![Alena [Pacarku Direbut Ibuku]](https://asset.asean.biz.id/alena--pacarku-direbut-ibuku-.webp)
"Len, Lena!" panggil seorang lelaki dari belakangku. Ia selalu duduk di belakangku, bahkan ia sampai mengusir siapapun yang sudah duduk di sana.
"Apa?" tanyaku sembari menengok sedikit ke arahnya.
"Kamu kenapa sih pake masker? Lagi meriang?"
"Nggak," jawabku seperlunya dengan pandangan kembali ke depan. Aku sengaja memakai masker untuk antisipasi kalau saja hidungku menangkap aroma yang tidak diinginkan.
"Kalau sakit bilang aja, mamaku dokter jadi kamu bisa berobat gratis." Lagi-lagi ia menyombongkan orang tuanya.
"Makasih tawarannya," jawabku.
"Aku gak kamu tawarin?" tanya Naura pada Idham.
"Ogah amat," jawabnya ketus.
Perlakuannya memang selalu berbeda pada setiap orang. Namun, bukan berarti dia membenci, dia hanya menyesuaikan harus menjadi siapa jika berhadapan orang yang berbeda. Meski sedikit menyebalkan, tapi ia punya banyak teman. Setelah kuperhatikan, lumayan asik juga berteman dengannya.
Ketika jam istirahat, aku dan Naura memesan bakso di kantin. Idham dan ketiga temannya -- Doni, Ardan, dan Ojak -- bergabung bersama kami. Mereka berempat membawa piring masing-masing. Idham membawa satu buah piring dan sebuah kotak yang berisi potongan sayap ayam goreng yang dibalut dengan saus berwarna merah gelap. Sungguh menggiurkan.
"Nih, yang mau ambil aja! Udah kubayar kok," ucapnya kemudian mulai menyantap nasi pecel favoritnya. Aku bisa mengetahui itu karena ia tak pernah memesan makanan lain selain pecel.
"Woah, ini enak banget sih! Makasih, Dham!" ujar Naura tanpa malu-malu.
"Len, ambil dong! Kamu gak pernah mau ambil makanan yang aku bawa loh, padahal aku gak berniat jahat padamu," ucap Idham dengan ekspresi memelas.
"Iya, iya aku makan," jawabku. Bukan hanya karena ucapannya yang memelas, tapi juga aku lumayan tergiur dengan ayam itu.
Ketika kami sedang menikmati ayam goreng, seseorang dari mereka bertanya padaku, "Kak Lena, kemarin sore makan di resto Thailand, ya?"
"Hah? Apa, apa? Ulangi!" Idham menyahut.
"Kemarin sore aku sama keluarga dateng ke resto Thailand, aku lihat Kak Lena baru masuk ke mobil. Tapi aku sendiri gak terlalu yakin karena udah malem." Ojak menjelaskan lagi.
"Iya, suamiku lagi pe--" ucapanku kemudian terpotong.
"Apa? Suami?" Keempat lelaki di depanku kaget dan bertanya bersamaan. Sontak Naura tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Hahaha! Sumpah, kalian gak beda sama responku waktu itu," tutur Naura. Ia tertawa puas sekali.
__ADS_1
"Kamu tahu?" tanya Idham pada Naura. Naura mengangguk dengan semangat.
"Suaminya guanteeeeng banget! Kalian jangan mencoba jadi pembinor, soalnya kalian gak sebanding sama sekali sama suaminya si Lena," ujar Naura lagi. Aku ikut tertawa mendengarnya.
"Dham, yang sabar ya, Dham!" ledek Ardan sembari mengusap dada Idham.
"Apaan, sih! Geli woy!" protesnya sembari menepis tangan Ardan dari tubuhnya. Kami tertawa lagi melihatnya.
"Jadi, aku luruskan ya temen-temen. Umurku udah 25 tahun dan udah bersuami. Maaf kalau selama ini aku banyak gak merespon kalian," ungkapku. Meski sedikit malu namun rasanya tidak baik menyembunyikan statusku terlalu lama.
"Aku udah menduga sih, soalnya aku pernah lihat foto Kak Lena di komputer kakakku. Itulah kenapa aku manggil Kak Lena dengan sebutan kakak," ujar Ojak.
"Oh, iya? Siapa kakakmu?" tanyaku penasaran.
"Kirana Indrawati, mungkin teman Kak Lena waktu SMA."
"Ah, iya! Dia temanku satu organisasi dulu. Dia di mana sekarang?" tanyaku lagi.
"Ada kok di rumah, anaknya udah 2. Dia gak kuliah, lulus SMA langsung menikah."
"Ah, begitu ya. Sampaikan salamku untuk Kirana ya!"
"Belum, sebentar lagi," jawabku seraya tersenyum.
"Kamu hamil?" celetuk Naura. Seketika keempat lelaki di depanku ini terfokus seolah menunggu jawaban pasti. Aku tak menjawab, hanya tersenyum sembari mengusap perutku yang belum membuncit.
"Woahhhhh!!!!" Kini mereka kompak berseru kembali.
Tidak kusangka, respon mereka sangat baik. Meski tahu usia kami terpaut lumayan jauh, mereka sama sekali tak canggung untuk bicara denganku. Mereka juga menyalahkanku yang tidak jujur sejak awal. Katanya mereka bersedia untuk menjagaku selama di kampus. Entahlah, aku hanya bisa tertawa mendengar celotehan mereka.
Naura pun ikut menceritakan statusnya yang sebenarnya. Kisahnya lebih menarik daripada aku. Ia adalah seorang janda muda berusia 25 tahun. Aku juga begitu terkejut mendengar ceritanya. Ia menikah di usia 20 tahun karena adanya perjodohan. Ia tidak mencintai suaminya. Selama menikah dalam kurun waktu 6 bulan, ia terus sakit-sakitan bahkan sampai di rawat inap di rumah sakit. Akhirnya suaminya bersedia untuk menceraikan Naura demi kesehatannya.
"Jadi Kak Naura udah nananina sama suami belum?" tanya Ardan yang sedikit melenceng dari fokus pembicaraan kami.
"Nananina apaan?" tanya Naura tak mengerti.
"Itu loh, anu ...." jawab Ardan tanpa kejelasan.
"Hais! Dasar pikiran lelaki! Aku gak cinta sama mantan suamiku, mana mau aku disentuhnya," jawab Naura dengan yakin.
__ADS_1
Pembicaraan kami semakin menjadi, bahasan kami semakin beragam. Aku tidak menyangka bisa mengobrol sebanyak ini dengan mereka. Ketakutanku sebelum kuliah kini hilang sepenuhnya. Mereka bisa menjadi temanku di kampus ini.
"Maaf, sebenarnya aku gak berniat mengganggu Kak Lena. Aku juga tahu Kak Lena lebih tua dari kami, tapi aku seperti melihat sosok kakakku dalam diri Kak Lena. Maaf kalau malah terkesan mengganggu," ungkap Idham.
Kami semua langsung terfokus pada Idham. Ia terlihat begitu serius. Ketiga sahabatnya mengangguk seolah sudah paham dengan apa yang terjadi.
Ternyata, Idham memiliki seorang kakak perempuan yang seumuran denganku. Ia adalah anak yang cantik dan pintar, sayang kini ia terpaksa di rawat di rumah sakit jiwa. Depresi menyerang mentalnya karena ia tidak siap harus kehilangan cintanya. Kekasihnya adalah seorang polisi yang meninggal saat sedang bertugas.
Aku dan Naura yang baru tahu akan cerita ini turut bersedih. Terlihat kakak Idham begitu mencintai pasangannya. Kami sama-sama berharap kakaknya bisa segera bangkit dan kembali beraktivitas dengan baik.
Pulang kuliah kali ini, Idham memaksaku agar bersedia diantar pulang. Aku pun bersedia dengan syarat Naura juga ikut bersama kami. Aku tidak ingin Mas Dwi menjadi salah paham.
Sepanjang perjalanan, aku hanya mendengarkan Naura dan Idham berdebat. Rasanya tidak lengkap jika bertemu namun tidak adu mulut. Mereka berdua pasti cocok jika menjadi sepasang kekasih.
"Dari sini ke mana lagi, Kak?" tanya Idham. Kini ia selalu menambahkan sebutan 'kak' di depan namaku.
"Masih lurus lagi, nanti gang kedua baru belok ke kanan," jawabku.
Idham menyetir dengan baik, entah karena terbiasa pelan atau karena membawa ibu hamil. Sepertinya kemungkinan besar karena sedang membawa ibu hamil. Aku senang, banyak yang mau menjagaku dan calon bayiku. Anakku pasti senang punya banyak om dan tante yang menyayanginya.
"Oke, sampai," ucap Idham setelah mobil berhenti di depan gerbang rumahku.
"Mau mampir gak, nih?" tawarku.
"Aku gak bisa, harus jaga toko karena ada karyawan yang izin," jawab Naura.
"Kalau Kak Naura juga pulang, ya aku pulang. Ya kali Kak Naura kusuruh naik ojek, nanti ngomelnya gak berhenti sampai tahun depan," jawab Idham dengan candaan yang tak pernah lupa ia selipkan.
"Jaga mulutmu anak muda, sebelum kukutuk kau jadi kutu beras!" balas Naura. Aku tertawa mendengarnya.
"Ya udah, lain waktu mampir ya! Nanti kukenalkan sama suamiku," ujarku kemudian turun dari mobil.
Ketika mobil sudah berlalu, aku baru masuk ke dalam rumah. Terlihat Kak Julia sedang duduk manis bersama Faiz di ruang tamu. Faiz sibuk sedang ponselnya, sepertinya sedang bermain gim. Sedangkan Kak Julia menatapku dengan sinis.
"Enak ya keluyuran terus," ucapnya.
Aku tak mengindahkannya sama sekali. Kutarik napas dalam-dalam dan melangkah ke kamar.
'Kalau aja bukan kakak ipar, ia pasti udah kujambak sampai gundul," batinku kesal.
__ADS_1