu memudahkanku untuk membantunya tanpa harus banyak bertanya.


Dengan bantuan buku panduan dan pengetahuanku yang terbatas, kukerjakan satu persatu berkas yang ternyata sudah menumpuk. Aku bertanya-tanya, apakah di kantornya Mas Dwi tidak memiliki asisten? Apa tugas sekretarisnya kalau semua ini masih ia kerjakan sendiri?


"Eh, Mas udah pulang," ujarku seraya berdiri dan menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Tumben kamu gak tahu kalau aku pulang, biasanya baru buka gerbang aja kamu udah keluar," jawabnya setelah kecupan manis mendarat di keningku.


"Maaf, aku terlalu fokus," jawabku disertai tawa kecil.


"Terlalu banyak, ya? Aku belum sempat mengerjakannya."


"It's ok, Mas. Gak apa-apa. Aku bisa bantu pelan-pelan kok," jawabku meyakinkan sembari membantunya melepaskan dasi.


Setelah dasi dan kemejanya sudah terlepas, Mas Dwi mengajakku untuk duduk di sofa yang ada di kamar kami. Ia terlihat begitu nyaman berbaring dengan kepala yang beralaskan pahaku. Sesekali ia mengusap perutku dan menciumnya. Tingkahnya terlihat begitu manis.


"Rasanya aku kangen banget sama kamu," ujarnya seperti anak muda yang sedang kasmaran.


"Apa yang membuat Mas kangen padaku?"

__ADS_1


"Semuanya, aku merasa kita berjarak beberapa hari terakhir," jawabnya sendu.


Aku hanya diam sembari mengusap rambutnya dengan lembut. Dengan mata yang terpejam, ia memegang tangan kananku dan meletakkan di dadanya.


"Maafkan aku sudah membuatmu kecewa. Aku kemarin pergi ke dokter, ah, lebih tepatnya psikiater. Beliau yang menangani aku dua tahun lalu," ucapnya.


Meski sudah menduga, namun tetap jantungku berlonjak kaget. Separah itu lukanya sampai ia harus minta bantuan psikiater.


Seperti yang kita tahu, semakin dalam kita mencintai seseorang, semakin dalam juga rasa sakit yang mungkin kita terima. Itulah yang terjadi padanya, bahkan ia sampai tak mampu menanggungnya sendirian.


Dua tahun lalu, Mas Dwi sering konsultasi terkait kesehatan mentalnya. Kenyataan yang lebih membuatku kaget, ia sudah mulai berkonsultasi bahkan sebelum ia kehilangan cintanya. Yakni, Layla. Cintanya buta, meski sudah tersakiti dengan ucapan Layla yang begitu kasar, ia tetap sabar dan mempertahankannya. Belum lagi dengan segala larangan tidak masuk akal yang Layla buat, hal itu membuat Mas Dwi berpikir keras dan menghambat kinerjanya.


Sudah dicintai begitu dalam dan banyaknya pengorbanan yang sudah Mas Dwi lakukan, masih bisa wanita itu mengkhianati Mas Dwi bahkan sampai hamil dengan lelaki lain. Wanita itu pernah hampir dibunuh Mas Dwi, ia sudah berencana untuk menabraknya di jalan. Beruntung akal sehatnya masih bekerja dengan baik. Ia mengurungkan niatnya dan Layla lolos dari maut saat itu.


Ia merasa malu karena sudah begitu bod*h hanya karena cinta. Namun dari situ ia banyak belajar. Sayangnya, rasa sakitnya melewati batas kemampuannya. Sudah lewat dua tahun pun bekas luka yang tertinggal masih jelas terasa.


"Apa keluarga Mas tahu kalau Mas berkonsultasi ke dokter seperti ini?" tanyaku setelah Mas Dwi mengakhiri ceritanya.


Ia menggeleng. "Banyak stigma yang beredar, kalau seseorang pergi ke psikolog atau psikiater, berarti dia 'gila'. Padahal sebenarnya nggak. Kesehatan mental itu penting, tapi banyak yang mengabaikannya. Maka dari itu, lebih baik gak ada yang tahu kalau aku dibantu psikolog daripada aku dianggap gila."


Aku membenarkan ucapan Mas Dwi. Stigma yang beredar cukup membahayakan. Banyak orang yang takut berkonsultasi dengan psikolog hanya karena takut dicap 'gila'. Beruntung Mas Dwi paham dan peduli akan kesehatan mentalnya sendiri, hingga kemungkinan terburuk tidak terjadi padanya beberapa tahun lalu.


"Kali ini dokter gak mau memberiku obat," ujarnya.


"Mas minum obat juga?" Lagi-lagi aku terkejut, tak hanya konsultasi saja ternyata ia juga diberikan obat.


Ia mengangguk sambil tersenyum, "Gak perlu khawatir, hanya obat penenang. Dan kamu tahu mengapa dokter gak memberiku obat?"


"Kenapa?"


"Karena aku udah punya kamu, kamu obatku," jawabnya, kemudian bangun dari posisinya dan duduk menghadapku.


"Jangan bercanda, Mas!" ucapku. Kurasakan pipiku mulai menghangat.


"Untuk apa aku bercanda? Kemarin aku salah karena langsung pergi begitu aja, padahal pelukanmu itu cukup untuk menjadi obatku," ujarnya bersungguh-sungguh.


"Maafkan aku yang masih meremehkanmu, aku gak akan begini lagi. Akan kupercayakan semuanya padamu," ucapnya lagi.

__ADS_1


Mas Dwi memelukku erat, sesak di dadaku beberapa hari terakhir terasa luntur seluruhnya. Hatiku tenang, inilah yang aku harapkan. Tak hanya menjadi seorang pasangan, tapi juga bisa menjadi segalanya dan tempat ternyamannya untuk tinggal.


__ADS_2