![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
Hari pertama perkuliahan, Mas Dwi mengantarku sampai depan gerbang kampus. Jantungku berdebar tak karuan. Aku agak ragu dan juga takut jika membayangkan aku harus berkenalan dan berbaur dengan banyak orang. Belum lagi kalau aku tampak bod*h di antara mahasiswa lainnya. Sungguh, rasanya aku ingin pulang lagi saja.
"Sayang, hampir 15 menit loh kita parkir di sini," ujar Mas Dwi mengingatkan.
"Maaf, Mas. Aku masih takut," ujarku jujur.
Dari tadi aku hanya bisa memandangi gedung besar dengan cat putih yang berdiri kokoh. Banyak manusia berhamburan, ekspresi mereka tampak bahagia. Ada yang datang sendirian, berpasangan dan tak sedikit juga yang bergerombol. Hahh, oke aku bisa!
"Ya udah, aku masuk dulu ya, Mas," pamitku pada Mas Dwi.
"Hati-hati ya, Sayang! Kabari kalau terjadi sesuatu," pesannya.
"Iya, Mas juga semangat ya kerjanya!"
"Iya, Sayang! Semangat! Gak ada yang perlu kamu takutkan. Kuliah gak semenyeramkan bayanganmu kok."
"Iya, Mas. Semoga aja ya!"
Kemudian Mas Dwi mencium keningku dan aku segera keluar dari pintu mobil. Kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. Kukumpulkan keberanianku untuk masuk ke kawasan kampus ini. Lalu mencari gedung dan ruangan sesuai dengan jadwal yang telah aku terima.
Ketika sudah yakin aku berdiri di depan ruangan yang tepat, aku segera masuk ke dalamnya. Kelas belum begitu ramai, jam masuknya memang masih 20 menit lagi. Aku berharap tidak salah kelas. Kupilih salah satu kursi kosong yang letaknya 2 bangku dari belakang, paling ujung kiri.
Aku menghela napas lega, tak ada yang memperhatikan kehadiranku, mereka sibuk dengan kelompoknya sendiri. Namun tak sedikit juga yang hanya diam sembari memperhatikan keadaan kelas yang agak berisik. Sejauh ini perbandingannya merata, perempuan dan laki-laki setara jumlahnya.
"Hai, boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Ah, silakan," jawabku.
"Terima kasih," jawabnya lagi.
Ia pun duduk di sebelahku dan kemudian membuka ponselnya. Anak ini begitu cantik, ia pandai mengaplikasikan make-up pada wajahnya. Wajahnya mungil, pakaian yang dia kenakan juga sederhana. Sepertinya dia orangnya mudah berteman, semoga saja.
"Ini benar ruang 3-11, kan?" tanyanya padaku.
"M--mungkin, aku juga mengira begitu," jawabku ragu.
"Oh iya, namaku Naura," ujarnya kemudian mengulurkan tangannya.
"Aku Alena," jawabku sembari membalas jabat tangannya.
"Kamu pasti pendiam," ujarnya lagi.
"Ah, hehe ... ng--nggak juga sih." Aku sedikit kikuk, dia begitu ramah dan berani.
"Kamu lulusan tahun ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Deg! Ketakutanku terjadi. Sudah kuduga kalau wajahku memang terlihat begitu tua. Hingga hari pertama kuliah pun sudah terlihat. Aku hanya menggeleng dan tersenyum tipis padanya, tidak tahu harus menjawab apa.
"Ahh, benarkah? Akhirnya doaku terkabul," ujarnya.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Aku lulus SMA udah 5 tahun yang lalu, kalau kamu?"
Mendengar ucapannya barusan, jantungku seketika menjadi tenang. Ketakutanku sirna. Meski hanya satu orang tak apa. Setidaknya aku punya teman yang usianya tak jauh berbeda.
"Aku juga sudah lulus 7 tahun yang lalu," jawabku malu-malu.
"Whopp!" Ia langsung menutup mulutnya.
"Ada apa?" tanyaku bingung. Respon yang sangat tidak biasa di mataku.
"Maaf, Kak. Aku memang mengira kalau Kakak sedikit lebih tua dari yang lain, tapi aku gak nyangka kalau Kakak lebih tua dariku. Maaf, Kak tadi aku lancang," ujarnya meminta maaf. Sungguh anak yang jujur.
"Eh, hehe iya, gak apa-apa kok. Santai aja, namanya juga baru kenal," ujarku.
"Tapi, yakin Kakak lulus 7 tahun yang lalu? Kakak usianya sekarang berapa?" tanyanya lagi.
"Emm ... dua puluh lima," jawabku.
"Ahhh ... lahir bulan berapa?" Ia bertanya lagi. Ini anak intel atau apa sebenarnya?
"Wah, harusnya aku tidak memanggilmu 'Kakak', kita seumuran. Aku juga bulan, Maret. Aku pernah istirahat selama 2 tahun pasca operasi waktu SMP."
Dari situ ia mulai bercerita panjang lebar, anaknya begitu ceria seperti Tria. Keberuntungan kini berpihak lagi padaku, awal masuk kuliah langsung mendapatkan teman baru. Tak ada yang menakutkan di hari pertamaku, semoga selanjutnya juga berjalan dengan lancar.
Sepulang kuliah, aku tiba di rumah sekitar pukul 2 siang. Perlu 2 jam lagi untuk menunggu Mas Dwi pulang. Ingin tidur tapi tidak bisa, akhirnya kuputuskan duduk di teras sembari melihat kendaraan yang berlalu lalang. Lalu ada seorang anak kecil mencuri perhatianku. Rino sedang menuntun sepeda kecilnya sendirian di tengah hari yang panas ini. Aku langsung menghampirinya.
"Kenapa sepedanya gak dinaikin?" tanyaku.
"Eh, Tante. Ini sepeda Rino bannya kempes," ucapnya sembari menunjuk ban belakang sepedanya. Padahal masih ada tambahan roda bantu, seharusnya ban kempes tidak masalah.
"Oalah, memang Rino mau ke mana?"
"Mau jalan-jalan aja, Tante."
"Ibu tahu kalau Rino pergi?" tanyaku lagi. Ia hanya mengangguk.
"Dari pada main di luar kepanasan, mending masuk aja yuk! Main sama Tante," tawarku.
Ia pun berteriak kegirangan. Dengan lugunya ia mengatakan kalau ingin pinjam lego milik Mas Dwi lagi. Aku pun menemaninya bermain sampai Mas Dwi pulang. Entah sudah berapa lama aku tidak berinteraksi dengan anak kecil. Meski dia bukan anakku, rasanya aku begitu menyayanginya. Tidak tega melihat tubuhnya yang begitu kurus dan kecil untuk ukuran anak seusianya.
__ADS_1
Kini ia sudah masuk kelas 2 SD. Sesekali kutanyakan mengenai pelajaran di sekolahnya. Benar yang dikatakan Bu Ijah, Rino memang anak yang pintar. Kutawarkan untuk makan nasi, ia menolak, katanya sudah kenyang. Namun, ketika kusuguhkan camilan ia tampak begitu menyukainya. Ia memakannya sambil menyusun lego itu satu persatu.
Bermain dengan Rino sama sekali tidak membosankan, ia anak yang begitu penurut dan bersahabat. Sampai akhirnya terdengar suara mobil Mas Dwi datang, aku pun ke luar sebentar untuk menyambutnya.
"Hai, Sayang," sapa Mas Dwi yang kemudian langsung merangkul dan mengecup keningku.
"Hai, Mas."
"Sepeda siapa itu?" tanya Mas Dwi sembari menunjuk sepeda milik Rino.
"Punya Rino, tapi bannya kempes. Ya udah aku ajak main aja di dalem," jawabku.
"Syukurlah kamu gak kesepian sendiri."
Kemudian kami masuk ke dalam rumah. Mas Dwi duduk di sofa dan membuka jasnya. Ia pun langsung menemani Rino bermain. Aku membawakan jas dan tas kerja Mas Dwi ke dalam kamar. Aku begitu senang melihat pemandangan ini dan berharap dipercaya memiliki momongan sesegera mungkin.
"Permisi." Terdengar suara seseorang dari luar.
"Oh, Bu Ijah. Silakan masuk, Bu," ujarku mempersilakan setelah pintu kubuka.
"Oalah, Rino di sini toh! Di suruh beli garem kok gak pulang-pulang," ujar Bu Ijah. Tentu saja membuatku terkejut.
"Oh iya, Rino lupa. Hehe," jawabnya dengan polos.
"Mbak Alena punya garam gak? Kalau ada saya minta sedikit. Kalau ke warung kejauhan, saya buru-buru soalnya," tanya Bu Ijah.
"Ada kok, Bu. Sebentar saya ambilkan."
Aku segera ke dapur dan mengambilkan sebungkus garam yang masih utuh. Sebelum aku kembali ke ruang tamu, terdengar Bu Ijah sedang mengobrol dengan Mas Dwi.
"Coba periksain aja, Mas. Masa iya sih Mbak Alena gak hamil-hamil, takutnya --"
"Ini, Bu garamnya," ujarku memotong pembicaraan mereka.
Jujur aku geram ketika ada orang yang dengan lancangnya membahas masalah kehamilanku. Memangnya apa yang salah dariku? Aku pernah memeriksa kesehatan kandunganku, tapi semuanya aman tidak ada masalah. Memang kalau belum bisa hamil itu selalu masalahnya hanya ada di perempuan?
Bu Ijah segera pulang setelah menerima garam itu, tak lupa Rino juga diajaknya pulang. Ketika pintu sudah ditutup, Mas Dwi langsung memelukku dari belakang. Aku tahu, ia sudah bisa membaca emosiku saat ini.
"Mau jalan-jalan?"
"Gak tertarik, Mas. Aku mau tidur."
"Aku temenin tidur, ya?"
"Terserah."
__ADS_1
Tanpa aba-aba, seketika dengan mudahnya Mas Dwi sudah menggendongku seperti adegan-adegan di film India. Menolak bagaimana pun tidak akan ia pedulikan. Ia langsung menggendongku ke kamar dan menurunkan di atas kasur. Manik matanya menatapku lekat, tangannya mengusap rambutku dengan lembut.
"Jangan terlalu mudah tersulut emosi karena omongan tetangga, ya! Mereka memang cuma bisa berkomentar kok. Benar atau salah, kita akan tetap jadi bahan omongan tetangga," ucap Mas Dwi dengan lembut. Ia selalu bisa menenangkanku.