![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
"Banyak-banyak bersabar dan berpikir ulang. Berdasarkan pengalaman, memang benar kalau mau menikah itu pasti banyak godaannya," ujar Irvan.
Kami sengaja janjian di kafe tempat kami biasa bertemu. Kali ini tidak lagi bertiga, melainkan berempat. Dinda, istri Irvan turut bergabung bersama kami. Kami sharing tentang persiapan dan pengalaman mereka pra-nikah, tapi tentu saja aku tidak menceritakan masalahku tentang Mama dan Robi. Meski Irvan tahu, sepertinya si Dinda tidak tahu. Semoga Irvan bisa menjaga rahasia.
"Benar itu. Bahkan aku hampir minta untuk membatalkan pernikahan karena mantan Mas Irvan datang ke rumah. Meski Mas Irvan bilang dia hanya datang untuk memberi ucapan selamat, aku tetap bersikeras untuk gak percaya," tambah Dinda.
"Iya, Dinda sangat sensitif waktu itu. Untung saja masih bisa dibujuk."
"Hmm ... seperti itu," gumamku. Rasanya benar, mungkin aku saja yang overthinking.
"Tapi aku senang, kalian gak banyak mengulur waktu. Bukan terburu-buru, tapi jika memang sudah yakin akan lebih baik jika cepat terikat. Jika secara batin dan finansial sudah siap, apalagi yang jadi pertimbangan?" ujar Irvan.
"Aku setuju. Itulah mengapa aku segera mengikat Lena," jawab Mas Dwi mantap.
Aku tersenyum. Meski senang, rasanya pikiran burukku belum bisa teralihkan. Irvan dan Dinda banyak memberi kami masukan, termasuk jangan berpikir berlebihan akan sesuatu dan tetep fokus pada tujuan awal. Karena menikah hanya dilakukan sekali seumur hidup, jangan sampai menyesal karena salah mengambil keputusan. Yah, setidaknya itu prinsipku. Pernikahan cukup dan wajib hanya dilakukan satu kali, tidak lebih.
..
"Kemarilah!" Mas Dwi menarik tubuhku yang sedari tadi duduk kaku di sebelahnya. Kemudian ia menyandarkan kepalaku di bahunya dan mengusap lembut kepalaku.
Kami sedang mengecek ulang segala persiapan. Tinggal menunggu cincin pesanan saja. Sudah pasti tidak bisa dibatalkan lagi. Bukan aku berharap semua ini dibatalkan, tapi aku masih bimbang. Aku takut membawa masalah ke dalam keluarganya.
"Mas."
"Hm?"
"Mas yakin kalau semuanya akan baik-baik saja, kan?"
"Yah, tentu saja. Semua pasti baik-baik saja. Lagi pula, kita dan keluargaku tinggal di kota yang berbeda, gak akan jadi masalah yang berarti. Percayalah padaku!" ujar Mas Dwi lembut.
"Baiklah. Aku percaya padamu, Mas."
Ting! Satu pesan masuk di handphone Mas Dwi. Ia pun mengambil handphone itu dari saku tanpa mengubah posisi duduk kami berdua. Aku masih bersandar di bahunya sehingga aku bisa melihat isi pesannya.
Puspa : Hei adik kecilku yang besar! Kudengar kamu akan segera menikah. Apa kamu gak berniat untuk mengundangku? Dasar adik durhaka!
"Apa dia ... ?" tanyaku menggantung, tapi Mas Dwi paham.
"Iya, dia tunangan Robi," jawab Mas Dwi seraya membalas pesan itu dengan satu tangannya.
__ADS_1
Jantungku kembali berdetak lebih cepat. Apa yang akan dia lakukan bila ia tahu aku pernah menjadi selingkuhan? Bahkan mamaku sampai menikah siri dengan tunangannya. Mas Dwi mengusap bahuku lagi, sepertinya ia paham kalau pikiranku mulai kacau.
"Tenang, dia bukan orang yang gegabah. Dia gak akan menyalahkanmu. Kita lihat saja apa yang akan terjadi pada Robi tanpa kita perlu ikut campur," ujar Mas Dwi seolah dia bisa membaca pikiranku.
"Lalu Mas balas apa?"
"Ini." Kemudian mas Dwi menunjukkan room chat itu padaku.
Dwi : Tentu saja aku mengundangmu, tapi aku tahu kamu gak akan datang. Jadi apa bedanya diundang atau gak diundang?
"Ah, syukurlah kalau dia gak bisa datang. Aku gak siap melihatnya di hari pernikahanku."
"Tenang saja, dia sibuk. Janjinya dia gak akan pulang sebelum wisuda. Wisudanya masih beberapa bulan lagi. Dia juga punya bisnis di sana, jadi gak gampang jika dia mau datang."
"Iya, semoga saja," ujarku penuh harap.
Ting!
"Ah, sepertinya dia membalas lagi."
Puspa : Haha! Sok tahu! 2 minggu lagi aku akan pulang. Tentu aku bisa datang ke acara pernikahanmu. Awas saja kalau istrimu gak secantik diriku! Aku gak akan merestui kalian berdua. Mengerti?
"Dia akan datang?" tanyaku seraya kembali duduk tegak tanpa bersandar.
"Mmm ... sepertinya diluar dugaan," jawab Mas Dwi ragu.
"Dan dia akan datang bersama orang itu?"
"Mungkin iya, tapi mungkin juga gak. Dulu dia selalu bilang kalau dia gak setuju dengan perjodohannya, jadi dia gak cinta sama Robi. Aku sudah lama gak komunikasi dengan dia lagi, jadi aku gak tahu perkembangannya," ujar Mas Dwi. Aku hanya diam dan berpikir keras.
"Robi berasal dari keluarga terpandang, gak mungkin dia mau menghancurkan nama baiknya sendiri di acara pernikahan kita. Kalau pun itu terjadi, tentu saja dia hanya mempermalukan dirinya sendiri dan dia pula yang paling banyak dirugikan."
"Kamu benar, Mas," jawabku lesu.
"Jangan khawatir! Aku akan selalu bersamamu. Kamu gak sendirian, Lena. Jika terjadi sesuatu, Puspa itu dekat denganku sejak kecil, dia pasti akan percaya jika aku yang bicara."
Perlahan aku mulai sedikit tenang. Semoga saja nasib baik kini berpihak padaku.
..
__ADS_1
Dinda : Hei, tenanglah! Aku sudah mengalaminya lebih dulu.
Lena : Yah, aku sudah lebih tenang daripada kemarin. Terima kasih banyak ya!
Dinda : Hubungi aku kalau butuh teman curhat. Jujur aku kangen. Ah, aneh ya kalau sesama perempuan bilang begini, tapi jujur aku merasa kehilangan ketika kamu berhenti sekolah dan gak memberi jejak sedikitpun.
Lena : Ah, maafkan aku. Aku sangat terpuruk waktu itu. Aku pun gak punya teman sama sekali setelah putus sekolah. Sama sekali gak menyangka bisa bertemu kamu lagi.
Dinda : Meskipun kamu cuek, kamu itu salah satu temanku yang baik. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi.
Lena : Aku pun senang. Semoga kita bisa berteman baik lagi ya!
Dinda : Amin. Ah iya, apa kamu ingat Radit?
Lena : Hmm.. Aku sempat beberapa kali gak sengaja bertemu dengannya.
Dinda : Iya, dia rumahnya gak jauh dari rumah mas Irvan. Dia masih nunggu kamu loh katanya. Hihihi!
Lena : Menunggu apaan sih? -,- Jangan bercanda!
Dinda : Wkwk. Kan dulu kalian lengket kaya perangko, tapi benar kok kamu lebih pilih Mas Dwi dari pada Radit. Sampai sekarang dia pengangguran loh! Adik perempuannya saja sudah kerja tapi dipaksa pulang. Aneh ya keluarganya?
Lena : Radit punya adik perempuan?
Dinda : Iya, aku juga baru tahu waktu resepsi ku kemarin, dia datang sama adiknya.
Lena : Siapa nama adiknya?
Dinda : Wah, sayangnya aku gak tanya. Aku pun tahu kalau mereka sama-sama gak kerja dari ibu mertuaku.
Lena : Emm ... seperti itu.
Dinda : Eh, sudah dulu ya! Mas Irvan sebentar lagi pulang. Aku belum masak.
Lena : Haha iya. Selamat berperan menjadi seorang istri.
Dinda : Jangan lupa, kamu pun sebentar lagi akan menjadi seorang istri!
Lena : Haha iya iya. Aku akan banyak belajar darimu.
__ADS_1
Usai berkirim pesan dengan Dinda, kuletakkan handphone di sebelah bantal. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Radit punya adik perempuan yang dipaksa untuk berhenti bekerja. Radit tinggal di desa F, Reyna juga. Jangan-jangan?