Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 29


__ADS_3

Entah sejak kapan aku mulai tertidur. Mas Dwi sudah tidak ada di sebelahku. Kulirik jam dinding, jarum menunjukkan pukul sembilan pagi. Badanku sakit semua; mataku terasa begitu berat, mungkin efek aku menangis semalam. Ke mana Mas Dwi saat ini? Kalau bekerja, mengapa tidak membangunkan aku? Apa mungkin dia menemui perempuan itu?


Aku segera turun dari ranjangku dan keluar kamar. Tak ada orang di rumah. Benar, Mas Dwi sudah pergi. Mbak Arum juga tidak ada, Tria juga. Mengapa di saat seperti ini justru tidak ada orang sama sekali?


Pintu depan tiba-tiba terbuka, muncul Mbak Arum dengan tas belanja di tangannya.


"Maaf, Ibu. Saya baru pulang dari pasar. Tadi, Bapak titip pesan--"


"Titip pesan apa? Bapak pergi ke mana?" tanyaku memotong ucapan Mbak Arum.


"Katanya Ibu suruh banyak istirahat, gak boleh ke mana-mana. Ke kampus juga gak boleh," jawab sambil menunduk.


"Terus Bapak ke mana? Tadi berangkat pakai baju apa?" tanyaku lagi. Aku harus memastikan Mas Dwi benar-benar pergi ke kantor.


"Seingat saya, tadi Bapak pakai kemeja biru muda, dasi hitam dan jas hitam juga, Bu."


"Pakai parfum gak?" Pakaiannya memang setelan kantor, namun semenjak aku hamil, Mas Dwi tidak menggunakan parfum lagi.


"Maaf, Bu, saya kurang tahu kalau masalah itu," jawabnya dengan pandangan yang masih lurus ke bawah.


"Ah, ya udah. Makasih kalau gitu," ucapku, kemudian kembali ke kamar.


Aku gelisah sendiri di kamar. Aku khawatir Mas Dwi benar-benar menemui perempuan itu. Kuambil ponselku, Mas Dwi tidak mengirimkan pesan apa pun. Padahal biasanya ia selalu memberi kabar jikalau memang ada kepentingan mendesak dan tak bisa pamit langsung padaku.


'Iya, aku harus video call Mas Dwi,' batinku.


Aku terkejut melihat foto kami yang menghilang dari foto profil di kontak Mas Dwi. Sejak kapan foto itu menghilang? Benar-benar tidak beres. Nomornya juga tidak bisa kuhubungi. Aku semakin menggila, pikiranku semakin kacau.


Kalau aku menghubungi atau datang ke kantor, maka akan memicu banyak pertanyaan dari teman-teman di sana. Lalu apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku agar bisa tenang? Aku terduduk di lantai dan menjambak rambutku sendiri. Ingin teriak sekuat mungkin untuk meluapkan sesak yang ada di dadaku. Ingin menangis tapi tidak bisa.


'Tolong, aku gak kuat!' teriakku dalam hati.


Bahkan untuk meminta pertolongan dari orang lain pun aku tidak bisa. Aku uring-uringan sendiri. Tiba-tiba ponselku berdering, ada telepon masuk dari nomor baru. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Aku mau Mas Dwi segera pulang.


'Bagaimana kalau Mas Dwi benar-benar selingkuh?'


'Bagaimana kalau ia benar-benar akan meninggalkanku?'


'Apa aku akan menjadi janda?'

__ADS_1


'Apa nasibku akan menjadi seperti Kak Julia?'


Banyak sekali pikiran buruk yang berputar di kepalaku. Kujambak lagi rambutku sampai pikiran itu tergantikan oleh rasa sakit. Aku tidak ingin itu semua terjadi. Lebih baik aku mati daripada harus terkhianati untuk kedua kalinya.


Ponselku berdering lagi. Kesal mendengar suaranya, kulemparkan ponselku sampai membentur dinding dan seketika deringnya langsung berhenti. Tak lama kemudian terdengar suara panik dari luar kamarku.


"Bu Alena, Ibu kenapa?" tanya Mbak Arum dari luar sana.


Aku diam tak menjawab. Ia terus menggedor pintu kamarku. Aku menutup telingaku serapat mungkin. Kepalaku semakin pusing. Akhirnya Mbak Arum membuka pintu kamarku meski tanpa seizinku. Ia langsung menghampiriku dan berteriak histeris.


"Ya ampun Ibu, Ibu kenapa? Ibu sadar, Bu!" Ia teriak sembari mengguncang tubuhku.


Aku masih berusaha menutup telinga dan menggeleng. Yang ada di pikiranku kini hanya aku tidak ingin tersisihkan lagi, aku tidak mau dikhianati lagi.


"Kak Len kenapa, Mbak?" tanya Tria yang kini juga ikut masuk ke kamarku.


"Gak tahu, Mbak. Saya tadi dengar suara barang jatuh, saya panggil-panggil Ibu, Ibu gak menyahut juga. Pas saya buka pintu, Ibu sudah seperti ini," jelas Mbak Arum pada Tria.


"Kak, Kakak kenapa? Cerita sama kami, Kak," ujar Tria pelan sembari memegang bahuku.


Aku masih menggeleng. Aku butuh Mas Dwi, aku harus mendengarkan penjelasan darinya.


"Mas Dwi udah dihubungi, Mbak?" tanya Tria.


"Tolong bantu jagain Kak Len, biar aku yang hubungi Mas Dwi!" ujar Tria. Terdengar langkah kakinya keluar dari kamarku.


"Ibu, jangan bikin saya takut, Bu. Ibu kenapa?" tanyanya lagi dengan panik yang belum menghilang.


Aku tak bisa berkata apa-apa, dadaku semakin sesak, kepalaku juga semakin sakit.


"Mas kenapa nomornya gak bisa dihubungi, sih?" Terdengar suara Tria yang tak kalah panik di luar kamar.


"Aku ganti nomor, kenapa kamu panik? Mana Alena?"


Aku langsung membuka telingaku dan menengok ke arah pintu. Aku bisa mendengar bahwa itu suara Mas Dwi. Dia ada di sini? Apa hanya halusinasiku saja?


Kulihat Mas Dwi masuk ke kamar kami dengan langkah cepat. Ekspresinya tampak khawatir dan langsung berjongkok di depanku.


"Mbak Arum keluar aja, biar saya yang urus," ujar Mas Dwi. Mbak Arum pun segera keluar kamar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa sampai seperti ini?" tanyanya sembari memegang kedua bahuku.


Mendengar suaranya dan menatap matanya langsung, tangis yang sejak tadi tertahan kini pecah seketika. Aku memeluknya erat dan menangis sejadinya.


"Kamu jangan membuatku takut, kamu kenapa, Sayang?" tanyanya lagi.


"Aku gak mau dikhianati lagi, Mas." Aku meracau di sela tangisku.


"Sayang, tenang! Aku bersumpah aku gak akan pernah mengkhianati kamu," ucapnya dengan nada yang sangat meyakinkan.


"Aku takut, Mas," ucapku lagi. Aku terlalu kacau, bahkan aku tidak bisa lagi mengatakan dengan jelas apa yang aku rasakan.


"It's ok, Sayang. Aku ada di sini sekarang, aku gak akan ke mana-mana. Aku milikmu, sampai mati aku akan tetap menjadi suamimu dan kamu istriku satu-satunya," ucapnya lagi.


Tangisku berlangsung lebih lama daripada semalam. Aku benar-benar lelah, dadaku sesak. Aku mulai mual. Mas Dwi membantuku berjalan ke kamar mandi. Tenagaku terkuras habis, bahkan untuk berdiri saja tidak kuat. Aku takut pingsan lagi, aku tidak ingin diinfus lagi. Sayangnya, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Lagi-lagi aku pingsan di kamar mandi.


..


Kepalaku terasa begitu sakit. Kurasakan ada yang kembali menusuk di tangan kananku. Aku diinfus lagi, namun kini aku ada di kamar. Bukan di rumah sakit.


"Mas ...." panggilku pada Mas Dwi yang kini duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Syukurlah kamu udah sadar," ucapnya seraya meletakkan laptop itu di sofa dan langsung berpindah ke sebelahku.


"Kenapa aku harus diinfus lagi, Mas? Aku gak sakit," tanyaku.


"Nurut aja sama dokter, ya!" ujar Mas Dwi dengan lembut seraya merapikan rambut yang berantakan di wajahku.


"Dokter bilang apa, Mas?" tanyaku lagi.


"Ada pemicu yang membuat kamu jadi seperti ini. Ada trauma yang masih membekas dipikiranmu," jawab Mas Dwi. Aku membenarkan ucapannya. Aku memang terlalu takut untuk dikhianati lagi.


"Jangan membuatku takut, Alena! Cukup dulu aja kamu banyak menyimpan masalahmu sendiri sampai menumpuk trauma seperti ini, sekarang jangan! Apa kamu tahu gimana takutnya aku melihat kondisimu tadi?" ucap Mas Dwi dengan nada yang lirih. Hatiku sakit mendengarnya.


Ia mengusap air mataku yang baru saja keluar. Rasa sakitku tadi tidak sebanding dengan apa yang aku lihat sekarang. Lebih baik aku yang tersakiti daripada orang lain yang sakit karena aku.


"Maafkan aku," gumamku.


"Aku gak akan memaafkanmu kalau keadaan seperti ini terulang lagi. Tolong, jangan seperti tadi!" pinta Mas Dwi dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk.

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan masa lalumu! Sejak awal tujuanku adalah membuatmu bahagia, aku gak akan menyakitimu sedikitpun," ucapnya lagi.


Ia mengecup keningku sekali lalu menarikku dalam pelukannya. Bisa kudengar ia juga menangis. Aku merasa semakin jahat dibuatnya. Jahat sekali seorang istri sampai membuat suaminya menangis. Akan kuusahakan bisa mengontrol emosiku dengan baik, aku tidak ingin Mas Dwi terluka karena perbuatanku.


__ADS_2