![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali lagi ke taman ini. Aku pernah ke tempat ini bersama Mas Dwi waktu memilih undangan pernikahan. Pohonnya tumbuh begitu subur, bunga yang mekar semakin beragam, udaranya juga begitu dingin. Tidak seperti biasa, tak ada orang di tempat ini, padahal biasanya tempat ini selalu ramai.
"Sayang, sini!" panggil Mas Dwi dari tempat duduknya yang berjarak kurang lebih 10 meter dariku. Aku pun mendekat ke arahnya.
Ia duduk di atas rerumputan yang tumbuh dengan subur. Di sekelilingnya juga tumbuh bunga-bunga kecil yang pucat dan lemah.
"Pakai jaketnya loh, nanti kamu masuk angin!" ujar Mas Dwi seraya memakaikan jaket birunya padaku. Namun, udara dingin yang menusuk di tulangku tak juga berkurang.
Aku duduk di sebelah Mas Dwi sembari menggosokkan kedua telapak tanganku. Aku tidak melihat ada sinar matahari di sini, tapi tidak gelap juga. Mas Dwi terlihat tidak kedinginan, padahal ia hanya mengenakan kaus hitam yang cukup tipis.
"Mas gak dingin?" tanyaku hendak melepaskan jaket yang aku gunakan.
"Pakai aja, aku gak dingin kok," jawabnya dengan yakin seraya memasangkan resleting jaketku.
Kemudian Mas Dwi membuka sekaleng minuman, aku tidak tahu itu minuman apa. Aku belum pernah melihat itu sebelumnya.
"Itu apa, Mas?" tanyaku.
"Alkohol, biar gak dingin. Kamu gak boleh, ya! Kamu lagi hamil soalnya," jawabnya seraya meminum minuman itu.
"Sejak kapan Mas minum alkohol? Kan, itu gak boleh." Aku terlambat mengingatkan, isi kaleng itu sudah kosong. Mas Dwi meminumnya sekaligus.
"Kadang aku meminumnya kalau pikiranku kacau, maaf, ya! Kamu gak suka, ya?" tanyanya tanpa penyesalan.
"Pikiran Mas lagi kacau? Mas kenapa? Apa yang buat Mas jadi begini?" tanyaku khawatir. Semua ini pasti ada hubungannya denganku.
"Yah, aku cuma pengen buat kamu bahagia, tapi kok kayaknya susah banget. Bahagia yang aku berikan buat kamu kelihatannya gak pernah cukup," jawabnya, kemudian ia mulai berbaring dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku.
"Kenapa Mas bisa bilang begitu? Aku bahagia dengan Mas yang apa adanya, aku gak pernah menuntut apa pun," ujarku. Mengapa Mas Dwi jadi seperti ini? Atau ini hanyalah pengaruh alkohol yang baru ia minum?
"Apa kamu benar-benar mencintai aku, Alena?" tanya Mas Dwi kemudian.
"Mas tanya apa sih? Tanpa aku jawab pun Mas pasti tahu jawabannya," jawabku.
Mas Dwi tertawa sendiri. Kemudian ia bergumam dengan menghadap ke perutku, sepertinya ia sedang bicara dengan janin kami.
"Apa kamu mau tahu apa yang anak kita katakan?" tanya Mas Dwi sembari menengok ke wajahku.
__ADS_1
"Apa, Mas?" Aku penasaran dengan apa yang sedang ia pikirkan, meski aku yakin ini hanyalah pengaruh alkohol saja. Bagaimana mungkin janin bisa bicara?
"Dia bilang dia gak mau lahir, dia gak mau lahir dari rahim ibu sepertimu."
Deg! Meski aku sadar ucapan Mas Dwi kali ini bukan sesuatu yang bisa dipercaya, tetap saja ucapannya berhasil membuat dadaku nyeri. Yang kutahu, ucapan yang diucapkan orang mabuk ialah apa yang ada di alam bawah sadarnya. Itu berarti selama ini ia benar-benar merasa terbeban memiliki istri seperti diriku.
Air mataku mulai mengalir, Mas Dwi menatapku sesaat. Tangan kanannya menyeka air mataku dengan lembut. Ia tersenyum sekilas, kemudian bangun dari posisinya. Senyumannya tidak lagi terlihat tampan, namun menyeramkan. Ia menatap mataku tanpa berkedip. Tatapan matanya seolah ingin membunuhku.
Aku mundur perlahan, ia bukan seperti Mas Dwi yang selama ini kukenal. Senyuman jahat itu benar-benar mengintimidasi aku. Semakin aku menjauh, ia juga mulai maju perlahan mengikutiku.
"Kenapa mundur? Aku suamimu, Sayang," ucapnya masih tanpa melunturkan senyuman itu sama sekali. Aku semakin takut dan tak berani menatap matanya.
"Mas, jangan dekat-dekat! Aku mohon!" pintaku sungguh-sungguh. Aku benar-benar takut.
"Sayang ...."
"Mas, ampun! Jangan sakiti aku!"
"Sayang ...."
"Mas! Jangan!"
"Hah? Iya?"
Aku tersadar. Ternyata tadi hanyalah mimpi. Aku langsung bangun dan memeluk Mas Dwi dengan erat. Aku menangis lagi. Aku benar-benar takut.
"Tenang, ya, Sayang! Kamu aman kok. Gak akan ada yang menyakitimu," ucap Mas Dwi dengan tangannya yang erat memelukku.
Aku merasa tubuhku menggigil, sama seperti dalam mimpiku tadi. Atau sebenarnya aku belum bangun dari mimpi? Segera kulepaskan pelukanku dan mundur menjauh dari Mas Dwi.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Kamu siapa?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Aku Dwi, suamimu. Kamu kenapa?"
"Nggak! Kamu bohong! Jangan ganggu aku! Pergi!" usirku dengan suara lantang.
__ADS_1
"Sayang, tenang. Ini aku suamimu," ujarnya dan semakin mendekat hendak memegang tanganku.
Aku langsung turun dari ranjang dan menjauh darinya. Ia tak membiarkanku menjauh, ke mana aku melangkah ia selalu mengikutiku.
"Pergi! Jangan ganggu! Aku mau ketemu Mas Dwi!" ujarku sembari melemparkan sepatu yang terletak di rak dekat tempatku berdiri.
"Ini aku Dwi, Sayang. Aku gak ganggu kamu. Aku suamimu," ujarnya meyakinkan.
Kepalaku semakin pusing, kakiku tak sanggup lagi berdiri. Aku berjongkok sembari menjambak rambutku dan bicara sendiri.
"Aku mau bangun dari mimpi ini! Aku mau kembali sama Mas Dwi! Aku mau bangun!"
Ia menarik tanganku agar tak menjambak lagi dan memelukku dengan erat. Sekuat tenaga aku melepaskan diri dari pelukannya, namun tidak bisa. Tenagaku sudah terkuras habis. Aku harus bisa bangun lagi, aku tidak ingin Mas Dwi yang ini. Aku ingin Mas Dwi suamiku kembali.
"Jangan sakitin aku! Aku mohon!" pintaku sambil menangis. Aku tidak ada tenaga lagi untuk melawannya.
"Aku gak akan menyakitimu, aku suamimu," jawabnya dengan suara yang bergetar.
"Aku mohon!" ucapku dengan suara yang tertahan oleh isakan tangis.
"Jangan begini, Alena! Jangan membuatku takut!"
Tak hanya suaranya yang bergetar, kurasakan tubuhnya juga gemetar hebat. Meski aku tak melihat wajahnya, namun aku bisa mendengar ia kini sedang menangis. Aku berhenti bicara, aku mulai bisa mencium aroma tubuhnya. Aku mulai sadar ini bukan mimpi.
"Mas ...." panggilku lirih.
"Iya, Sayang," jawabnya seraya meregangkan pelukannya dariku. Aku bisa melihat wajahnya yang panik dan berlinangan air mata.
"Ini kamu, kan, Mas?" tanyaku untuk meyakinkan apa yang aku lihat adalah nyata.
"Iya, ini aku suamimu."
"Mas ... kamu gak jahat, kan?" tanyaku lagi. Pikiranku masih beradu, aku masih belum begitu yakin yang kulihat ini bukanlah mimpi.
"Aku gak mungkin jahat sama kamu, Sayang. Lebih baik aku mati daripada harus menyakitimu," jawabnya yakin. Aku langsung memeluknya erat.
"Jangan seperti ini lagi! Jangan membuatku takut!"
__ADS_1
Ia mengulangi ucapannya terus menerus. Aku hanya bisa menangis dalam pelukannya. Aku tidak mengerti mengapa semua jadi seperti ini. Apa yang salah pada diriku? Mengapa pikiranku jadi sekacau ini?