Alena [Pacarku Direbut Ibuku]

Alena [Pacarku Direbut Ibuku]
Season 2 #Part 1


__ADS_3

"Sayang, yuk bangun!" bisiknya tepat di telingaku.


Suara lembut itu selalu kudengar setiap pagi. Rasanya aku seperti baru saja terpejam, badanku masih terasa begitu lelah. Aku tidak berniat membuka mata untuk saat ini.


"Lima menit lagi, Mas," ujarku.


"Capek banget, ya? Maaf ya, Sayang. Kamu boleh tidur lagi kok," ujarnya lembut seraya mengusap rambutku.


Aku mengangguk pelan dan merapatkan tubuhku dalam dekapannya. Ia mengecup keningku sekali lalu aku kembali tidur. Entah berapa lama, ketika aku terbangun lagi-lagi suamiku tak ada di sampingku. Kukenakan lagi pakaianku dan berjalan perlahan ke ruang tengah di mana Mas Dwi sedang duduk menonton TV.


"Mas gak bangunin aku," ujarku sembari duduk dan bersandar di bahunya.


"Kamu kecapekan, Sayang. Makanya aku gak mau ganggu kamu." Kemudian Mas Dwi memelukku lembut.


Usia pernikahan kami masih kurang dari satu bulan. Sejauh ini hanya bahagia yang aku rasakan. Aku sangat bersyukur bisa mengenal bahkan menjadi pasangan hidup Mas Dwi. Ia memperlakukanku dengan sangat baik. Tak hanya Mas Dwi, tapi keluarganya juga sangat menyayangiku.


Mungkin banyak pihak yang menilai kalau aku bahagia seperti ini karena masih baru menikah. Tak apa, bisa dibilang sebenarnya aku tak banyak berharap. Mengingat begitu banyak hal buruk yang telah aku lewati beberapa tahun ke belakang. Lalu untuk beberapa tahun ke depan, siapa yang tahu?


..


Hari ini Tria akan pulang, liburannya telah usai. Aku senang, rumah ini mungkin akan sedikit lebih ramai jika ditambah dengan satu anggota lagi. Lain halnya dengan Mas Dwi, ia sedikit mengeluh karena jika ada Tria maka ia tidak bisa leluasa untuk bermesraan denganku. Jika ia sudah mulai merajuk begitu, aku hanya bisa menggelengkan kepala mencubitnya gemas. Sungguh kepribadian yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan Mas Dwi yang aku kenal di kantor.

__ADS_1


"Jam berapa Tria sampai di rumah?" tanya Mas Dwi sembari menumpuk piring bekas sarapan kami barusan.


"Jam sepuluhan katanya, Mas," jawabku sembari memindahkan sayur dan lauk-pauk ke dalam lemari makanan.


Meski aku dan Tria hanyalah ipar, tapi Tria justru lebih sering menghubungi aku daripada kakaknya sendiri. Aku senang, dengan begini aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki adik. Jadi anak tunggal memang enak, karena seluruh kasih sayang orang tua hanya diberikan untuk kita. Namun, tak bisa dipungkiri terkadang rasa kesepian dan keinginan untuk memiliki saudara kandung itu ada.


Awalnya, aku sedikit bingung dan takut. Aku belum terbiasa untuk mengurus rumah, beberes, apalagi masak. Untung saja Mas Dwi adalah orang yang sabar serta bisa membimbingku dengan baik. Ketika aku memasak, dia yang mencuci piring. Ketika aku mencuci pakaian, dia yang menyapu rumah. Sebenarnya aku sedikit tidak enak, bagaimana mungkin seorang suami mengerjakan pekerjaan istri seperti ini. Namun, ia selalu memaksa untuk bisa membantuku. Supaya aku bisa lekas istirahat dan kembali berduaan dengannya, begitu alasannya.


Ting-tung! Suara bel rumah ini berbunyi.


"Tolong Mas yang buka pintu ya! Biar aku aja yang cuci piring," pintaku.


"Iya, Sayang."


"Bu Ijah nih, nganter nasi kuning. Anaknya ulang tahun," ujar Mas Dwi yang sudah kembali ke dapur.


"Bu Ijah yang anter opor ayam kemarin?" tanyaku sembari membilas tangan. Aku sudah selesai mencuci piring.


"Iya."


"Apa ibu itu memang sering antar makanan ke sini?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Nggak tuh, baru ini. Dulu sama sekali gak pernah," jawab Mas Dwi sembari mencomot potongan timun yang ada di atas nasi kuning.


"Ah, mungkin karena Mas sekarang udah berkeluarga, jadi kita dikode untuk lebih dekat dengan orang sini."


"Mungkin," jawab Mas Dwi sambil angguk-angguk dan menyendok sesuap nasi kuning dengan potongan telur ke dalam mulutnya.


'Padahal baru saja makan, tapi ada makanan datang langsung dimakan lagi,' batinku.


"Kalau gak dihabiskan, nanti masukin ke lemari makanan ya, Mas," ujarku mengingatkan.


"Cuma nyicip kok, lumayan enak," ujarnya kemudian memasukkan makanan itu ke dalam lemari makanan. "Kamu mau ngapain?"


"Mandi."


"Ikut," pintanya manja.


"Mas, please deh ya! Nanti keburu Tria dateng," tolakku.


"Cuma mandi kok, kan lebih efisien dari pada gantian."


"Gak cuma sekali Mas bilang begitu, tapi--"

__ADS_1


"Tapi kamu suka, kan?" tanyanya memotong ucapanku dan langsung mendorongku ke kamar mandi. Tidak peduli sekuat apa aku menolak, ia justru tertawa senang bisa menjahiliku lagi. Dasar, untung aku sayang!


__ADS_2