Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 21


__ADS_3

Setelah Rino dan Erika pulang, aku kembali masuk ke kamar dan duduk di ranjang. Mas Dwi yang masih berkutat dengan laptopnya langsung menghampiriku. Kusandarkan diriku di bahunya, ia pun mengusap kepalaku dengan lembut. Sejenak kami saling diam, tidak ada kata-kata yang terucap. Hingga akhirnya air mataku mengalir dengan sendirinya. Aku sengaja menahannya karena tadi masih ada Rino dan Erika.


"Jangan ditahan, aku tahu kamu capek!" ucap Mas Dwi.


Ia menarik tubuhku perlahan dan mendekapnya. Kukeluarkan seluruh kesesakan yang selama ini tersimpan. Rasanya aku tidak kuat jika terus diam tanpa bisa melawan. Dulu aku bisa melawan Mama meski aku sadar itu adalah dosa besar. Namun, mengapa kini aku tidak bisa melawan kakak iparku?


Mas Dwi memintaku untuk menjauhkan diri dari Kak Julia. Sebisa mungkin hindari komunikasi dengannya. Ia tidak ingin aku setres karena setiap hari sakit hati mendengar ucapan Kak Julia yang begitu tajam.


Aku bisa saja keluar dari rumah ini, namun Mas Dwi belum bisa. Terlalu beresiko untuk meninggalkan Tria hanya berdua dengan Kak Julia. Tria masih begitu polos, di matanya Kak Julia adalah orang baik yang menjadi korban. Namun ia menutup mata masalah perilaku kakak perempuannya yang tak hanya mencoreng nama baik keluarga, tapi juga menyakiti perasaan keluarganya sendiri bahkan orang tuanya.


Meski masalah hidupku semakin kompleks setelah menikah, sedikitpun aku tidak menyesal menjadi bagiannya. Satu hal yang aku yakini, tidak apa aku tersakiti di keluarga ini. Namun, jangan sampai anakku terkena imbasnya juga. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


..


Beberapa hari kemudian, kedua mamaku datang tanpa diundang, Mama Maya dan Mama Meira. Mereka masing-masing membawa barang bawaan. Mama kandungku membawa masakan kesukaanku, sedangkan Mama mertua membawakan susu ibu hamil yang jumlahnya tidak sedikit. Mama Maya datang lebih dulu, kemudian disusul Mama Meira. Aku sangat terharu.


"Ayo makan bareng-bareng aja!" ajak mamaku. Ia membawa makanan yang lumayan banyak, mengingat di rumah ini sekarang ada empat kepala, ditambah satu lagi calon bayi dalam kandunganku.


"Wah, ini makanan pertama yang pernah kumakan waktu mengantar Alena, kan, Ma?" tanya Mas Dwi menunjuk capcay seafood.


"Iya, kamu masih inget aja," jawab Mama lagi. "Oh iya, Tria kuliah, ya? Kalau kakak iparmu mana? Setiap Mama ke sini kok gak pernah lihat dia," tanya Mama padaku.


Aku dan Mas Dwi saling lirik. Sebenarnya Kak Julia ada di kamarnya, namun tentu aku tidak berminat mengajaknya makan bersama. Sakit hatiku hari itu masih belum hilang.


"Ah, gak usah pikirin Julia! Kita makan aja yang kenyang, Julia biasa masak sendiri kok," sahut Mama Meira. Aku lega karena tak perlu membuat alasan macam-macam.

__ADS_1


Kami mulai makan bersama. Mama membawakan ayam bakar madu, tumis kangkung, capcay goreng seafood dan jus alpukat. Semuanya terasa lezat. Mama memang pandai memasak, rasanya Mama lebih cocok membuka restoran daripada toko pakaian.


Mas Dwi pulang untuk makan siang karena tahu Mama Meira akan datang. Makan siang ini sangat menyenangkan. Mamaku dan mama mertuaku bisa akur dalam satu meja yang sama. Kami mengobrol banyak hal, mereka pun merasa tenang karena semakin hari kandunganku semakin sehat. Morning sickness sudah jarang terjadi. Namun tetap saja, ada biang masalah di rumah ini yang harus segera diberantas.


Ketika kami sedang asyik-asyiknya makan, Faiz keluar dari kamarnya. Lagi-lagi aku dan Mas Dwi saling lirik. Kami tidak ada masalah dengan Faiz, karena dia hanyalah anak kecil yang masih dikontrol oleh ibunya. Namun, jika kami berurusan dengan Faiz, tentu akan berurusan dengan ibunya juga. Itulah yang membuat kami enggan.


"Itu siapa?" tanya Mama.


"Emm ... anaknya Kak Julia," jawabku.


"Dek, sini dek!" ajak Mama.


'Duh, bagaimana kalau sampai Mama melihat kelakuannya yang gak menyenangkan?' batinku khawatir.


Aku tidak tahu ia mendengar atau tidak, namun rasanya agak mustahil kalau ia tak mendengarnya. Ia berlalu begitu saja dan menuju ruang tamu. Aku menghela napas panjang karena kesal. Kulirik Mama Meira, wajahnya juga terlihat kesal, sama sepertiku. Berbeda dengan Mas Dwi yang justru asyik menikmati ayam bakarnya.


"Iz, Faiz! Kamu di mana, Sayang?" terdengar suara Kak Julia dari dalam kamar. Belum pernah kudengar ucapan selembut itu dari mulutnya selama ini.


Tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya terbuka, lalu ia melintas di depan pintu dapur hingga bisa terlihat oleh kami.


"Faiz, ayo siap-siap, Sayang! Kita mau beli makanan untuk makan siang," ujar Kak Julia yang masih berdiri di depan pintu dapur di mana kami sedang makan.


Ia pun membalikkan badan dan tampak sedikit kaget melihat kami, "Eh, lagi ada tamu, ya. Maaf mengganggu," ujarnya dengan senyuman di wajahnya, sama seperti senyuman yang aku lihat ketika ia pertama kali datang ke rumah ini.


Aku menghela napas lagi. Mama Meira seolah tak melihat keberadaan putrinya itu, ia justru mengambilkanku lauk lagi dan memindahkannya ke piringku.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus makan yang banyak! Mama mau kamu dan bayimu sehat," ujar Mama Meira seolah tidak mendengar ucapan Kak Julia.


"Lena sekarang makannya makin banyak loh, Ma." Mas Dwi menambahkan.


"Kalau hamil memang harusnya begitu, soalnya yang makan sekarang gak sendirian," sahut Mama Meira lagi. "Oh iya, Jeng, usaha jualannya gimana? Jadi buka toko?" tanya Mama Meira pada Mama.


"Ah, jadi kok. Mungkin bulan depan udah bisa soft opening," jawab Mama.


Kulirik Kak Julia sudah tidak ada di tempatnya. Entah sejak kapan ia sudah berlalu. Setelah ini, tentu Mama akan membanjiri aku dengan banyak pertanyaan terkait Kak Julia.


Usai makan, Mas Dwi kembali ke kantor. Mama Meira pergi sebentar untuk menemui temannya, namun katanya ia akan menginap beberapa hari. Sedangkan Mama kini bersamaku di dalam kamar. Aku sengaja mengajak Mama bicara di kamar, karena aku tidak tahu Kak Julia ada di rumah atau tidak.


"Jadi, apa yang kamu sembunyikan dari Mama?" tanya Mama ketika kami sudah tinggal berdua saja.


"Emm ... Kak Julia, ya?" tanyaku seolah kurang memahami apa yang Mama bicarakan.


"Hemm," jawab Mama singkat.


Sebenarnya aku enggan menceritakan, kuanggap masalah ini adalah aib suamiku. Namun, karena Mama Meira juga terlihat tak menutupi apapun, sepertinya tidak masalah kalau aku menceritakan ini pada Mama.


Kuceritakan semuanya dari awal, mengenai masa lalu Kak Julia sampai perilakunya akhir-akhir ini. Mendengar itu Mama langsung menarik napas panjang. Ia menarik kedua sudut bibirnya namun bukan untuk tersenyum, ekspresi kekesalan kini sangat terlihat.


"Mama pulang dulu, kalau mertuamu udah gak menginap, kabari ya!" ujar Mama setelah ceritaku berakhir.


"Iya, Ma."

__ADS_1


Mama tak berkomentar apapun. Meski begitu, Mama bukannya tidak peduli, aku yakin Mama akan melakukan sesuatu setelah ini. Tinggal menunggu waktunya saja.


Baru saja aku kembali dari depan setelah mengantar Mama sampai gerbang, terlihat Kak Julia sedang mengecek lemari makanan dan Faiz juga ada di sana. Aku menggeleng melihat kelakuan kedua manusia ini. Aku meragukan kalau mereka adalah darah daging dari Papa Hermansyah dan Mama Meira.


__ADS_2